CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Will, Apa Oskar Anakmu?



Arthur segera menemui Oskar dan William setelah berbicara sebentar dengan Joanna. Menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang untuk mulai bermain-main dengan Oskar. Awalnya Oskar enggan dan menyembunyikan wajahnya ke pelukan William, tapi Arthur selalu menggodanya dengan cilukba dan menggelitik Oskar sehingga akhirnya Oskar mulai terpancing. Mulai menggerakkan tangan dan kakinya dan bermain-main.


Senyuman yang sempat hilang kembali merekah meskipun dengan wajah yang pucat. Oskar juga sudah tidak malas bergerak. Terkadang berdiri dan berlari kecil di atas ranjang pesakitannya, juga duduk di sendiri tanpa memeluk siapapun. Tak terasa mereka sudah bermain-main selama satu jam. Mereka bertiga menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, itu adalah Alexa.


Dia sepertinya sudah siap untuk pulang tapi menyempatkan diri untuk mampir lagi. Alexa berjalan pelan, mendekati Arthur dan William.


"Joanna sudah meminum minumannya?" tanya Alexa pada Arthur.


"Sudah," jawab Arthur.


Semuanya melihat ke arah Joanna, dia sudah tertidur di sofa dengan posisi yang sepertinya kurang nyaman tapi tetap membuatnya terlelap.


"Bagus, dia tidak akan istirahat jika tidak minum obat tidur," jawab Alexa.


"Obat tidur?" tanya William.


"Iya, aku sengaja menambahkan di minumannya," jawab Alexa.


Alexa memberikan selimut untuk Joanna kemudian mendekati Oskar yang masih di pelukan William. Oskar sudah menyambut Alexa dengan baik, tapi enggan di gendong meskipun bersedia menciumnya, "nanti Xiao O melukai adik bayi kalau di gendong Bibi Al," kata Oskar pelan.


"Adik bayi?" tanya Alexa.


Oskar mengangguk, lalu menunjuk perut Alexa. Sementara Arthur dan Alexa saling pandang, "Al, apa kau hamil?" tanya Arthur.


"I-itu ... aku tidak tahu," jawab Alexa canggung.


"Tapi kenapa anak itu bilang begitu?" tanya Arthur.


"Mana aku tahu?" jawab Alexa.


"Jangan bertanya padaku, aku tidak tahu soal begituan!" sergah William saat melihat Alexa dan Arthur melihatnya secara bersamaan.


Alexa terdiam untuk sesaat, melihat Oskar dan William secara bergantian. Tentu saja diamnya Alexa menarik perhatian Arthur dan William.


"Ada apa?" tanya Arthur.


"Arthur, coba perhatikan. Tidakkah mata mereka sama?" tanya Alexa.


"Benarkah?" tanya Arthur. Arthur mendekati William, melihat mata William lebih dekat dan lekat-lekat. Itu membuat William sangat jijik dan ingin muntah. Diapun menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya.


"Jangan berpikiran macam-macam, aku hanya melihat matamu," olok Arthur sembari melayangkan pukulan ringan.


"Aku tahu, tapi kau terlalu dekat!"


Sekali lagi, Arthur memperhatikan mata William lalu melihat mata Oskar. Benar, mata mereka memang sama, "Will, apa Oskar ini anakmu?" bisik Arthur.


"Arthur, jangan sembarangan menuduh. Kenapa tiba-tiba aku juga punya anak. Kapan aku pernah membuang anak?" jawab William bersungut-sungut.


"Aku hanya bercanda," kilah Arthur, menepuk pundak William dengan pelan.


Alexa hanya tertawa, kemudian mendekat ke arah Arthur, "Arthur, bisakah bermalam disini untuk menjaga Oskar?" tanya Alexa.


"Tentu," jawab Arthur ringan.


William hanya melihat, tapi sepertinya hubungan mereka memang sudah sangat dekat seperti yang Arthur ceritakan. Alexa bahkan tak ragu meminta suaminya untuk bermalam menjaga anak dari sahabatnya.


"William, bisakah mengantar Alexa pulang?" tanya Arthur. Dia juga harus memastikan istrinya pulang dengan aman.


"Bisa," jawab William tak kalah ringan.


"Aku mengerti!" jawab William lagi.


Arthur kembali meminta Oskar untuk diberikan kepadanya. Lalu mereka bertiga bangkit dan mengucapkan kalimat semacam perpisahan untuk mengakhiri kebersamaan mereka malam ini.


"Will, terima kasih!" ucap Arthur lagi saat William sudah berdiri di ambang pintu.


William tersenyum, lalu melambaikan tangannya, "Bukan masalah!" katanya sambil menutup pintu.


Sampai di depan pintu, William melihat Alexa mencari-cari sesuatu di dalam tas miliknya. Cukup lama, tapi sepertinya Alexa masih tidak menemukan barang yang dia cari.


"Ada apa?" tanya William memastikan.


"Will, tunggu sebentar. Aku meninggalkan barang di ruanganku. Kau duluanlah, kita bertemu di parkiran nanti," ujar Alexa.


"Baiklah," jawab William singkat.


Alexa segera pergi setelah William menyetujui sarannya. Sementara William masih berada di tempatnya, dan kembali melihat kedalam dari kaca kecil yang ada di pintu.


"Apa?" tanya William tak percaya.


William melihat Oskar sudah tidak menangis saat ditinggal sendirian di ranjangnya. Memegang mainan kecil di tangannya untuk dimainkan. William semakin mendekat, mencari keberadaan Arthur yang tak terlihat. Setelah memutar pandangannya, William bisa melihat Arthur sedang mendekati Joanna yang tertidur lelap dengan bantuan obat. Dengan sangat berhati-hati Arthur mengangkat Joanna, memperbaiki posisi tidur Joanna yang kurang nyaman.


Masih menarik selimut untuknya dan apa yang dilakukan Arthur berikutnya membuat William tak percaya. Karena Arthur mencium kening Joanna dan membelai pucuk rambutnya beberapa kali sebelum akhirnya kembali menemui Oskar dan menggendongnya.


Arthur memeluk Oskar, menari-nari dan menepuk-nepuk punggungnya. Sepertinya Arthur sedang mencoba untuk membuat Oskar kembali tidur karena malam sudah cukup larut.


"Apa aku tidak salah lihat? Kurasa, hubungan mereka memang tidak sedangkal yang terlihat. Joanna sepertinya biasa-biasa saja dan tak tahu apa-apa, tapi tidak dengan Arthur. Kalau dilihat dari sini, hubungan mereka sudah layaknya keluarga kecil. Seorang suami menggantikan istrinya untuk menjaga anak mereka yang sedang sakit. Dan membiarkan istrinya tidur karena kelelahan telah menjaga anaknya sepanjang hari. Ah, kenapa mereka sangat romantis, tapi salah orang?" batin William lalu pergi untuk segera menemui Alexa di lobby.


.


.


.


Joanna tersadar saat subuh, langsung terbangun ketika menyadari dia tidur di tempat yang salah. Seharusnya dia tidur bersama Oskar, bukan di sofa seperti ini.


Kepalanya sedikit pusing karena terbangun tiba-tiba. Joanna menoleh, memutar pandangannya ke arah Oskar. Ada Arthur disana, tertidur dengan lelap. Masih memeluk Oskar dengan erat, menggantikan perannya selama semalam.


Joanna bangkit mendekat kearah ranjang setelah menguasai dirinya. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Terlalu cepat untuk membangunkan Arthur, juga terlalu lambat untuk menyuruhnya pulang. Jadi Joanna membatalkan uluran tangannya yang hampir menyentuh Arthur.


Joanna menarik tangannya, tidak ingin mengganggu Arthur yang terlelap dalam mimpinya. Joanna sudah berbalik arah tapi kembali melihat Arthur karena dirasa ada yang salah, rupanya Arthur tertidur dengan masih menggunakan sepatunya.


Akhirnya Joanna mendekat ke sisi ranjang Arthur, melepas sepatunya dengan sangat pelan, juga melonggarkan dasinya dengan pelan.


Semuanya berjalan dengan lancar, sampai Joanna membeku untuk sesaat. Haruskah dia melonggarkan ikat pinggangnya juga?


Joanna ragu, tapi tangannya bergerak lebih pelan dari sebelumnya. Juga menahan nafas untuk tidak menimbulkan suara, "Arthur, aku bukannya ingin melakukan hal yang tidak-tidak. Aku hanya membantumu melonggarkan ikat pinggang. Tidak baik bagimu tidur dengan ikat pinggang yang rapat seperti ini," batin Joanna.


Setelah beberapa saat, akhirnya Joanna berhasil. Joanna menghirup nafas lega, syukurlah Arthur tidak terbangun. Joanna pikir semuanya aman dan berniat menjauh agar Arthur dan Oskar tidak terganggu tapi sepertinya tangannya tersangkut.


Joanna berhenti, kembali menahan nafas dan menutup mulut dengan satu tangannya yang lain. Tidak, tangannya tidak sedang tersangkut tapi dipegang Arthur yang masih tertidur, juga masih menghadap ke sisi kanan menghadap Oskar.


"Arthur, kau tidak sedang bermimpi selingkuh denganku kan?" batin Joanna. Kemudian menarik tangannya secepat mungkin dan menggantinya dengan mainan Oskar untuk di ganggam Arthur.


...***...