
Senja telah datang, William benar-benar menepati janjinya untuk pulang lebih awal. Dan sekarang, mereka sudah berada di ruangan khusus di sebuah restoran mewah.
Di hadapan mereka sudah tersaji hidangan yang ingin Joanna makan. Sebelumnya, William hanya bisa melongo begitu mendengar Joanna memesan begitu banyak makanan. Bukan karena tidak sanggup membayar, tapi karena William tidak yakin apakah mereka bisa menghabiskan semuanya.
Di meja berbentuk bundar itu, sudah tersaji diantaranya Beef Wellington, Mushroom Risotto, Herbs Roasted Chicken, Lasagna, Steik, Ratatouille, Boeuf Bourguignon dan masih banyak lagi.
Hanya dengan melihatnya saja William sudah merasa kenyang. Apa makanan ini akan habis meskipun dirinya dan Louise juga ikut memakannya?
Joanna yang sudah sangat ingin makan segera mengambil peralatan makannya tapi dihentikan William karena Louise belum juga menampakkan batang hidungnya, "Jo, tunggulah sebentar lagi sampai Louise datang."
"Will, aku sudah sangat lapar," jawab Joanna mengiba. Sejak makan mangga muda pagi tadi, dia tidak makan apapun juga karena tidak berselera.
"Ya sudahlah, makanlah duluan. Aku akan menunggu Louise." William mengalah, tidak ingin berdebat dengan wanita yang akhir-akhir sangat manja.
Mendengar William mengatakan itu membuat Joanna tersenyum, kemudian melihat satu persatu makanan yang ada dimeja. William mulai cemas ketika melihat piring Joanna masih kosong setelah beberapa saat. Firasatnya mengatakan bahwa dirinya dan Louise akan mati kekenyangan setelah ini.
Benar saja, karena dari sekian banyaknya menu yang ada di meja, Joanna hanya mengambil Boeuf Bourguignon. Sebuah makanan khas Perancis yang berasal dari wilayah Burgundy. Makanan yang terbuat dari potongan daging sapi dengan sayuran yang dipadukan dalam saus anggur merah. Tidak banyak yang dia ambil, hanya tiga sendok makan saja dan tidak berniat menambah yang lainnya lagi.
"Will, terimakasih. Aku sudah kenyang," katanya setelah tiga sendok makanan itu berpindah ke perutnya. Sendok dan garpu itu sudah Joanna telungkupkan, pertanda dia sudah tidak ingin makan lagi.
"K-kenyang bahkan sebelum Louise datang?" tanya William dengan mata membesar.
Joanna tersenyum canggung. Sebelumnya dia sangat ingin memakan semuanya, tapi tiba-tiba tidak ingin makan lagi setelah melihat semuanya tersaji di meja.
"Siapa yang kenyang sebelum aku datang?" tanya Louise yang baru saja tiba.
Pria maskulin itu memasuki ruang VIP itu dengan keren seperti biasanya.
"Louise?" sambut Joanna sumringah.
"Akhirnya kau datang juga," kata William lega.
Louise langsung menghampiri Joanna, mencium keningnya terlebih dulu sebelum menarik kursi yang ada di sebelahnya dan duduk disana. Lalu melihat William yang sudah tidak punya selera untuk makan.
Sejenak kemudian pandangannya tertuju ke piring William yang masih bersih, piring Joanna yang kotor dan berbagai hidangan yang memenuhi meja.
"Kau darimana saja?" tanya William lesu.
"Aku mampir ke sebuah tempat untuk membeli sesuatu," jawab Louise.
"Kau membeli apa?" tanya Joanna. tidak melihat Louise membawa apapun, memangnya apa yang dia beli.
"Rahasia," jawab Louise, "Apa kau sudah kenyang?" tanya Louise.
"Eum," jawab Joanna.
"Louise, percayalah padaku. Tapi dia benar-benar hanya makan sebanyak tiga sendok saja," jelas William.
"Benarkah?"
"Tanyakan saja padanya kalau tidak percaya," jawab William.
Louise menoleh. Melihat Joanna yang tersenyum setelah William menceritakan berapa banyak porsi yang Joanna makan, "Mulai sekarang kau harus makan lebih banyak."
"Tapi, aku kenyang."
"Tapi itu tidak cukup," bujuk Louise.
"Baiklah," kata Joanna.
"Will, kita tidak mungkin bisa menghabiskan ini?" tanya Louise pada William.
"Kau saja yang makan, aku sudah kenyang hanya dengan melihatnya," jawab William.
"Aku tidak peduli, kau harus tetap makan," ucap Louise.
Louise bangkit, memilih beberapa makanan yang ingin dia makan dan yang disukai William dan Joanna. Lalu memanggil pelayan untuk memindahkan lebih dari setengahnya ke meja yang lain.
Tidak hanya itu, dia juga memesan lebih banyak lagi dan memanggil semua pengawalnya yang berada diluar untuk menikmati makan malam itu.
"Tuan, tapi kami sudah makan!" kata pengawal itu.
"Tapi kalian adalah seorang pria dan jumlah kalian ada banyak. Seharusnya tidak sulit untuk membantuku menghabiskan semua itu kan?" desak Louise.
"Tapi,-"
"Makanlah!" perintah Louise. Dia tidak mengatakan apapun lagi lalu pergi begitu saja dan kembali ke mejanya.
"Kalian juga, kenapa tidak segera makan?" tanya Louise ketika melihat adik dan pacarnya masih tidak mengangkat alat makannya.
"Kalian ini, kenapa selalu saja membuatku turun tangan untuk merawat kalian sih?" gerutu Louise. Mulutnya memang sibuk mengomel, tapi dua tangannya juga sibuk melakukan hal yang lainnya.
Sementara William, dia tidak bisa menolak lagi karena Louise tidak hanya memberikan makanan yang dia suka, tapi juga mengambil dan meletakkan makanan itu di piringnya.
William tertegun sebentar, kenapa Louise masih memperlakukannya seperti anak kecil sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Tapi, itu membuat hatinya sangat hangat seperti biasanya.
"Aku ingin ke toilet sebentar," pamit Joanna. Dia segera bangkit, meninggalkan dua pria itu menghabiskan makanan mereka.
"Will, kau tunggulah sebentar. Aku akan mengantarkan Joanna," kata Louise ketika Joanna baru saja melewati pintu keluar.
"Pergilah!" jawab William. Dia tidak ambil pusing lagi sekarang. Terserah apa yang ingin mereka lakukan, dia tidak peduli dan memilih meneruskan makannya yang sempat tertunda meskipun masih tidak berselera.
Louise langsung mengejar Joanna yang sudah berdiri di depan toilet. Lalu segera menarik tangannya untuk masuk ke satu toilet yang sama dengannya.
"Louise, ini bukan tempatmu!" pekik Joanna ketika mendapati Louise ikut masuk bersamanya.
"Sstt!"
Louise meletakkan jari telunjuknya di bibir, meminta Joanna untuk diam.
"L-Louise, jangan macam-macam!" kata Joanna memberikan peringatan.
"Joanna, apa yang kau pikirkan. Aku tidak mungkin melakukannya disini kan. Kecuali kalau kau tidak malu suaramu didengar dari luar," jawab Louise kemudian memeluk dan menciuminya.
"Eng, baguslah kalau begitu," jawab Joanna canggung. Dia sepertinya sudah salah mengira.
"Sayang, kau sedang hamil kan?" tanya Louise langsung pada intinya.
"Hamil?"
"Iya, hamil."
"A-aku tidak tahu," jawab Joanna.
"Kalau begitu cepatlah buang air kecil untuk memeriksanya!"
Louise mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Rupanya, barang rahasia yang dia beli tadi adalah sebuah alat tes kehamilan.
"Kau membeli benda seperti ini?" tanya Joanna.
"Bukan aku tapi orang suruhanku, cepatlah!"
Joanna mengambilnya dengan gugup. Bagaimanapun juga, ini kali pertama dalam hidupnya. Pertama memegang alat seperti ini dan pertama kali harus kencing untuk memeriksa apakah ada janin di perutnya.
"Tunggu, bagaimana caranya menggunakannya. Aku tahu ini direndam tapi bagian yang mana?" tanya Joanna.
"Kau tidak tahu?" tanya Louise.
"Louise, kenapa tidak ke dokter saja?" protes Joanna.
"Aku sudah membuat janji untuk membawamu ke dokter besok. Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Aku sangat penasaran, jadi membeli alat ini saat dalam perjalanan," kata Louise.
"Ah, baiklah. Tapi kenapa kau masih disini, pergi sana!" usir Joanna.
"Kenapa aku harus pergi?"
"Aku kan mau buang air kecil," protes Joanna.
"Joanna, hanya buang air kecil saja kenapa harus malu. Lagipula aku sudah terbiasa melihat sesuatu yang keluar dari sana," goda Louise sembari merekatkan tubuh dan mencium Joanna.
"Louise!"
"Joanna!" ucap Louise tak mau kalah.
Karena tak kunjung menurut, akhirnya Louise berinisiatif membantu Joanna melepaskan celananya dan memaksanya untuk kencing di sebuah wadah yang sudah dia siapkan sebelumnya. Louise juga yang merendam alat tesnya kesana.
"K-kau kenapa kau sangat terampil dalam hal ini?" tanya Joanna.
"Aku sudah melihat tutorialnya di internet tadi," jawab Louise.
"B-bagaimana?" tanya Joanna ketika Louise mengangkat alat itu dan mengelapnya dengan tissue.
"Terimakasih!" kata Louise, lalu menarik Joanna ke pelukannya. Ciuman itu mendarat berkali-kali di wajah Joanna
"A-apakah aku hamil?" tanya Joanna penasaran.
"Eum, adiknya Oskar ada di perutmu sekarang," jawab Louise
"Benarkah?" tanya Joanna.
"Untuk memastikannya kita harus pergi ke dokter besok," jawab Louise sambil menciumi kening Joanna.