
Secepat kilat, William segera menekan kepala Louise agar tidak menimbulkan kecurigaan dan membongkar semuanya. Tidak, hanya sebentar lagi sandiwara mereka akan segera berakhir. William tidak akan membiarkan rencana mereka gagal hanya karena mereka melihat tonjolan kepala Louise dari balik selimut.
"Ough!" Joanna mendesis.
Pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Kesempatan itu segera diambil Oskar untuk menggeser sendal milik daddynya ke bawah ranjang dengan memasang wajah polos seolah tak terjadi apa-apa.
"Jose, kau kenapa?" tanya Sir Alex panik.
Tidak hanya Sir Alex yang panik. William pun sangat panik. Begitu juga dengan beberapa tamu yang sangat tidak diharapkan kedatangannya itu. Mereka semua mendekat untuk memastikan Joanna baik-baik saja.
"Kenapa mereka semakin mendekat?" batin William cemas.
"A-ayah, a-aku tidak apa-apa. bayiku hanya menendang perutku dengan keras," jawab Joanna terbata-bata.
Bukan, sebenarnya bukan karena itu. Tapi karena bagian bawah perutnya terkena gencetan kepala Louise akibat tekanan yang diberikan William.
Di dalam sana, Louise panik. Dia segera mengelus-elus perut Joanna yang baru saja tertekan kepalanya dan berharap bayi mereka bisa berkompromi disaat genting seperti ini, "Sayang, maafkan daddy. Daddy tidak sengaja melakukannya. Bukan maksud daddy main sundul-sundulan denganmu. Tenanglah, jangan bergerak dan menendang-nendang terlalu keras, itu bisa membuat mommy sakit. Kalau kau ingin main sepakbola dengan daddy, nanti saja saat kau sudah keluar dan tumbuh lebih besar. Jangan sekarang!" batin Louise.
"Segera panggilkan Dokter!" perintah Sir Alex. Sir Alex segera duduk di samping Joanna. Lalu ikut memegang perut putrinya. Tapi sedikit terkejut ketika menyentuh tangan lain yang tak lain milik Louise.
"Ayah, itu tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat sebentar saja," jawab Joanna. Kemudian memberikan kode pada ayahnya bahwa Louise ada di bawah selimut.
"Tetua, ayah, maaf! Bisakah kalian mengobrol diluar saja dan membiarkan Joanna istirahat?" tanya William.
Sir Alex dan tetua itu saling berpandangan kemudian mengangguk bersamaan.
"Jose, beristirahatlah! Ayah akan pulang sekarang. Ayah akan sering-sering kemari kedepannya," pamit Sir Alex. Kemudian mencubit Louise sekeras yang dia bisa.
"Benar-benar calon ayah mertua tidak punya akhlak. Sudah tahu begini masih saja mencubitku," batin Louise geram.
Mendengar Sir Alex berpamitan, Oskar pun bangkit dan segera memeluk ibunya, "Mommy. Xiao O ingin tinggal disini sama mommy," katanya dengan wajah menggemaskan.
"Anak kecil, tapi sepertinya mommy sedang kurang enak badan. Besok saja kemari lagi," bujuk Tetua.
Oskar tidak beranjak dari tempatnya, dia sebenernya hanya ingin berada disini lebih lama, lalu dia akan pulang ikut daddy nanti.
"Tidak mau!" tolak Oskar.
Joanna yang perutnya sudah sedikit lebih baik tersenyum. Kemudian menarik Oskar agar duduk di sebelahnya, "Xiao O ingin bermalam disini bersama mommy?" tanya Joanna.
Oskar hanya mengangguk. Tangannya langsung memeluk ibunya seolah tak ingin pisah. Melihat itu, William yang lebih banyak diam akhirnya angkat bicara, "Tetua, Ayah, bukan masalah jika Oskar ingin tinggal. Aku bisa menjaga mereka berdua. Lagipula ada Okta juga yang membantuku," kata William.
"Tapi,-"
Belum sempat Sir Alex meneruskan kalimatnya, Oskar sudah keburu bersorak kegirangan, "Hore! Terimakasih, Papi!"
Anak itu kelewat bahagia kemudian mencium mommynya. Lagi, perut itu tergencet sekali lagi. Membuat Joanna meringis sekali lagi. Bukan hanya perut Joanna yang terkena dampaknya, kepala daddynya pun juga ikut terkena tendangan kaki milik Oskar.
Di dalam sana, Louise mengeluh sekali lagi. Kepalanya sudah di tekan William, tangannya dicubit calon ayah mertuanya dengan kejam dan sekarang kepalanya masih harus ditendang lagi oleh Oskar. Untung saja Joanna tidak kentut sekalian. Karena kalau iya, dia sudah pasti akan bangkit dan keluar saat itu juga dari tempat persembunyiannya.
"Ah, memiliki satu anak laki-laki saja sudah se-mengerikan ini. Bagaimana kalau dua nanti, pasti akan sangat melelahkan," batin Louise.
"Baiklah kalau begitu kami pergi. Beristirahatlah!" pamit Sir Alex.
Sir Alex dan Tetua itu segera pergi untuk memberikan waktu pada Joanna beristirahat di kamarnya. William turut mengantarkan mereka sampai di depan pintu. Sementara di dalam sana, Louise segera keluar dari bungkusan selimut tebal dan memeriksa perut Joanna. Tidak ada memar akibat sundulan dan gencetan Oskar barusan kan? Bayi yang berharga itu tidak terluka kan?
"Joanna, kita harus segera ke rumah sakit sekarang!" ajak Louise.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku tadi hanya kaget saja," tolak Joanna.
"Kau yakin?" tanya Louise.
"Yakin," jawab Joanna.
Sekali lagi, Louise mengelus-elus perut itu. Menciumnya lagi, lalu meminta Oskar mencium calon adiknya juga dan berencana menghabiskan sisa hari ini bersama-sama.
Beberapa menit berlalu, William yang sebelumnya mengantarkan tamunya pergi segera kembali. Lalu berpesan kepada Okta untuk tidak menerima tamu lagi siapapun orangnya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Kalian tidak apa-apa kan?" tanya William begitu kembali ke kamar. Dia tahu dia salah, tapi dia benar-benar tidak sengaja melakukannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Joanna.
"Bagaimana denganmu?" tanya William pada Louise.
"Lumayan sakit," jawab Louise sembari menunjukkan bekas cubitan yang ditinggalkan Sir Alex.
"William, maaf! Sepertinya aku harus merepotkanmu lagi beberapa hari ini," kata Louise setelah mereka tenang.
"Bukan masalah. Aku sudah terbiasa," jawab William.
"Tapi aku tidak bisa datang tiga hari ini," lanjut Louise.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya William.
"Aku akan pergi besok," jawab Louise.
"Pergi?" tanya William.
Pergi kemana. Urusan apa. Dengan siapa dia pergi. Kenapa dia tidak tahu sejak jauh-jauh hari. Kenapa tidak ada yang memberitahunya. Apa Louise selalu seperti ini. Bertindak sendirian tanpa memberitahunya?
Louise sebenarnya enggan, tapi dia harus berpamitan sekarang. Dia harus menemui juniornya di luar negeri selama tiga hari untuk membahas masalah penting.
"Aku akan menemui juniorku di luar negeri. Hanya tiga hari saja, itu paling lama. Aku akan menyelesaikan urusan disana secepatnya dan segera kembali," jawab Louise.
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kami kan?" tanya William curiga.
"Tidak," jawab Louise.
"Louise, kau tidak melakukan hal yang berbahaya sendirian tanpa sepengetahuan kami kan?" tanya Joanna.
"Apa sih. Aku hanya menemuinya untuk membahas soal bisnis. Jangan berpikir aneh-aneh," jawab Louise.
Louise melihat William sebentar, lalu memberikan isyarat bahwa dia ingin berbicara berdua saja dengan Joanna.
"Oskar, ayo ikut papi sebentar!" ajak William.
"Kemana?" tanya Oskar.
"Jalan-jalan sebentar," jawab William.
Oskar segera turun. Lalu menyambut uluran tangan William dan pergi bersamanya.
"Kau tidak membohongiku kan?" tanya Joanna setelah dua orang itu pergi.
"Apa aku selalu seperti itu di matamu? Joanna, percayalah aku pasti akan segera kembali. Aku sudah berjanji untuk menemanimu melahirkan anak kita. Jadi jangan cemas!" jawab Louise kemudian memeluk Joanna.
"Maafkan aku. Aku hanya khawatir," kata Joanna.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Kau hampir melahirkan, jangan terlalu stres," lirih Louise.
"Aku tahu," kata Joanna pelan.
Joanna akhirnya tersenyum meksipun sedikit dipaksakan. Lalu membalas pelukan Louise dan mencium harum tubuhnya yang selalu dia rindukan.
"Maaf, aku berbohong. Tapi tenanglah, ini bukan sesuatu yang berbahaya," batin Louise.
Louise melepaskan pelukannya. Lalu tak terhitung banyaknya ciuman darinya untuk Joanna, untuk calon anak mereka juga.
"Reagan, kau boleh nakal tapi jangan terlalu nakal. Kau boleh menendang tapi jangan terlalu keras. Biarkan mommy istirahat, jangan terus berputar-putar. Saat kau ingin keluar nanti, cepat keluar saja, jangan membiarkan mommy kesakitan. Beberapa hari ini daddy tidak bisa menemuimu untuk membacakan dongeng. Ada pekerjaan yang harus daddy selesaikan. Daddy janji akan segera kembali. Tunggu daddy ya, kesayangan daddy?" kata Louise kemudian memeluk perut itu.
"Reagan, apa itu nama yang kau berikan untuknya?" tanya Joanna.
"Bukankah namanya sangat keren?" tanya Louise.
"Eum, sangat keren sama sepertimu," jawab Joanna.
"Tentu saja, karena dia anakku. Aku akan memberinya nama Reagan Kashawn Matthew. Joanna, apa kau tidak ingin tahu artinya?" tanya Louise.
"Apa?"
"Raja kecil pembawa kejayaan di keluarga Matthew," jawab Louise.
"Reagan, apa kau dengar itu. Daddy memberimu nama yang sangat indah," kata Joanna.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik sampai aku kembali. Apa kau mengerti?" pamit Louise.
"Aku mengerti."
...***...