CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Beban Hidup Louise



"Selamat pagi, Tuan William!" sapa beberapa staff yang berpapasan dengan William.


"Selamat pagi!" jawab William ramah.


William datang ke perusahaan dengan wajah berbinar. Dia juga menyambut sapaan staff lebih ramah dari biasanya. Hari ini semangat William sepertinya sedang naik seribu kali lipat. Hanya dalam waktu yang singkat, bertumpuk-tumpuk laporan telah dia periksa sebelum dia serahkan kepada Louise untuk disetujui dengan diselingi siulan dari bibirnya.


"Akhirnya selesai, aku harus mendahulukan yang urgent dan terpenting untuk diserahkan kepada Louise dulu," kata William sambil memilah-milah berkas yang baru dia periksa.


William bekerja dengan sangat teliti, mencegah sedikitpun kesalahan yang bisa merugikan perusahaan. Setelah dirasa cukup, William pun langsung pergi untuk menemui Louise yang tumben belum mencarinya hingga siang hari.


"Louise, aku membutuhkan tanda tangan darimu!" kata William setelah membuka pintu.


Louise yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya langsung menoleh ke sumber suara. Memperbaiki posisi duduknya dan menyambut setumpuk berkas dari tangan William.


Louise hanya memeriksa dengan singkat sebelum akhirnya membubuhkan tanda tangan dan stempel miliknya. William yang melihatnya merasa aneh, dia hanya mematung dan mengira-ngira apa yang membuat Louise menjadi seperti ini.


"Ambillah!" kata Louise ketika sudah menyelesaikan semua tugasnya.


William menerima kembali berkas-berkas itu dengan sedikit was-was. Jika Louise sudah begini, maka biasanya akan ada banyak pekerjaan yang diberikan untuknya.


"Louise, kau kenapa?" tanya William.


"Apa kau sangat senggang, Will?" tanya Louise balik, memberikan tatapan aneh yang tidak di mengerti oleh William apa maksudnya.


"Tidak, sebenarnya pekerjaanku sangat banyak. Aku kemari hanya untuk mengurus ini," jawab William beralasan. Sebenarnya, pekerjaaan William sudah selesai, dan dia ingin sedikit santai di ruangannya sendiri setelah ini.


"Kalau begitu pergilah!" usir Louise


"Baiklah, aku pergi sekarang juga," jawab William. Dia terburu-buru pergi sebelum Louise berubah pikiran. Tapi belum juga menyentuh gagang pintu, dia kembali dihentikan oleh Louise.


"Tunggu!" cegah Louise.


"Matilah aku!" batin William.


"Ada apa?" tanya William.


"Oleh-oleh untuk anak-anak itu, sebaiknya kau yang memberikannya sendiri. Aku sedikit tidak enak badan," kata Louise kemudian bangkit dari duduknya.


Tidak enak badan, itu hanya sebuah alasan. Sebenarnya dia hanya sakit kepala karena sedang memikirkan kisah cintanya yang nyaris bertepuk sebelah tangan. Alasannya ingin cepat pulang, adalah untuk mendatangi Joanna di rumahnya untuk membahas pembicaraan mereka yang sempat tertunda.


"Oh, oke. Aku akan memberikannya nanti. Lalu, haruskah aku memanggil dokter kemari?" tawar William.


"Tidak perlu, aku akan pulang lebih awal untuk beristirahat," pamit Louise.


"Kalau begitu aku akan mengatur sopir untuk mengantarmu!" kata William.


"Will, aku hanya sedikit tidak enak badan. Bukannya patah tulang," jawab Louise yang kini sudah melewati William dan semakin jauh.


.


.


.


William segera bergegas pergi ke sekolah saat istirahat siang. Bukannya apa-apa, Louise sedang tidak ada di perusahaan, begitupun dengan Arthur. Jadi dia harus bergegas pergi dan kembali secepatnya. Tentu saja, tujuannya adalah untuk menemui Oskar dan Ebra untuk memberikan hadiah yang sudah dijanjikan sebelumnya.


Setelah menemui anak-anak dan memberikan hadiahnya, William menyempatkan diri untuk minta maaf karena tidak bisa bermain sebentar dengan anak-anak itu karena kesibukannya. Oskar dan Ebra patuh, mereka juga bilang tidak bisa bermain karena akan pulang lebih awal hari ini. Sebenarnya, Marissa sedang dalam perjalanan untuk menjemput keduanya.


William pun segera pergi, tapi saat sudah berada di depan sekolah dia bertemu dengan Marissa.


"Marissa?" tanya William.


"William, apa yang kau lakukan disini?" tanya Marissa.


"Itu, aku baru saja menemui teman kecilku," jawab William.


"Oh, teman kecil?" ulang Marissa.


"Iya, aku menemui teman kecilku," jawab William.


Tapi, sungguh apes. Seorang satpam menghampiri William, lalu dengan lantang mengatakan, "Maaf, Anda yang bernama William?" tanya satpam.


"Anak Anda bilang barang Anda tertinggal," kata satpam sembari menyerahkan ponsel William.


"Terimakasih," ucap William.


Sepertinya, William tidak terlalu memperhatikan apa yang satpam itu katakan. Tapi tidak dengan Marissa, telinganya mendengar dengan jelas begitupun dengan matanya. Melihat, bahwa William baru saja menerima barang dari anaknya. Entah kenapa, Marissa sakit hati tapi mencoba menguasai diri. Apakah, sebenarnya William telah menikah dan memiliki seorang anak tanpa diketahui siapapun juga?


"Marissa, apa yang kau lakukan disini?" tanya William setelah menyimpan ponselnya.


"Aku, sedang menjemput anakku!" kata Marissa, mencoba tersenyum meskipun sangat dipaksakan.


DEG


William mematung di tempatnya. Apakah Marissa baru saja mengatakan akan menjemput anaknya. Apa Marissa telah menikah?


"Aku pergi dulu, anakku sudah menungguku di dalam," pamit Marissa, kemudian meninggalkan William begitu saja.


Dua insan itu berpisah disana, dengan dugaan mereka masing-masing, bahwa orang yang kemarin menghabiskan waktu bersama telah mempermainkan hatinya.


William menjauh, dan berdiri di balik pohon yang jauh. Dia ingin melihat, apakah benar Marissa telah menikah dan memiliki seorang anak. Benar saja, tak lama menunggu sosok Marissa keluar dari gerbang sekolah. Menggandeng tangan dua anak yang lucu.


Tidak lama setelah itu, muncul sebuah mobil yang berhenti tepat di dekat mereka. Seorang pria keluar dari mobil, menggendong anak-anak itu dan menciuminya sebelum menyuruh mereka masuk ke mobil dan menutup pintu.


"Marissa, kenapa kau tidak mengatakannya bahwa kau telah menikah dan punya anak?" William tak dapat berkata-kata lagi.


Jarak William melihat cukup jauh, ditambah William yang sedang tidak menggunakan kacamatanya karena tertinggal di mobil. William rupanya telah salah melihat, anak-anak itu sebenarnya adalah Oskar dan Ebra. Sementara pria yang keluar dari mobil adalah Arthur yang berencana membawa anak-anak itu menemui Alexa.


.


.


.


"Joanna, aku sudah menjemput anak-anak. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Alexa bersama Arthur sekarang," kata Marissa via telepon.


"Baiklah, aku akan berangkat sebentar lagi," jawab Joanna.


Panggilan terputus, Joanna yang sedang di perpustakaan segera mengemasi barangnya. Lalu, segera duduk di belakang kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Mobil berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang. Untuk sampai ke rumah Alexa, Joanna memilih jalan pintas. Di jalan ini, dia harus melewati sebuah danau yang diapit pepohonan berukuran besar. Jalanan itu cukup sepi, karena sejak tadi hanya mobilnya saja yang melintas disana. Tapi, itu cukup menyenangkan karena dengan begitu Joanna bisa dengan bebas menikmati suasananya.


Joanna tersenyum, lalu dengan cepat menekan tombol untuk membuka bagian atas mobilnya, menikmati segarnya udara yang berhembus dan menerpa wajahnya, lalu membiarkan angin membelai rambutnya. Joanna baru menikmati udara itu beberapa menit saja sebelum mobilnya terasa aneh. Sangat aneh sampai Joanna harus menepi menghentikan mobilnya dan turun untuk memeriksa.


"Bocor?" tanya Joanna pada dirinya sendiri.


Joanna memijit keningnya. Bagaimana bisa ban mobilnya bocor di tempat dan waktu yang salah seperti ini. Joanna segera mengambil ponselnya, berencana segera menghubungi Diaz untuk mengirim pekerjanya yang ahli dalam hal ini. Tapi sepertinya Joanna harus gigit jari, karena di tempat ini tidak ada jaringan yang terdeteksi.


"Apa lagi ini. Apa aku harus jalan kaki sampai di keramaian untuk meminta bantuan?" tanya Joanna.


Sepuluh menit, selama itu Joanna masih duduk di mobilnya yang atapnya masih terbuka. Dia masih sendirian, karena memang tidak ada siapapun yang lewat. Joanna mulai panik, kemudian menggigit kecil kukunya yang sama sekali tidak panjang.


"Baiklah, aku harus bergerak. Aku tidak bisa diam dan terus menunggu. Setelah aku berjalan dua puluh menit, seharusnya akan ada jalan besar didepan sana," batin Joanna.


Joanna segera turun dan menutup mobilnya, sampai sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di belakang mobilnya dan parkir sangat mepet ke tepian.


"Kenapa, itu dia lagi?" batin Joanna ketika melihat siapa yang membuka pintu dan turun.


"Joanna, apa yang kau lakukan disini. Berpakaian seperti ini di tengah hutan, apa kau tak takut dimakan siluman?" protes Louise. Pria itu berdiri beberapa langkah di depan Joanna, memasukkan kedua tangannya di saku sembari memperhatikan Joanna dari atas hingga ke bawah.


Wanita itu, kenapa dia berani memamerkan pemandangan yang hanya boleh dilihat olehnya? Hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda berlengan panjang. Tapi tidak cukup panjang di bagian bawahnya, lalu masih ada sepasang tali yang harus diikat hingga mempertontonkan pusarnya. Dipadukan dengan celana pendek berwarna putih satu jengkal diatas lutut. Dengan pakaian seperti ini, kenapa dia berani berkeliaran di jalanan sendirian.


Saat ini, Louise mulai memijit kepalanya yang sudah sakit sejak tadi, dan sekarang menjadi lebih sakit begitu melihat tampilan Joanna yang memamerkan perutnya yang rata. Jika itu orang lain, Louise tidak akan pernah peduli.


Tapi berbeda jika itu Joanna-nya yang berharga.


Louise menghirup udara dan melepaskannya dengan kasar, mulai meratapi nasib dan beban hidupnya yang sepertinya menjadi semakin berat dari hari ke hari.


"Kemana perginya pengawal brengsek yang melindunginya waktu itu?" batin Louise.


...***...