CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Mawar Hanya Untuk Mommy



"Mobilmu sudah siap," beritahu William dari sambungan telepon.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang," jawab Louise meskipun sebenarnya ogah-ogahan.


"Ingatlah untuk membeli bunga untuk nenek," kata William memperingatkan.


Louise memijit keningnya ketika mengingat sesuatu yang hampir dia lupakan. Seingatnya, rumah neneknya sudah penuh dengan bunga. Kenapa dirinya masih harus membelinya lagi. Kenapa wanita itu begitu merepotkan.


"Will, bunga apa yang harus ku beli?" tanya Louise mulai pusing.


William adalah orang yang cekatan dan pintar. Jadi Louise yakin William pasti memiliki jawaban dari pertanyaan yang baru saja dia tanyakan.


"Louise, kau bertanya pada orang yang salah. Aku sendiri juga tidak tahu soal bunga, jadi jangan tanya padaku."


"Lalu aku harus bertanya pada siapa?" tanya Louise tak percaya. Tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti ini dari William.


"Tentu saja bertanya pada penjualnya nanti," jawab William santai, lalu tanpa permisi menutup teleponnya karena masih ada begitu banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan.


"Ah, sialan!" umpat Louise.


Mulutnya memang mengumpat, tapi tidak dengan jari-jarinya. Karena mereka begitu lincah mencari satu nama yang sebenarnya sangat jarang dia hubungi.


"Ma, bunga apa yang harus ku beli?" tanya Louise saat panggilannya di respon mamanya.


"Louise, berapa umurmu. Kenapa masih bertanya pada mama untuk urusan sekecil ini?" jawab Rose, mama Louise dari seberang sana.


"Ma, jangan membicarakan hal yang sensitif," larang Louise ketika mamanya menyinggung soal umur.


"Ck, anak ini. Belilah apapun yang kau sukai," jawab Rose kemudian.


"Ma, masalahnya tidak ada satupun yang kusukai."


"Kalau begitu belilah yang harum. Asalkan harum, nenekmu pasti menyukainya," jawab Rose semakin dongkol.


"Bukankah semua bunga harum, haruskah aku membeli semuanya?" tanya Louise.


"Louise, kalau semuanya harum, maka pilih saja yang paling harum. Mama tahu kau punya banyak uang, tapi tidak perlu menghamburkannya dengan membeli semua bunga itu bukan?" jawab Rose dengan tubuh nyaris mengeluarkan api.


"Oh, baiklah!"


Tut. .


Tanpa berbicara lagi, Louise langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Tidak memperdulikan mamanya yang sekarang semakin uring-uringan kepada papanya.


"Anak ini, apa dulu aku tidak pernah mengajarinya sopan santun?" keluh Rose kesal.


"Ma, tenanglah sedikit!" bujuk Jordan, suaminya yang sedang duduk manis dan sibuk membaca koran harian.


"Bagaimana mama bisa tenang, Pa. Lihatlah anakmu itu, berapa umurnya sekarang. Hanya membeli bunga saja kenapa harus bertanya pada mamanya," jawab Rose semakin emosi.


"Ma, itu bukan salahnya. Louise kan pria, bagaimana dia bisa tahu urusan bunga-bungaan. Kau ini ada-ada saja," bela Jordan ringan.


"Pa, kenapa kau selalu membelanya dan berubah menjadi semakin menyebalkan dari hari ke hari. Sangat menyebalkan persis seperti Louise itu," ucap Rose meledak-ledak.


"Mau bagaimana lagi, dia kan anakku. Lagipula kalau berani, marahlah di depannya jangan di belakangnya," jawab Jordan santai dibarengi dengan menyeruput kopinya yang mulai dingin.


Rose memijit kepalanya yang pening. Marah di depan Louise ya? Rose mana berani. Meskipun dia mamanya, dia pun sebenarnya takut pada anak pertamanya itu. Malahan lebih takut padanya daripada pada suaminya sendiri.


"Ah, dosa apa yang ku lakukan di kehidupan masa laluku. Kenapa aku memiliki suami dan anak dengan sifat yang sama-sama menyebalkan. Mereka selalu saja membuatku ingin marah," gerutu Rose saat meninggalkan suaminya begitu saja.


"Hhh, William. Untung saja anakku yang satu itu tidak memiliki sifat yang sama dengan Jordan dan Louise," lanjut Rose dengan mengelus dadanya sebagai ucapan syukur karena masih ada William yang selalu bisa memenangkan hatinya juga meredakan amarahnya.


"Beli saja yang paling harum, tapi mana aku tahu mana yang paling harum. Haruskah aku menciumnya satu persatu? Bukankah itu sangat memalukan. Aku ini seorang pria, kenapa aku harus mencium bunga," gerutu Louse saat mengendarai mobilnya.


'Mommyku sangat suka mawar dan menyimpannya hingga layu.'


Tiba-tiba sepotong kalimat dari Oskar terlintas di pikiran Louise.


"Haruskah aku membeli mawar. Lalu warna apa yang harus ku beli? Yang merah atau yang putih. Tunggu, sepertinya ada juga yang berwarna merah muda. Tidak, aku harus bertanya dulu pada anak itu. Sepertinya dia lebih pintar dariku soal bunga."


Tanpa berpikir panjang, Louise segera menghubungi Oskar untuk mendapatkan pencerahan.


"Oskar, tolong paman," kata Louise merajuk.


"Paman, apa paman menangis?" tanya Oskar.


"Tidak."


"Tapi kenapa suara paman aneh. Paman, seorang pria tidak boleh menangis."


"Oskar, jangan bercanda paman tidak menangis."


"Benarkah?"


"Tentu saja benar. Oskar paman butuh bantuanmu," kata Louise.


"Apa itu?"


"Itu, nenek paman sedang berulang tahun. Dia ingin paman membawa seikat bunga. Haruskah paman membeli bunga mawar untuknya?" tanya Louise tanpa ragu.


"Tidak boleh!" jawab Oskar dengan cepat. Sangat cepat sampai membuat Louise tersedak nafasnya sendiri meskipun jarak mereka berjauhan.


"Eh, kenapa?" tanya Louise kaget.


Bukankah Oskar bilang mommynya juga menyukai mawar. Tapi kenapa Oskar melarang dirinya membeli mawar? Bukankah neneknya dan mommynya Oskar sama-sama perempuan?


"Paman, belilah apapun selain mawar," jawab Oskar.


Astaga, Louise semakin pusing sekarang. Pertama, mamanya berpesan untuk membeli bunga apapun yang paling harum. Dan sekarang Oskar meminta membeli bunga apapun selain mawar. Jika tahu jawaban mereka membuat Louise pusing, Louise memilih untuk mendengarkan nasehat William saja, yaitu bertanya pada florist di toko bunganya nanti untuk mendapatkan rekomendasi darinya.


"Kenapa paman tidak boleh membeli mawar?" tanya Louise. Dia butuh penjelasan atas larangan Oskar.


"Paman boleh membeli mawar jika bunga itu paman berikan pada mommy."


"Hm, apa yang sedang kau bicarakan?"


"Pokoknya beli saja selain mawar jika diberikan kepada orang lain," kukuh Oskar.


"Ah, sudahlah. Baiklah, paman mengerti," akhirnya Louise mengalah. Tidak mungkin baginya untuk beradu argumen dengan anak kecil.


"Paman Louise!" panggil Oskar lagi.


"Hm, ada apa?"


"Cepat pikirkan tawaranku kemarin dan segera berikan bunga mawar untuk mommy."


"Memangnya kenapa?"


"Aku berubah pikiran."


"Apa maksudmu?"


"Jika paman tidak segera melamar mommy, paman tidak hanya akan menyesal seumur hidup. Tapi akan menyesal sampai tujuh kehidupan yang selanjutnya."


"Ah, kenapa bisa separah itu. Memangnya seberapa cantik mommymu?" tanya Louise mengerutkan keningnya.


"Kalau ingin tahu, datanglah kerumah dan lihat sendiri!" jawab Oskar.


"Oskar, bagaimana caranya paman pergi kerumahmu jika kau sendiri tak ada di rumah?" tanya Louise semakin pusing.


"Bilang saja ingin bertemu mommy untuk memberikan seikat mawar. Jangan lupa membeli sebuah cincin dan memasangnya di jari manis mommy."


"Oskar, ini tidak semudah yang kau katakan," jawab Louise hampir menangis.


"Itu bukan urusanku. Kalau paman tidak ingin menyesal, paman hanya perlu melakukan apa yang kubilang tadi. Paman, aku sangat sibuk sekarang. Bye!"


Kali ini, giliran Louise yang dicampakkan. Sama persis seperti yang dia lakukan pada mamanya sebelum ini.


"Ah, anak ini kenapa sangat nakal. Aku kan belum selesai berbicara. Siapa yang mengajarinya seperti ini. Sialan, ini pasti sifat turunan dari daddynya yang brengsek dan menyebalkan."


Louise masih tidak tahu harus membeli apa saat memasuki toko bunga. Untungnya, saat dia baru saja masuk seorang wanita paruh baya segera menyambut kedatangannya.


"Selamat datang, Tuan. Bunga apa yang Anda inginkan?" tanya pelayan itu ramah.


"Bisakah Anda memberikan aku referensi bunga untuk seorang nenek. Dan, bisakah yang beraroma harum tapi selain mawar?" tanya Louise sopan.


"Tentu saja," jawab pelayan berumur itu ramah .


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi florist itu untuk memilihkan bunga sesuai petunjuk Louise.


Dalam waktu kurang dari lima menit, Louise bahkan sudah menentukan bunga-bunga pilihannya dan menyerahkannya pada florist itu untuk dirangkai.


"Aku tidak menyangka akan semudah ini," batin Louise lega.


Louise tidak memperhatikan siapapun di sekitarnya. Tidak ada yang perlu diperhatikan dan tidak ingin memperhatikan. Dia sudah sangat lelah hanya karena memikirkan bunga untuk neneknya sebelum ini. Tapi meskipun begitu dia tahu, bahwa toko ini benar-benar ramai pengunjung. Ingin sekali dia segera pergi dari sini karena pengunjung terlihat semakin banyak dan berdesakan.


Louise bersiap pergi ke tempat yang lain untuk menunggu buketnya, tapi baru beberapa langkah berpindah dia melihat seorang gadis bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya dengan ukuran tubuh yang lumayan besar.


Gadis itu sedikit terpental, tapi tidak menunjukkan ekspresi marah. Dia membiarkan orang yang menabraknya pergi bahkan juga sempat mengucapkan salam perpisahan.


Baiklah, sudah dengan intermezzonya. Bukan saatnya untuk memperhatikan gadis itu lagi. Benar, Louise bersiap melanjutkan langkahnya tapi tangan kirinya diraih gadis itu yang memang sebelumnya hanya berjarak beberapa langkah saja.


Seorang gadis setinggi dagunya itu bahkan meminta pendapatnya apakah bunga pilihannya bagus?


Louise terdiam untuk beberapa saat, tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Yang dia tahu hanyalah bahwa bunga yang dipegang gadis itu sangat cantik, tapi gadis yang memegang bunga itu jauh lebih cantik.


Louise membiarkan saja wanita itu terus memegangi tangannya. Louise seperti telah terhipnotis akan pancaran cahaya ayu gadis itu. Ini pertama kali baginya melihat pahatan yang begitu sempurna di hadapannya dengan jarak sedekat itu sehingga membuatnya kehilangan niat untuk pergi.


Dia ingin sedikit berlama-lama di dekatnya dan melihat keagungan keindahannya lebih jelas. Tapi seorang florist tadi datang membawa bunga miliknya dan menegur gadis yang masih gelendotan di tangan kirinya. Membuyarkan semua fokusnya pada sentuhan dan kecantikan gadis asing yang bersikap mesra kepadanya.


Louise bisa melihat wanita yang dipanggil dengan Jo itu salah tingkah ketika dia tahu salah menggandeng tangannya.


Tapi cukup bodoh karena masih tidak melepaskan genggamannya. Itu membuat Louise tertarik untuk menggodanya. Benar saja, wajah gadis itu semakin berwarna merah ketika menyadari kesalahannya.


Sangat merah sampai membuat Louise ingin menciumnya. Jadi, Louise dengan berani menawarkan sebuah pernikahan untuknya. Bukannya memikirkannya, gadis itu malah pergi begitu saja tanpa menjawab tawarannya.


"Memangnya kenapa kalau kau pergi dan mengabaikanku. Karena aku sudah melihatmu, meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun aku akan tetap bisa menemukanmu. Kau, tidak akan pernah bisa lari dariku," batin Louise.


"Joanna, kau sudah datang?" sambut Bibi Lim, orang yang kemarin menelepon dan meminta Joanna datang.


"Bibi Lim, apa kabar?" sapa Joanna ramah.


"Baik, sangat baik. Bagaimana denganmu? Dengar, kau sudah cantik alami sebelumnya. Tapi sekarang jauh lebih cantik seperti peri," puji Bibi Lim setinggi langit untuk tampilan baru Joanna.


Bibi Lim juga beberapa kali memutar-mutar badan Joanna untuk melihat detail perubahan yang dimilikinya.


"Tapi Bibi jauh lebih cantik," goda Joanna balik.


"Jangan mengada-ada yang tidak ada. Kau selalu saja punya cara menghibur orang lain," protes Bibi Lim dengan mencubit pipi Joanna.


Iya, di rumah ini Joanna diperlakukan layaknya anak kecil. Selalu dimanja dan disayang oleh semua orang. Padahal mereka tidak memiliki hubungan darah. Hubungan mereka resmi hanya sebatas langganan saja.


"Tapi aku tidak bercanda, Bibi memang sangat cantik," bela Joanna.


"Baiklah, tapi itu 20 tahun yang lalu. Sudahlah, ayo! Nyonya Anne sudah menunggumu dari tadi."


"Sepertinya hari ini orang-orang sangat sibuk, apakah ada acara?" tanya Joanna ketika melihat pemandangan yang tak biasa di rumah mewah itu.


"Rose dan suaminya akan datang sebentar lagi. Tidak hanya itu, cucu nyonya yang beberapa tahun belakangan tinggal di luar negeri juga akan datang, jadi nyonya sibuk menyiapkan ini semua untuk menyambut mereka," jelas Bibi Lim.


Rose adalah menantu Nenek Anne. Joanna sering bertemu dengan beliau juga dan memanggilnya dengan sebutan tante. Sama seperti Nenek Anne, Tante Rose ini juga senang bertemu dengan Oskar. Alasannya pun sama yaitu, wajah Oskar sangat mirip dengan anaknya.


"Kalau begitu, bukankah kurang tepat jika aku kemari hari ini?" tanya Joanna kepada Bibi Lim. Langkahnya terhenti di salah satu anak tangga. Ragu apakah masih harus masuk untuk menemui Nenek Anne.


"Tidak apa-apa, ayo masuklah!" bujuk Bibi Lim.


Bibi Lim dan Joanna kembali meneruskan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Setelah mengetuk pintu, mereka pun masuk untuk menemui Nenek Anne.


"Nenek, aku datang," sapa Joanna ramah.


Sama seperti Bibi Lim, Nenek Anne dibuat takjub dengan perubahan drastis Joanna. Wanita tua itu terperangah dan tidak bisa menyembunyikan bahagianya di depan semua orang.


"Bukankah mereka sangat cocok?" bisik Bibi Lim kepada Nenek Anne.


"Diamlah, aku sudah menunggu sangat lama untuk hari ini," jawab Nenek Anne tak kalah pelan.


"Apa yang sedang nenek dan bibi bicarakan?" tanya Joanna penasaran.


"Tidak ada, hanya masalah rumah tangga," kilah Bibi Lim.


Tentu saja Bibi Lim berbohong. Mana mungkin Bibi Lim mengatakan bahwa Nenek Anne ingin mempertemukan Joanna dengan Louise, cucunya.


"Joanna, kemarilah!" perintah Nenek Anne.


"Selamat ulangtahun, Nek!" ujar Joanna sambil menyerahkan seikat bunga, kemudian mencium pipi Nenek Anne.


"Terimakasih, sungguh bunga yang cantik, nenek menyukainya," jawab Nenek Anne.


Dia pun menyuruh seorang maid untuk meletakan bunga pemberian Joanna di salah satu meja yang ada di kamarnya.


"Ayo, temani nenek jalan-jalan sebentar!"


"Baiklah."


Joanna menggandeng tangan Nenek Anne ketika mereka melihat senja di ufuk barat, menyusuri jalanan di halaman yang sangat luas. Menikmati indahnya pemandangan sore hari ditemani bunga-bunga yang cantik. Bibi Lim dan beberapa maid turut setia mengikuti mereka dari belakang.


Senyum ceria Nenek Anne terus terukir di wajah keriput miliknya. Sesekali tertawa keras ketika mendengar cerita tentang Oskar. Entah kenapa, orang tua ini selalu bahagia ketika Joanna datang mengunjunginya. Satu jam telah berlalu, tapi bagi Nenek Anne waktu itu berlalu sangat cepat.


Joanna melirik jam ditangannya. Ini sudah waktunya untuk kembali.


"Nek, sepertinya aku harus segera pulang," pamit Joanna pada akhirnya.


"Tinggallah sebentar lagi, anak-anak dan cucuku akan segera datang," cegah Nenek Anne.


"Tapi-"


"Joanna, sekali ini saja," tahan Nenek Anne lagi.


"Oh, baiklah!"


Joanna tidak tega melihat wajah renta itu memohon. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk pulang.


Iya, Joanna hanya mengurungkan niatnya. Memberikan waktunya lebih lama kepada Nenek Anne. Tidak tanggung-tanggung, Joanna memberikan waktu tambahan selama satu jam. Kini Joanna benar-benar harus pergi.


"Nek, aku benar-benar harus pulang sekarang," pamit Joanna.


"Joanna, sebentar lagi. Tunggulah sebentar lagi," pinta Nenek Anne lagi.


"Nek, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan," kata Joanna menjelaskan.


"Joanna."


Nenek Anne terasa berat melepaskan Joanna tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena disaat yang sama Bibi Diaz menghubungi Joanna dan memintanya untuk segera pulang.


"Maafkan aku, Nek! Lain kali, Joanna pasti akan tinggal lebih lama," sesal Joanna.


"Baiklah, lain kali kau harus menghabiskan waktu lebih lama disini. Tidak, lain kali kau harus bermalam dengan Oskar disini," pinta Nenek Anne.


"Itu, aku akan bertanya dulu pada Oskar," jawab Joanna.


Sedikit sulit memang, tapi akhirnya Joanna berhasil membujuk Nenek Anne untuk memperbolehkannya pulang. Bagi Nenek Anne, dia sungguh menyesal karena gagal mempertemukan Joanna dengan cucunya hari ini.