CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Aku Lebih Suka Praktek



Louise segera turun dari mobil, berlari kecil untuk mengambil Oskar yang sudah bangun dan membiarkan Joanna turun dengan kakinya sendiri.


Karena asalkan Oskar bersamanya, Joanna tidak akan mungkin meninggalkan villanya meskipun hanya sejengkal. Meskipun sedikit ragu, tapi Joanna tetap melangkah turun. Seandainya Oskar baik-baik saja sudah pasti Joanna akan membawanya pulang. Tapi tidak bisa untuk sekarang. Tidak baik membawa Oskar kesana kemari dengan kondisinya yang seperti itu. Toh sebenarnya jarak rumah sakit dari villa Louise lebih dekat daripada jarak rumah sakit kerumahnya.


"Tunggu, bukankah itu mobil ayahku. Kenapa ayah disini?" batin Joanna ketika melihat mobil ayahnya di parkiran yang jauh. Tidak hanya mobil ayahnya, tapi juga ada mobil yang sangat tidak asing dan sering dia tumpangi, yaitu mobil Arthur.


Tepat saat itu beberapa pelayan dan pengawal langsung membantu mereka untuk memindahkan barang-barang yang hampir semuanya milik Oskar.


"Jose, kau sudah kembali?" tanya Sir Alex setelah melihat anaknya datang. Sir Alex tidak sendirian, karena dia sedang menyambut Joanna bersama Jordan. Tidak hanya itu, di dalam sana juga sudah ada Alexa dan Marissa. Tentu juga ada William dan Arthur.


"A-ayah, apa yang ayah lakukan disini?" tanya Joanna dengan ribuan pertanyaan yang masih belum terucapkan.


"Satu-satunya anakku sedang pindahan hari ini, mana mungkin ayah tidak datang?" jawab Sir Alex.


"Pi-pindahan?" ulang Joanna. Matanya melotot, lebih melotot lagi ketika memperhatikan dengan jelas pengawal itu sibuk memindahkan barang-barang Oskar dan miliknya dari rumah yang sebenarnya baru dia beli kurang dari setengah tahun.


"Selamat datang, calon menantu!" sambut Jordan.


"Hallo, Paman!" jawab Joanna canggung.


Mendengar jawaban itu, Sir Alex langsung memukul ringan kepala Joanna, "Tidak tahu sopan santun. Dia ayah mertuamu mulai sekarang."


"Ayah!"


"Kenapa, apa kau keberatan?" tanya Louise.


"Ehm. Louise, tolong jelaskan padaku kenapa bisa begini. Kenapa aku tidak tahu kalau aku pindahan. Kenapa tidak bertanya padaku dulu aku setuju atau tidak?" tanya Joanna.


"Kalau aku bertanya padamu terlebih dulu, apa kau mau?" jawab Louise.


"Tentu saja tidak," kata Joanna.


"Maka dari itu aku tidak memberitahumu!"


"Tapi ini sepertinya tidak benar. Ini pemaksaan hlo!" kata Joanna dengan menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan.


"Joanna, itu tidak ada gunanya. Karena Oskar mau, apa pendapatmu masih penting?" tanya Louise.


"Kapan kau bertanya padanya?"


"Sudahlah, patuh saja. Satu lagi, Oskar tidak perlu menghabiskan waktunya di rumah sakit lagi. Aku sudah menghubungi beberapa dokter dan suster terbaik untuk memantau kondisinya selama 24 jam di rumah ini. Hanya sesekali dia baru akan ke rumah sakit," lanjut Louise.


"Ta-tapi bagaimana dengan,-"


"Fasilitas kesehatan yang lengkap sudah disediakan. Oskar, baru akan ke rumah sakit saat operasi nanti," potong Louise.


"O-oh. Baiklah!" kata Joanna. Menjadi sangat penurut ketika Louise memberikan tatapan seolah ingin memakannya.


.


.


.


"Tidak bisakah menurunkannya ke kamar yang lain?" tanya Joanna ketika mereka melewati jalanan yang tidak asing.


"Tidak!" jawab Louise.


"Bagaimana kalau dia ingin mencariku tengah malam?" tanya Joanna.


"Mencarimu ya tinggal panggil saja," jawab Louise.


"Apa sih yang kau bicarakan. Joanna, kau dan Oskar akan tidur disini bersamaku," kata Louise.


"Be-bersamamu?" tanya Joanna.


"Kalau tidak tidur bersama, kapan anakku bisa lahir?" bisik Louise.


"Louise, apa kau tidak tahu? Membuat anak itu sulit. Apa kau tidak ingin belajar lebih dulu. Maksudku, kau bisa membaca banyak buku untuk menambah wawasan sebelum benar-benar mewujudkannya kan?" tanya Joanna.


"Joanna, sayangnya daripada membaca aku lebih suka mempraktekkannya secara langsung," jawab Louise.


"Bagaimana kalau ada kesalahan. Bagaimana kalau karena kurangnya pengetahuanmu bisa memperlambat terjadinya proses pembuahan?"


"Apa kau baru saja mengatakan aku kurang pengetahuan dan pengalaman. Aku tahu, kau mengatakan ini karena belum merasakan yang sesungguhnya. Kalau begitu, mari kita coba apakah aku berpengalaman atau tidak. Jadi kapan, haruskah malam ini?" tanya Louise


"Aku hanya mengatakan bagaimana kalau kau kurang pengetahuan bukan pengalaman," kata Joanna.


"Bagiku itu sama saja," ucap Louise. Wajahnya mendekat tapi Joanna dengan sigap menjaga jarak.


"Apa sih, aku hanya ingin mengambil bulu matamu yang jatuh. Kenapa kau sangat mesum?" tanya Louise.


"Siapa yang mesum. Aku hanya ingin bergerak untuk memandikan Oskar," kilah Joanna.


Hari masih cukup siang, tapi Joanna memutuskan untuk memandikan Oskar. Memastikan tidak ada kuman yang menempel di tubuhnya selama perjalanan tadi.


Louise hanya bisa melihat saat Joanna dengan terampil memandikan Oskar. Menggosok giginya yang putih, mencuci rambutnya, menggosok tubuhnya dan sedikit bermain air dengan Oskar. Anak itu menjadi lebih manja selama sakit. Terlihat jelas dari boneka bebek beraneka ukuran yang saat ini memenuhi bak mandi yang biasanya tidak dia inginkan. Oskar yang sehat nyaris tidak pernah seperti ini, tapi kali ini dia benar-benar menjadi sangat patuh.


Disaat Louise sibuk memperhatikan Joanna, sebuah bayangan terlintas di pikirannya. Tangan yang penuh kasih sayang ini bisa membantai pembunuh ibunya tanpa ragu sedikitpun. Wanita ini tidak hanya bisa menjadi malaikat tapi juga bisa menjadi orang kejam yang saat membunuh tidak perlu menutup matanya. Tapi itulah yang malah membuatnya jatuh cinta sampai setengah mati.


Louise merasa sedikit ngeri, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada seorang wanita yang menyeramkan seperti ini. Jika dia melakukan kesalahan sedikit saja, sudah pasti nyawanya akan melayang di tangan Joanna.


Setelah beberapa saat, Oskar sudah kembali rapi. Badannya yang sebelumnya wangi jadi semakin wangi.


Karena Oskar sudah selesai, kini giliran Louise yang masuk ke kamar mandi. Joanna tidak tahu kenapa Louise mandi di awal waktu. Dia tidak mau tahu dan tidak ingin bertanya.


Joanna membawa Oskar berbaring di pelukannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, karena Oskar sudah kembali tidur tidak lama setelah dia meminum obatnya bahkan sebelum Louise keluar dari kamar mandi.


"Oskar sudah tidur lagi?" tanya Louise beberapa saat kemudian setelah dia keluar. Joanna tahu Louise sudah selesai dari suara langkah kaki Louise sejak dari ujung sana. Suara kaki itu semakin mendekat, dan berhenti saat sudah berdiri tepat di belakang Joanna.


"Em," jawab Joanna singkat.


Louise hanya bisa memonyongkan bibirnya. Terjadi lagi, dia diabaikan lagi di kamarnya sendiri. Joanna tidak melihatnya sedikitpun dan sibuk membereskan barang-barang Oskar.


"Joanna," panggil Louise lagi.


"Ada apa?"


"Apa kau tak ingin melihatku?"


"Tidak."


Jawaban Joanna membuat Louise sangat ingin menggigitnya. Louise tidak pernah diabaikan wanita berturut-turut seperti ini selama hidupnya dan ini sangat melukai harga dirinya.


Louise tak kurang akal, untuk menghadapi Joanna yang keras kepala dia harus menggunakan sedikit cara yang berbeda. Tentu saja, untuk menarik perhatiannya pun juga sama. Jadi dengan percaya diri Louise melangkah semakin dekat hanya dengan menggunakan satu-satunya handuk yang melilit tubuhnya.


"Joanna, aku belum memakai apapun. Apa kau tak ingin melihatnya?" tanya Louise.


...***...