CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Mama, Tolong!



"Kau sebenarnya ada dimana?" keluh Agria.


Agria mulai lelah. Nafasnya tersendat-sendat karena terus berlari dengan meneriakkan nama Oskar. Di persimpangan jalan itu dia menunduk, mengambil nafas panjang dan beristirahat sebentar. Tapi matanya menangkap sebuah benda yang terjatuh di jalan beraspal tepat di depannya.


Agria memungut benda itu. Dia yakin benda ini adalah benda yang melingkar di tangan Oskar. Sebuah gelang kecil yang sempat dia perhatikan saat dia menciumi tangan Oskar kemarin malam.


"Ini milik anak itu," kata Agria.


Agria segera bangkit dan menoleh ke berbagai arah. Anak itu seharusnya pernah kesini. Tapi kearah mana selanjutnya. Detak jantung Agria semakin tak beraturan. Dia yakin anak itu bukannya sengaja menghilang, tapi memang ada orang yang sengaja menghilangkannya. Dengan berbekal keyakinan, Agria akhirnya menyusuri salah satu jalan itu dengan memanggil nama Oskar lebih keras lagi. Tapi tidak ada sahutan apapun dari siapapun. Sampai dia menemukan benda lainnya lagi di depan sana. Masih sama, benda itu juga milik Oskar kecilnya.


"Apa dia ada disekitar sini?" tanya Agria.


Agria segera bergegas. Kali ini tidak berteriak lagi karena takut suaranya akan di dengar para penculik itu. Setidaknya, Agria sudah tahu Oskar ada di sekitar tempat ini mengingat ujung jalan ini adalah jalan buntu.


Dengan petunjuk yang sedikit itu, Agria menyempatkan diri untuk menghubungi Joanna. Mengatakan bahwa dia menemukan gelang milik Oskar dan meminta pengawal atau apapun itu untuk menyusulnya. Lalu kembali berlari dan terus mencari.


"Cepat lemparkan dia ke danau!" teriak salah satu pria suruhan Anye.


DEG


Agria mendengar suara itu meskipun samar. Jantungnya kembali sakit. Siapa yang akan di lemparkan ke danau. Dari kejauhan, dia bisa melihat empat orang pria berdiri di tepi danau yang tenang.Tapi tidak jelas siapa yang akan dilempar.


"Mungkinkah itu Oskar?"


Agria kembali berlari secepat yang dia bisa. Tidak peduli dengan dahaga yang menyerang tenggorokannya. Tidak peduli lagi dengan ponsel yang tanpa dia sadari telah dia buang begitu saja di jalanan.


Itu dia. Akhirnya Agria melihatnya. Di bawah sana anaknya sedang memeluk kaki pria itu. Bukan hanya itu dia juga dipukul oleh pria yang mencoba melemparkannya ke danau. Untuk yang pertama kalinya, Agria merasa sakit sebagai seorang ibu. Hatinya seperti tersayat sembilu ketika melihat anak kecil itu di pukul dan menangis.


Mata Agria memerah dan panas. Sangat merah meskipun tanpa air mata. Hatinya memang sakit, tapi nalurinya membunuhnya lebih mendominasi sehingga menghalangi air matanya untuk tumpah.


"Berani melukai anakku, benar-benar cari mati!" dengus Agria.


Agria segera melompat, mendarat dengan sempurna di jalanan di bawahnya. Tangannya dengan cepat membuka pakaian luarnya dan menghempaskannya begitu saja. Menyisakan tank top yang memamerkan pusarnya. Itu masih belum cukup, karena Agria juga segera mengambil pistol yang dia sembunyikan di pinggang dan mengisinya dengan peluru.


"Hanya empat orang saja. Aku pernah membunuh lebih banyak dari ini," batin Agria.


Agria melangkah dengan pasti. Langkah demi langkah yang dia ayunkan sudah pasti memperpendek jarak diantara mereka. Dia berharap Oskar atau penjahat itu tidak menyadari kedatangannya agar semuanya lebih mudah. Tapi harapannya harus pupus karena Oskar melihatnya. Lalu dengan lantang berteriak, "Mama, tolong Xiao O!"


DEG


Sekali lagi Agria mendapatkan serangan kejutan di jantungnya. Sepertinya dia harus segera pergi ke dokter setelah ini. Kenapa dia jadi berhalusinasi. Telinganya sepertinya juga bermasalah. Apa yang dia dengar barusan, apa itu Oskar, apa dia sedang bermimpi. Kenapa anak itu mau memanggilnya dengan sebutan mama. Seharusnya hanya Joanna yang mendapatkan panggilan spesial seperti itu kan?


Agria tidak menyahut. Dia tidak menghiraukan panggilan Oskar karena menganggapnya sebagai khayalan semu.


Terlebih lagi ada hal lain yang lebih penting sekarang. Saat ini, saat mereka masih belum menyadari apa yang terjadi. Dia harus segera membereskannya.


"Tutup matamu, Oskar!" kata Agria sembari mengangkat senjatanya.


"Apa?" tanya Oskar tak percaya.


"Mommy!" gumam Oskar pelan. Kini anak itu memanggil mommynya, melepaskan pegangannya dari kaki penjahat itu begitu saja dan terduduk lemas di tempatnya.


"Mommy, apa Xiao O masih bisa bertemu mommy setelah ini. Apa Xiao O masih bisa melihat adik bayi setelah ini? Xiao O belum memenuhi janji Xiao O untuk bermain sepakbola dengannya dan daddy," batin Oskar.


Anak itu tidak tahu harus melakukan apa. Memang ini bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi mengerikan seperti ini. Tapi untuk ukuran anak yang masih berusia enam tahun, hal seperti ini tetap membuatnya sangat takut.


Disaat-saat genting seperti itu, untungnya Oskar ingat dengan kata mommynya. Sebuah kalimat yang pernah Joanna katakan kemarin malam. Sebuah kalimat yang akhirnya menenangkan dan membuatnya yakin akan tetap hidup setelah ini.


..."Mommy memang hebat. Tapi ibumu yang mengajari mommy menjadi hebat. Jadi, menurutmu siapa yang paling hebat?"...


"Mama, Xiao O akan diam saja!" batin Oskar.


Oskar hanya terus berlutut. Hanya terus memegangi lututnya tanpa menutup matanya. Kejadiannya sebenarnya sangat singkat, tapi itu terasa sangat lama bagi Oskar. Sampai dia mendengar tiga kali tembakan dan melihat tiga pria itu berjatuhan saat itu juga.


"Hanya kau yang tersisa. Kau ingin mati ditembak di bagian mana?" tanya Agria pada satu-satunya pria yang tersisa dengan wajah savage-nya.


Agria bukannya sengaja menyisakannya, tapi pria itu berdiri tepat di depan Oskar sekarang. Dia takut pria ini menarik Oskar kapan saja dan menjadikannya sebagai tameng.


Pria itu hanya tersenyum. Kemudian mulai tertawa. Sungguh sial dia tidak menyangka seorang wanita bisa membunuh ketiga temannya tanpa berpikir. Apa putri dari Kota Utara memang sehebat dan sekejam ini?


"Pergilah!" kata Agria.


"Apa maksudmu, Nona?" tanya pria itu.


"Aku memberimu kesempatan untuk pergi. Pergilah sejauh mungkin. Jangan pernah kembali lagi. Aku akan membebaskanmu!" jawab Agria.


Mendengar jawaban dari Agria membuat pria itu tertawa semakin keras. Dia tahu apa maksud Agria. Wanita itu sebenarnya hanya mengulur waktu sampai dia lengah.


Membebaskannya, mana mungkin?


"Nona, kau hanya takut aku menggunakan anak ini sebagai pelindung diriku kan?" tanya pria itu.


Pria itu kembali tertawa lalu segera mengangkat Oskar di pundaknya. Dia baru saja mendapatkan ide. Dia akan membuang anak ini ke danau dan membuat Agria terjun bersamanya ke danau. Lalu dia bisa pergi dengan tenang.


"Kau ingin anak ini kan. Maka ambillah!" kata pria itu dengan melemparkan Oskar begitu saja seperti seonggok sampah.


"Mama!" teriak Oskar saat dia dilemparkan begitu saja ke danau yang dingin itu.


"Kau bajingan!" umpat Agria.


Agria segera berlari. Lalu terjun bebas untuk menyelamatkan anaknya yang mulai tenggelam. Lalu bagaimana dengan satu penjahat itu?


Mati.


Tentu saja dia mati. Karena sebelum terjun ke danau, Agria memberondongnya dengan peluru yang tersisa di pistolnya.


...***...