
"Joanna, apa kau pikir bisa datang dan pergi sesuka hatimu?" tanya Louise.
"Kenapa tidak bisa?" jawab Joanna.
Louise mulai berjalan mendekati Joanna, seharusnya amarahnya sudah berkumpul di ubun-ubun dan siap meledak kapan saja. Louise, dia sudah cukup sabar menghadapi sikap Joanna yang tiba-tiba berubah. Dia juga sudah cukup sabar menunggu Joanna untuk berbicara. Selama ini, tidak ada satupun yang mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini darinya selain Joanna. Tapi apa yang dia dapat, wanita yang berdiri di hadapannya ini tidak hanya mengabaikannya, tapi juga memintanya untuk tidak menemuinya lagi setelah malam ini, omong kosong macam apa itu.
Setelah apa yang mereka lakukan, bisa-bisanya Joanna meminta satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa Louise lakukan, yaitu tidak menemui Joanna lagi. Jika tahu akhirnya akan begini, Louise pasti lebih memilih untuk benar-benar menidurinya hari itu. Membuat Joanna hamil dan melahirkan anaknya sehingga tidak ada kata tinggalkan aku atau jangan temui aku lagi yang keluar dari mulut manisnya.
Ya, Louise sangat ingin marah. Ingin sekali memaksa Joanna menjelaskan semuanya. Tapi semuanya luruh setelah melihat mata sebening embun itu. Meskipun Joanna selalu mempermainkan perasaannya, nyatanya Louise tidak akan pernah bisa marah. Karena untuk Joanna, Louise sudah memutuskan untuk tidak akan pernah marah meskipun Joanna melakukan kesalahan apapun juga. Itulah janjinya, janji yang hanya diketahui oleh Louise seorang. Karena Louise, benar-benar mencintai dan ingin memiliki Joanna kesayangannya seutuhnya.
Louise tersenyum kecut, baru beberapa saat yang lalu mereka makan malam bersama, tertawa bersama. Tapi kenapa sudah harus bertengkar setelah hal-hal romantis yang baru saja mereka lewati. Louise menarik nafasnya panjang, apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah Joanna sebegitu bodohnya sehingga tidak mengerti juga arti dari kata 'menikahlah denganku' atau 'aku akan menafkahimu' yang sempat dia katakan sebelumnya? Lalu, kata apa yang harus Louise katakan sementara Joanna bahkan tidak paham meskipun Louise sudah mengatakan aku mencintaimu.
"Apa yang kau lakukan, Louise?" tanya Joanna ketika Louise lagi-lagi menggenggam tangannya, kemudian memeluknya.
"Aku akan mengantarmu pulang," jawab Louise singkat. Kemudian menarik Joanna menuju parkiran. Tentu saja ini bukan yang Joanna harapkan. Seharusnya Louise marah dan mengusirnya saat ini. Tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya?
"Apa yang dia lakukan?" batin Joanna.
"Kenapa, apa kau tak ingin aku mengantarmu?" tanya Louise datar.
"A-aku,-"
"Masuklah!" perintah Louise sembari membuka pintu mobil untuk Joanna.
Hanya dengan melihat sorot mata yang tajam dan wajah yang datar sudah membuat Joanna takut. Kalau Louise mengantarnya pulang, bukankah itu berarti Louise akan tahu dimana rumahnya?
"Joanna, apa kau tidak mendengarku?" tanya Louise, "apa kau juga tak ingin aku tahu dimana rumahmu?"
"Bukan seperti itu," jawab Joanna.
"Lalu, kenapa masih berdiri disini?" tanya Louise.
Joanna tidak menjawab, tapi menuruti perintah Louise yang memintanya untuk segera masuk ke mobil. Akhirnya, Joanna mengalah dan membiarkan Louise mengantarnya malam ini. Selama perjalanan, mereka pun masih diam. Louise hanya fokus dengan mobilnya, sementara Joanna hanya berharap dia akan segera sampai di rumahnya. Pulang ke rumah barunya yang baru ditempatinya tiga hari yang lalu.
"Ini rumahmu?" tanya Louise saat mereka sampai di depan gerbang.
"Eum. Terimakasih, sudah mengantarku pulang," kata Joanna sambil melepas sabuk pengamannya dan bersiap turun.
"Hanya itu?" tanya Louise menahan Joanna dengan tangan kirinya.
"Kau mau apa?" kata Joanna.
"Bukan apa-apa. Kenapa sepertinya sepi, apa ayahmu tidak dirumah?" tanya Louise.
"Aku, tidak punya ayah," jawab Joanna.
"Tidak punya?" ulang Louise.
"Tidak," jawab Joanna sambil melepaskan tangannya dari Louise.
"Oh, maaf!" kata Louise.
Louise semakin pusing sekarang. Joanna, selain semakin cantik, kenapa juga semakin misterius. Tidak punya ayah katanya, lalu siapa yang mengaku jadi ayahnya saat Joanna berkunjung ke villanya hari itu. Orang tua brengsek itu bahkan memintanya untuk pelan-pelan jika ingin melakukan sesuatu pada Joanna. Jadi, beberapa patah kata yang sempat Louise pikir sebagai restu itu, mungkinkah salah alamat?
"Joanna!" panggil Louise.
"Kenapa kau turun?" tanya Joanna ketika melihat Louise mengikutinya turun.
"Aku akan datang menjemputmu besok," kata Louise.
"Untuk apa?"
"Kau punya hutang penjelasan untukku," jawab Louise.
"Tidak ada lagi yang ingin ku jelaskan, Louise!" kata Joanna.
"Apa kau pikir aku sebodoh itu. Joanna, kalau kau punya masalah, katakan dengan jelas apa masalahmu dan bicarakan baik-baik padaku. Bukan seperti ini caranya, menghindariku lalu memintaku tidak menemuimu lagi tanpa aku tahu apa alasannya. Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku, Joanna. Apa kau masih tidak mengerti juga, aku ini sangat mencintaimu?" kata Louise, kemudian memeluk Joanna.
"Maafkan aku, Louise! Tapi, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi di masa depan," kata Joanna pelan. Mendorong tubuh Louise yang memeluknya tapi tubuh itu sama sekali tidak bergerak.
"Kenapa?" tanya Louise.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin seperti itu," jawab Joanna.
"Setelah semua yang kita lalui?" tanya Louise.
"Apa maksudmu?" tanya Joanna.
Louise melihat ke kiri dan kanan, memastikan tidak akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Lalu, mendekatkan mulutnya dan mengatakan dengan pelan, "Joanna, aku sudah melihat semuanya. Aku bahkan masih ingat bagaimana kau terus memanggil namaku dan meminta lebih. Aku juga memaksamu menikmati permainan itu sampai kau mengeluarkan cairan cintamu. Apa kau benar-benar akan membiarkanku pergi dan tidak bertanggungjawab?"
Joanna tak menjawab, lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa, "Louise-,"
"Aku tahu kau pun memikirkan ini. Tapi, aku tidak mengerti kenapa kau memintaku pergi. Kau tahu, itu sangat menyakitiku, Joanna."
"Louise!"
"Kenapa kau tak menyerah juga dan pergi. Sudah kubilang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Hanya itu alasannya," jawab Joanna.
"Apa kau pikir aku percaya?" tanya Louise.
"Kenapa kau sangat keras kepala, Louise!" tanya Joanna.
"Karena aku mencintaimu, Joanna!" jawab Louise.
Joanna bergetar. Kenapa lagi-lagi Louise mengatakan bahwa dia mencintainya. Itu terdengar menyenangkan tapi juga menyakitkan di saat yang sama.
"Lihatlah, kau bahkan menangis sekarang. Joanna, please, katakanlah!" lanjut Louise, masih dengan memeluk Joanna.
"Aku, sudah ku katakan aku hanya tidak ingin bertemu denganmu," jawab Joanna.
"Apa kau takut denganku?" tanya Louise.
"Aku sangat takut," jawab Joanna.
"Kalau aku jadi temanmu, apa kau juga masih takut?" tanya Louise.
"Teman?" tanya Joanna.
"Iya, teman. Apa kau juga tidak ingin berteman denganku. Aku janji tidak akan menyakitimu, Joanna."
Teman, ya?
Kenapa Joanna sedikit tidak rela jika hanya berteman dengan Louise. Apa dia sebenarnya benar-benar jatuh cinta pada pria yang memeluknya ini?
"Apa kau masih takut padaku, Joanna?" tanya Louise.
"Aku tidak tahu," jawab Joanna.
"Joanna, kau tidak takut saat aku menawarkan diri jadi temanmu. Apa artinya ini, Joanna. Apa ada hal yang membuatmu tidak ingin menjadi wanitaku. Joanna, maaf! Tapi yang aku sebut dengan teman adalah, teman hidupku, teman tidurku, teman ranjangku dan seorang teman yang bisa bekerjasama denganku untuk kelahiran seorang bayi," batin Louise.
Dua orang dewasa itu sepertinya terlalu sibuk dengan dunianya. Sampai tidak menyadari dua bola mata dari seorang bocah yang sedang berdiri dan melihatnya dari balkon, siapa lagi kalau bukan Oskar. Bocah itu bahkan sudah berdiri disana untuk memperhatikan mereka sejak mobil milik Louise itu berhenti.
"Kenapa mommy bisa diantar Paman Louise. Bukankah paman bilang hari ini sibuk sehingga tidak bisa menemuiku?" batin Oskar. Tapi enggan turun ataupun menunjukkan eksistensinya.
Sekali lagi, Oskar memperhatikan adegan dua manusia dewasa itu dari tempatnya. Matanya yang besar menjadi sangat besar saat melihat Louise memeluk ibunya.
"Apa orang yang meminjamkan jas untuk mommy adalah Paman Louise. Lalu, apakah Paman Louise bilang sibuk karena sebenarnya ingin makan malam dengan mommy. Kenapa kalian jahat, kenapa tidak mengajakku pergi juga jika ingin berkencan?" protes Oskar.
Dengan semangat, Oskar berlari menuruni tangga. Bersiap menyambut calon daddy impiannya. Dia bahkan mengabaikan panggilan Diaz yang keheranan karena Oskar yang terlalu bersemangat.
Tapi, langkah kaki Oskar terhenti di ambang pintu. Sepertinya, Oskar datang disaat yang tidak tepat. Karena daddy impiannya kini tengah bersiap mencium bibir ibunya. Meskipun Oskar masih berdiri dari jarak yang cukup jauh, tapi tentu saja adegan itu masih dalam jangkauan pandangan Oskar.
"Joanna, apa kau tak ingin memberikan ciuman untuk temanmu ini?" tanya Louise.
"Aku, tidak mau," tolak Joanna.
"Tapi aku mau. Karena kau tak mau, biar aku aku yang memulainya," kata Louise.
"L-louise!"
"Joanna, kenapa kau sangat manis?" tanya Louise setelah menggigit bibir Joanna lalu mulai memainkannya.
Merekapun berciuman, di pelataran yang sepi. Tapi tanpa mereka sadari, ada satu bocah yang kini menggigit kuping boneka anjing kesayangan pemberian Arthur. Mungkin, anak itu terlalu bahagia sampai lupa untuk mendekat. Tapi saat mulut kecilnya bersiap untuk meneriakkan kata daddy, Diaz dan beberapa pengurus rumah segera membungkam mulutnya dan menariknya kembali masuk ke rumah. Selain tidak ingin Oskar menjadi obat nyamuk super, mereka juga tidak ingin Nona mereka gagal mendapatkan calon suami terbaik dan terkaya. Sungguh sekumpulan pelayan yang materialistis sedang berkumpul di rumah Joanna saat ini.
"Apa yang akan kau lakukan, Xiao O?" tanya Diaz.
"Menyambut daddy baru ku," jawab Oskar polos.
"Kau bisa mengganggu mereka tahu?" kata pengurus rumah.
"Tapi Daddy tidak tahu bahwa aku anak mommy. Mommy juga tidak tahu Paman Louise itu paman baikku," jelas Oskar.
"Beri tahu mereka lain kali saja. Apa kau akan mengganggu kesenangan mommy dan daddymu?" tanya Diaz.
Oskar merengut. Merasa sedih karena merasa di lupakan.
"Jangan sedih, bukankah kau harus bahagia melihat mereka?" tanya Diaz sambil menggendong Oskar.
Tiba-tiba Oskar menjadi ceria kembali. Sepertinya otak kecilnya baru saja memikirkan sebuah ide, "Nenek, mari kita diam saja. Anggap saja tidak tahu apa-apa. Nenek apa kau tahu, saat aku bilang mommy cantik, paman bilang dia bertemu dengan bunga yang cantik. Aku sangat sedih waktu itu," jelas Oskar.
"Tapi sekarang tidak sedih lagi bukan?" tanya Diaz.
"Tentu saja tidak, karena bunga cantik itu ternyata adalah mommy," jawab Oskar dengan suara lantang dan wajah berbinar.
"Xiao O, pelankan suaramu. Jangan keras-keras!" kata Diaz memperingatkan.
Sementara itu di depan, Louise dan Joanna menyudahi ciuman mereka, tapi masih berpelukan. Louise, dia masih sangat merindukan Joanna meskipun Joanna berdiri tepat di depannya. Dan Joanna, dia masih terus berpikir, apa kira-kira yang akan terjadi esok saat Louise menemuinya. Benarkah, dia tidak akan marah?
❤️❤️