CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Mati Karena Rindu



Ponsel Louise berbunyi saat dia mulai memejamkan mata. Meskipun sangat lelah dan mengantuk, tapi dia masih menyempatkan diri untuk melihat siapa yang mengirim pesan malam-malam begini.


..."Louise, maaf! Aku kurang sehat akhir-akhir ini."...


Itu adalah sepenggal pesan dari Joanna. Louise tersenyum, kemudian segera tengkurap dan memeluk bantal di depannya. Tangannya sangat lincah mengetik sebuah pesan balasan sebelum akhirnya terhenti karena mengingat sesuatu, bahwa Joanna telah mengabaikannya beberapa hari terakhir.


"Joanna, bukan hanya kau yang bisa mengabaikan orang selama berhari-hari," batin Louise, "aku tidak akan membalasnya. Mari kita lihat apa kau akan menghubungiku lagi?"


Louise merajuk, menghapus kembali pesannya lalu meletakkan ponsel itu di ranjang. Berharap Joanna akan merasakan bagaimana rasanya diabaikan, lalu segera menghubunginya karena dia tak membalas pesannya.


Waktu baru berlalu dua menit, tapi Louise sudah melirik ponselnya yang masih gelap. Sepertinya juga masih anteng-anteng saja dan tidak ada tanda-tanda akan ada panggilan ataupun pesan yang masuk dari wanita pujaannya. Lima menit kemudian, Louise masih setia menunggu dengan mulai menyangga kepala dengan satu tangannya. Sepuluh menit, Louise merasa matanya semakin berat. Kini dia menyangga kepala dengan dua tangannya, sampai akhirnya kepalanya benar-benar terjatuh ke bantal yang ada di depannya setelah setengah jam menunggu.


TING


Akhirnya ponselnya berbunyi, tidak tanggung-tanggung, ponsel itu berdering setelah Louise tertidur selama tiga jam lamanya. Louise mencari-cari ponselnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Hanya membutuhkan waktu satu detik untuk melemparnya kembali ke sudut ranjang karena itu bukan dari Joanna, "Joanna, kau sangat keterlaluan. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku. Apa kau ingin aku mati karena rindu. Aku sangat ingin marah sekarang, tapi aku juga sangat mengantuk. Bisakah aku marah besok saja dan memberikan hukuman untukmu saat aku kembali nanti?" keluh Louise. Lalu kembali meneruskan perjalanannya di alam mimpi di detik berikutnya.


.


.


.


"Apa ini tidak terlalu pagi?" tanya Joanna ketika Louise meneleponnya pagi-pagi buta.


"Kau masih ingat untuk mengangkat teleponku?" tanya Louise balik. Mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan Joanna untuknya. Pria itu sudah mandi, dan menikmati minumannya di kamarnya.


"Maaf!" jawab Joanna lirih dengan suara yang sedikit aneh.


"Ada apa denganmu, apa masih sakit?" tanya Louise.


"Aku tidak apa-apa," jawab Joanna.


"Haruskah aku mengirim dokter untukmu?" tawar Louise.


"Tidak perlu," jawab Joanna. Joanna tersenyum, karena tahu bukan dokter yang bisa menyembuhkannya.


"Hei, kenapa mematikan ponselmu selama itu. Tidak memberikan membalas pesanku, tidak menghubungiku. Apa kau tahu aku hampir gila karena merindukanmu?" protes Louise.


"Louise, jangan bercanda!" jawab Joanna.


"Joanna, untukmu aku tidak pernah bercanda. Aku serius," jujur Louise, "sepertinya kau masih tidak percaya. Joanna, katakan padaku, apa yang harus ku lakukan agar kau percaya bahwa aku mencintaimu?" tanya Louise. Masih duduk di tempatnya dengan memainkan kaki-kakinya.


Joanna hanya diam, jawaban Louise barusan membuatnya yang awalnya sudah tenang kembali gemetaran.


"Joanna?" tanya Louise


"Eum," jawab Joanna.


"Ada apa denganmu?" tanya Louise.


"Aku tidak apa-apa, kok!" jawab Joanna.


"Joanna, apa ada sesuatu yang membebanimu. Apa ada hal yang membuatmu takut?" tanya Louise.


"Tentu saja ada," jawab Joanna.


"Katakan padaku, apa yang membuatmu takut. Apa karena yang terjadi hari itu? Joanna, dengarkan aku. Aku akan bertanggungjawab, jadi jangan cemas. Aku juga tidak akan lari. Jadi jangan berpikiran macam-macam dan jangan takut, apa kau mengerti?" tanya Louise.


"Aku mengerti, tapi bukan itu masalahnya," jawab Joanna.


"Lalu apa?" tanya Louise penasaran.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," kata Joanna pada akhirnya.


"Katakanlah!" pinta Louise.


"Tunggu setelah kau kembali, aku akan mengatakannya saat itu. Aku ingin mengatakannya secara langsung," jawab Joanna memberanikan diri.


Joanna sudah memutuskan, untuk segera mengakhiri beban pikirannya. Memberitahu Louise secepat mungkin tentang statusnya, bahwa dia bukanlah seorang wanita lajang. Tapi seorang ibu dari anak kecil berumur lima tahun. Lalu setelah itu, apapun yang terjadi biar Louise yang menentukannya.


"Saat aku kembali?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna.


"Tapi-,"


"Louise, tidak ada tapi-tapian," ucap Joanna memotong pembicaraan.


"Aku ingin segera tahu apa yang ingin kau katakan. Haruskah aku kembali hari ini juga?" tanya Louise.


"Jangan!" larang Joanna.


"Kenapa, apa kau tidak ingin bertemu denganku. Joanna, apa sedikitpun kau tidak merindukanku?" tanya Louise.


"Apa aku boleh merindukanmu, Louise?" tanya Joanna dengan bibir bergetar.


Louise tersenyum, "apa yang kau katakan, tentu saja boleh dan aku akan sangat senang jika kau merindukanku. Tapi, kau sangat aneh belakangan ini. Joanna, aku berharap kau akan melaskan apa yang membuatmu seperti ini saat aku kembali nanti, apa kau mengerti?" tanya Louise.


"Aku mengerti."


"Baiklah, cukup untuk kali ini. Aku harus bersiap," pamit Louise.


"Eum," kata Joanna.


"Joanna, tunggu!" panggil Louise.


"Apa?" tanya Joanna.


"Aku mencintaimu, kau mendengarnya kan?" tanya Louise.


"Aku mendengarnya," jawab Joanna.


.


.


.


Dalam pengembaraannya kali ini, mereka sukses besar. Perjalanan bisnis pun akhirnya usai sudah dan resmi ditutup. Mereka semua kembali dengan kepala tegak dan penuh percaya diri. Setelah satu minggu berkeliling dari satu kota ke kota lain, kini tibalah saatnya untuk kembali.


Benar, kembali ke tempat mereka untuk merealisasikan mimpi-mimpi dan rencana mereka selanjutnya. Arthur yang hari-hari lajangnya sudah akan berakhir karena hari pernikahannya dengan Alexa sudah di depan mata. William yang sudah beberapa langkah lebih dekat dengan Marissa, dan Louise yang berencana membuat Joanna memberikan seluruh hatinya sehingga dia bisa segera menikah dan membuat Joanna melahirkan anaknya.


Mereka telah sampai di perusahaan, mendapatkan sambutan yang meriah dari seluruh staff yang tidak berkesempatan pergi. Diantara mereka semua, sudah pasti Rose Matthew dan Jordan Matthew lah yang paling berbahagia. Mereka sangat bangga sebagai orang tua, tidak hanya karena pencapaian anaknya yang selalu luar biasa tapi juga bangga akan dukungan William dan Arthur yang senantiasa setia disisi Louise.


Di penghujung malam hari itu mereka tertidur lelap, menunda mereka mengejar mimpi-mimpinya untuk sesaat. Tapi, saat matahari memancarkan sinarnya lagi esok hari, mereka pasti akan kembali berlari untuk wujudkan mimpi-mimpi yang sempat tertunda itu menjadi nyata.


.


.


.


Pagi menyambut, William menikmati hari liburnya seorang diri di apartemennya. Dari pagi hingga sore, William hanya menghabiskan waktunya dengan rebahan, tidur dan makan. Lalu menemui Marissa untuk menepati janji di malam harinya.


Setelah malam dimana William menolong Marissa tempo hari, sejak saat itulah mereka semakin dekat. Selama satu minggu perjalanan mereka, beberapa kali mereka terlihat menghabiskan waktu bersama. Entah itu sekedar makan bersama atau bertukar pikiran seputar pekerjaan.


Memang lebih dekat, tapi hanya sekedar dekat. Karena pada kenyataannya William masih belum tahu bahwa Marissa adalah orangtua tunggal Ebra, anak kecil kesayangannya. Dan akhirnya, dua orang terpenting di Matthews Group itu sama-sama idiotnya karena hanya terobsesi mengejar cintanya tapi lupa bertanya bagaimana status wanita yang mencuri hatinya.


"Marissa?" panggil William ketika melihat Marissa sedang menunggunya.


"William?" jawab Marissa ketika mendengar William datang.


"Apa kau sudah lama?" tanya William basa basi.


"Aku baru saja datang beberapa menit yang lalu," jawab Marissa lagi.


"Bukankah aku sudah bilang biarkan aku menjemputmu. Kenapa kau menolak?" tanya William.


"Aku tidak mau merepotkanmu, William!" jawab Marissa.


"Baiklah, kalau begitu ayo masuk!" ajak William.


William dan Marissa berjalan beriringan menuju bioskop untuk melihat film yang sedang populer saat ini. Setelah membeli tiket dan antre, mereka berdua pun segera masuk ke ruangan yang akan menjadi saksi tumbuh kembangnya perasaan mereka dengan membawa minuman dan sedikit cemilan.


Mereka terlihat sangat menikmati film romansa pilihan mereka. Terkadang mereka tertawa dan saling curi pandang disela-sela pemutaran film. Marissa secara refleks juga memegangi tangan William saat tiba-tiba ada adegan yang membuat Marissa terkejut. Hal ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh William untuk merangkul Marissa, dasar buaya.


Seandainya Rose Matthew melihat ini, dia pasti akan berhenti memuji William sebagai anak polos yang tidak memberikannya banyak masalah. Karena faktanya, William dan Louise tidak jauh berbeda. Jika Louise adalah drakula, maka William adalah buaya.


Semuanya berjalan normal, hanya menonton, kemudian tertawa dan sesekali bercerita untuk mengatakan pendapatnya. Sampai tiba pada sebuah adegan romantis. Marissa sedikit canggung, dan mencoba melepaskan tangan William yang masih memeluknya. Tapi William menolak, malah lebih bersemangat untuk memeluk Marissa di tengah gelapnya bioskop malam itu.


Saat William merangkul Marissa itulah, pandangan mereka bertabrakan. Tempat duduk sekitar mereka seolah memberi restu, karena tidak ada siapapun di sekitar mereka baik itu depan, belakang dan samping kiri kanan. Dengan pelan, William pun memulainya. Mendekatkan dirinya dan mencium bibir Marissa mengikuti kata hatinya.


Marissa tak menolak, karena dia pun telah jatuh cinta pada William. Saat ini, Marissa melupakan hal yang penting bahwa dia juga belum menceritakan bahwa dia telah memiliki seorang Ebra.


Entahlah Marissa tak ingin memikirkannya sekarang, dia menjadi buta untuk sementara karena cintanya untuk William. Untuk saat ini, biarlah dia menikmati ciumannya bersama William, pria pertama yang dicintainya setelah kematian suaminya.


"Marissa, aku mencintaimu!" ujar William disela-sela ciumannya sebelum akhirnya kembali mencium Marissa lebih dalam.


.


.


.


"Al, kau kenapa?" tanya tanya Arthur ketika menyadari Alexa lebih banyak diam dan meringkuk di sofa.


Malam ini, Alexa sedang menghabiskan waktunya bersama Arthur dirumahnya.


"Arthur, apa Joanna akan mati?" tanya Alexa tanya memperhalus kalimatnya. Kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Arthur.


"Hush, apa sih yang kau katakan. Kenapa dia harus mati?" tanya Arthur, sambil memperbaiki posisinya agar Alexa nyaman.


"Arthur, kemarin dia bertanya padaku apakah aku sangat menyukai Xiao O. Pertanyaan bodoh macam apa itu, kalo aku tidak menyukainya kenapa juga aku sering membawanya pergi bersama kita. Bahkan empat dari sepuluh pampers yang dipakainya aku yang menggantinya saat dia masih bayi," curhat Alexa mulai sebal.


"Lalu apa hubungannya dengan mati?" tanya Arthur.


"Dia bilang, seandainya terjadi apa-apa dengannya, bisakah kita merawat Oskar. Lalu, saat aku bertanya apa dia berencana mati, dia menjawab mungkin saja," jelas Alexa, "ada apa dengannya kira-kira?" lanjut Alexa.


"Kalau penasaran, kenapa tidak bertanya padanya?" tanya Arthur.


"Percuma saja, dia hanya menunjukkan kedelapan giginya saat aku bertanya," jawab Alexa.


"Haruskah aku yang bertanya?" tanya Arthur lagi.


"Cepatlah, aku sangat penasaran!" kata Alexa, kemudian langsung bangkit dan duduk bersandar di pundak Arthur.


Arthur segera mengambil ponselnya, lalu dengan cepat memanggil Joanna. Sayangnya, Joanna menolak panggilannya. Lalu tidak bisa dihubungi saat Arthur memanggilnya untuk kali kedua.


"Ada apa dengannya?" tanya Arthur dengan menaikkan satu alisnya.


"Kenapa?" tanya Alexa.


"Dia menolak panggilanku. Lalu mematikan ponselnya," jawab Arthur.


"Haruskah kita kerumahnya?" tanya Alexa.


"Tidak perlu, aku akan menghubungi Bi Diaz saja," jawab Arthur, lalu memeluk Alexa dengan satu tangannya.


"Bi, apa Joanna dirumah?" tanya Arthur ketika Diaz mengangkat teleponnya.


"Joanna sedang keluar. Dia baru pergi beberapa menit yang lalu, ada apa?" jawab Diaz.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja dia tidak mengangkat teleponku. Bi, apa Xiao O juga ikut?" tanya Arthur lagi.


"Tidak, anak itu sedang bermain dengan Ebra bersamaku sekarang," jawab Diaz.


"Oh, baiklah!"


"Jangan khawatir, dia bilang akan segera pulang!" jawab Diaz menenangkan Arthur.


"Eum, baiklah!"


...***...