CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Semakin Rumit



"Jose, kau membiarkannya begitu saja? Bolehkah kakak jujur, ini seperti bukan dirimu yang biasanya," komentar Agria.


"Kakak, aku hanya ingin menepati janjiku pada pria itu," jelas Joanna.


"Janji? Pria itu?" tanya Agria.


"Eum. Satu janjiku untuk Louise Matthew bahwa aku tidak akan membunuh lagi," jawab Joanna.


Agria tersenyum mendengar jawaban Adiknya, kemudian memakai kembali jaket miliknya yang sempat dia lepaskan. "Dia hebat juga. Bisa merubah dirimu yang liar dan kejam menjadi manis seperti ini," puji Agria.


Joanna hanya menjawab komentar Agria dengan senyuman lalu mengambil Reagan yang sudah terjaga di pangkuan Diaz sedari tadi. Apa yang harus dia katakan, karena dia adalah seorang ibu sekarang. Dia pun juga sama, ingin menjadi ibu yang normal seperti ibu-ibu lainnya seperti yang Louise inginkan.


Toh dia yakin, Louise sebagai ayahnya pasti akan membereskan Daisy dengan caranya sendiri nanti. Setelah secara terang-terangan melukai anaknya, mana mungkin pria itu akan diam saja. Dirinya sebagai ibunya saja sering kali diomeli hanya karena Reagan mulai menangis. Hanya mulai menangis, bukan menangis sungguhan. Karena jika Reagan sudah menangis sedikit saja, Joanna ingat betul bagaimana tatapan tajam yang diberikan Louise untuknya.


"Reagan, apa ini hanya perasaan mommy. Kenapa kau cepat sekali besar?" tanya Joanna pada Reagan yang sedang membuka matanya lebar-lebar dan memakan jarinya sendiri.


Bayi itu melihat mata ibunya dengan matanya yang besar. Menjawab pertanyaan ibunya dengan bahasanya sendiri. Lalu menggerakkan kaki dan tangannya yang dipenuhi bulu halus dengan lincah dan memonyongkan bibirnya yang merah. Terkadang Joanna juga sangat heran, kenapa anaknya penuh bulu seperti ini. Rambutnya bahkan sangat lebat sejak lahir sama persis saat Oskar bayi. Apa karena mereka berasal dari ayah yang terlahir dari rahim yang sama?


"Apa Reagan sudah haus. Reagan ingin menyusu lagi?" tanya Joanna dengan menyentil hidungnya yang mancung.


Bayi itu seperti mengerti bahasa ibunya, lalu tangannya yang mungil menjangkau jari Joanna dan tersenyum memperlihatkan gusinya.


.


.


.


"Apa yang kau lakukan, Daisy?" tanya Nyonya Amber.


Wanita tua itu segera pulang untuk menemui anaknya, Daisy saat mendengar Daisy ditahan oleh Tetua Utama. Amber sangat marah, dia tahu anaknya menyukai William. Tapi tidak bisakah mendapatkan William tanpa melibatkan bayi itu?


"Ma?"


"Kenapa kau sangat keras kepala. Kenapa tidak mau bersabar sebentar saja. Mama sudah menyiapkan sebuah rencana untukmu, Daisy?" kata Amber.


"Tapi mama susah meminta Daisy bersabar selama setahun, Ma. Sejak William baru menikah sampai akhirnya buah cinta mereka lahir. Dari Anye masih hidup sampai aku membunuhnya dan mengantarnya ke neraka. Dan mama masih memintaku bersabar. Ma, apa mama berencana membiarkan anak kedua mereka lahir?" protes Daisy.


"Daisy. Bukan seperti itu maksud mama!" bentak Amber.


"Lalu apa, Ma?" tanya Daisy marah.


"Beberapa hari lagi kakakmu kembali. Papamu berencana mengadakan acara jamuan makan untuk menyambut kedatangannya. William akan diundang saat itu. Papamu sudah berencana mendekati tetua untuk memberikan lebih banyak tugas kebangsawanan yang dilakukan kalian sehingga kau punya kesempatan untuk mendekatinya. Apa kau mengerti kau sudah menghancurkan rencana papamu?" jelas Amber.


Amber, nyatanya adalah seorang wanita yang haus akan kekuasaan. Dia merayu suaminya sendiri agar bersedia membujuk Tetua. Karena jika mereka berhasil membuat William dan Daisy kerap bersama, dia yakin akan tumbuh cinta dari William. Tapi karena sudah begini, jangankan mengabulkan permintaan mereka, hadir di acara jamuan makan itupun sepertinya tetua enggan.


"Kakakku akan pulang?" tanya Daisy.


"Seharusnya kurang dari sebulan kakakmu akan kembali. Lihatlah kekacauan apa yang kau lakukan karena tidak kesabaranmu itu!" dengus Amber kesal.


Dua wanita itu berpikir sejenak. Amber mondar-mandir dengan cemas dengan menggigit kuku-kukunya. Lalu, terlintas sebuah ide agar tetua memberikan hukuman ringan dan bersedia datang ke acara itu nanti.


"Daisy, akui saja kesalahanmu!" kata Amber.


"Apa?" tanya Daisy tidak percaya. Setelah dia bersikeras untuk menolak, kenapa dia harus mengakuinya pada akhirnya.


"Daisy, hanya inilah satu-satunya cara anakku. Kau harus menurunkan egomu kali ini saja. Berpura-puralah menyesal dan berbuat baik seperti biasanya. Dengan begitu kita masih punya kesempatan," jelas Daisy.


"Ma?" Daisy masih enggan. Kenapa dia harus mengemis-ngemis hanya untuk mendapatkan cinta William?


"Kau tidak mau?" tanya Amber.


"Tidak mau!" tolak Daisy.


Amber tidak punya pilihan selain memaksa. Jadi dia mengambil pisau buah yang ada di depannya. Membuat Daisy memegangnya dan yang terjadi setelahnya sangat tidak terpikirkan oleh Daisy. Bahwa mamanya tega menyayat tangannya seolah-olah dia ingin bunuh diri karena terlalu frustasi.


"Akh!" teriak Daisy.


Penjaga yang menjaga di luar langsung berdatangan setelah mendengar teriakan. Lalu segera membawa Daisy untuk mendapatkan perawatan sebelum Daisy kehilangan banyak darah.


"Ma, baiklah. Kalau ini satu-satunya cara untuk mendapatkan William. Maka aku akan melakukannya. Tidak, tidak hanya membuat tetua bersedia hadir di jamuan makan. Tapi aku juga akan membuat William tidak ada pilihan lain selain menikahiku saat itu," batin Daisy.


.


.


.


"Will, apakah kau membutuhkan cermin?" tanya Arthur.


Nafas pria itu memburu. Sesekali tersenyum seperti orang gila setelah menyadari apa yang baru saja mereka berdua lakukan. Tubuh mereka kotor penuh debu dan pakaian mereka lusuh. Bahkan ada beberapa bercak darah yang muncrat dipakaiannya. Terakhir kali mereka mandi, seharusnya adalah saat mereka berada di kamp mereka beberapa hari yang lalu.


"Arthur, disaat seperti ini kau masih bisa bercanda?" jawab William. Pria itu mengusap rambutnya dengan kasar. Dia bisa melihat gambaran dirinya saat melihat Arthur. Arthur pun juga bisa melihat gambaran dirinya dari William. Masihkah mereka membutuhkan cermin untuk melihat diri mereka yang sangat menyedihkan?


Sama seperti Arthur, sejenak kemudian William juga tersenyum karena tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang. Jujur saja, tangannya masih gemetaran. Ini bukan pertama kalinya mereka membunuh. Tapi membunuh mereka dengan meledakkan bom di sarang musuh dengan jumlah nyawa manusia sebanyak itu baru kali ini mereka lakukan.


Lalu, siapa yang mereka binasakan? Tentu saja Abixz99 dan antek-anteknya. Mereka sudah kalah setelah mereka berperang kurang lebih selama dua minggu. Hanya dua minggu tapi sangat melelahkan.


"Kembali ke markas!"


Seruan itu datang dari Arthur. Mereka sepakat untuk kembali ke markas setelah ini. Meninggalkan puing-puing reruntuhan markas lawan yang masih terbakar akibat ledakan besar itu.


William dan Arthur memang sudah akan kembali, tapi tidak dengan Louise. Pria itu masih berada di tempat yang lain menghadapi musuh yang lain. William dan Arthur bahkan tidak tahu bahwa Louise sedang bersama manusia lain juga. Seorang junior yang menjadi kartu As-nya yang tidak diketahui oleh mereka.


Sama seperti disini, musuh di tempat Louise juga sudah kalah. Kematian ketuanya juga sudah di depan mata. Hanya saja Louise masih melakukan sesuatu yang sedikit mengerikan agar musuhnya itu bersedia membuka mulutnya dan mengatakan sebuah rahasia yang baru terdeteksi belum lama ini.


Setelah sekian lama menyiksanya, akhirnya rahasia itu terungkap juga. Sebuah rahasia yang tidak Louise inginkan untuk diketahui William, Arthur, atau siapapun juga termasuk Joanna. Sebuah rahasia, yang hanya akan diketahui Louise sendiri dan juniornya saja.


"Habisi dia!" perintah Louise pada juniornya.


Junior yang sejak tadi memegang belati itu mulai menjalankan tugasnya. Tanpa berkedip membunuh musuh terakhirnya seperti menyembelih seekor ayam. "Apa yang akan kita lakukan sekarang, Senior?" tanya Junior setelah menyarungkan belatinya yang berlumuran darah.


"Pulang, aku sudah sangat merindukan anak-anakku!" jawab Louise.


"Selanjutnya bagaimana?" tanya Junior lagi. Bukan soal anak yang ingin dia tanyakan. Tapi rencana mereka kedepannya.


"Kau terlalu cerewet. Aku akan memikirkannya nanti!" jawab Louise angkuh.


Junior itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Seniornya memang selalu pemarah seperti ini. Dia pun hanya terus mengikuti Louise kemanapun dia pergi. Sampai Louise berhenti karena tidak menginginkan keberadaannya diketahui William dan Arthur. "Kenapa kau masih mengikutiku. Apa kau ingin menampakkan wujudmu yang mengerikan itu dihadapan Arthur dan William?" tanya Louise.


"Senior!" protes Junior.


"Pergilah!" usir Louise.


Junior itu hanya berdecak pelan. Kemudian pergi tanpa protes lagi. Pergi ke tempat lain yang pasti tidak akan terdeteksi oleh dua pria yang dianggapnya idiot itu.


"Wajahku ini sama tampannya denganmu dan kau tega mengataiku mengerikan. Tunggu aku merebut calon istrimu agar kau menyadari betapa tampannya aku, Senior!" canda Junior dalam hatinya.


"Tunggu!" tahan Louise ketika melihat juniornya pergi.


Junior itu berhenti dan menoleh. Apa seniornya itu mendengar bisikan hatinya?


"Ada apa?" tanya Junior.


"Terimakasih! Kau sangat bisa diandalkan seperti biasanya. Lain kali kalau ada misi yang berbahaya lagi, aku akan mengandalkanmu sepenuhnya," kata Louise.


"Terserah kau saja. Asal aku tidak mati aku pasti akan tetap mematuhi perintahmu apapun itu," jawab Junior.


Kali ini dia tidak berhenti lagi. Dia semakin jauh dan jauh meninggalkan Louise. Louise pun begitu. Dia juga segera pergi saat melihat juniornya hilang dari pandangan matanya.


"Benar-benar merepotkan. Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Louise.


...***...