CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Fight Again II



"Joanna, apa kau tak ingin kita segera menikah?" tanya Louise.


Sebenarnya hanya itu kalimat yang ingin Louise katakan. Tapi memerlukan begitu banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk mengatakannya.


Setelah mengatakan itu, Louise merasa menyesal. Dia sepertinya mengatakan hal yang salah. Terbukti dari ekspresi Joanna yang hanya diam seperti batu tanpa mengatakan apapun juga.


Iya, Joanna membeku ketika mendengar pertanyaan dari Louise. Apa yang pria ini inginkan. Ini rasanya salah. Dari kalimat yang diucapkan Louise, Joanna menangkap kesan bahwa dirinya terlihat seperti seseorang yang sangat kebelet untuk segera dinikahi.


"Kenapa aku harus ingin segera dinikahi olehmu?" jawab Joanna tak terima. Lengkap dengan memicingkan matanya.


"Lihatlah, Oskar sudah semakin besar. Apa kau tidak berpikir dia membutuhkan seorang ayah?" tanya Louise lagi.


Sebenarnya, Louise tidak ingin membahas masalah ini sekarang. Fokusnya saat ini sebenarnya hanyalah mencari pendonor untuk Oskar. Baru setelah Oskar sembuh, dia akan merencanakan untuk menikahi Joanna.


Tapi Arthur dan William lebih dulu membahasnya. Mewanti-wanti dirinya dengan mengatakan bahwa lebih baik segera menanyakan hal ini pada Joanna sekarang juga. Mengingat Oskar sudah sebesar itu, William dan Arthur pikir akan lebih baik jika Louise segera mencarikan ibu untuknya dan memberikan sebuah keluarga yang lengkap.


"Kau benar. Oskar memang semakin besar dan membutuhkan seorang ayah. Tapi apa hubungannya dengan aku ingin segera dinikahi olehmu?" tanya Joanna.


"Ha, apa itu tidak ada hubungannya?" tanya Louise tak mengerti.


"Louise, Oskar memang sangat membutuhkan ayahnya. Tapi apa kau lupa siapa dirimu, bukankah kau ayahnya. Karena kau tahu Oskar membutuhkan ayah, maka bersikaplah layaknya seorang ayah seperti biasanya," lanjut Joanna.


"Ah, kau benar. Tapi, apa itu berarti kau tak ingin segera menikah?" tanya Louise lagi.


"Louise, anakmu itu sedang sakit dan kau masih sempat memikirkan sebuah pernikahan?" tanya Joanna tak percaya.


"Joanna, jangan marah-marah seperti itu. Aku hanya bertanya, lagipula ini demi kebaikan anakmu juga. Aku hanya ingin tahu, apa kau benar-benar tidak ingin segera menikah?" ulang Louise masih tidak percaya.


"Louise!" pekik Joanna dengan melemparkan bantal kearah Louise.


"Salahku dimana, aku hanya bertanya tidakkah kau ingin segera menikah denganku. Kenapa kau langsung marah-marah?"


"Siapa juga yang ingin menikah denganmu?"


"Kalau tidak menikah bagaimana caranya aku jadi ayah?"


"Louise!" teriak Joanna lagi.


"Pelankan suaramu atau Oskar akan bangun," pinta Louise.


Joanna menarik nafasnya dan mengecilkan sedikit suaranya, "Louise, kau brengsek. Kau itu sudah jadi ayah bahkan tanpa menikah. Apa kau belum sadar juga?" ketus Joanna.


"Bisakah hanya dengan seperti itu?" tanya Louise.


"Kenapa tidak bisa, selama lima tahun aku melakukan hal yang sama. Apa kau lupa siapa yang membesarkan anakmu selama ini?" tanya Joanna berapi-api.


"Joanna, maksudku adalah apa kau tak keberatan dengan status yang seperti ini. Apa kau tidak merasa harus menjaga imagemu di hadapan semua orang?" tanya Louise lagi.


"Kenapa aku harus keberatan. Tidak ada image yang harus ku jaga karena semuanya masih terjaga. Faktanya aku ini masih seorang gadis. Wajahku cantik dan ayahku kaya. Selain itu aku juga bisa mencari uang dengan tanganku sendiri. Bukankah hidupku sangat sempurna. Jika ada seseorang yang harus keberatan, seharusnya itu dirimu. Memiliki seorang anak dan mengabaikannya selama ini, lalu masih memenjarakan ibu kandungnya. Kau masih tak sadar juga, image mu lah yang harusnya di jaga."


"Ah, begitu?" jawab Louise pelan.


Louise masih duduk di tepian ranjang. Sementara Joanna sudah terlanjur marah dan berbaring di sebelah Oskar dengan posisi membelakangi Louise yang masih merenungkan semua kalimat Joanna.


"Tunggu dulu, sepertinya ada yang salah. Apa pada akhirnya Joanna benar-benar tidak ingin menikah denganku?" batin Louise.


"Joanna, bangun!" panggil Louise sambil menggoyangkan kaki Joanna.


"Apa lagi?"


"Kurasa ada yang salah dengan kata-katamu. Apa kau benar-benar tidak ingin menikah denganku?" koreksi Louise.


"Tidak!" jawab Joanna singkat.


"Joanna, tidak bisa seperti itu. Kita sudah sepakat sebelumnya kan?" tanya Louise lagi. Masih mencoba membangunkan Joanna dengan menarik tangannya dengan pelan tapi tetap diacuhkan oleh Joanna.


"Aku berubah pikiran," jawab Joanna asal.


"Apa, setelah semua ini kau baru berubah pikiran. Kenapa begitu mendadak?" tanya Louise tidak terima.


"Itu salahmu karena kau sangat bodoh," jawab Joanna dengan mengabaikan tarikan Louise.


Meskipun tidak mengerti dimana letak kesalahannya tapi Louise tidak menyerah, "Maafkan aku. Baiklah, aku akan menuruti semua permintaanmu tapi setidaknya jelaskan dimana salahku."


"Aku malas," jawab Joanna.


"Joanna, please!"


"Louise, kenapa kau begitu bodoh. Aku sangat marah sekarang."


"Hei, jangan marah lagi. Aku benar-benar minta maaf."


Joanna rak bergeming. Dia diam saja dan mengabaikan permintaan Louise untuk memaafkannya.


Karena sudah begini, tidak ada pilihan selain memaksa Joanna. Akhirnya Louise ikut-ikutan merebahkan dirinya di ranjang. Lebih tepatnya tepat di belakang Joanna dan memeluknya.


"Memelukmu," jawab Louise singkat.


Joanna sangat kesal. Sebenarnya bukan karena dia tidak ingin menikah dengan Louise. Tapi yang Louise katakan tadi salah. Bukan begitu caranya membicarakan hal penting tentang pernikahan.


Biasanya seorang pria akan mengatakan 'maukah kau menikah denganku' dan semacamnya. Tapi tidak dengan Louise. Dia malah mengatakan 'apa kau ingin segera menikah denganku'.


Tuhan, ini seolah hanya Joanna yang sangat kebelet untuk menikah sementara Louise tidak.


"Joanna, maafkan aku!"


"Tidak akan!"


"Joanna, jangan membelakangiku!"


"Biar!"


"Joanna, sepertinya kau melupakan sesuatu," kata Louise memperingatkan.


"Tidak ada apapun yang ku lupakan," kata Joanna.


"Kau belum mengganti pembalutmu sebelum tidur," goda Louise.


"Louise, kau brengsek!"


"Aku hanya mengingatkan agar kau tidak tembus nanti malam. Apa aku salah lagi?" tanya Louise dengan menenggelamkan wajahnya ke tengkuk Joanna.


"Menjauhlah sedikit!" tolak Joanna.


"Bangunlah, ganti dulu pembalutmu," paksa Louise.


Joanna sangat marah sekarang. Dia baru mengganti pembalutnya sebelum menidurkan Oskar. Apa dia harus menggantinya lagi sekarang?


"Aku sudah menggantinya."


"Tapi aku tidak melihatnya."


"Louise, apa aku harus menggantinya di depanmu baru kau percaya?" jawab Joanna kesal.


"Kalau kau tak keberatan, tentu tak masalah."


"Louise, kau benar-benar pria yang mesum dan liar," olok Joanna.


"Itu salahmu, kau yang membuatku seperti ini."


"Kenapa jadi aku yang salah?" protes Joanna tak terima.


"Sudahlah lupakan, aku yang salah. Aku minta maaf. Tapi, bisakah jangan membelakangiku seperti ini. Bagaimana caraku menciummu jika kau begini?" tanya Louise.


"Bajingan, kau bahkan sudah menciumku sejak tadi," protes Joanna.


"Joanna, ayolah! Aku belum menciummu dengan benar," paksa Louise.


"Louise, jangan banyak bergerak. Oskar akan bangun," kata Joanna beralasan.


"Maka berbalik arahlah dan aku akan diam," lanjut Louise.


"Louise, kemana tanganmu itu kau simpan. Apa kau tidak mengajarinya sopan santun?" tanya Joanna ketika merasakan Louise memegang sesuatu yang salah.


"Dia hanya sedang mencari kehangatan, apa itu salah?" jawab Louise dengan terus menyentuh bagian Joanna yang dirasa sangat kenyal.


"Kau bisa mencarinya di tubuhmu sendiri."


"Joanna, jangan berbicara hal yang tidak masuk akal. Aku tidak memilikinya," jawab Louise.


"Louise, cukup. Singkirkan tanganmu dariku!"


"Tidak akan," jawab Louise singkat.


"Louise."


"Joanna, diamlah!"


"Bagaimana aku bisa diam jika tanganmu bergerak disana?"


"Itu bukan urusanku."


"Louise!"


Begitulah malam itu, mereka berdua terus berdebat entah sampai kapan. Dua-duanya sama-sama tidak sadar kapan tertidur. Tapi yang jelas posisi Joanna yang awalnya membelakangi Louise telah berubah.


Kini Joanna memeluk Louise dengan erat dan nyaman. Dan baru menyadarinya ketika Oskar terbangun menjelang dini hari. Oskar meminta untuk tidur ditengah, untuk mendapatkan pelukan dari daddy dan mommynya yang hangat.


...***...