CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Memelukmu Sepanjang Malam



"Sepertinya Louise tidak berbohong. Dia memang bisa melakukan dua hal sekaligus, termasuk bekerja dengan menjaga anak," batin Joanna ketika melihat Louise menjaga Oskar yang terlelap di pangkuannya dengan tangan kirinya, dan sibuk dengan laptop miliknya menggunakan tangan yang lainnya.


"Berikan dia padaku!" pinta Joanna.


Louise menoleh, tidak memberikan Oskar tapi segera menutup laptopnya. Lalu mengangkat dan meletakkan Oskar di tengah-tengah ranjang. Sementara Joanna tidak tinggal diam, dia segera menyelimuti tubuh kecil itu sebelum mencium keningnya.


"Kenapa?" tanya Joanna ketika menyadari Louise terus memperhatikannya.


"Bukan apa-apa," jawab Louise kemudian duduk di pinggiran ranjang. Tidak mungkin dia bilang kalau dia iri dengan anak kecil itu karena mendapatkan ciuman kan. Jika Louise mengatakannya yang ada Joanna akan semakin marah dan marah lagi.


"Tidurlah!" kata Joanna sebelum pergi.


"Apa hanya itu?" tanya Louise.


"Memangnya apa lagi?" tanya Joanna sembari duduk di meja rias dan memakai produk perawatan kulitnya.


Louise bangkit, menarik kursi lainnya dan mendekat untuk memeluk Joanna dari belakang, "Joanna, apa kau masih marah?" tanyanya lirih.


Joanna tidak menjawab apapun, hanya tersenyum tipis dan mencoba melepaskan pelukan Louise meskipun gagal.


"Joanna, aku mohon jangan seperti ini. Tidak bisakah kita memiliki hubungan seperti sebelumnya?" pinta Louise.


"Louise, ada begitu banyak gadis diluar sana," kata Joanna.


"Mereka memang banyak. Tapi hanya kau yang kuinginkan, jadi bisakah tidak menolakku lagi?" pinta Louise.


"Louise, aku punya Oskar," kata Joanna.


"Lalu Oskarmu itu juga akan jadi Oskarku. Bukankah kau juga tahu, aku sangat menyukai anak itu. Katakan, apalagi yang membuatmu ragu. Mari kita menyelesaikan semuanya malam ini juga," kata Louise. Semakin membenamkan wajahnya di tengkuk Joanna yang sepertinya sedang bisa diajak berbicara.


"Aku,-"


"Joanna, harus berapa kali aku mengatakannya. Apa kau benar-benar tidak ingin aku bertanggungjawab atas apa yang telah kulakukan hari itu?" tanya Louise. Tidak hanya membenamkan wajahnya, kini dia juga memberikan hujan ciuman dibelakang sana.


"Aku akan memikirkannya," jawab Joanna.


"Bisakah jangan marah lagi, bisakah memaafkanku?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna dengan menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih!" kata Louise lalu membalik Joanna dan memeluknya sebelum akhirnya membawanya ke ranjang bersiap untuk tidur.


"Berapa usianya sekarang?" tanya Louise, tangannya yang panjang menggapai Oskar dan membelai rambutnya yang lebat.


"Bukankah kau sudah tahu?" jawab Joanna.


"Aku ingin tahu dari mulutmu," kata Louise.


"Lima tahun," jawab Joanna.


"Lima tahun, bukankah sudah waktunya untuk memberinya seorang adik. Bagaimana menurutmu, Joanna?" tanya Louise.


"Louise!"


"Aku hanya bertanya," kata Louise sebelum Joanna kembali marah.


"Lalu kenapa kau tidak pergi ke sisi yang lain?" tanya Joanna ketika menyadari Louise masih berbaring di belakangnya.


"Aku ingin tidur dengan memelukmu seperti ini sepanjang malam," jawab Louise.


"Louise, jangan sembarangan menyentuh!"


.


.


.


Keesokan harinya.


Sir Alex tidak menyangka Louise akan mengundangnya ke pulau pribadinya yang indah sekarang ini. Dia mengira Louise sudah melupakannya sejak pertemuan pertama mereka yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Kini mereka sedang duduk bersama, menikmati secangkir teh di ruangan khusus dimana hanya mereka berdua yang ada didalamnya.


Sir Alex mencium aroma teh itu perlahan. Senyuman tipis tak pernah lepas dari wajahnya sejak menginjakkan kakinya dan melihat panorama yang luar biasa indahnya dari tempatnya berada sekarang. Jiwanya yang resah kembali tenang, terlebih saat Louise mengundangnya untuk bertemu secara pribadi. Sir Alex tidak tahu apa alasannya, tapi berada di satu tempat dengan seorang yang luar biasa seperti Louise agaknya membuat dirinya merasa tersanjung.


Selain itu Sir Alex juga cukup beruntung, karena pada pertemuan kali ini berkesempatan menikmati secangkir teh 'Da Hong Pao', salah satu teh termahal dunia yang berasal dari pohon yang tumbuh di pegunungan China yang sangat langka. Harganya terbilang sangat fantastis untuk ukuran teh, mencapai 17 miliar hanya per kilogramnya saja.


Sementara itu, Louise terlihat sangat santai malam ini. Dia menyilangkan salah satu kakinya, dan membiarkan kedua tangannya bersandar di sandaran tangan yang ada di kursi, "Sepertinya Ayah Mertua sedang berada dalam mood yang sangat baik," kata Louise memulai obrolan.


"Mendapatkan kesempatan untuk menerima undangan dari Tuan Muda Matthew yang mengaku sebagai calon menantuku, tentu saja membuatku sangat bahagia," jawab Sir Alex tanpa menutupi kegembiraannya yang melimpah.


"Ayah Mertua, aku akan berbicara langsung ke intinya. Apa Joanna itu benar-benar putrimu?" tanya Louise tanpa basa-basi.


"Kurasa rumor itu sepertinya benar, tidak ada satupun yang bisa ditutupi dari kacamata seorang Louise Matthew," jawab Sir Alex tanpa menunda sedikitpun, "Benar, dia adalah putriku, Josephine. Satu-satunya harta berharga yang tersisa di hidupku," lanjutnya.


"Apa Ayah Mertua tidak memiliki satu lagi harta berharga lainnya?" tanya Louise.


"Tentu saja ada, dia adalah istriku. Harta berhargaku yang lainnya adalah dia. Tapi, dia sudah meninggal sejak lama," jawab Sir Alex pelan. Tersirat kesedihan mendalam ketika dia menyebut istrinya saat ini.


"Maaf, sepertinya aku telah mengajukan pertanyaan yang salah," ujar Louise saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Sir Alex.


"Tidak apa, aku sudah terbiasa. Bukankah seharusnya masih ada yang ingin kau tanyakan tentang Josephineku?" tanya Sir Alex membawa kembali topik pembicaraan mereka yang sempat teralihkan.


"Jika dia adalah putrimu, kenapa Anda membiarkannya hidup di luar dengan ingatan yang hilang?" tanya Louise.


"Louise Matthew, aku tidak bisa memberitahumu secara detail apa yang terjadi karena ini menyangkut privasi keluarga kami. Tapi aku bisa memberitahumu satu hal, satu-satunya alasanku mengirimnya pergi adalah untuk kebebasan dan kebahagiaannya di dunia luar. Aku ingin melihatnya terbang bebas kemanapun ke tempat yang dia inginkan."


"Sepertinya Anda adalah seorang ayah yang baik," puji Louise.


"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan sebagai ayah untuk melindunginya," jawab Sir Alex.


"Kenapa Ayah Mertua tidak mengatakan hari itu kalau dia anakmu. Seandainya aku tahu, aku tidak perlu berselisih paham dan bertengkar dengannya," protes Louise.


"Aku hanya ingin melihat seberapa keras usahamu," kata Sir Alex.


"Tidakkah Ayah Mertua merasa sangat keterlaluan padaku?" tanya Louise.


"Aku tidak merasa begitu," jawab Sir Alex sambil terkekeh, "Louise, tolong katakan padaku, apa cucuku akan segera lahir?" tanya Sir Alex di sela tawanya.


"Cucu?" tanya Louise.


"Kau membawa putriku kemana-mana sesuka hatimu. Apa kau tahu pusingnya aku saat orang-orangku mengatakan bahwa kau membawanya masuk. Lalu berapa jam kau menahannya di villa milikmu itu dan apa yang kau lakukan. Apa kau sangat ingin memberikan aku seorang cucu?" tanya Sir Alex.


"Ayah Mertua, apa yang ayah bicarakan. Apa aku terlihat sangat mesum?" protes Louise. Berkata seolah dia tidak melakukan apapun. Padahal kenyataannya dia hampir melakukannya jika Joanna tidak menolak.


"Sangat terlihat jelas dari matamu itu," jawab Sir Alex.


"Tapi, bukankah Anda seharusnya senang karena memiliki calon menantu sepertiku?" tanya Louise.


"Tentu saja aku akan sangat senang. Tapi itu tergantung dari Jose, apa dia menerimamu atau tidak. Louise Matthew, aku punya saran untukmu. Kalau kau benar-benar ingin hidup dengan putriku, segeralah menikahinya saat dia belum mengingat apapun. Karena jika dia mengingat semuanya, bukan hanya kau satu-satunya calon menantu yang aku punya," beritahu Sir Alex.


...***...