CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Tendangan Louise Kecil



Buk


Joanna menutup halaman buku terakhir yang dia baca. Selama beberapa bulan terakhir, hari-harinya hanya dihabiskan dengan membaca buku seputar kehamilan dan tips-tips melahirkan, menjaga kesehatan, ikut kelas melahirkan, melatih pernafasan, yoga untuk ibu hamil, olahraga ringan dan apapun itu yang katanya bisa meredakan rasa sakit saat melahirkan.


Selain itu dia juga lebih sering jalan-jalan dan melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa takut yang menghampirinya.


Cara itu terbukti cukup efektif, terlebih saat dia mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya. Rasa takut itu masih ada, tapi ketika kaki bayi itu menendang-nendang perutnya dia malah ingin segera melahirkan untuk bertemu buah cintanya bersama Louise.


Berbicara soal dukungan, tentu saja dukungan terbesar datang dari seorang pria yang saat ini tertidur dengan posisi memeluk perutnya. Rumah sakit terbaik tempat Joanna melahirkan nanti sudah dia pilih. Bukan di dalam negeri, tapi di luar negeri tepatnya di LA.


Sebuah rumah sakit yang biasanya diakses oleh artis papan atas atau orang-orang terkaya yang biayanya mencapai lebih dari 50 juta rupiah hanya untuk semalam. Rencananya mereka akan berangkat ke LA setidaknya dua minggu lagi mengingat usia kandungan Joanna yang sudah menginjak usia delapan bulan. Mungkin terlalu cepat, tapi Louise tidak ingin mengambil resiko atas keselamatan ibu dan bayinya.


Bukan hanya memilih Rumah sakit terbaik dan memberikan semua yang terbaik, pria itu juga menjadi semakin protektif. Melarang Joanna melakukan ini dan itu, harus melakukan ini dan itu. Cerewetnya bahkan melebihi mulut orang tua mereka.


Selain itu, Louise juga selalu membaca buku seputar persalinan untuk persiapannya mengcover Joanna nanti. Hari ini pun sama, dia masih rajin membaca buku-buku itu dengan memeluk calon anaknya sebelum akhirnya tertidur karena mengantuk.


Buku yang dia pegang jatuh, sudah menelungkup tepat diatas perut besar itu dengan halaman yang terbuka. Mungkin, Louise sengaja agar anaknya membaca isi buku itu sendiri agar tahu apa yang dia lakukan saat ingin keluar nanti.


Di rumah itu, mereka tidak hanya berdua. Ada William dan Oskar di ruangan yang lain. Apakah mereka memberikan dukungannya?


Tentu saja iya, mereka sudah berencana menjadi suporter untuk menyemangati Joanna saat melahirkan nanti. Nanti saja, karena waktu itu belum tiba jadi biarkan mereka bersantai dulu dengan memainkan game di ruangan yang lain.


Kenapa di ruangan yang lain, tentu saja karena William ingin membebaskan dirinya dari kungkungan Joanna meskipun hanya sebentar. Tidak terhitung berapa banyak hari yang dia lewati menggantikan peran Louise. Biarkan dia bersantai sejenak kali ini dan biarkan Louise kembali mengambil peran yang harusnya dia lakukan.


Joanna merenggangkan tangannya karena lelah. Dengan perut yang semakin buncit, dia sudah sangat kelelahan meskipun hanya melakukan hal ringan. Menjadi lebih sering sakit pinggang dan sering mengeluh karena tidak leluasa bergerak.


Louise yang menyadari si pemilik perut bergerak pun terbangun. Bukan terbangun, dia hanya masih tersadar dan mengumpulkan nyawanya.


"Apa aku tertidur?" tanya Louise. Bukannya bangun, dia malah semakin mengeluarkan kekuatan otot tangannya untuk memeluk Joanna dan menyesap aroma ibu hamil itu.


"Louise, apa yang kau lakukan. Kau membuat anak kita bergerak sembarangan," kata Joanna. Perutnya seperti tergencet, membuat bayi itu bergerak semakin aktif akibat tekanan dari daddynya.


"Apa anakku juga bangun?" tanya Louise.


Kali ini pria itu benar-benar bangun. Duduk dengan tegak dan segera menyibak baju hamil yang dikenakan Joanna untuk melihat anaknya. Terkadang, Louise bisa melihat bentuk kaki kecil yang tercetak saat kaki mungil itu menendang-nendang perut ibunya dan itulah yang ingin dia lihat saat ini.


"Joanna, saat anak ini menendang perutmu, apa itu terasa sakit?" tanya Louise.


"Tidak, aku hanya merasa aneh tapi menyukainya," jawab Joanna.


"Ah, lihatlah! Dia mulai menendang perutmu lagi," kata Louise.


Louise tersenyum, mengelus-elus kaki kecil yang masih bersembunyi di dalam perut Joanna dengan gemas. Kaki itu bahkan semakin aktif saat tangan Louise menyentuhnya.


"Lihatlah, kenapa dia sangat suka menendang. Apa dia ingin jadi pemain sepakbola saat besar nanti?" tanya Louise.


"Mungkin saja," jawab Joanna.


"Kalau dia jadi pemain sepakbola bagaimana dengan perusahaan itu?" tanya Louise.


"Bukankah ada Oskar?" jawab Joanna.


"Ah, benar juga. Tapi Oskar akan kerepotan kalau sendirian," kata Louise lagi.


"Kita pikirkan itu nanti," kata Joanna lalu menurunkan bajunya yang tersingkap.


"Kenapa kau menutupinya sih. Aku kan belum menciumnya?" protes Louise.


Wajah itu bersungut-sungut sebentar, tapi kembali tersenyum saat melihat perut itu lagi. Louise menciumnya berkali-kali. Dari perut atas semakin ke bawah dan kebawah lagi hingga akhirnya ke perut bagian bawah. Dia bahkan sudah tengkurap tepat di depan Joanna sekarang.


"Louise, sudah!" pinta Joanna sebelum Louise menjadi semakin liar.


"Joanna, biarkan aku melakukannya agar kau semakin lancar saat melahirkan nanti ya?" ijin Louise.


"B-bukannya kemarin sudah?" tanya Joanna.


"Kemarin ya kemarin. Sekarang ya sekarang," jawab Louise.


"Apa sih yang kau pikirkan. Siang bolong begini. Apa kau tidak takut Oskar tiba-tiba mencarimu?" tanya Joanna.


"Dia tidak akan mencariku. Dia kan bersama William," jawab Louise.


Louise salah. Oskar memang tidak mencarinya. Tapi William yang akan mencarinya sebentar lagi.


CEKLEK


Pintu itu tiba-tiba terbuka. Membuat Louise dan Joanna menoleh bersamaan dan Joanna langsung menutup perutnya yang terbuka dengan selimut. Sementara itu William segera masuk lalu menutup pintunya sembari menggendong Oskar.


"Louise, cepat sembunyi!" perintah William.


"Kenapa aku harus sembunyi?" tanya Louise.


"Ayah mertua kemari. Cepatlah!" pinta William.


"Memangnya kenapa kalau ayah kemari. Dia kan yang membawa Oskar?" tanya Joanna.


"Masalahnya dia datang dengan Tetua yang lain," jawab William.


Belum juga berpikir harus bersembunyi dimana. Mereka sudah mendengar percakapan mereka di balik pintu. Tanpa berpikir lagi William segera menurunkan Oskar di kursi dan menarik selimut tebal yang menutupi Joanna.


"Louise, jangan bergerak. Diamlah seperti itu sampai mereka pergi nanti!" kata William sambil menarik kaki Louise kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.


"William, kenapa tidak bersembunyi di kamar mandi saja?" tanya Louise.


William sudah tidak bisa menjawab lagi karena pintu kamar sudah dibuka. Bersembunyi di kamar mandi, mana sempat?


"Ayah?" sapa Joanna.


"Tetua, maaf tidak menyambut Anda," kata William.


Di tengah ketegangan itu. Oskar melihat sesuatu yang salah. Kepala daddynya masih kelihatan menyembul. Sendalnya masih belum disembunyikan dengan benar.


Oskar segera turun. Lalu berpura-pura bermain di lantai dan menutup penampakan sendal itu. Sementara William, dia juga baru menyadari kepala Louise yang masih terlihat lalu secepat kilat segera menekan kepala itu.


...***...