CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Hidung Mancung Cucuku



"Kapan kau membuatnya. Dimana, sejak kapan, kenapa aku tidak tahu. Apa kau tahu, ini yang dinamakan selingkuh di belakang suamimu?"


Hanya dengan satu tarikan nafas, William mencecar Joanna dengan banyak pertanyaan dengan tempo berulang-ulang. Tapi meskipun begitu, dia tetap tidak mendapatkan jawaban karena Joanna memilih diam.


Barulah setelah pertanyaan yang ke sekian kalinya Joanna baru mau menjawabnya.


"Will, kita kan sama-sama selingkuh. Kau bahkan lebih parah dariku karena selingkuh di malam pertama pernikahan kita."


Setelah lama menunggu, akhirnya kalimat itu keluar juga. Tapi tidak memuaskan William sama sekali. Kapan dia selingkuh, tanda merah miliknya di malam pernikahan itu kan bukan ulah Marissa tapi ulah Joanna.


"Kau ini!" dengus William kesal.


"Will, jangan marah-marah terus. Istrimu ini sedang hamil. Anakku bisa kaget," kata Joanna memperingatkan.


"Jo, please! Kau memang hamil tapi itu bukan anakku. Kalau ada orang yang tidak boleh marah-marah, Louise orangnya, bukan aku!" jawab William gemas.


Joanna hanya tertawa, sedangkan William hanya gedek saja.


"Will, kalau anak ini lahir kita bisa bercerai dan kau bisa segera menikahi Marissa. Bukankah harusnya kau senang?" tanya Joanna.


"Jo, aku memang senang awalnya. Tapi bagaimana jika,-"


Ah. William tidak bisa kata-kata lagi. Lalu berbaring di ranjang sambil memeluk guling di sebelah Joanna. William memang sempat berbahagia. Senyumnya bahkan lebih lebar dari senyum Joanna. Tapi langsung pudar seketika saat mengingat bagaimana jika anak itu lahir tapi dengan wajah fotokopian milik Louise?


Tidak bisa, William tidak boleh pusing sendirian. Dia harus membaginya dengan mertuanya dan Louise yang saat ini sedang duduk berdua di ruang baca.


William bangkit, ingin menemui satu tamu yang segera berkunjung setelah tahu putrinya hamil dan satu tamu lainnya yang hadirnya seperti jelangkung. Tapi suara Joanna mengentikannya.


"Kau mau kemana?" tanya Joanna.


"Menemui ayahmu dan ayah dari anakmu," jawab William singkat.


"William, aku ingin tidur!" tahan Joanna.


"Kalau begitu sekalian saja. Aku akan menemui mereka dan meminta Louise kemari untuk menemanimu," kata William. William segera memakai sendalnya. Siap berbagi kepusingan kepada dua orang itu tapi kali ini tangan Joanna yang menahannya.


"Aku tidak mau Louise. Aku mau kau yang menemaniku, Will!" tolak Joanna.


"Tapi bapaknya kan dia, Jo. Bukan aku!"


William kelewat gemas sekarang. Wanita ini memang tidak aneh-aneh soal makanan. Dia juga tidak loyo sama sekali. Tapi kenapa selalu dirinya yang harus selalu berada disisinya untuk menidurkannya. Sebenarnya mana yang benar dan mana yang salah dalam hubungan yang rumit ini?


"William, Louise memang ayahnya. Tapi kalau kalian berdua berada di tempat yang sama anakku lebih memilihmu. William, temani aku sebentar saja. Aku janji akan cepat tidur dan kau bisa pergi setelah itu," kata Joanna.


Melihat wajah menyedihkan itu nyatanya membuat emosi William mereda. Lagipula dia yang salah, dia yang mengajak Joanna menikah. Karena dirinya juga Joanna harus menunda pernikahan impiannya bersama Louise. Jadi mana mungkin William mengabaikan permintaan Joanna yang sebenarnya menguntungkan dirinya?


William akhirnya kembali melepaskan sendalnya dan segera naik ke ranjang, "Ayo, sini!" tangan itu menyambut Joanna.


Joanna tersenyum lebar. Lalu menyambut uluran tangan William dan memejamkan mata dipelukannya, "Will, anakku ingin mendengar dongeng sebelum tidur."


"Jo, jangan ngaco. Anak itu belum lahir," jawab William.


"Tapi dia benar-benar menginginkannya," kukuh Joanna.


"Darimana kau tahu?" tanya William.


"Aku kan ibunya, Will. Kami ini terikat, aku tahu apa yang dia mau," jawab Joanna.


"Kenapa bukan Louise saja yang membacakan dongeng sih?" protes William.


"Sudah kubilang jika ada kalian berdua anakku lebih memilihmu."


"Baiklah, baiklah. Aku akan mulai mendongeng sekarang!"


Joanna akhirnya diam dan menutup matanya lagi. Sementara William, dia mulai membuka ponselnya untuk mencari kumpulan dongeng sebelum tidur sebagai pengantar tidur Joanna.


William masih mencari, lalu mulai membaca tanpa ekspresi. Tapi meskipun begitu, itu sudah cukup untuk membuat Joanna tertidur pulas bahkan sebelum dia membaca sampai habis satu buah cerita.


"Apa yang Joanna katakan barusan benar. Jika ada aku dan Louise di tempat yang sama maka anak ini lebih memilihku? Kalau begitu, aku akan sering-sering meninggalkan mereka biar Louise itu tahu bagaimana rasanya menghadapi istrinya yang merepotkan seperti ini," batin William.


Setelah memastikan Joanna tidur, William segera turun untuk mencari Sir Alex dan Louise. Entah apa yang mereka lakukan sejak tadi. Pamitnya sih ngopi. Tapi sebanyak apa kopi yang mereka habiskan sampai menghabiskan waktu selama dua jam?


Mereka tidak mungkin ketiduran disana atau tiba-tiba pergi kan?


"Oh, mereka masih disini," batin William ketika melihat Sir Alex dan Louise masih duduk di tempat yang sama.


William tidak langsung menghampiri mereka yang kelihatannya sedang asyik mengobrol. Langkahnya membawanya ke meja dan mengambil menuang segelas air putih untuk menghilangkan dahaganya setelah membaca dongeng.


"Ayah, lihatlah! Bagaimana menurutmu, bukankah cucumu sangat lucu?" tanya Louise pada Sir Alex.


Pertanyaan Louise untuk Sir Alex itu William bisa mendengarnya. Dan pikirannya langsung melayang kepada Oskar. William tersenyum geli, terlebih saat mengingat anak itu memanggilnya papi, "Louise memang benar. Anak itu memang semakin lucu dari hari ke hari," batin William.


"Benar, dia sangat lucu. Lihatlah, hidungnya sangat mancung, matanya sangat bulat dan wajahnya sangat mirip denganmu," jawab Sir Alex kemudian terkekeh.


"Tentu saja dia mirip denganku. Aku kan ayahnya," kata Louise bangga.


Dua pria itu tertawa bersama. Bahkan tanpa takut sedikitpun kalau-kalau ada mata-mata yang mengawasi mereka.


"Louise, tapi cucuku ini kira-kira berjenis kelamin laki-laki atau perempuan?" tanya Sir Alex kemudian.


"Uhuk!" William yang sedang minum langsung terbatuk-batuk. Air yang dia minum pun langsung menyembur keluar.


Apa maksudnya. Bukankah jelas-jelas Oskar seorang bocah laki-laki. Tunggu, Oskar bukan anak Louise. Dia juga tidak mirip Louise. Lalu cucu mana yang mereka bicarakan?


William mendekat. Mengintip dua pria idiot yang duduk di sofa dengan posisi membelakanginya. Apa yang mereka lakukan, siapa yang mereka bicarakan.


"Astaga!" pekik William.


Louise dan Sir Alex langsung menoleh begitu mendengar suara William. Sementara William hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Sungguh, dia bisa gila atau cepat mati jika terus-terusan hidup terhimpit diantara mertua yang aneh dan kakak yang mulai idiot seperti ini.


"Kau kenapa?" tanya Louise.


"Siapa yang kau bilang lucu barusan?" tanya William.


"Tentu saja anakku, siapa lagi memangnya?" jawab Louise.


"Siapa yang ayah katakan mancung dan bermata besar serta sangat mirip dengan Louise barusan?" tanya William lagi.


"Tentu saja cucuku," jawab Sir Alex santai.


"Darimana kalian tahu?" tanya William. Kemudian merebut hasil USG milik Joanna yang masih berupa bulatan kecil. William memutar-mutar gambar itu dan memperhatikannya dengan seksama. Apanya yang lucu, apanya yang mancung, apanya yang mirip Louise. Ini belum kelihatan sama sekali. Apa hanya matanya yang bermasalah?


"Karena aku ayahnya, makanya aku bisa tahu," jawab Louise. Lalu menyeruput kopi yang sudah kembali dingin karena terlalu lama dianggurkan.


Sementara itu, Sir Alex pun juga memberikan jawaban yang tidak jauh berbeda, "Aku ini kakeknya. Kami punya telepati, William. Bagaimana denganmu. Apakah kau setuju bahwa cucuku sangat lucu?"


"Aku sama sekali tidak tahu," jawab William. Kemudian kembali ke kamarnya dan memeluk istrinya.


"Benar-benar calon keluarga senewen!"


...***...