CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Will, Titip Anakku



Hari-hari berlalu. Joanna benar-benar dinyatakan positif hamil dengan usia kandungan enam minggu saat Louise membawanya ke dokter. Meskipun begitu, William nyatanya masih belum percaya bahwa istrinya sedang berbadan dua.


Siapa yang bodoh, tentu saja William. Joanna sudah pernah mengatakan padanya bahwa dia hamil. Tapi William menganggapnya sebagai candaan belaka.


"Joanna, cukup! Jangan mengerjaiku lagi. Orang hamil itu mual-mual. Kalau kau hamil, kenapa kau sangat sehat. Apa kau pikir aku percaya?" katanya waktu itu. Lalu tidak mengatakan apapun lagi selain menutup matanya dan tidur.


Memang tidak ada yang aneh dengan Joanna. Dia sangat sehat, tidak mual ataupun muntah-muntah. Dia juga tidak ngidam yang berlarut-larut. Seharusnya, yang aneh hanyalah kejadian mangga muda waktu itu. Dan itu sepertinya adalah ngidamnya untuk yang pertama dan yang terakhir.


Lalu, jika ada yang berubah, itu hanyalah perubahan pada bentuk tubuhnya yang menjadi lebih berisi. Tapi William tidak sampai berpikiran macam-macam. Dia berpikir Joanna menjadi gedutan karena dia memang tidak melakukan apapun di rumah mereka.


Hanya saja yang membuatnya frustasi adalah sikap Joanna yang selalu ingin menempel padanya. Entah itu pagi, siang ataupun sepanjang malam dan kejadian seperti itu terus berulang-ulang.


Semakin pusing lagi ketika dia menceritakan semuanya pada Louise atas perilaku aneh itu. Dia berharap Louise membantunya. Alih-alih mendapatkan jalan keluar dan mengingatkan Joanna untuk menjauh, Louise malah meminta William untuk memenuhi apapun yang Joanna inginkan.


William hanya tidak tahu, Louise sendiri sebenarnya pusing karena tidak bisa berbuat apa-apa bahkan disaat melihat Joanna menempel kepada William tepat di depan matanya.


Mau bagaimana lagi, itu memang bukan Joanna yang menginginkannya, tapi anak di perut itu. Louise bukannya tidak cemburu. Tentu saja dia sangat cemburu. Dialah ayahnya, dia yang bekerja keras membuatnya, dia yang lembur sepanjang malam untuk menyimpan benihnya. Tapi saat benih itu mulai tumbuh di perut ibunya, bukan ayahnya lagi yang dia inginkan, tapi William.


Louise hanya bisa berharap agar benih nakal itu segera mengubah kebiasaan menyimpangnya sejak dini dan lebih memprioritaskan dirinya daripada William yang seharusnya jadi pamannya.


Seperti malam ini misalnya, malam sudah sangat larut. William baru saja pulang, tapi dia mendapati lampu-lampu masih menyala. Pelayan wanita dan beberapa pengawal juga masih sibuk bercengkerama untuk mengusir kantuk.


"Kenapa kalian belum beristirahat, bukankah besok harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan diri menghadiri perayaan ulang tahun Tetua?" tanya William setelah masuk kerumah.


"I-itu, karena,-" seorang pelayan tidak meneruskan kalimatnya karena Joanna sudah keluar dari kamar untuk menyambut William.


"Will, kau pulang?" sambutnya.


Joanna berlari menghampiri William, menggandeng tangannya dan bergelayut manja disana. Akhirnya William tahu, alasan apa yang membuat para pelayannya enggan beristirahat meskipun sudah malam. Sudah pasti karena mereka menunggui Joanna yang masih belum tidur juga.


"Kalian pergi dan beristirahatlah!" perintah William.


William menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membawa Joanna masuk ke kamar dan menyuruhnya duduk di ranjang.


"Kenapa belum tidur?" tanya William lembut.


"Aku tidak bisa tidur," jawab Joanna.


"Joanna, ada apa denganmu. Apa kau merindukan Louise, hm?" tanya William lagi.


Joanna hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak merindukan Louise, dia hanya ingin menunggu William.


"Lalu kenapa kau begini?" tanya William.


"Aku hanya tidak bisa tidur," jawab Joanna pelan. Tangannya menggapai tangan William yang hangat.


"Ingin tidur denganku lagi?" tanya William.


"Eum," Joanna mengangguk.


Lagi-lagi William menarik nafasnya dalam-dalam, "Oke, tapi biarkan aku mandi dulu," ujar William kemudian.


Rasanya sudah seminggu Joanna seperti ini. Seminggu pula mereka tidur bersama dengan arti yang sesungguhnya. Tanpa ada jarak atau pembatas yang mereka sepakati sebelumnya. Apakah ini benar, kenapa Louise tidak marah. Apa dia tidak takut William khilaf?


Entahlah, William enggan berpikir lagi. Dia pun bergegas ke kamar mandi, menyelesaikan ritual mandinya secepat mungkin lalu segera kembali ke kamar. Disana, dia sudah melihat Joanna sudah mengganti pakaiannya dengan piyama dan duduk di depan cermin untuk menyisir rambutnya yang panjang.


William terdiam di depan pintu, mahkota yang sangat indah itu tiba-tiba William ingin menyisirnya untuk Joanna.


"Biarkan aku membantumu."


William mengambil sisir yang dipegang Joanna. Mulai menyisir rambut lebat, hitam dan panjang itu dengan pelan. Rambut yang sangat halus, harum dan terawat memang sangat cocok disebut sebagai mahkota dari seorang wanita secantik Joanna.


"Sampai kapan kau menciumnya, aku sudah ingin tidur," protes Joanna saat melihat William terus menghirup aroma wangi di rambutnya.


"Maaf!" kata William sembari meletakkan sisirnya di meja.


William menarik tangan Joanna, membawanya ke ranjang dan menyelimutinya. JBaru saja William meletakkan pantatnya, Joanna sudah kembali memeluknya. "Will, kau sangat nyaman."


"Will, jangan mengatakan apa-apa lagi, aku sudah akan tidur," potong Joanna.


Joanna menutup matanya rapat-rapat sementara tangan kirinya memeluk perut William yang masih duduk di tepian ranjang. William hanya bisa pasrah, mempersilahkan Joanna melakukan apa saja seperti yang diinginkannya. Hanya berselang beberapa menit saja, Joanna sudah tidak lagi menyahut panggilan William yang berulang kali memanggilnya. Dengan waktu secepat itu, Joanna benar-benar sudah tertidur pulas dengan memeluk William.


"Apa aku senyaman itu untukmu, Jo?" tanya William meski tahu Joanna tidak akan menjawab.


William kembali membelai rambut Joanna dan mencium rambut itu, "Sebenarnya, kau pun juga sangat nyaman."


William menarik selimutnya, membaringkan diri menghadap Joanna dan memeluk tubuh yang sudah terbuai di alam mimpi, semakin dalam semakin hangat dan tetap begitu hingga pagi.


.


.


.


Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, hari ini adalah hari dimana seorang tetua merayakan ulang tahunnya. Seluruh anggota keluarga nampak hadir untuk merayakan.


William nampak sibuk membawa Joanna berkeliling untuk menyapa sebelum akhirnya mengucapkan selamat kepada tetua yang sedang berulang tahun.


Berbeda dengan sikap mereka yang dulu, kini sekumpulan tetua itu bersikap manis kepada Joanna. Mereka terlihat sangat ramah dan perhatian.


Iya, dimata William mereka terlihat begitu. Padahal mereka sebenarnya sedang memperhatikan perubahan yang terjadi pada Joanna dan saling melempar senyum tanpa mengatakan apapun.


Puas berbasa-basi, Joanna dan William segera mencari tempat duduk mereka karena jamuan makan akan segera di mulai.


Joanna duduk tepat di samping William. Awalnya dia baik-baik saja. Tapi saat hidangan itu mulai berdatangan Joanna merasa kepalanya berputar-putar, terlebih saat hidangan demi hidangan terus berdatangan hingga memenuhi meja.


Rasa mual itu menyeruak, Joanna menahan untuk tidak muntah. Tapi aroma dari beraneka ragam makanan yang bercampur itu semakin membuatnya mual. Harusnya ini adalah kali pertama anak yang ada di perutnya itu tidak menyukai aroma makanan.


Joanna tidak bisa menahannya lagi, di hadapan semua orang yang berkumpul akhirnya dia muntah juga meskipun tidak ada yang dimuntahkan, "Hoek."


"Jo, kau sakit?" tanya William begitu melihat wajah Joanna yang sedikit pucat.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aroma makanan ini membuatku mual," jawab Joanna.


"Panggil dokter kemari," perintah seorang tetua.


Saat itu juga, Joanna dibawa beristirahat di kamar milik tetua dan seorang dokter dipanggil untuk memeriksanya. Sementara diluar, William heran ketika orang-orang sudah berkumpul.


Mereka terlihat senang karena yakin akan ada berita bahagia sebentar lagi. Terlebih setelah gosip malam panas itu tersebar luas. Iya, semua orang tahu gosip itu kecuali William. Dan parahnya karena mereka mengira William lah pelaku yang menyebabkan Joanna berteriak sepanjang malam.


"Kapan terakhir kali kau datang bulan?" tanya Dokter.


"Aku tidak ingat," jawab Joanna.


Dokter mulai memeriksa Joanna dengan teliti dan hati-hati. Setelah beberapa menit, dokter keluar. Orang pertama yang dia temui adalah William, "Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi ayah."


"A-ayah?" ulang William.


"Benar, istri Anda sudah hamil memasuki usia 7 minggu," jawab dokter.


Orang-orang bersorak kegirangan tapi tidak dengan William. Otaknya masih memproses ucapan selamat yang disampaikan oleh dokter.


"Aku jadi ayah? Apa Joanna benar-benar hamil. Ayahnya bukan dia kan?"


William langsung memutih. Mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan pada Joanna. Baiklah, William memang pernah hampir khilaf melakukannya tapi seingatnya dia tidak melanjutkan aktifitasnya waktu itu. Lalu, akhir-akhir ini dia memang sering tidur saling berpelukan tapi hal semacam itu seharusnya tidak bisa membuat seorang wanita hamil. Apa iya spermanya bisa jalan sendiri?


Di tengah kekalutannya, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Louise diterima.


"Will, maaf merepotkanmu. Tapi sepertinya anakku lebih menyukaimu daripada ayahnya sendiri."


...***...