CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Salah Merestui Menantu



"Joanna, apa kau sakit?" tanya Rose, sedikit cemas ketika melihat wajah Joanna yang pucat. Wanita itu memeriksa Joanna, juga mengelap keringat dingin yang keluar dari dahinya.


Saat ini, Joanna memang sedang bersama dengan Rose. Membawa Oskar dan Ebra untuk berkunjung dan bermalam di rumah Nenek Anne sesuai dengan janjinya. Saat ini, kedua anak itu seharusnya sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur dari Jordan.


"Tante, aku hanya sedikit lelah. Aku akan baik-baik saja setelah beristirahat," jawab Joanna memberikan sebuah alasan, mengulas sedikit senyum agar Rose tidak khawatir berlebihan.


Sebenarnya, Joanna memang lelah, sangat lelah memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Louise itu, bagaimana Joanna menjelaskannya. Apakah yang dilakukan Louise terhadapnya waktu itu bisa disebut dengan hubungan badan. Seharusnya tidak bukan, tapi meskipun begitu tetap saja itu sangat memalukan dan yang pasti Louise dan dirinya sudah melakukan kesalahan, mereka seharusnya tidak seperti itu.


Sekarang ini Joanna terus-terusan memikirkan bagaimana baiknya. Haruskah menerima tawaran Louise perihal pernikahan? Bagaimanapun juga Louise telah menyelami bagian terdalam miliknya. Tapi, Joanna ragu. Mereka tidak sedekat itu, bahkan belum pernah menceritakan apapun tentang kehidupan mereka masing-masing secara rinci.


Louise mungkin tidak bermasalah, tapi tidak dengan dirinya. Apakah dirinya yang sangat biasa ini pantas untuk Louise yang luar biasa. Apa orang-orang tidak akan mengatakan dirinya tak tahu diri dan materialistis nantinya?


Joanna, dia hanyalah seorang ibu dari anak berusia lima tahun yang bahkan tidak tahu siapa lelaki yang seharusnya di panggil dengan sebutan ayah oleh Oskar.


Dengan kenyataan yang seperti itu, bisakah Louise menerimanya. Sebenarnya, Joanna tidak masalah meskipun Louise berubah pikiran dan akhirnya menjauh. Dia hanya perlu menjalani hari-harinya seperti sebelumnya dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Louise sore itu. Lalu, melupakannya seperti air yang menguap di udara.


Tapi, ada satu hal yang membuat Joanna sangat ketakutan. Bagaimana jika Louise marah, dan bagaimana jika akhirnya Louise melakukan sesuatu pada Oskar. Joanna ragu, hatinya bimbang. Terlebih saat mengingat berapa banyak pengawal yang dimiliki Louise. Itu hanya yang terlihat, bagaimana dengan yang tak terlihat. Dengan kekuatan sebesar itu, bukankah menghancurkannya semudah mengedipkan mata. Jantung Joanna terus berdetak lebih kencang dan kencang lagi saat memikirkan kemungkinan terburuk diantara yang terburuk. Berhari-hari terus seperti ini sampai tidak memiliki selera untuk makan. Joanna tidak sedang memikirkan dirinya sendiri, dia sama sekali tidak peduli. Satu-satunya yang dia pikirkan hanyalah keselamatan anak itu. Oskar kecilnya, pelita hatinya.


"Kalau begitu berbaringlah dan jangan banyak bergerak. Tante akan mengambil vitamin untukmu," kata Rose, kemudian pergi meninggalkan Joanna di kamar.


Rose hanya meninggalkan Joanna sekitar sepuluh menit saja. Tapi saat kembali, Rose mendapati Joanna sudah tertidur. Nafasnya sangat teratur, matanya tertutup rapat. Sepertinya dia terlalu lelah. Rose membelai rambutnya pelan, kemudian tersenyum saat mengingat hari dimana Joanna dan Louise bergandengan tangan, "semoga kalian segera menikah. Lalu, berikan kami cucu lucu lainnya selain Oskar. Dia sudah berumur lima tahun, sudah waktunya untuk memberinya seorang adik," batin Rose kemudian mencium Joanna dengan pelan.


"Seandainya Louise tidak melarangku untuk ikut campur, aku pasti sudah memanggilmu dengan sebutan menantu saat ini. Lalu memanggil Oskar dengan sebutan cucuku. Sayangnya, Louise tidak mengijinkannya dan meminta untuk berpura-pura tidak tahu bahwa hubungan kalian cukup dekat," batin Rose.


Sekali lagi, Rose tersenyum kemudian menarik selimut untuk menyelimuti Joanna. Tapi matanya menangkap sesuatu yang salah di salah satu bagian Joanna. Seketika penuturan Diaz kembali mengusik pikirannya. Karena Diaz sempat mengatakan bahwa Joanna sedikit aneh dan lebih pendiam akhir-akhir ini, "Jika apa yang kulihat adalah benar, anak ini pasti merasa tertekan sekarang. Barangkali hal inilah yang membuatnya banyak berpikir sehingga jatuh sakit," batin Rose.


Rose tidak bisa menahannya, dengan pelan dan sangat hati-hati mulai menyingkap piyama Joanna. Memastikan sesuatu yang mengintip dari kulit Joanna yang putih bersih di sekitar dadanya. Rose gemetaran begitu melihatnya, matanya membesar lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Berandalan itu, apa yang sudah dia lakukan. Apa ini yang dikatakannya dengan bertobat?" geram Rose, tidak habis pikir dengan kelakuan Louise setelah melihat tanda peninggalan yang masih belum sepenuhnya menghilang.


.


.


.


"Louise, apa yang kau lakukan pada Joanna?" tanya Rose ketika sampai di kamarnya. Dia tidak bisa tenang, malam itu juga dia langsung menghubungi Louise meskipun dia tahu Louise sibuk.


"Ma, apa yang mama bicarakan. Aku akan menelepon kembali nanti," jawab Louise dari tempatnya sekarang. Dia baru saja kembali ke hotel, berencana untuk mandi tapi sepertinya harus tertunda karena panggilan dari mamanya.


"Apa pekerjaanmu itu lebih penting daripada Joanna. Katakan, apa kau sudah tidur dengan Joanna?" tanya Rose langsung ke intinya.


"Ma, bukan seperti itu. Aku tidak-"


"Apanya yang tidak, kalau kau tidak tidur dengannya bagaimana mungkin ada bekas peninggalan mengerikan seperti itu. Jelas-jelas hanya kau yang membawanya pergi. Sejak kapan kau berubah menjadi drakula seperti itu, Louise?" tanya Rose heran.


"M-ma, mama melihatnya?" tanya Louise. Bagaimana bisa, apa mereka sedang bersama. Ini sangat memalukan.


"Tentu saja mama melihatnya, anak itu sedang sakit sekarang. Mama tidak sengaja melihat sesuatu yang aneh, jadi mama memeriksanya selagi dia tidur," jawab Rose.


"Ma, kenapa mama memeriksa Joanna sembarangan. Itu tidak sopan, tahu?" protes Louise. Sebenarnya, Louise hanya sangat malu karena mamanya melihat ulah brutalnya. Sejak kapan permainan ranjangnya menjadi konsumsi publik?


"Berandalan! Bukan mama yang tidak tahu sopan santun, tapi kau. Siapa yang mengajarimu seperti ini, Louise?" bentak Rose. Sekali ini saja, akhirnya Rose berani marah kepada anaknya sendiri.


"Ma, mau bagaimana lagi, namanya juga usaha," jawab Louise seenak jidatnya.


Rose hampir menangis di pojokan kamar ketika mendengar jawaban tak terduga itu. Kenapa Louise selalu saja memberinya masalah?


"Usaha kepalamu itu! Bukan begitu caranya berusaha Louise. Mama tidak mau tahu, setelah kau kembali, kau harus segera mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, apa kau mengerti?" tanya Rose. Dia tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dan membuat emosinya semakin naik.


"Ma, Louise memang ingin menikahinya. Jadi jangan khawatir," jawab Louise kemudian menyudahi panggilannya dan pergi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah 20 menit, dia keluar. Memeriksa teleponnya dan lagi-lagi tidak mendapatkan pesan atau panggilan balasan apapun dari Joanna, "apa sih yang dia lakukan. Kenapa ponselnya selalu tidak aktif."


.


.


.


Sudah lima hari sejak Louise memulai mengembangkan bisnisnya secara besar-besaran. Berbagai kerjasama dan peresmian telah mereka lewati bersama sejauh ini. Dengan keberadaan Arthur dan William, keberadaan mereka ibarat sayap kanan dan kiri dalam permainan sepakbola. Dilengkapi dengan ketajaman intuisi yang dimiliki Louise, akhirnya mereka bisa mengeksekusi goal-goal bisnisnya dengan mudah. Sejauh ini, kerjasama mereka adalah yang terbaik di era ini. Keuntungan yang mereka dapatkan juga mencatat hasil yang sangat fantastis, karena melebihi 30% dari target awal.


Kini, menyisakan hari-hari terakhir sebelum mereka kembali. Tapi ada sedikit masalah tentang rencana m mereka untuk membuka bisnis di kota bangsawan di Kota Utara.


Jika ingin membuka bisnis disana, mereka setidaknya harus mendapatkan 60% lebih dukungan dari seluruh keluarga bangsawan yang ada disana. Saat ini Louise, William dan Arthur sedang membahas masalah ini di ruang pribadi mereka.


"Bukankah sebelumnya tidak ada masalah seperti ini?" tanya Arthur memulai pembicaraan.


"Entahlah, sebelumnya tidak ada yang membahas tentang dukungan yang mencapai 60%. Bangsawan di kota utara terkenal sedikit sulit untuk menerima orang asing untuk urusan bisnis jika tidak mendapatkan keuntungan tertentu. Sepertinya ini akan sedikit lebih sulit," lanjut William.


"Bukankah kita hanya perlu mendapatkan 60% dukungan saja. Will, dengan keadaan sekarang, berapa persentase terbaik yang bisa kita dapatkan untuk mendapatkan dukungan dari mereka?" tanya Louise.


"Karena waktu yang sangat mepet, dan orang-orang kita masih terbagi dalam tujuan lain. Meskipun kita telah mengerahkan semuanya kita hanya bisa mendapatkan 30% saja dalam dua hari ini," jawab William.


"Itu terlalu sedikit, kita harus mencoba menaikkannya setidaknya sebanyak 50% dukungan untuk mengambil kesempatan," lanjut Arthur.


"Sepertinya menghancurkan mereka lebih mudah daripada mencoba mendapatkan dukungan mereka," respons Louise dengan licik.


Di saat mereka sedang sibuk-sibuknya berdiskusi, datang seorang utusan dari salah satu bangsawan kota utara yang membawa sebuah pesan untuk Louise.


"Pesan apa?" tanya Louise kepada utusan itu.


"Jika Tuan Muda Louise tidak keberatan, Sir Alex ingin menjamu anda di kastil pribadinya pukul 07.00 malam ini," jawab utusan itu dengan hormat.


"Apakah harus malam ini?" tanya Arthur.


"Sir Alex berpesan, waktu yang tersisa tidak banyak, jadi beliau ingin sesegera mungkin bertemu dengan Tuan Muda Louise," jawab pengawal itu lagi.


"Baiklah, aku mengerti. Aku menerima undangannya," jawab Louise.


Setelah menyampaikan pesannya, utusan itu pun pergi.


"Apa yang diinginkan bangsawan utara itu?" tanya William.


"Kenapa kau harus menerima undangannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kastil," kata Arthur.


"Tidak, aku harus datang untuk mengetahui apa tujuannya," jawab Louise yakin.


"Kami akan menemanimu," lanjut William.


"Kalau kalian pergi bersamaku, siapa yang akan mengurus dukungan 30% yang kau janjikan itu?" tanya Louise.


"Bukankah kita hanya perlu menghancurkan dan memaksanya untuk menyetujui kerjasama ini jika kita tidak mendapatkan dukungan itu. Aku merasakan sesuatu yang buruk, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" lanjut William.


"William benar. Terlebih kita tidak pernah memiliki hubungan dengan mereka sebelumnya. Sebaiknya kau berhati-hati," kata Arthur mengingatkan.


"Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kalian tidak perlu ikut, hanya saja beri aku lima pengawal dengan kemampuan menembak terbaik untuk berjaga-jaga."


.


.


.


Matahari telah kembali ke peraduannya di ujung barat, hari ini tepat pukul 07.00 malam. Louise benar-benar memenuhi janjinya untuk menemui Sir Alex, salah satu bangsawan dengan kekuasaan yang cukup besar meskipun tidak menyandang status penerus keluarga besar.


Setelah melewati serangkaian jamuan makan malam khas bangsawan, Sir Alex membawa Louise kedalam sebuah ruangan dimana tidak akan ada seorangpun yang bisa mendengar percakapan mereka.


"Tuan Muda dari keluarga Matthew, aku kagum dengan pencapaianmu di usia semuda ini," puji Sir Alex.


"Aku juga kagum denganmu, Tuan. Meskipun tidak menyandang status kepala keluarga, tapi Anda memiliki basis kekuatan dan pengikut yang cukup besar," puji Louise.


"Rupanya Louise Matthew sangat persis seperti yang diberitakan. Seorang yang cerdas, brilian dan tidak ada yang bisa disembunyikan darinya," lanjut Sir Alex.


"Bisakah kita langsung ke intinya?" tanya Louise.


"Seperti yang kau tahu, dengan kekuasaan yang kumiliki sekarang aku bisa membantumu mendapatkan setidaknya 40% dukungan dari keluarga bangsawan di Kota Utara. Katakan, apa kau bisa mendapatkan sisa dukungan yang kau butuhkan untuk membuka bisnismu di Kota Utara?" tanya Sir Alex dengan wajah serius.


"Aku bisa mendapatkan 30% dalam dua hari," jawab Louise tak kalah serius.


"Kalau begitu aku akan membantumu mendapatkannya," kata Sir Alex tanpa berpikir lebih lama.


"Tuan, kita tak saling kenal sebelumnya, apakah ada alasan lain sehingga membuat Anda bersedia membantuku?" tanya Louise curiga.


"Tidak ada alasan apapun. Bukankah kau ingin melebarkan sayap bisnismu menjadi yang terbesar di dunia. Karena kau menginginkannya, maka aku bersedia membantumu dengan apa yang aku bisa," jelas Sir Alex.


"Itu tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai alasan untuk membantuku, Tuan!" desak Louise.


"Kalau begitu, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih dariku karena kalian telah menyenangkan hati cucuku," jawab Sir Alex kemudian.


"Siapa cucunya?" batin Louise.


Sejauh ini hanya Oskar dan Ebra yang dekat dengan Louise. Apakah mungkin ada maksud yang lain mengingat Oskar dan Ebra sama-sama tidak memiliki ayah?


"Apa maksud Anda, Tuan. Bisakah lebih jelas mengatakannya. Anda tidak berpikir untuk menjadikan salah satu dari kami ayah dari salah satu mereka bukan?" tanya Louise dengan tatapan curiga.


"Aku bukanlah orang tua yang suka mengikat anak dengan perjodohan. Seorang Louise Matthew itu bebas, dia tidak akan pernah bisa diatur atau diikat dengan perjodohan. Dia bebas memilih wanitanya sendiri. Bukankah begitu, Tuan Muda dari keluarga Matthew?" jawab Sir Alex.


Mencoba tenang, padahal sangat ingin menarik telinga Louise karena telah mencurigainya, "Idiot, kau sendiri yang membawa-bawa putriku seenak jidatmu. Kenapa masih menuduhku menjodohkannya denganmu?" gerutunya dalam hati.


"Anda yakin tidak meminta persyaratan apapun atas bantuan Anda kali ini?" tanya Louise memastikan.


"Aku tidak meminta persyaratan apapun, aku melakukannya murni sebagai ucapan terimakasih," jawab Sir Alex.


"Kalau begitu, aku akan menerima tawaran Anda kali ini. Tapi, jika ada sesuatu yang salah atau Anda melakukan sebuah trik untuk menipuku, Anda tahu apa akibatnya bukan?" tanya Louise.


"Jangan khawatir, aku tahu semua akibatnya jika mencoba menipu seorang Louise Matthew," jawab Sir Alex.


"Bajingan ini, bahkan dia berani mengancam calon mertuanya sendiri seperti ini. Hhh, kurasa aku telah salah merestui calon menantu," batin Sir Alex, lalu menyeruput kopinya yang mulai dingin.


...***...