CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Sudah Kembali Normal



"Will, apa kau mau mengintip?" tanya Joanna.


William hanya mematung di tempat dengan memegangi kelambu yang belum sempat dia lepaskan. Memperhatikan apa yang bisa dia perhatikan, melihat apa yang bisa dia lihat dan berusaha tidak mengedipkan mata sedikitpun. Untungnya Joanna penuh dengan busa. Jadi William tidak melihat bekas peninggalan yang dia tinggalkan disana.


"Kenapa dia semakin seksi dari hari ke hari?" batin William.


Pria itu menelan ludahnya. Tidak bisa dipungkiri tida bisa memalingkan wajah dari tubuh molek yang sedang menoleh kearahnya. Tadi hanya punggung mulus itu yang menyapanya dan sekarang wajah cantik itu juga ikut-ikutan menoleh seolah menyambutnya.


"William?" panggil Joanna lagi. Apa pria itu sedang tidur saat membuka mata dan setelah berjalan sejauh ini?


"Ah! I-itu maafkan aku! Aku tidak tahu kau ada di dalam," jawab William.


William tergagap. Akhirnya dia berhasil menjawab pertanyaan Joanna meskipun sangat terlambat. "Jo, kapan kau kembali?" tanya William canggung.


"Kenapa, apa kau tak suka melihatku kembali, Will?" tanya Joanna.


"Apa sih yang kau katakan. Bukan begitu maksudku. Kau bilang baru akan kembali hari ini. Kalau aku tahu kau akan kembali kemarin, aku bisa menjemputmu!" jawab William.


"Aku memang ingin kembali hari ini. Tapi kemarin aku tiba-tiba berubah pikiran," kata Joanna.


"Lalu dimana Reagan?" tanya William.


"Aku akan memberitahumu nanti. Tapi bisakah keluar dulu, aku masih belum selesai mandi?" pinta Joanna.


"Ah, maaf! Aku akan pergi sekarang juga!" pamit William.


William segera mengalihkan pandangan matanya dari Joanna dan keluar dari kamar mandi. Sementara itu Joanna tersenyum tipis melihat tingkah William. William yang sopan dan baik hati yang biasanya dia kenal sepertinya sudah kembali. Bukan William yang menakutkan dan garang seperti semalam.


Setelah kemarin menghajarnya, setelah kemarin memborbardir dirinya tanpa ampun, pria itu sepertinya benar-benar sudah lupa semuanya. Tapi begini juga tidak masalah. Biarkan saja ini jadi rahasia yang hanya akan disimpan oleh Joanna seumur hidupnya.


"Akhirnya dia kembali normal juga," desis Joanna.


.


.


.


Sementara itu di kediaman Amber.


Tuan dan Nyonya Amber tidak tahu bahwa anak-anaknya sudah merencanakan sesuatu dengan menjebak William yang tengah mabuk, tidak tahu anak-anaknya telah melakukan hal gila dibelakangnya. Bodohnya, Peter juga tidak tahu bahwa William telah dicuri oleh Joanna dan Okta. Lebih bodoh lagi karena dia belum menyadari bahwa William sudah tidak berada di kamar Daisy, tapi sudah dia coba tenggelamkan bersama Joanna beserta mobilnya semalam.


Ketiga orang itu bahkan menikmati sarapannya dengan tenang dan menyunggingkan senyum karena sudah membayangkan hari-hari indah bagaimana jika sampai Daisy menikah dengan William. Ya, ketiga orang itu makan dengan lahap tanpa mengetahui bahwa Daisy putri kesayangan mereka tidak tersentuh sekalipun oleh William


"Kenapa adikmu belum turun juga?" tanya Nyonya Amber membuka obrolan.


"Tapi hari ini dia harus segera kembali ke rumah tahanan milik Tetua Utama. Jangan sampai orang tua itu marah dan apa yang kita rencanakan jadi sia-sia," kata Tuan Amber.


"Pa, tenanglah! Itu tidak akan terjadi. Sebaiknya kalian membayangkan masa tua kalian yang menyenangkan karena kalian akan segera memiliki menantu seperti William. Tidak hanya itu saja, jika William itu benar-benar normal dan produktif mungkin kalian juga akan segera memiliki cucu," ujar Peter sumringah.


Kebetulan sekali saat mereka berdua merencanakan ini, Daisy sudah mengatakan bahwa dia sedang dalam masa suburnya. Selain itu William sudah lama ditinggal oleh istrinya beberapa hari. Pasti gairahnya menumpuk jadi satu karena tidak bisa menyalurkannya selama itu. Terlebih dia ada di bawah pengaruh alkohol, jadi setelah bertempur semalaman dengan Daisy, bukankah sangat besar kemungkinan akan adanya satu benih yang bertahan hidup dan tumbuh di rahim Daisy?


Kalimat yang meluncur dari mulut Peter membuat dua orangtua itu menghentikan makannya. Saling menatap sebelum mengajukan pertanyaan lainnya untuk Peter. "Apa maksudmu, Peter. Cucu?" tanya Tuan Amber.


"Eum, lebih tepatnya cucu kalian dari Daisy dan William," jawab Peter dengan senyum yang menyungging di sudut-sudut bibirnya.


"P-Peter, apa yang terjadi. Kenapa Daisy bisa melahirkan anak William. Apa telah terjadi sesuatu diantara mereka semalam?" tanya Nyonya Amber semangat.


Dia bahkan sudah tidak lagi berselera makan meskipun sajian yang dihidangkan oleh koki sangat menggugah selera dan terbuat dari bahan-bahan yang mahal. Dia meletakkan garpu yang dia pegang dan segera membersihkan sisa-sisa makanan yang mungkin menempel di bibirnya.


"Calon menantu idaman kalian saat ini sedang tidur di kamar Daisy. Pasti mereka lelah setelah melewati malam yang panjang," jelas Peter.


Peter mengambil segelas susu yang tersaji di hadapannya. Lalu meminumnya dengan senyum kemenangan. Semalam, saat Peter sukses menjerumuskan Joanna kedalam sungai, dia segera bergegas menghampiri Daisy. Tapi urung mengetuk pintu saat dia mendengar suara-suara yang keluar dari mulut Daisy di depan pintu.


Peter tidak ingin mengganggu kesenangan adiknya yang didapatkan dengan susah payah. Terlebih saat dia juga mendengar suara Daisy yang berulang kali menyebut nama William dan menginginkan lagi dan lagi.


Tanpa curiga akhirnya Peter pergi. Tidak tahu bahwa yang meniduri adiknya adalah lima pria yang mengidap penyakit kelamin parah. Tanpa tahu Daisy meminta lagi dan lagi karena terpengaruh obat yang telah Joanna berikan untuknya.


"Oh iya, aku punya satu kabar bahagia lagi. Aku sudah menyingkirkan penghalang hubungan antara William dan Daisy. Kedepannya, kalian tidak perlu cemas lagi. Hanya bersenang-senanglah menikmati hari tua kalian dengan menimang cucu-cucumu yang lucu" kata Peter.


"Peter, jangan bilang kau?" Nyonya Amber tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi tersenyum semakin lebar.


"Aku sudah menyingkirkan istrinya semalam. Aku membuatnya terjun ke jurang dan tenggelam bersama mobil yang dikendarainya," jawab Peter.


"Kalau tahu semudah ini, kenapa kita tidak melakukannya saja sejak dulu?" timpal Tuan Amber.


Pria tua itu tertawa puas. Di otaknya, kini sudah tersusun rencana yang banyak dan indah. Dia sudah melihat Daisy menikah dengan William dengan acara yang megah. Melihat anak-anak mereka berlarian di taman dengan memanggilnya dengan sebutan kakek. Lalu dia akan meminta William menyerahkan posisi pewaris itu untuk Peter.


William sudah kaya, William sudah sangat kaya hanya dengan menjadi bagian dari Matthews Group. Jadi tidak perlu menjadi pewaris di Bangsawan Timur lagi untuk menambah jumlah kekayaannya. Lagipula sepengetahuan Tuan Amber, kakak angkat William sangat menyayangi William. Pria itu bahkan rela menyerahkan wanitanya untuk William. Jadi dimasa depan kalau William merasa kekurangan uang, dia bisa meminta lebih padanya.


Lalu soal Dark Ocean, dia akan meminta William untuk menyerahkan kuasa itu untuk dirinya sendiri. Dengan begitu, Keluarga Amber akan menjadi keluarga nomor satu di Kota Bangsawan Timur. Sekumpulan tetua itu juga tidak akan berani padanya lagi. Lalu selanjutnya adalah membuat Peter menikah dengan nona lain dari Kota Utara, Agria.


Tidak masalah meskipun wanita itu bukan lagi seorang gadis. Tidak masalah bahwa wanita itu sudah memiliki seorang anak berumur enam tahun. Karena yang diinginkan Tuan Amber adalah menguasai Kota Utara. Benar, itu adalah rencana selanjutnya. Membuat mereka menikah lalu melakukan segala upaya dengan tipu muslihat untuk membuat William membenci Kota Utara. Lalu bersama-sama akan melawan mereka sehingga bertambah lagi wilayah kekuasaan Tuan Amber. Setelah itu biarkan Peter menikah dengan wanita pilihannya sendiri.


Itu hanyalah khayalan indah dari seorang pria tua yang terlalu puas diawal. Angan-angan dari seorang pria tua yang terlalu serakah dan mimpi-mimpi dari seorang pria tua yang terus mencari makan untuk membuatnya kenyang tanpa menyadari lambungnya terlalu kerdil untuk menampungnya.


...***...