CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kenapa Kau Sangat Bau?



"William?"


Daisy memang baru saja membuka mata tapi satu kata yang keluar dari mulutnya adalah nama pria itu. Daisy menggeliat, mencari-cari keberadaan William dengan tangannya. Tapi tidak ada siapapun disana dan sisi lain ranjang itu bahkan sangat dingin.


"Apa kau pergi begitu saja setelah tidur denganku semalam. Kenapa kau sangat kejam William. Aku bahkan belum bertanya apa kau puas dengan pelayanan yang kuberikan semalam," ucapnya lirih.


Daisy bangun ingin melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Tapi matanya tertuju pada lingerine tipis dan stocking transparan yang tercecer di lantai. Daisy menggapai dua benda itu, memperhatikannya dengan senyum yang mengembang. "Apa kau sangat tidak sabar untuk tidur denganku. William, kalau begitu kenapa sebelumnya kau selalu acuh padaku. Apa karena ada Joanna sialan itu jadi kau berpura-pura acuh? Sungguh munafik!" batin Daisy.


Daisy kembali menghempaskan dua benda yang sudah koyak tak berbentuk. Berjalan menuju cermin dan melihat bagaimana rupanya sekarang. Peninggalan lima pria itu jelas terlihat di seluruh tubuhnya. Maklum saja dia tidak memakai apapun saat ini dan bekas itu sangat mengerikan. Seketika wajahnya tersenyum puas karena masih mengira William pelakunya. Seandainya saja dia tahu William puas oleh pelayanan orang lain dan melakukannya secara tidak sengaja akibat ulah kakaknya sendiri, dia pasti mati karena patah hati saat ini juga.


Puas melihat pantulan dirinya, dia akhirnya berjalan menuju tempat dimana kameranya disimpan. Belum juga menyentuh dan memeriksa rekamannya, Daisy sudah dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Siapa lagi, tentu saja mereka adalah Tuan dan Nyonya Amber serta Peter. Daisy urung melihat rekamannya. Lalu mengambil sebuah piyama untuk membungkus tubuhnya sebelum akhirnya dia membuka pintu.


"Apa kami mengganggumu?" tanya Nyonya Amber. Bukan hanya mengintip, wanita itu bahkan sudah masuk kedalam kamar untuk melihat dimana calon menantunya.


"Mana William, apa dia sedang di kamar mandi?" tanya Tuan Amber.


"Papa?" kata Daisy kaget. Darimana mereka tahu bahwa William sudah kemari.


"Kami sudah tahu apa yang terjadi semalam. Cepat katakan dimana William sekarang. Apa dia di kamar mandi?" tanya Nyonya Amber.


"Dia sudah pergi!" jawab Daisy.


"Dia sudah pergi?" tanya Nyonya Amber lagi.


"Dia sudah tidak ada saat aku membuka mata," jawab Daisy.


"Apa? Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Daisy, bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti ini. Setidaknya bukankah seharusnya dia mengatakan akan bertanggungjawab atau semacamnya?" cecar Nyonya Amber.


"Ma, itu aku juga tidak tahu. Aku juga berencana menahannya dan memintanya bertanggungjawab tapi sudah tidak ada siapapun saat aku bangun," kata Daisy.


"Sudahlah, Ma! Kita punya bukti rekamannya kok. Jadi tidak perlu cemas. Nanti, kalau dia berani mengelak kita bisa menunjukkan buktinya. Kalau perlu putar videonya di hadapan Tetua di aula agar semua orang tahu," bela Peter.


"Mana, biarkan mama lihat!" pinta Nyonya Amber.


"Ma, aku malu. Kakak, jangan lakukan itu. Hanya biarkan William saja yang melihatnya sebagai bukti," tolak Daisy.


"Tentu saja seperti itu maksudku. Tapi seandainya dia masih menolak meskipun sudah melihat buktinya, tidak ada pilihan lain selain menunjukkannya kepada Tetua bukan?" jelas Peter.


"T-tapi ada aku di dalamnya. Bukan hanya William yang dilihat tapi aku juga!" tolak Daisy lagi.


"Daisy, menunjukkannya di hadapan semua orang lalu William akan jadi suamimu. Bukankah itu sangat pantas. Maksud papa adalah, biarkan saja mereka melihatnya. Biar mereka melihatnya sekali saja tapi William yang akan malu selamanya. Baru setelah itu dia tidak akan punya pilihan selain menjadikanmu istrinya untuk menjaga reputasinya. Kalau perlu sebarkan saja ke media. Sebagai salah satu punggawa Matthews Group, terbukti meniduri Nona Amber milikku dan tidak bertanggungjawab ini akan jadi berita besar. Pikirkan itu baik-baik!" kata Tuan Amber.


"M-Media?" tanya Daisy.


"Hanya jika William menolak. Baru kita akan menyebarkannya ke media. Apa kau mengerti sekarang?" tanya Tuan Amber.


"B-baiklah, Pa!" kata Daisy.


"Kak, apa kau tidak malu bertanya seperti itu?" protes Daisy.


Puas atau tidak sebenarnya Daisy tidak ingat. Tapi yang pasti semalam sepertinya sangat mengairahkan. Mau bagaimana lagi, dia tidak ingat apapun. Yang dia ingat hanyalah dia sedang menindih William dan melepaskan kancing kemejanya. Tapi setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Tapi sepertinya seseorang membuatnya tertidur semalam. "Mungkinkah itu William. Apa dia pura-pura mabuk dan membiusku agar dia leluasa melakukan apapun. Aku sudah tahu sejak awal, William. Aku tahu kau mencintaiku. Hanya saja terlalu malu untuk mengakuinya," batin Daisy.


Sedikit menyesal sebenarnya, tapi tidak masalah. Karena setelah menikah nanti, mereka bisa melakukannya lagi dengan durasi yang panjang dan tentunya tanpa drama bius-biusan.


"Daisy cepatlah mandi dan bersiap. Aku tidak sabar untuk melapor pada Tetua dan meminta pertanggungjawaban pada William sekarang juga!" titah Nyonya Amber.


Wanita itu segera meminta Daisy bersiap. Tidak ingin ikan besar tangkapannya pergi bebas begitu saja tanpa ada kesepakatan atau perjanjian bahwa William akan menikahi putrinya.


"Ma, setidaknya jangan hari ini!" cegah Peter.


"Kenapa?" tanya Nyonya Amber.


"Apa mama tidak ingin memberikan waktu berkabung untuknya?" tanya Peter.


"Apa yang terjadi. Kenapa memberikan waktu pada William untuk berkabung?" tanya Daisy.


"Aku sudah membunuh istrinya. Apa kau senang sekarang, adikku?" jawab Peter.


"Membunuh Joanna sialan itu. Benarkah?" tanya Daisy berbunga-bunga. Daisy sangat puas. Puas sekali dengan berita yang diberikan kakaknya.


"Tidak! Aku tidak ingin menunda lebih lama lagi. Kita harus segera pergi menemui tetua dan memberitahukan semuanya. Kalau kita menunda sehari saja, aku takut kita hanya akan dituduh merekayasa dan menipunya," paksa Nyonya Amber.


"Benar juga. Sebaiknya kita pergi sekarang. Kalaupun William masih berkabung itu bukan urusan kita. Yang terpenting hanyalah memberitahu Tetua lalu setelah itu biarkan dia yang memutuskan kapan akan menginterogasi William," timpal Tuan Amber.


"Terserah kalian sajalah. Aku tak masalah kesana kapan saja!" kata Peter.


"Daisy, cepat bersihkan dirimu dan siap-siap sekarang juga. Mama dan Papa menunggumu di bawah!" perintah Nyonya Amber kemudian keluar.


"Kau dengar itu. Mama dan papa sudah sangat tidak sabar melihatmu menikah dengan William. Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat bau?" keluh Peter dengan menutup hidungnya kemudian pergi.


Sekarang tinggallah Daisy seorang diri di kamarnya.


"Bau?" gumam Daisy.


Daisy mencium tubuhnya sendiri. Benar saja, kenapa dia sangat bau. Dia bahkan hampir muntah setelah mencium aroma tubuhnya sendiri. Kenapa bisa seperti ini. Apa karena dia baru saja bercinta dengan William.


Tunggu, lalu kenapa bagian kewanitaannya juga mulai tidak nyaman. Bukan hanya daerah itu, tapi seluruh tubuhnya juga mulai gatal-gatal sekarang.


"Aku harus segera mandi. Ini pasti hanya karena aku tidak segera mandi!"


...***...