CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Bekal



"Mommy, mommy masak apa?" tanya Oskar saat melihat ibunya sibuk memasak sedari tadi.


Anak itu tidak pergi sekolah. Pagi hari tadi dia mengeluh sakit kepala saat Agria akan mengantarnya ke sekolah. Tentu saja itu hanya alasan semata, karena alasan yang sebenarnya adalah dia ingin main dengan Adik Reagan kesayangannya. Saat inipun dia sudah duduk manis di depan televisi dengan memangku Reagan dibawah pengawasan Agria.


"Bukannya Xiao O bilang ingin mengunjungi daddy hari ini? Mommy sengaja membuat makan siang untuk diberikan pada daddy," jawab Joanna tanpa menoleh.


"Tapi kenapa banyak sekali. Apa mommy ingin menjualnya?" tanya Oskar.


"Bukan hanya daddymu yang makan. Tapi Paman Arthur dan Papi Will juga. Lagipula mama dan kakekmu juga harus makan kan?" jawab Joanna.


Sudah berhari-hari Joanna tinggal di Kota Utara. Menghabiskan waktunya di kota kelahirannya dengan ayah, kakak dan dua anaknya.


Sepertinya Joanna masih belum berencana kembali ke Kota Bangsawan Timur. William bukannya tidak menghiraukannya. Sebenernya dia sudah datang beberapa kali, yang pertama adalah hari dimana Joanna pamit pulang. Sore harinya William langsung menyusul untuk menjemput meskipun Joanna menolak dengan alasan masih rindu ayahnya.


William juga sudah minta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya hari itu juga. Lalu kedatangannya yang berikutnya terjadi nyaris setiap dua hari sekali karena dia merindukan Reagan.


Setelah beberapa sekian lama berkutat di dapur, akhirnya Joanna selesai juga. Dia segera mengemas masakannya dan memasukkannya ke dalam tas makan. Menanggalkan celemek yang dia pakai dan meminta Oskar segera bersiap. "Xiao O, cepat ganti bajumu. Kita akan segera pergi menemui daddy!" kata Joanna.


Joanna mengambil Reagan dari pangkuan Oskar. Membiarkan Oskar berlari menuju kamarnya untuk memilih dan mengganti pakaiannya sendiri. "Kakak, apa kau tidak ingin ikut?" tanya Joanna.


"Tidak, aku harus pergi dengan ayah setelah makan siang." Agria bangkit, merenggangkan tubuhnya kemudian berjalan menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah adiknya sediakan tanpa menunggu ayahnya.


Sementara itu, Joanna segera memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian milik Reagan. Setelah semuanya siap, Joanna membawa dua anaknya pergi ke perusahaan dengan mengendarai sendiri mobilnya. Sudah sangat lama Joanna tidak menyetir sendiri. Rasanya menyenangkan juga, terlebih sekarang mereka akan menemui Louise Matthew setelah dia pergi sangat lama.


"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya, Sayang!" kata Joanna memperingatkan.


Oskar patuh, dia segera memakai sabuk pengamannya lalu segera menghubungi daddynya saat itu juga. "Daddy, kami sudah di jalan!" beritahu Oskar via panggilan video.


Bocah itu melambai-lambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan plus senyuman dari Louise. Tapi senyum itu hilang saat Oskar mengalihkan kameranya kearah ibunya yang sedang menyetir sembari membiarkan Reagan memakan jari mungilnya di pelukannya.


"Anak nakal, apa yang sedang dilakukan mommy?" tanya Louise.


"Mommy menyetir mobil dengan memangku adik bayi," jawab Oskar kemudian kembali mengalihkan kameranya kepada dirinya.


"Oskar, siapa yang menyuruh mommy membawa mobil sendiri seperti itu. Mana paman sopir yang biasanya mengantarkan kalian?" tanya Louise.


"Di rumah!" jawab Oskar singkat.


"Untuk apa kakekmu merekrut sopir kalau pada akhirnya mommy mengemudikan mobil sendiri?" omel Louise.


"Daddy, kenapa daddy sangat cerewet. Bukankah daddy juga suka membawa mobil daddy sendiri. Lagipula mommy sangat mahir kok," beritahu Oskar.


"Apa maksudmu?" tanya Louise.


Oskar tersenyum. Tapi tidak ingin menjawab apapun. Tidak mungkin dia mengatakan mommy setiap hari mengajaknya jalan-jalan seperti ini kan?


Karena Oskar tidak menjawab, Louise pun meminta untuk berbicara dengan Joanna sebentar. "Suruh mommy menepi. Ada yang ingin daddy bicarakan!"


Joanna yang mendengarnya langsung menepi. Lalu menerima uluran handphone dari Oskar.


"Joanna, apa yang kau lakukan. Kenapa tidak membiarkan sopir mengantarmu. Apa kau tidak lihat apa yang dilakukan anakku yang masih bayi itu. Lihatlah, dia terus memakan jarinya. Aku yakin jempolnya sudah habis saat kalian sampai di perusahaan nanti!" omel Louise.


"Louise,-"


"Berhenti disitu, aku akan menjemputmu!"


"Louise, tapi aku hampir sampai!"


"Joanna?"


"Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja," kata Joanna.


"Kau ini. Kenapa kau masih sangat keras kepala?" protes Louise.


"Sudahlah, jangan marah-marah lagi. Aku membawakan makan siang untukmu," kata Joanna mengalihkan pembicaraan.


"Makan siang?" tanya Louise.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera kembali," kata Louise.


"Apa kau tidak di perusahaan sekarang?" tanya Joanna.


"Aku meninggalkan sesuatu dirumah. Jadi aku kembali untuk mengambilnya," jawab Louise.


"Oh, baiklah! Kalau begitu sampai jumpa nanti!"


Joanna memberikan ponselnya kepada Oskar. Oskar pun langsung mematikannya dan melihat pemandangan di sepanjang jalan karena ibunya sudah mulai menjalankan mobilnya kembali.


Setelah lima belas menit, akhirnya mereka sampai juga di perusahaan. Sudah sangat lama Joanna tidak kemari. Tapi meskipun begitu kedatangan mereka sangat disambut seperti biasanya. Meskipun tidak tahu Joanna akan mencari siapa karena hubungan atasan mereka yang rumit, tapi mereka membiarkannya saja.


Karena entah Louise atau William, mereka sama-sama atasan mereka yang menempati urutan pertama di perusahaan ini sebagai ujung tombak perusahaan. Tentu saja setelah ditambah dengan Arthur Raphael. Mereka bertiga bisa disebut sebagai trisula maut milik Matthews Group.


Ketiga manusia itu terus melangkah, dan tujuan pertama mereka tentu saja ruangan pribadi milik Presdir Louise. Sesampainya disana, Joanna segera mengeluarkan tas makanan milik Louise di meja. Lalu kembali menggandeng Oskar untuk masuk ke ruangan sebelah.


Tok


Tok


Tok


Joanna mengetuk pintu itu dengan pelan. Untuk masuk ke ruangan Louise atau Arthur, dia tidak perlu sesopan ini. Tapi untuk masuk ke ruangan William, Joanna tidak berani. Terlebih setelah insiden malam itu. Meksipun William sudah minta maaf, tapi tetap saja dia masih takut.


"Masuk!" sahut William dari dalam sana.


"Ini aku," kata Joanna setelah masuk dan menutup kembali pintu itu. Sedikit canggung, tapi dia tetap mendekat. Untung saja dia membawa Oskar, jadi suasananya tidak akan terlalu canggung.


"Papi!" Oskar segera berlari, lalu menyalip Joanna dan mendekati William lebih dulu.


"Kenapa tiba-tiba kemari?" tanya William setelah menyambut Oskar dan menyentuh Reagan. Sama seperti Joanna, William sebenarnya juga merasa canggung. Ini pertama kalinya Joanna masuk ke ruangan kerjanya selama ini.


"Aku ingin memberikan ini untukmu," jawab Joanna.


William hanya melihatnya saat Joanna menyodorkan sebuah bekal makan siang yang sudah Joanna siapkan untuknya.


"Papi, cepat terima dan makan itu. Mommy sudah membuatnya dengan susah payah!" perintah Oskar.


"Oh! Itu,-" William melirik meja kerjanya yang penuh dengan laporan. Dia juga ingin makan, tapi dia sudah dikejar deadline.


"Sepertinya kau sangat sibuk. Kalau begitu kami pergi dulu. Jaga kesehatanmu, will. Makanlah kalau kau sempat!" kata Joanna.


"Aku tahu. Aku akan memakannya setelah ini selesai. Terimakasih," jawab William.


"Kalau begitu kami permisi. Kami akan memberikan ini pada Arthur," pamit Joanna.


"Baiklah!"


"Xiao O, ayo kita menemui Paman Arthur!" ajak Joanna.


"Eum," jawab Oskar.


"Tunggu!" tahan William saat Joanna sudah berbaik arah.


"Ada apa, Will?" sahut Joanna ramah.


"Kapan kau akan pulang?" tanya William.


"Mungkin besok lusa," jawab Joanna.


"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti," kata William.


Joanna hanya tersenyum, kemudian menarik Oskar untuk menemui Arthur. Setelah kepergian Joanna, William tidak langsung menyentuh makanannya. Dia hanya melihatnya beberapa saat sebelum akhirnya meletakkannya di belakang dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.


...***...