
"Sepakat!" kata Tetua Utama.
Louise dan Tetua Utama itu akhirnya saling bersalaman sebagai tanda kesepakatan mereka. Di balik musibah yang menimpa Oskar, nyatanya ada kesempatan bagus yang bisa saling mereka manfaatkan.
Tetua itu kembali duduk ditempatnya, begitupun dengan Louise. Mereka meminum teh mereka masing-masing sebelum saling diam untuk beberapa saat. Mereka di tempat yang sama, tapi memikirkan dan menimang-nimang rencana yang berbeda untuk masa depan mereka. Tetua yang ingin Bangsawan Timur semakin berjaya setelah beraliansi dengan Louise, dan Louise yang memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Oskar selanjutnya.
"Sepertinya sudah waktunya untuk memberikan batasan yang lebih ketat pada Oskar. Memberikannya pengertian bahwa dia tidak sebebas dulu lagi. Karena sebagai salah satu keturunan Matthew, nyawa kecilnya itu pasti diincar banyak orang. Lalu mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak akan mengijinkan mereka sembrono seperti ini lagi," batin Louise.
"Louise, kita harus segera kembali!" kata Arthur. Pria itu akhirnya kembali angkat bicara. Urusan disini seharusnya sudah selesai. Tidak ada gunanya disini lebih lama lagi.
"Kau benar," ucap Louise.
Louise pun bangkit, siap untuk memberikan salam perpisahan kepada para tetua untuk undur diri. Tapi seorang pelayan tiba-tiba tergopoh-gopoh masuk ke aula.
"Apa lagi ini. Sepertinya hal buruk sedang terjadi," kata Arthur ketika melihat pelayan yang melupakan tata kramanya saat menemui tetua.
Louise hanya mengangkat satu alisnya. Dia setuju dengan perkiraan Arthur tapi kabar buruk apa lagi yang datang kali ini. Seharusnya ini tidak ada hubungannya dengan Oskar karena anak itu sudah siuman dan sedang mendapatkan perawatan medis.
"Apa kau tidak melihat Tetua sedang menerima tamu?" hardik salah seorang tetua. Seorang tetua pria yang berada di pihak William itu terlihat murka. Terlebih saat menyadari bahwa pelayan ini adalah pelayan yang biasanya melayani Anye.
"Maafkan atas kelancangan saya, Tetua!" kata pelayan itu dengan menunduk takzim. Pelayan itu sebenarnya tidak bermaksud membuat onar, tapi memang ada hal yang harus dia laporkan sekarang juga.
"Ada apa. Apa yang membuatmu berani bersikap tidak sopan seperti ini?" tanya tetua lagi.
Pelayan itu akhirnya mengangkat wajahnya. Wajah panik itu semua orang bisa melihatnya.
"T-Tetua, Nona Anye kami baru saja ditemukan tak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut berbusa," jawab pelayan itu.
"Apa?" tanya Tetua Utama.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tetua yang lainnya.
"Nona Anye mengurung dirinya karena ketakutan setelah ketahuan mencelakai Oskar. Tidak ada siapapun yang diijinkan masuk. Lalu, Nona Daisy berkunjung. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban saat mengetuk pintu kamarnya, akhirnya Nona Daisy meminta pengawal untuk mendobrak pintu dan Nona Anye sudah tergeletak di lantai saat itu," jelas pelayan.
"Kenapa dia sangat ceroboh. Aku baru saja menyelesaikan masalahnya disini. Apalagi yang dia lakukan sekarang. Lalu bagaimana, apakah dokter sudah di panggil untuk memeriksanya?" tanya Tetua.
"Dokter sedang memeriksa kondisinya sekarang, Nyonya Tetua!" jawab pelayan.
Tetua Utama bangkit. Lalu meminta maaf atas keributan yang terjadi hari ini kepada Louise. "Tuan Muda Matthew, Tuan Arthur, maaf membuat kalian melihat hal memalukan seperti ini. Kami sungguh minta maaf. Tapi maaf, aku harus pergi sekarang untuk melihat kondisinya," pamit Tetua Utama.
"Silahkan!" jawab Louise.
Rombongan tetua itu mulai keluar dari aula. Bergegas menuju paviliun Anye untuk melihatnya, tapi dua orang pengawal berlari kearah mereka sebelum mereka meninggalkan aula.
"Lapor, Tetua!" kata mereka bersamaan. Mereka menunduk, tidak bergerak meskipun keringat membanjiri wajah dan bajunya.
"Ada apa. Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Tetua Utama.
"Tetua, dokter baru saja mengatakan nyawa Nona Anye tidak tertolong," jawab pengawal.
"Apa maksudmu?" tanya Tetua Utama.
Keributan mulai terjadi disini. Baru beberapa saat yang lalu Louise Matthew menginginkan kematiannya. Baru beberapa menit yang lalu pula Louise Matthew mengampuni nyawanya atas permohonan tetua. Tapi bagaimana bisa sekarang dia dinyatakan meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya dipanggil dan diminta untuk merenungi kesalahannya sebelum ini. Tapi kenapa sekarang dia sudah mati. Apa ini masih Anye yang dulu. Anye tidak pernah berpikiran sempit seperti ini sebelumnya.
"Tetua, mari segera melihat keadaan jenazahnya!" kata Tetua yang lain.
"Ayo!" jawab Tetua Utama.
"Bolehkah kami ikut?" tanya Louise.
.
.
.
"Cucuku sayang, bagian mana yang sakit?" tanya Rose khawatir.
"Mau kakek gendong?" tanya Jordan.
Sepasang kakek dan nenek itu terus menemani Oskar yang masih kaget sejak tadi. Sedikitpun, dia tidak ingin ditinggal. Untuk itulah Jordan dan Rose menemani mereka secara bergantian dengan Sir Alex. Sementara itu di sisi yang lain, Joanna sedang duduk bertiga bersama Agria dan William. Meskipun sudah duduk bersama selama menit, tapi ketiganya masih saling diam karena sama-sama merasa bersalah.
"Maafkan aku. Semua ini salahku. Seandainya aku mendengarkan permintaannya untuk tidak pergi dan menemaninya bermain, semua ini tidak perlu terjadi," kata William membuka percakapan.
Pria itu menunduk. Meskipun akhirnya dialah yang menolong Oskar, tapi tetap saja dia merasa sangat bersalah atas kejadian ini. Terlebih saat melihat Agria juga jadi korban dan harus diperban dibagian kakinya karena tersangkut benda tajam di pinggiran danau. Selain itu, Joanna juga masih terus gemetaran sampai sekarang.
"Joanna, Agria, maafkan aku!" kata William lagi.
Joanna dan Agria menoleh, melihat wajah William yang penuh penyesalan. Agria hanya diam saja, sementara Joanna memperlihatkan senyum tipis yang sangat dipaksakan.
"William, apa yang kau katakan. Untuk apa kau meminta maaf. Aku yang salah. Aku yang menjaganya. Aku bahkan melihatnya berlari tepat di depan mataku. Justru aku sangat berterimakasih padamu karena kau menolong anakku dan kakakku," kata Joanna.
"Cukup!" kata Agria.
Wanita itu bangkit. Berjalan dengan pincang kearah pintu untuk mengintip Oskar yang berada di pelukan neneknya. "Ini semua salahku. Dia anakku, seharusnya aku yang menjaganya. Tapi apa yang ku lakukan. Aku malah membuangnya dan membiarkan adikku merawatnya saat amnesia. Jadi berhentilah menyalahkan diri kalian. Akulah yang salah."
Ratapan penyesalan dari ketiga orang dewasa itu membuat Sir Alex geleng-geleng kepala. Membuatnya berdiri dan menyerahkan Reagan yang sebelumnya ada di pangkuannya kepada Diaz yang sengaja dia bawa serta.
"Kalian bertiga, sampai kapan kalian terus bersikap seperti orang bodoh seperti ini?" tanya Sir Alex.
"Ayah?"
"Jose, Oskar baik-baik saja. Dia akan pulih secepatnya. Apa perlu menyesal sampai seperti ini?" tanya Sir Alex.
"Ayah, jangan berbicara seperti itu pada Jose!" bela Agria.
"Kau juga. Sampai kapan kau akan membela adikmu seperti ini?" omel Sir Alex.
"Maaf!" kata Agria.
"Apa yang dikatakan ayah kalian benar. Semuanya sudah terjadi, tidak perlu menyesal sampai seperti ini. Lagipula Oskar tidak apa-apa. Jadi jangan terus menyalahkan diri kalian. Ini musibah, kita hanya perlu lebih berhati-hati kedepannya," timpal Jordan.
"Daripada kalian menghabiskan waktu untuk menyesal, lebih baik pikirkan hukuman apa yang akan kalian berikan pada wanita yang menyuruh anak buahnya untuk melemparkan cucuku," lanjut Sir Alex.
"Aku harus pergi sekarang!" kata William tiba-tiba.
"Kau mau kemana?" tanya Joanna.
"Meminta keadilan untuk Oskar," jawab William.
"T-Tuan, sepertinya itu tidak mungkin," kata Okta yang kebetulan masuk ke rumah dan mendengar kalimat William.
"Kenapa tidak mungkin. Setelah apa yang dia lakukan, apa mungkin Tetua sialan itu tutup mata. Bukankah Louise dan Arthur sedang bertemu dengan mereka sekarang. Apa yang mereka lakukan jika bukan membahas masalah ini?" tanya William.
"Tuan, masalahnya Nona Anye sudah menjadi mayat. Dia minum racun dan dinyatakan meninggal oleh Dokter. Saat ini Tuan Louise dan Tuan Arthur sedang mengikuti Tetua untuk melihat kondisinya," jelas Okta.
...***...