
William dan Arthur memutuskan untuk menunggu sejenak di depan ruangan, berencana masuk setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan Oskar. Tak berselang lama, Alexa yang mendapatkan telepon dari Arthur segera menghampiri keduanya. Di tangannya, terlihat tiga gelas minuman yang Alexa bawa entah untuk siapa.
"William, kau juga datang?" sapa Alexa.
"Eum, aku mengantar Arthur sekalian melihat Oskar," jawab William.
"Maaf, merepotkanmu!" ujar Alexa.
"Bukan masalah!" jawab William.
William dan Arthur, keduanya sudah terlihat anteng dan serius. Tidak saling ribut seperti saat mereka masih berada di mobil.
"Ini untukmu." Alexa menyodorkan satu gelas kopi kepada William. Terlihat menyunggingkan senyum, tapi ada kesedihan yang tersirat di balik senyumannya.
"Terimakasih!" William langsung membuka penutup kopi itu dan meminumnya, kebetulan dia haus jadi tidak sungkan lagi.
Sementara itu, William melihat Alexa sedang membisikkan sesuatu ke telinga Arthur kemudian menunjuk ke salah satu minuman yang berbeda. Arthur terlihat mengangguk, sepertinya dia mengerti akan instruksi rahasia yang Alexa bisikkan hanya untuknya.
"Terimakasih!" kata Alexa lalu memeluk suaminya di depan William.
Arthur membalas pelukannya, tak lupa mendaratkan ciuman di dahi Alexa.
"Baiklah, aku pergi dulu!" pamit Alexa.
"Jangan terlalu memaksan diri!" pinta Arthur.
"Aku mengerti!" jawab Alexa kemudian pergi.
Berbicara tentang Alexa, wanita cantik itu sangat keren. Dia menolak untuk berhenti bekerja meskipun Arthur memintanya. Padahal, tanpa Alexa bekerja pun kehidupan mereka sangatlah terjamin. Tepat setelah kepergian Alexa, seorang dokter dan suster yang ada di dalam juga keluar. Arthur dan William pun bergegas untuk masuk setelah menyunggingkan senyum untuk keduanya.
"Kalian datang?" sambut Joanna ketika melihat dua tamunya. Wajah lelah itu, William dan Arthur bisa melihatnya.
Arthur segera mendekati Joanna yang masih berdiri membawa Oskar di pelukannya. Meletakkan satu gelas kopi juga satu gelas minuman yang sepertinya sengaja di beli Alexa untuk diberikan kepada Joanna. Sementara disisi yang lain William hanya diam, melihat dan mengikuti Arthur dari belakang karena dia belum seakrab itu dengan Joanna.
"Ini sudah malam, kenapa repot-repot kemari?" tanya Joanna.
"Kau ini bicara apa, kami sama sekali tidak repot," jawab Arthur.
"Apa kata dokter?" tanya William yang juga berada di dekat Joanna. Melihat Oskar yang masih sembunyi di pelukan ibunya.
"Masih sama seperti sebelumnya," jawab Joanna. Memaksa tersenyum meskipun sebenarnya sulit. William mengerti maksudnya, yaitu tidak ada kemajuan. Dan menemukan pendonor secepatnya adalah satu-satunya jalan keluar.
"Kalian duduklah!" kata Joanna mempersilahkan Arthur dan William untuk duduk.
"Will, kau duduklah kau pasti lelah karena menyetir," pinta Arthur.
"Aku akan duduk jika aku mau," tolak William.
"Jo, berikan Oskar padaku!" pinta Arthur.
"Jangan, dia akan menangis lagi nanti," tolak Joanna.
"Kita belum mencobanya. Sini berikan padaku, kau pasti lelah kan?" paksa Arthur.
"Arthur, aku sudah terbiasa. Kalian berdua pasti lelah karena seharian bekerja."
"Jo, aku bilang berikan padaku!" paksa Arthur.
"Tapi,-"
"Sudah ku bilang aku tidak lelah," paksa Arthur lagi. Tanpa membuang waktu, Arthur meraih Oskar. Tapi sepertinya mereka harus kecewa karena lagi-lagi Oskar bergerak cepat dengan mendekap Joanna, takut ibunya akan pergi. Sangat cepat, tapi juga sangat lemah.
"Oskar, apa kabar?" sapa William dengan senyum tipis. Tangannya menyentuh kepalanya anak itu dan mengacak-acak rambutnya.
"Xiao O, main pesawat-pesawatan sama Paman Arthur yuk?" bujuk Arthur.
Oskar masih saja diam, tapi melihat Arthur dan William secara bergiliran. Tidak mengatakan apa-apa, juga tidak tersenyum seperti biasanya.
"Mommy." Hanya itulah satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya. Lalu mencari-cari tempat yang nyaman di pelukan Joanna.
"Dia pasti mau sebentar lagi," kukuh Arthur.
"Xiao O, mau paman gendong?" sekali lagi, Arthur mengulangi pertanyaannya dengan menyodorkan kedua tangannya.
Oskar masih tidak bergeming, tapi Arthur tidak kehilangan akal," Xiao O, Paman William ingin main sama Xiao O. Nanti dia nangis loh," bujuknya lagi.
William yang tiba-tiba disebut menoleh ke arah Arthur. Tangannya sudah siap untuk memukulnya. Jangan bilang dia akan dipaksa menangis jika Oskar masih menolak. Tapi sepertinya William harus lega, karena Oskar yang awalnya diam akhirnya menganggukkan kepalanya dan menyambut uluran tangan Arthur.
Kini, Oskar sudah berpindah dari pelukan Joanna ke pelukan Arthur. Mengucek matanya yang sepertinya sangat berat, kemudian memeluk Arthur dengan melingkarkan tangannya yang diinfus ke leher Arthur. William nyaris tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi Arthur terlihat sangat keren dan gentleman.
"Jo, apa kau baik-baik saja?" tanya William setelah Arthur pergi ke arah yang lain.
"Aku baik-baik saja?" jawab Joanna. Sedikit canggung, tapi mencoba mencoba biasa-biasa saja.
"Itu, Louise sangat sibuk akhir-akhir ini,-"
"Bisakah tidak membicarakannya?" potong Joanna kemudian duduk di sofa.
"Maaf!" jawab William cepat.
Lagi, Joanna mengulas senyum yang dipaksakan sekali lagi yang membuat William semakin merasa bersalah.
"Xiao O, tidak menyapa Paman William? Dia jauh-jauh datang kemari untuk melihat Oskar loh," perintah Arthur ketika William mendekat ke arah mereka.
Sekali lagi, William dibuat takjub. Karena Oskar menurut dengan apa yang dikatakan Arthur, yaitu menyapanya lengkap dengan senyum tipis, terdengar sangat lemah tapi membuat William terharu, "Paman Will?"
Hanya dua kata tapi membuat William sangat senang dan menyentuh pipi Oskar.
"Xiao O, kenapa kau sangat pilih kasih. Kau belum menyapa pamanmu yang satunya ini loh," rengek Arthur. Komplain atas perlakuan Oskar yang tidak adil.
"Paman Arthur?" sapa Oskar lagi masih lengkap dengan senyuman manisnya yang semakin mengembang.
"Nah, begitu baru benar. Oh iya, paman ingin menagih upah karena sudah mengganti popok Xiao O sewaktu kecil. Ayo sini, berikan upahnya!" lanjut Arthur.
William tidak mengerti apa upah yang dimaksud Arthur tapi Arthur terlihat menyodorkan pipinya kepada Oskar. Oskar memegang wajah Arthur, kemudian menciumnya berulang-ulang tanpa ragu.
"Anak pintar!" puji Arthur.
William tersenyum, tidak menyangka Arthur bisa membujuk anak sampai seperti ini.
"Auch!" teriak Arthur tiba-tiba berpura-pura kesakitan di depan Oskar.
"Paman Arthur sakit?" tanya Oskar pelan.
"Xiao O, pinggang paman sakit, bisakah kita duduk sebentar?" tanya Arthur.
Oskar tidak mengatakan apapun, tapi kepalamya mengangguk dengan cepat. Arthur pun segera membawa Oskar ke ranjangnya, meletakkannya untuk duduk tapi Oskar terus memegangi baju Arthur. Sepertinya dia tidak ingin terlepas dari pelukan seseorang.
"Ada hal penting yang mau paman sampaikan ke mommy. Oskar main dulu dengan Paman Will ya?" ijin Arthur lembut. Mencubit pipinya dan menciumnya.
Tanpa menunggu lagi, Arthur menarik William dan mendorongnya untuk duduk di ranjang. Lalu mengangkat Oskar dan meletakkannya ke pangkuan William. William terpana, karena Oskar tidak hanya tidak menolak tapi juga memeluk dan menyandarkan kepalanya mencari tempat yang nyaman di perutnya. Melihat itu, Arthur memberikan kode kepada William untuk menepuk-nepuk punggung Oskar dan memberikannya pelukan.
Melihat Oskar mulai nyaman dengan William, Arthur pun segera menghampiri Joanna yang duduk di sofa dan memberikan segelas minuman.
"Minumlah selagi hangat!" perintah Arthur dengan menyerahkan segelas minuman yang tadi dia letakkan di meja.
Tanpa curiga, Joanna segera meminumnya hingga setengah. Lalu kembali meletakkannya ke meja tapi Arthur memintanya untuk menghabiskan semuanya.
Joanna yang tidak tahu Alexa sudah menambahkan obat tidur pun kembali meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Beristirahatlah dengan nyaman, aku akan menjaga Xiao O," kata Arthur sembari mengambil gelas bekas minuman dari tangan Joanna.
Lagi-lagi Joanna mengangguk, dan Arthur pergi ke kamar mandi untuk mencuci gelas bekas itu sebelum membuangnya ke tempat sampah daur ulang.
...***...