CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Karma Joanna



"Kenapa ... kau selalu mencuri dariku?" tanya Jose.


"Joanna, aku tidak mencuri. Aku sudah minta ijin padamu tapi kau tak menjawabnya," jawab Louise.


"Louise Matthew, kenapa kau sangat tidak tahu malu. Bagaimana aku bisa menjawab kalau kau memberikan obat tidur sialan itu di minumanku?" teriak Jose tidak terima.


"Joanna?"


"Berhenti memanggilku Joanna. Aku bukan Joanna!" tolak Jose.


"Tapi aku lebih suka memanggilmu Joanna. Bukan hanya aku tapi Arthur, William, Alexa, Marisa bahkan Oskar kita juga lebih suka itu. Jadi mulai sekarang dan seterusnya, jangan pernah protes akan hal ini lagi. Lagipula, bukankah itu hanya sebuah nama. Entah itu Jose atau Joanna bukankah tetap kau orangnya?" tanya Louise.


"Terserah!" jawab Jose marah. Bukan, sekarang tidak ada Jose lagi, yang ada hanya Joanna. Karena panggilan Jose, hanya diserukan oleh Edgar, Sir Alex juga para pengikutnya di Kota Utara.


"Kau mau kemana?" tanya Louise saat melihat Joanna berbalik arah.


"Pulang!" jawab Joanna sengit.


"Secepat itu?" tanya Louise.


"Apa yang ku inginkan sudah kudapatkan. Lagipula kau sangat sibuk, aku tidak ingin mengganggumu," jawab Joanna.


"Tapi aku belum memberikan salam perpisahan untukmu. Aku juga sedang tidak sibuk kok, dan aku sangat suka diganggu olehmu," tahan Louise.


"Aku tidak mau berlama-lama dengan pria mesum sepertimu. Bukankah kancing bajuku itu adalah salam perpisahannya, apa masih ada yang kurang?" tanya Joanna.


"Aku tidak melakukan apa-apa tapi kenapa kau selalu mengataiku mesum. Joanna, sekarang aku akan memberitahumu apa itu yang disebut dengan mesum," jawab Louise kemudian bangkit dari duduknya.


Joanna, dia mundur pelan saat melihat Louise semakin mendekatinya. Tapi tergapai oleh tangan Louise yang panjang.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Louise. Memeluk Joanna sangat erat, membuat Joanna tidak bisa bergerak dan terhimpit tangan dan badan Louise yang penuh dengan otot.


Joanna menggerakkan bahunya saat Louise menyusuri area lehernya karena geli yang luar biasa. Tunggu, jika saat dirinya sadar saja Louise melakukan ini, lalu apa yang Louise lakukan saat dia dipaksa tidur semalam?


Lebih parah dari ini, atau bagaimana? Tapi, kenapa dia begitu mati rasa sampai tidak bangun juga.


"Lepaskan aku!" kata Joanna.


"Lepas?" tanya Louise tanpa menghentikan penjelajahannya.


"Eum," jawab Joanna.


"Tidak semudah itu, Joanna." Louise memandangi dua mata Joanna yang jernih untuk sesaat, sebelum tersenyum dan tanpa ijin sudah kembali menyambar bibir itu setelah sekian lama. Terlalu lama, sehingga membuat Louise hampir gila karena merindukan bagaimana manisnya.


"Joanna, datanglah ke villaku malam ini. Aku akan mengirim orang untuk menjemputmu," bisik Louise setelah melepaskan ciumannya. Hanya melepaskan ciumannya, bukan pelukannya.


"Aku, tidak ingin pergi," jawab Joanna. Mencoba melepaskan pelukan Louise darinya tapi Louise malah semakin menjepitnya.


Joanna takut, Louise akan melakukan hal tak senonoh lagi padanya. Bagaimanapun juga, Joanna masihlah suci jadi wajar jika dia takut. Terlebih saat berada di dekat Louise yang selalu menempel seperti ini. Jangankan nanti malam, saat ini pun sebenarnya dia sudah sangat ketakutan.


"Kalau begitu, biar aku yang pergi ke rumahmu. Kau tak keberatan bukan, hm?" tanya Louise lagi.


"Kenapa kau ingin ke rumahku?" tanya Joanna.


"Pertanyaan macam apa itu Joanna, tentu saja aku ingin menemuimu," jawab Louise.


"Bukankah kita sudah bertemu sekarang. Kenapa harus bertemu lagi malam nanti?" tanya Joanna.


"Oh, benar juga. Baiklah, karena malam nanti tidak boleh bukankah bisa disini saat ini?" tanya Louise meminta persetujuan Joanna.


"Louise, a-apa maksudmu?" tanya Joanna mulai panik.


"Joanna, apa kau tahu? Dimata seorang pria, benda apapun bisa beralih fungsi sebagai ranjang. Termasuk, meja ini atau sofa itu." Louise meraih tangan Joanna dan membawanya mundur menuju sofa panjang itu.


Saat Joanna masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, Louise sudah mendorongnya. Mencium, menjelajah dan memberikannya sentuhan permulaan.


"Not again, Louise!" tolak Joanna.


"Why, babe?" tanya Louise.


Louise, dia tidak lagi memberikan kesempatan Joanna untuk berbicara karena terus menggigit dan memainkan bibir itu. Sampai, Louise menyentuh sesuatu yang salah di bawah belakang sana.


"Joanna, apa kau sedang datang bulan?" tanya Louise ketika tangannya sampai di bokong Joanna dan mendapati benda perintilan wanita yang menyerupai sayap.


"Eum," jawab Joanna dengan senyum kemenangan. Salah sendiri tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Salah sendiri tidak membiarkannya menjelaskan.


"Joanna?" Louise terlihat kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Dia hanya bisa bersabar setidaknya satu minggu jika masih ingin melakukannya.


Louise memijit kepalanya, mencoba kembali tenang disaat dirinya sudah on fire. Tapi sesuatu yang tidak terduga membuat bagian lain dari dirinya semakin menegang.


"Joanna, kau!" rutuk Louise dengan mata sayu.


Jika ingin tahu alasannya, itu karena Joanna baru saja memainkan tangannya di perut Louise, menyusup dari celah-celah kemeja dan menari-nari disana. Dengan senyuman devil, dia menarik kembali tangannya. Bukan untuk disimpan, melainkan mencari sesuatu yang lain milik Louise dan apa yang dilakukan Joanna setelah itu membuat Louise sangat frustasi.


"Joanna, apa yang sedang kau lakukan. Apa kau tahu yang sedang kau pegang itu apa?" tanya Louise menahan nafas.


"Aku tahu, aku hanya ingin memijitnya," jawab Joanna tepat di telinga Louise.


Benar, tangannya sudah menyusup ke celana Louise untuk menggoda sesuatu yang sudah sepenuhnya terbangun saat ini. Kali ini, Joanna tidak takut. Dia sangat berterimakasih karena sedang datang bulan dan dia ingin memberikan pelajaran pada Louise untuk tidak selalu mengajaknya bercinta sesuka hatinya.


"Joanna, hentikan atau kau akan menyesal!" perintah Louise. Memberikan ancaman hanya melalui matanya saja.


"Bukankah kau menyukainya?" tanya Joanna.


"Aku memang menyukainya tapi aku ini patuh. Mana mungkin aku melanggar lampu merah?" balas Louise.


"Baiklah." Joanna tersenyum karena tahu sesuatu itu sudah sangat keras. Louise pasti akan sangat menderita karena tidak bisa menyalurkannya bukan?


"Aku pergi sekarang," pamit Joanna sembari mengelap tangannya ke kemeja yang dikenakan Louise. Tak lupa memberikan ciuman di pipi Louise dan berbisik, "Lain kali, kau harus sopan padaku, Louise. Aku ini sudah bukan Joanna yang dulu lagi."


Louise hanya melihat Joanna dengan memegangi kepalanya yang semakin sakit. Melihat Joanna sedang tertawa dan memperlihatkan senyum kemenangan di hadapannya setelah mempermainkannya. Louise memang sedang tersiksa, tapi juga tersenyum karena semakin menyukai Joanna yang semakin berani dan sedikit liar ini. Louise, semakin tertantang bukan untuk mendapatkan cinta Joanna lagi. Tapi membuat Joanna mengiba dan memintanya sendiri suatu hari nanti.


"Apa aku mengijinkanmu pergi?" tanya Louise. Menatap Joanna dengan tatapan nanar. Nalurinya mengatakan untuk menahan Joanna agar mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Louise kembali menarik Joanna lalu berbisik, "Joanna, bukankah aku bisa menggunakan yang lainnya?"


"Apa maksudmu?" tanya Joanna dengan menaikkan alisnya.


"Joanna, apa kau pernah mencicipi daging berurat dengan mulutmu selain bakso?" tanya Louise dengan tatapan nakal. Lalu menyentuh bibir Joanna yang terlihat sangat menggairahkan, "Pijitan tanganmu juga terlalu singkat."


"Louise, itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!" balas Joanna. Kemudian segera berlari untuk mempertahankan keperawanan mulutnya dari Louise. Meninggalkan Louise yang sedang tertawa, tapi juga meringis menahan hasrat gilanya.


Joanna membuka pintu dengan cepat tanpa tahu seseorang sedang berdiri diluar.


William, pria itu sedang berdiri di depan pintu. Bukan untuk menguping tapi memang sengaja mencari Louise untuk menyerahkan laporan pekerjaannya. Tapi terkejut karena pintu itu terbuka secara tiba-tiba.


"Eh!" William kaget. Mau tidak mau kehilangan keseimbangan dan ikut tertarik masuk karena tangannya sudah terlanjur memegang handle pintu. Lalu harus apes karena masih menubruk Joanna dan membuatnya terjatuh bersama.


Sementara Joanna, dia tidak bisa menghindar karena kejadian yang terlalu cepat. Jadi hanya menutup mata dan meletakkan tangannya di dada William sebagai bentuk refleksnya.


BRUK


"Louise, tolong. William mau memperkosaku!" teriak Joanna panik ketika menyadari William jatuh tepat diatasnya. Hanya diatasnya karena William menahan tubuhnya dengan tangannya agar tidak menindih Joanna.


"Joanna, jaga bicaramu. Siapa juga yang ingin memperkosamu. Aku hanya kehilangan keseimbangan karena tiba-tiba kau membuka pintunya," teriak William tak kalah panik.


"Kenapa kau jadi menyalahkan aku?" tanya Joanna.


"Karena memang kau yang salah!" jawab William.


"William, apa kau tidak tahu rumus kehidupan. Dimana-mana wanita itu selalu benar," tanya Joanna lagi.


"Cukup!" bentak Louise yang masih duduk dengan meluruskan satu tangannya di sandaran sofa. Satu kalimatnya sukses membuat William dan Joanna menoleh bersamaan.


"Sampai kapan kalian ingin berselingkuh di depan mataku?" tanya Louise.


"Louise, bukan seperti itu. Aku hanya terjatuh, tapi kenapa kau menuduhku selingkuh!" jawab William panik.


"Siapa juga yang berselingkuh," jawab Joanna. Lalu mengalihkan pandangannya kearah William, "Sampai kapan kau berencana menetap di atasku?"


"Ah, m-maaf!" jawab William lagi lalu bangkit dengan cepat. Sementara Joanna masih duduk di lantai.


"William, datang dan temui aku malam nanti. Aku akan memberimu pelajaran tambahan. Dan kau Joanna, ikut denganku sekarang juga!" perintah Louise. Louise segera mengambil jas miliknya yang terlampir di kursi kemudian menghampiri Joanna dan membawanya bersamanya.


"Louise?"


"Hukuman untukmu tidak bisa ditunda lagi, Joanna. Jadi bersiaplah!" kata Louise datar.


"William, ini semua salahmu. Kalau kau tidak menghalangiku aku pasti sudah aman sekarang!" teriak Joanna ketika Louise membawanya dengan paksa.


"Mereka berdua benar-benar pasangan yang cocok. Kenapa sangat hobi menyalahkan aku yang tidak melakukan apa-apa?" gerutu William kemudian membanting laporannya ke meja.


...***...