CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kebelet Pipis



Tok


Tok


Tok


"Jo, kau baik-baik saja?" tanya William setelah mengetuk pintu kamar mandi.


William sudah bersandar di dinding itu sejak sepuluh menit yang lalu, dia sedikit cemas karena Joanna masih belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.


Lebih cemas lagi mengingat ini sudah yang kesekian kalinya Joanna bolak balik ke kamar mandi. Biasanya Joanna tidak seperti ini, entah apa yang membuatnya sedikit berbeda malam ini.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya William memutuskan untuk membuka pintu. Maaf karena lancang, tapi nyawanya sedang dipertaruhkan sejak dia menikahi Joanna, jika sampai terjadi apa-apa pada Joanna habislah dia dan pupuslah satu-satunya harapannya untuk menikahi Marissa.


Di dalam sana, William melihat Joanna masih duduk di kloset dan tersenyum geli jauh di dalam hatinya. Kenapa ibu hamil ini begitu lucu saat terlihat seperti anak kingkong dengan perut yang besar?


"Aku baik-baik saja," kata Joanna lemah begitu melihat William berdiri di ambang pintu.


"Apa belum selesai pipisnya?" tanya William.


Joanna tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang bingung mau menjawab apa. Dia sudah selesai pipis, hanya saja sedikit lelah karena harus bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sangat melelahkan mengingat ukuran perutnya yang sudah sangat besar.


Melihat Joanna tidak bergerak, William pun berinisiatif mendekatinya, "Sini, biar aku banyu!" ijin William.


William membantu Joanna berdiri. Joanna memegangi pinggang dengan tangan kirinya dan memegang perutnya dengan tangannya yang lain. William tidak tega melihat Joanna yang terlihat sangat tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi namanya juga sedang hamil. Semua wanita hamil pasti merasakannya kan? Lagipula itu keinginan Louise dan Joanna sendiri. William sebagai orang ketiga bisa apa selain menjadi penonton?


"Tunggu!" kata Joanna saat William memapahnya.


"Kenapa, apa mau pipis lagi. Sebenarnya berapa banyak air yang kau minum hari ini?" tanya William.


"Bukan begitu Will," jawab Joanna.


"Lalu apa?"


"Aku belum memakai celanaku," jawab Joanna dengan menunjuk kakinya.


Spontan William melihat kearah itu, disana dia bisa melihat segitiga berwarna putih yang masih menggantung di antara kaki-kaki Joanna.


"Joanna, kau sangat tidak tahu malu. Kenapa kau membiarkan aku melihat onderdil pribadi itu sih," rutuk William dalam hati, "Kenapa aku harus selalu terjebak dalam situasi cangung seperti ini?" batinnya lagi.


Meskipun sangat pusing, William segera memegang segitiga itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Bukannya mendapatkan ucapan terimakasih, tapi William malah mendapatkan pukulan dari Joanna tepat di punggungnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Joanna saat William menyentuh benda keramat itu.


"Diamlah! Aku tahu kau kesulitan memakainya," jawab William.


Pria itu menutup matanya dan mulai menaikkan segitiga istrinya dengan hati-hati. Jangan sampai dia salah menyentuh atau memegang sesuatu milik Louise yang berharga atau tangannya akan terlepas dari tubuhnya.


Joanna menghela nafas panjang. William memang benar tapi apa tidak apa-apa menerima bantuan William sampai begini?


"Sudah sampai situ saja, aku bisa memakainya," kata Joanna ketika celananya sudah sampai di atas lutut. Dia tidak terlalu kesusahan saat celananya sampai di bagian itu.


"Kau serius?" tanya William dengan mata yang masih tertutup.


William mengerti, pasti Joanna merasa sungkan padanya. Jadi memintanya untuk berhenti. Tapi apa masih perlu sesungkan itu? Kan dia sudah pernah melihatnya sekali malam itu.


"Astaga! Apa yang sedang kupikirkan, Joanna kan sedang tidak sadar saat itu," batin William meralat pikirannya.


"Aku bisa," jawab Joanna. Kemudian berusaha memakai onderdilnya.


"Joanna, hentikan!" ucap William tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Joanna.


"Aku baru terpikirkan sebuah ide agar kau tak kelelahan," jawab William.


"Ide apa?"


"Bagaimana kalau kau memakai pampers saja. Jangan memakai celana lagi, aku akan mengambil pampers untuk kau pakai. Jadi kau tidak perlu bolak balik ke kamar mandi seperti ini," jelas William.


"Aku tidak mau," tolak Joanna.


Tidak masalah jika Louise ada disini. Masalahnya dia tidak ada, yang ada hanya William. Joanna malu jika William juga harus membantunya sampai tahap seperti itu.


Louise itu, sudah menitipkan anak diperutnya, tapi malah meminta William untuk menggantikannya untuk menjaganya. Jika tahu akan pipis-pipis seperti ini, Joanna pasti menolak untuk ditinggal sore tadi.


"Kau setuju kan?" tanya William. Sebuah pertanyaan yang membuyarkan lamunan singkat Joanna.


"Aku tidak mau," tolak Joanna.


"Tapi aku mau kau memakainya!" paksa William.


William tidak ingin berdebat lagi. Dia akan tetap membuat Joanna memakai pampers bagaimanapun caranya. William menarik segitiga itu. Meletakkannya sembarangan di kamar mandi dan mengangkat tubuh gendut itu.


"William, aku tidak ingin memakainya, kenapa kau terus memaksa?" protes Joanna.


"Joanna, jangan membuatku marah!"


William mulai kesal, nadanya sedikit meninggi. Suaranya bahkan bisa di dengar oleh pelayan yang setia menjaga di luar kamar. Dengan cekatan, seorang pelayan senior meminta ijin untuk masuk. Tapi tak mendapatkan jawaban.


Takut terjadi apa-apa pada Joanna yang sedang hamil, orang itupun masuk kedalam untuk memeriksa.


Saat baru melangkahkan kakinya, pelayan itu sudah melihat William menggendong Joanna keluar dari kamar mandi.


"Ada apa dengan Nyonya, Tuan?" tanya pelayan itu khawatir, tapi masih berbicara dengan sangat sopan.


"Tolong bantu aku mencari pampers ukuran istriku sekarang juga!" titah William.


"Untuk apa, Tuan?"


"Dia pipis terus. Aku kasihan padanya jika terus bolak-balik kamar mandi," jawab Willy.


"Baiklah, saya akan segera kembali," ujar pelayan. Dengan cepat dia pergi meninggalkan kamar William untuk mendapatkan pampers.


Joanna akhirnya diam. Dia tidak bisa membantah lagi dan hanya bisa menuruti kata-kata William. Karena di tempat ini, hanya Williamlah satu-satunya yang dia punya.


William meletakkan Joanna di sisi ranjang dengan pelan. Tidak lama berselang pelayan tadi sudah kembali dengan membawa barang yang William minta. William memintanya keluar setelah memberikan pampers itu padanya.


"Maaf, bukannya tidak sopan. Aku hanya membantumu," kata William lagi.


William duduk berlutut dihadapan Joanna, membantu Joanna mengangkat kakinya karena kaki itu sudah sangat membengkak. Dua lubang pampers itu sudah masuk di pergelangan kaki Joanna. Belum sempat menarik pampers itu keatas, William melihat tangan Joanna mencengkeram erat ujung sprei dengan kuat. Bersamaan dengan itu, ada cairan bening yang menetes di kaki Joanna.


"Apa Joanna sudah pipis lagi?" pikir William heran.


William mendongak, dia melihat Joanna meringis menahan sakit.


"Jo, kau kenapa. Jangan membuatku takut!"


William bangkit. Wajahnya mulai memutih karena sepertinya Joanna sedang tidak baik-baik saja.


Joanna menarik nafasnya perlahan dan mengaturnya. Dia melakukannya berulang kali sampai merasa tenang kemudian berbicara dengan pelan, "Panggil dokter kemari," pinta Joanna.


"Apa masih ada seseorang diluar, cepat panggil dokter kemari!" teriak William panik.


Pelayan yang tadi memberikan pampers segera masuk karena kegaduhan William. Dengan pengalamannya, dia memeriksa Joanna yang saat ini bersandar pada William.


"Tuan, Nyonya akan segera melahirkan!" kata pelayan itu senang.


"A-apa melahirkan?" tanya William gugup.


Menurut perhitungan mereka seharusnya Joanna belum waktunya melahirkan. Apa karena Louise menyundul perut Joanna sore tadi, apa karena Oskar menendang adiknya tadi, atau karena bayi itu sudah membaca buku yang Louise letakkan di perut Joanna sehingga dia tahu bagaimana caranya untuk keluar bahkan meskipun belum waktunya?


Sial, kenapa harus sekarang. Padahal Louise sengaja mempercepat keberangkatannya ke luar negeri agar bisa menemani Joanna melahirkan. Louise saat ini bahkan belum mendarat di negara tujuannya dan sekarang Joanna sudah mulai mulas. Bagaimana ini, siapa yang akan menemani Joanna melahirkan?


...***...