
"Kakek!" seru Oskar.
Anak kecil berusia enam tahun itu berlari menghampiri kakeknya. Dengan wajah yang sengaja dibuat memelas, dia mulai mengeluarkan air mata buaya miliknya untuk menunjang aktingnya.
Sir Alex merendahkan tubuhnya. Menyambut cucunya yang menghamburkan diri ke pelukannya dan siap mengadu, "Cucuku sayang, kenapa menangis, hm?" tanya Sir Alex.
Tangan pria setengah abad itu menghapus air mata Oskar yang entah bagaimana bisa turun seperti air hujan. Kemudian mengangkat anak itu ke gendongannya.
"Kakek, Xiao O iri dengan adik bayi," jawab Oskar. Tangannya yang kecil menunjuk dimana adik bayinya, Reagan berada.
Sir Alex menoleh, melihat Louise yang tersenyum-senyum sendirian saat menimang Reagan di dekat box bayi. Meskipun sempat kaget dengan apa yang dia lihat, tapi Louise tidak mempermasalahkan soal kemiripan anaknya dengan William. Karena Louise yakin, saat semakin besar nanti Reagan pasti akan semakin mirip dengannya karena dialah ayahnya.
Louise masih tersenyum, beberapa kali mencium Reagan sebagai hukumannya karena tidak patuh dan keburu lahir saat dirinya tidak ada. Sementara Sir Alex mulai pusing sekarang. Padahal, sebelum Louise menggendong Reagan tadi, dia sudah terlebih dulu memanjakan Oskar. Memeluknya, menciumnya dan mengangkatnya diatas pundaknya. Bahkan sebenarnya saat ini Louise baru menyentuh Reagan kurang dari satu menit. Apa iya Oskar sudah iri dan ingin di manja-manja Louise lagi?
"Kenapa, apa yang membuatmu iri. Apa karena daddy masih menggendong adikmu?" tanya Sir Alex dengan penuh kasih sayang.
Joanna yang melihatnya hanya tersenyum, kemudian meletakkan asi yang baru saja selesai dia pompa dan menyimpannya.
"Apa Xiao O ingin dipeluk daddy? Karena daddy masih memegang Reagan, Xiao O bisa memeluk mommy," kata Joanna menawarkan diri.
Louise yang merasa menjadi rebutan tertawa, kemudian meletakkan Reagan di tangan kirinya. Joanna yang melihat anaknya di perlakuan seperti itu pun melotot dan memarahinya. "Louise, apa yang kau lakukan. Pegang anakmu dengan benar. Dia bisa jatuh kalau kau meletakkannya seperti itu!"
"Joanna, aku ini daddynya. Apa kau pikir aku akan membiarkannya jatuh?" jawab Louise. Louise tidak mengindahkan omelan Joanna kemudian melambaikan tangannya pada Oskar.
"Oskar, kemarilah! Daddy bisa menggendongmu dan adikmu sekaligus," kata Louise.
Oskar menoleh sebentar, melihat Joanna yang sudah menyambutnya, lalu melihat Louise yang juga siap menyambutnya. Tapi mulutnya malah semakin monyong kedepan.
"Xiao O tidak mau dipeluk," jawab Oskar kemudian menggelengkan kepala dan menyimpannya di pundak sang kakek. Siapa juga yang ingin di peluk. Bukan itu yang membuat iri. Tapi hal lainnya.
"Lalu kenapa kau menangis, hm?" tanya Sir Alex.
"Kakek, kenapa adikku sangat tampan dan aku tidak. Hatiku sangat sakit!" kata Oskar dengan mulut yang maju seperti mulut bebek.
"Siapa yang bilang kau tidak tampan. Kau tahu tidak, kalian berdua itu sama-sama tampan. Jadi apa yang membuatmu sakit hati?" tanya Sir Alex.
"Benarkah?" tanya Oskar.
"Tentu saja benar. Tanya saja pada daddy dan mommymu kalau tidak percaya!" jawab Sir Alex.
"Tapi,-" Oskar melihat Joanna. Lalu kembali memonyongkan bibirnya dan kembali protes sejadi-jadinya.
"Kenapa mommy sangat jahat. Kenapa melahirkan adik bayi hanya dengan wajah tampan tapi tidak membiarkan adik bayi memiliki wajah imut dan menggemaskan sepertiku. Bagaimana kalau adik bayi iri dengan wajahku saat besar nanti?" tanyanya dengan semangat berapi-api.
Ketiga orang dewasa itu hanya geleng-geleng kepala. Siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu. Siapa yang memberikannya rasa percaya diri setinggi itu. Lalu apa yang dia bicarakan. Lagipula mereka berasal dari cetakan yang berbeda. Mana mungkin bisa sama sedangkan yang berasal dari cetakan sama pun belum tentu sama.
Oskar dan Reagan, dua anak ini memang berbeda parasnya. Tapi mereka tetap sama-sama tampan dan menggemaskan meksipun berasal dari rahim dan benih yang berbeda.
"Jadi ini salah mommy?" tanya Joanna.
"Baiklah, mommy yang salah. Mommy minta maaf," kata Joanna mengalah.
Oskar akhirnya minta diturunkan. Berlari kearah Joanna dan berlabuh di pelukannya. Kepalanya bersandar di dada Joanna seperti biasanya dan wajahnya menghadap ke jendela besar di kamar itu. Dari jendela itu, Oskar bisa melihat Papi Williamnya sedang berbincang ringan dengan Agria.
Setelah berbulan-bulan enggan keluar. Akhirnya Agria memutuskan untuk keluar dan itu dimulai hari ini. Meskipun Agria sudah berubah, tapi dia masih belum berani mendekati anaknya. Dia takut, anaknya akan lari dan menolak dirinya karena tidak bisa memaafkannya.
Bagaimanapun juga, dia sadar bahwa kesalahannya menelantarkan Oskar memang tidak termaafkan. Untuk itulah dia hanya melihat Reagan dan Joanna sebentar sebelum akhirnya memilih menunggu di luar.
Oskar terus melihat Agria selagi dia berada di pelukan Joanna. Anak itu memperhatikan semuanya. Saat Agria tertawa, saat Agria tersenyum dan saat Agria tanpa sengaja melihatnya. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik. Oskar tidak berpaling, tapi Agria segera menundukkan kepalanya dan kembali berbincang dengan William. Karena melihat mata anaknya sendiri, dia masih belum berani.
"Xiao O sayang. Siapa yang paling cantik. Mommy atau ibumu?" tanya Joanna ketika menyadari Oskar diam saja dan terus melihat Agria.
"Tentu saja mommy yang paling cantik," jawab Oskar.
"Tapi menurut mommy, ibumu yang paling cantik," kata Joanna.
"Kenapa mommy bilang begitu?" tanya Oskar.
Joanna tersenyum. Kemudian mencium Oskar dan memeluknya, "Xiao O. Kau tahu tidak darimana wajah tampan dan menggemaskan milikmu ini berasal?" tanya Joanna.
"Tentu saja dari mommy," jawab Oskar.
"Sayang, dengarkan mommy. Mommy hanya membantumu menjaga wajah imut ini, tapi dari ibu dan ayahmu lah wajah ini berasal. Karena Xiao O tadi bilang wajahmu sangat tampan dan menggemaskan melebihi Reagan, bukankah itu berarti ibumu lebih cantik dari mommy?" tanya Joanna.
Oskar diam saja. Otaknya yang kecil mencerna kalimat ibunya. Entah paham atau tidak tapi yang jelas dia kembali menyandarkan kepalanya.
"Tapi dia jahat. Xiao O tidak mau," jawab Oskar.
"Xiao O, ibumu bukannya jahat. Dia baik, dia sangat baik. Hanya saja pernah memilih jalan yang salah. Kau tahu tidak, dia juga sangat hebat," kata Joanna.
"Tidak, hanya mommy yang paling hebat," tolak Oskar.
"Mommy memang hebat, tapi ibumu yang mengajari mommy jadi hebat," jelas Joanna.
"Kalau begitu mommy dan dia sama-sama hebat," kata Oskar kemudian.
"Hei, dia itu ibumu. Panggil dia dengan sebutan yang benar lain kali. Apa mau mengerti?" tanya Joanna.
"Mommy," rengek Oskar manja.
Oskar tidak mau memanggilnya dengan sebutan ibu. Oskar masih belum menerima, tapi matanya benar-benar tidak bisa pergi dari sosok itu sekarang.
Apa benar wanita itu baik. Apa benar wanita itu hebat. Memangnya apa yang bisa dia lakukan. Apa dia bisa membuat kue seperti mommy. Apa dia bisa memasak makanan yang enak seperti mommy. Apa dia bisa mencium dan memeluknya seperti mommy?
"Sudahlah, jangan berpikiran macam-macam. Pelan-pelan saja. Suatu hari, kau pasti akan menyadarinya. Bahwa ibumu tidak seburuk yang kau kira," bisik Joanna.
...***...