CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Now I Know



Satu jam berlalu dan Joanna masih setia pada pendiriannya. Jika ada kalimat yang keluar dari mulutnya, sudah pasti hanya kalimat yang terdiri dari tiga kata, 'aku bukan pencuri'. Terkadang, Joanna tersenyum. Melihat dengan tatapan tak biasa kepada dua petugas yang menginterogasinya. Bukan karena bahagia, tapi sedang menertawakan hukum yang ada di negerinya. Apa yang harus dia jawab atas puluhan pertanyaan tidak masuk akal yang mereka lontarkan?


Daripada disebut dengan memberikan pertanyaan, petugas berseragam itu lebih cocok disebut sebagai pemaksa kehendak. Karena sebenarnya saat ini Joanna tidak sedang diinterogasi, tapi dipaksa untuk mengakui. Dan dalang dibalik semua ini sudah pasti adalah Agria dan sesepuh dari Kota Utara. Tentu saja ... ada konsekuensi yang harus dia terima atas kukuhnya pendiriannya. Puluhan pukulan telah mendarat di kulitnya yang bersih, meninggalkan jejak-jejak memar dan kebiruan tanpa pola diatasnya.


"Cih!" Joanna mendesis.


Bukan mengeluh karena sakit atas luka-luka baru yang terukir, melainkan benci dengan ketidakberdayaan seperti ini. Duduk di sebuah ruangan yang pengap dengan tangan terikat. Hanya ada satu lampu gantung yang memancarkan cahaya di atasnya. Cahayanya tidak cukup terang, tapi sudah membuat Joanna menyipitkan matanya.


Joanna menundukkan kepalanya, mengabaikan petugas yang masih duduk di hadapannya dengan tatapan bengis. Mulai menikmati kesedihannya tanpa air mata karena harus terpisah dengan Oskar. Anak itu, dia sakit dan butuh perawatan intensif. Bagaimana bisa mereka membawanya secara paksa dengan kejam. Joanna mulai takut, takut terjadi hal buruk pada Oskar. Lebih takut lagi saat membayangkan bagaimana patahnya hati anak itu sekarang ini.


..."Jose, aku ini sepupumu. Oskar adalah anakku, bukan anakmu. Kau mengenal Louise Matthew kan, dialah ayahnya."...


..."Kau mencuri anakku!"...


...Jose!...


...Jose!...


...Jose!...


Suara-suara itu terus menggema disela-sela kekhawatirannya kepada Oskar. Silih berganti mengeruk puing-puing penghalang ingatannya dengan kasar. Kalimat-kalimat yang diucapkan Agria, juga panggilan dari pria yang terus menyerukan namanya berulang-ulang mulai menyerang belenggu ingatannya.


Joanna menutup matanya rapat-rapat. Berharap kesakitan luar biasa ini akan hilang sebentar lagi. Tapi, semakin Joanna menolak semakin banyak kesakitan yang dia dapat. Lagi, kali ini dia mendengar seorang pria kembali menyebut namanya. Bukan hanya kata Jose, tapi lengkap dengan embel-embel 'anakku' di belakangnya.


Beberapa waktu dihabiskan Joanna dengan menahan sakit luar biasa ini. Membuat dia sampai pada batasnya. Nafasnya sesak, keringat membanjiri seluruh tubuhnya.


"Aku benci, rasa sakit seperti ini," keluh Joanna.


Joanna semakin kesulitan bernafas, pandangannya memutih secara perlahan dan kepalanya semakin berat. Sepertinya dia melihat seseorang berdiri didepannya meskipun tidak jelas itu siapa. Memanggil-manggil namanya dan menggoncang tubuhnya. Joanna mulai berteriak karena sakit yang semakin tak tertahan, memegangi kepalanya dengan tangan yang masih terikat gelang besi yang membatasi gerakannya.


Sakit,


Sangat Sakit,


Joanna merasa rantai-rantai pengekang ingatannya saling tarik-menarik. Menjeratnya dengan kuat seperti meremukkan tulang-tulangnya. Sampai akhirnya hancur berkeping-keping beberapa detik setelahnya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat. Gendang telinganya mendengung sangat keras, lalu bersamaan dengan itu samar-samar wajah-wajah itu bermunculan. Wajah ayahnya, ibunya juga wajah pria itu. Pelan tapi pasti ingatannya mulai tersusun rapi layaknya mozaik dari susunan potongan-potongan yang awalnya sangat acak dan tak beraturan.


Joanna, dia tersenyum nanar. Ingatan yang sempat dia lupakan selama lima tahun terakhir, dia sudah mendapatkan semuanya. Mengingat semua kebahagiaan, tawa, canda, dan kasih sayang dari orang-orang tercintanya sebelum kabar duka yang memutarbalikkan hatinya yang bersih tanpa noda.


Bukan, sekarang bukan lagi Joanna ... tapi Jose.


Lagi, Jose tersenyum. Mengingat saat dirinya pernah menjadi gadis berhati baik layaknya malaikat. Menyebarkan kebahagiaan, menjadi kebanggaan semua orang, menanam bunga-bunga dengan berbagai jenis dan rupa berharap warna dan harumnya bisa mempercantik dunia. Merawat kucing dan burung yang terluka juga merawat luka para pelayan yang mengikutinya.


Itu belum cukup, karena Jose bukan hanya mengingat kenangan indah itu. Tapi sisi lain dari dirinya yang gelap. Bagaimana dia bersimpuh sepanjang hari di pemakaman karena kehilangan ibunya, bagaimana dia merusak semua bunga yang dia tanam. Juga bagaimana dia mengikuti pria berandalan itu untuk membiasakan diri melumuri tangannya dengan darah.


Semuanya, Jose sudah mengingat semuanya tanpa ada sedikitpun yang terlewat. Termasuk ... siapa yang ingin dia bunuh atas kematian ibunya.


Sekarang, pandangan mata Jose bukan hanya memutih, tapi juga semakin kabur. Karena saat ini, di ruangan kecil ini Jose telah terjerembab ke lantai yang jadi pijakannya karena telah kehilangan kesadaran.


.


.


.


Enam tahun yang lalu.


Di kota bangsawan, Kota Utara.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jose. Berteriak kepada pelayan yang membawanya tanpa tata krama.


Jose, yang saat itu berusia kurang dari 19 tahun dibawa ke aula dengan paksa. Bahkan, sesekali orang-orang itu menyeretnya hingga lututnya berdarah-darah. Di ruangan besar itu seluruh sesepuh berkumpul, siap untuk menjatuhkan hukuman untuknya.


Dulunya ... dia sangat di kagumi. Dulunya ... dia sangat di agungkan dan dibanggakan. Sampai suatu hari, ibunya meninggal. Meninggal karena sebuah insiden kecelakaan maut yang merenggut semua nyawa penumpangnya. Meninggalkan Jose dan ayahnya sendirian. Jose berduka dan terpukul, begitupun dengan Sir Alex. Keduanya hampir tidak pernah tersenyum setelah kejadian nahas yang merampas nyawa wanita kesayangan mereka. Bahkan, saat mereka berdiri di depan pusara sekalipun pun tidak banyak kata yang mereka katakan.


Jose semakin tertutup dari hari ke hari. Menarik diri dari dunia luar, menyembunyikan diri dari gemerlap dan megahnya dunia. Setiap malam, dia akan mengunjungi makam ibunya. Menceritakan apa saja yang dia lalui hari itu seperti hari-hari saat ibunya masih ada. Lalu terus menangis sepanjang malam dengan memeluk batu nisan yang tak akan pernah mengerti dengan apa yang dia lakukan.


Suatu malam, Jose merasa ada yang berbeda. Dia sudah bersimpuh sejak lama di pusara ibunya. Mendengarkan nyanyian jangkrik malam sebagai penghibur dukanya. Suara jangkrik yang awalnya bersahutan tiba-tiba menghilang.


Sunyi.


Sepi.


Hanya kata itulah yang menggambarkan bagaimana mencekamnya malam itu. Dengan sangat berhati-hati, Jose bangkit. Memakai penutup kepalanya dan bersembunyi di balik pepohonan yang tidak jauh dari makam ibunya.


Jose tentu tahu ada yang tidak beres ketika jangkrik-jangkrik itu berhenti bersuara. Diamnya mereka, pastilah untuk menyambut kedatangan tamu-tamu tak diundang. Jose menelan ludahnya sebelum memberanikan diri untuk mengintip di balik dedaunan. Beberapa orang berjubah hitam datang ke makam ibunya. Bukan untuk berdoa, tapi merayakan pesta atas kematiannya. Kematian yang ternyata sudah direncanakan oleh mereka yang sedang tertawa bahagia diatas tanah makam ibunya. Mengganggu kedamaian ibunya yang tertidur lelap dibawah tanah yang gelap.


Orang-orang itu membuka jubahnya. Tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengintainya dari balik pohon. Dibawah sinar bulan yang temaram malam itu, Jose bisa melihat dengan sangat jelas wajah-wajah pembunuh ibunya. Wajah-wajah yang selama ini dia hormati, wajah-wajah renta yang diagungkan oleh seluruh keluarga besarnya yang memiliki kedudukan tinggi.


Mereka adalah wajah-wajah sesepuh yang terus tersenyum saat berada di hadapan Jose. Wajah-wajah yang selalu memberikan pujian untuknya sepanjang hari. Juga wajah-wajah yang menangis pilu dan berurai air mata saat pemakaman ibunya digelar. Jose tercekat, tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. Tangannya tak berhenti gemetaran, kaki-kakinya membawanya mundur karena takut. Tapi sesuatu yang buruk terjadi karena Jose menginjak ranting kering.


Kratak,


Ranting itu patah. Mengundang perhatian dari sesepuh yang sedang berpesta. Beberapa diantaranya bahkan mulai berjalan mendekat untuk memeriksa. Jose berkeringat dingin tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi genting seperti ini. Mungkin, inilah akhir dari kehidupannya. Setidaknya hanya itulah yang dia pikirkan.


Tapi seseorang membungkam mulutnya dari belakang, masih menarik dan mengangkat tubuhnya seringan kapas. Membawanya menjauh dari tempatnya mengintip dan berpindah tempat dengan cepat. Jose diam tak bergerak, matanya masih sangat awas melihat sesepuh yang mulai memeriksa tempat dia mengintip sebelumnya. Sesepuh itu baru pergi setelah beberapa saat, tepatnya setelah melihat seekor musang yang berlari ketakutan.


"Kenapa kau sangat ceroboh?" tanya seorang pria yang suaranya sangat familiar. Suara itu muncul dari mulut seorang pria yang membungkam mulut Jose yang baru melepaskan tangannya setelah memastikan mereka berdua aman.


"Edgar?" kata Jose ketika melihat sosok yang sangat dia kenal. Jose memeluknya, memeluk Edgar yang sudah dikenalnya sejak lama. Seorang pria yang terlihat buruk dan kejam dimata orang-orang. Tapi merupakan penyelamat hidup Jose berkali-kali. Seorang pria berusia tiga tahun lebih tua dari Jose yang terus ada untuk Jose bagaimanapun dan kapanpun Jose membutuhkannya.


"Jangan takut, mereka sudah pergi," kata Edgar. Menenangkan Jose dengan memeluknya sangat erat seperti biasanya.


"Edgar, mereka,-" Jose tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tapi air matanya mewakili semuanya.


"Aku tahu apa yang akan kau katakan. Ayo, kita pergi. Kalau kau ingin balas dendam, bukan sekarang waktunya," bujuk Edgar dengan menghapus air mata itu.


Setelah kejadian malam itu, Jose tidak lagi memperdulikan tata krama. Dia acuh dan menjadi semakin liar dan tidak dapat dikendalikan. Hari-harinya dihabiskan di lapangan tembak, di pacuan kuda atau di arena panahan. Hanya ada satu tujuan di hidupnya, yaitu mengumpulkan kekuatan dan membalas dendam. Membuat dirinya kuat, membuat dirinya tak berbelas kasih dan mencoba untuk mengambil nyawa seseorang. Jose, dia bukan lagi gadis yang penuh kasih sayang. Dia akan sangat marah ketika pelayan melakukan kesalahan sedikit saja. Sangat berbeda dengan sebelumnya yang selalu sabar dan mengatakan 'tidak apa-apa' dengan senyum termanisnya.


Jose, dia semakin sering melanggar aturan dan berkali-kali mendapatkan hukuman. Hubungannya dengan anggota keluarga semakin buruk dari waktu ke waktu. Nama baiknya semakin menghilang dan digantikan oleh sosok baru, yaitu Agria. Agria yang sangat iri dengan posisi Jose menggunakan ketidakharmonisan ini dengan baik. Mengambil kesempatan untuk membuat nama Jose semakin buruk dan melakukan berbagai trik untuk menjatuhkan Jose.


Puncaknya adalah malam itu. Malam dimana Jose diseret dengan paksa ke aula utama di hadapan seluruh anggota keluarga. Dituduh telah berhubungan badan dengan seorang pria tak dikenal hingga mengandung anak haram. Merusak citra keluarga bangsawan, mencoreng nama baik keluarga sehingga posisinya sebagai calon penerus dihapus begitu saja. Jose melirik kearah lain, di ujung sana dia melihat Agria tersenyum bangga. Tersenyum atas hukuman yang dilimpahkan kepada Jose yang seharusnya diberikan untuk Agria.


Bukannya sedih, tapi Jose malah tersenyum. Tersenyum dengan sinis dan dalam hatinya berkata, "bertambah lagi satu manusia yang harus ku bunuh."


Malam itu juga, Jose kehilangan posisinya dan dicoret sebagai anggota keluarga. Di buang di jalanan atas dosa-dosa sepupunya. Tidak ada kesempatan untuk membela diri. Tidak ada waktu untuk menjelaskan karena mereka terlanjur percaya dengan wajah memuakkan milik Agria. Jose sempat memohon kepada ayahnya untuk membuatnya tetap tinggal. Bukan karena tidak ingin pergi, tapi karena dendamnya belum terbalaskan. Tapi jawaban ayahnya meluluhkan hatinya.


"Jose, anakku, pergilah! Karena diluar sana, kau tidak perlu lagi mendapatkan hukuman. Kau tidak perlu lagi mendapatkan pukulan. Ayah, akan tetap mengawasimu dari sini. Jangan takut, ayah tidak akan membiarkanmu sendirian meskipun kau di luar sana. Hanya bersenang-senang dan hiduplah dengan bahagia. Ayah akan tetap memenuhi semua kebutuhanmu. Lalu, lupakan semua rencana balas dendammu. Soal kematian ibumu, biar ayah yang membalasnya suatu hari nanti saat orang-orang kita memiliki kekuatan yang cukup. Jangan mengotori tanganmu yang berharga dengan darah kotor mereka."


"A-ayah?" kata Jose berurai air mata.


"Pergilah, berpura-puralah tidak tahu apa-apa. Apa kau mengerti?"


"Aku, mengerti!" jawab Jose.


Mulutnya memang mengiyakan, tapi tidak dengan hatinya. Karena setelah dia pergi meninggalkan kastil yang selama ini dia tinggali, dia segera mencari Edgar dan menghabiskan seluruh waktunya dengannya. Berbulan- bulan hidup bersama pria itu. Belajar bagaimana caranya menjadi kuat, menjadi tak berperasaan dan tanpa belas kasih. Membunuh dan di bunuh sudah biasa Jose lihat. Dia pun juga pernah membunuh seseorang untuk melindungi dirinya sendiri. Juga untuk melindungi seseorang yang berharga untuknya.


Sampai pada akhirnya Jose harus kecelakaan karena di kejar-kejar oleh puluhan pengawal milik Agria, sepupunya yang menginginkan nyawanya. Jose berhasil selamat meskipun tubuhnya penuh luka. Dia kehilangan kesadarannya dan terbangun dengan tidak mengingat apapun. Itu tidak cukup, karena saat terbangun Jose sudah tidak lagi sendirian. Ada bayi laki-laki di pangkuannya, terlihat kedinginan dan terus menangis karena kelaparan. Jose hanya terus berjalan ditengah derasnya hujan sampai Alexa menemukan dan membawanya pulang.


...***...