
"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna ketika William membawanya pergi begitu saja. Joanna tidak peduli dengan tempat itu, tapi bagaimana dengan hadiahnya. Tetua itu tidak mencabut hadiah langka yang dengan susah payah dia dapatkan karena dia pergi begitu saja tanpa salam kan?
"Memberikan pelajaran untukmu!" jawab William kemudian mengurungnya di kamar bersama dirinya.
"Pelajaran, memangnya apa salahku?" tanya Joanna. Lalu pelajaran apa yang akan diberikan. Kenapa harus di kamar dan menguncinya sih.
"Salahmu adalah berbuat sembarangan dan membuatku seperti orang bodoh karena ulahmu yang berpura-pura tenggelam," jawab William.
"William, aku hanya membantumu mematahkan hati wanita siluman itu agar dia tidak memiliki keinginan lagi untuk mengejarmu!" jelas Joanna.
"Apa maksudmu?"
William akhirnya melepaskan genggaman tangannya yang erat. Memberikan kesempatan kepada Joanna untuk menjelaskan semuanya.
"Apa kau masih tidak mengerti. Anye, sepupu itu menyukaimu. Dia sangat menyukaimu. Aku bisa melihatnya hanya dengan melihat matanya. Aku hanya ingin membuatnya tidak lagi mengejarmu lagi demi masa depanmu dengan Marissa yang cerah," jelas Joanna.
"Menyukaiku?" tanya William.
"William, apa kau baru mengerti sekarang? Dasar laki-laki! Kenapa kalian semua sangat tidak peka. Dia itu sangat menyukaimu. Seharusnya kau memberiku hadiah sekarang karena aku sudah membantumu memberikan pelajaran untuknya," protes Joanna. Dia sangat gemas. Gemas sekali dengan calon adik ipar yang sekarang menjabat sebagai suaminya.
"Oh, ternyata dia menyukaiku. Aku tidak pernah memperhatikannya. Pantas saja dia bersikap sangat manis saat di depanku terlebih saat kami bertemu. Lain kali, aku harus berhati-hati dengannya. Tapi, kenapa wanita ini bisa tahu bahwa Anye menyukaiku. Apa wanita selalu peka seperti ini?" batin William.
Pria itu berjalan ke kursi dan duduk diatasnya. Memikirkan sifat aneh wanita yang sangat istimewa. Sampai dia melupakan hadiah yang diminta Joanna.
Sementara Joanna, hadiah apa yang dia inginkan sebenarnya tidak ada. Meminta hadiah hanyalah caranya berekspresi atas ketidakpekaan William.
Selagi William masih sibuk dengan dunianya dan entah memikirkan apa, Joanna pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya yang basah kuyup sebelum deretan penyakit menyapanya.
Joanna hanya menghabiskan waktu selama sepuluh menit di dalam sana. Meskipun hanya mengenakan handuk mandi, tapi dia tidak sungkan sama sekali.
William sangat sopan, dia juga tidak menyukainya. Dalam kondisi normal, dia tidak mungkin melakukan apapun meskipun Joanna tidak mengenakan apapun. Kecuali seperti malam itu, saat salah satu dari mereka terpengaruh sesuatu. Untuk itulah Louise gencar memperingatkan keduanya untuk tidak minum jauh-jauh hari sebelum pernikahan mereka.
"Kemarilah!" kata William.
"Kenapa, kau tidak akan memperkosaku kan?" tanya Joanna. Dengan cepat dia memegang erat bagian atas handuk mandinya.
Bukannya apa-apa, caranya memerintah sungguh sangat persis seperti Louise.
"Bukankah kau minta hadiah?" tanya William.
Pria itu bangkit mendekati Joanna. Tapi Joanna mundur teratur sampai tembok, "Apa sih yang dia pikirkan?" batin William, "Baiklah aku akan mengerjaimu juga. Salah sendiri melakukan hal gila seenak jidatmu tanpa memberitahuku terlebih dulu."
"Apa ini yang disebut memberikan hadiah. Dia tidak mungkin memberikan nafas buatan lagi kan?" batin Joanna ketika William memperpendek jarak diantara mereka.
Tangan kekar itu bahkan sudah William sandarkan di tembok. Ingin sekali mendorong tubuh itu. Tapi kenapa semua tubuh pria selalu sangat berat seperti gunung?
Tunggu, adegan ini sangat familiar. Jika di film-film, seharusnya adegan selanjutnya adalah ciuman. William tidak akan menciumnya kan? Kenapa adik dan kakak ini sungguh brengsek. Jika kakaknya menggunakan ciuman sebagai hukuman, apakah adiknya akan menggunakan ciuman sebagai hadiah?
"Tidak bisakah lebih bertenaga?" sindir William begitu menyadari Joanna cosplay menjadi patung.
"William, kau sangat kurang ajar! Apa yang akan kau lakukan. Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak tertarik untuk selingkuh. Aku ini setia pada pasanganku!" kata Joanna.
"Kalau begitu bukankah kau harus setia padaku. Aku ini suamimu, aku lah pasanganmu. Bahkan jika aku menciummu atau tidur denganmu itu bukan sebuah perselingkuhan karena kau istriku. Apa kau mengerti sekarang?" tanya William.
"Will, apa yang kau katakan barusan?" tanya Joanna. Dia merasa aneh dengan apa yang William katakan.
Sementara William tiba-tiba diam. Benar, apa yang dia katakan barusan. Kenapa kalimat itu keluar begitu saja secara alami bahkan tanpa perlu dipikirkan. Dia tidak mungkin mulai menyukai istrinya sendiri kan?
"Bukan apa-apa, aku hanya sangat marah. Setidaknya kalau kau ingin mengerjai orang bisakah memberitahuku dulu?" tanya William mengalihkan pembicaraan.
"Kau akan menolaknya jika memberitahumu kan?" jawab Joanna.
"Bodoh! Kalau kau memberitahuku, kita bisa bekerjasama dan memberikan pelajaran yang lebih tragis untuk mematahkan hatinya," jelas William.
Keduanya tersenyum sangat lebar. Memikirkan hari hari menyenangkan saat memberikan pelajaran untuk wanita itu di masa depan. Tanpa direncanakan mereka pun saling berpelukan untuk merayakan kesuksesan hari ini.
Mereka cukup lama berpelukan, setidaknya lebih dari sepuluh detik. Sampai tiba-tiba Joanna mendorongnya.
"William, aku ini sudah mandi. Jangan memelukku dengan tubuh yang basah kuyup seperti itu. Kau, kau, berapa kali mencuri kesempatan dalam kesempatan seperti ini?" teriak Joanna kemudian berlari ke ranjang.
Setelah mulai meredakan emosinya, William bergegas mengambil sesuatu dari dalam lemari dan kembali menghampiri Joanna. Kemudian menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam untuknya, "Ini untukmu!"
"Kenapa kau memberiku ini?" tanya Joanna.
"Aku baru ingat, aku belum pernah memberimu nafkah sejak kau jadi istriku. Simpan itu baik-baik, kau bisa menggunakannya sesuka hatimu," jawab William kemudian berlalu ke kamar mandi.
Sebuah kartu berwarna hitam yang sangat langka itu kini sudah berpindah ke tangan Joanna. Marissa, yang notabene pacarnya pun belum pernah William berikan kartu semacam itu.
Sedangkan Joanna, dia tidak hanya memiliki satu tapi dua. Siapa lagi pria lain yang memberikannya selain Louise Matthew?
"Ya Tuhan! Tiba-tiba aku merasa bisa melihat masa depanku yang sangat cerah," batin Joanna kegirangan.
.
.
.
"Will, inikah destinasi yang kau bilang menabjubkan?" tanya Joanna. Dia sangat kecewa, apa gunanya dia menyiapkan baju tebal untuk Louise dan Oskar jika tempat tujuan mereka adalah villa milik Louise. Dia kan ingin pergi ke tempat bersalju dan membuat boneka salju bersama Oskar.
"Ini baru pintu keberangkatannya. Apa kau lupa ada pesawat yang parkir di belakang sana?" jawab William.
"Ah, benar juga!" kata Joanna.
Dua orang itu pun segera turun dari mobil dan teriakan seorang bocah langsung memecahkan kebisuan.
"Mommy!" sambut Oskar.
Anak itu segera berlari menghampiri Joanna. Dia sudah sehat, hanya saja tidak boleh bergerak terlalu ekstrim. Meksipun sudah dilarang, tapi dia tidak bisa menahannya kali ini.
"Xiao O sayang, jangan lari-larian. Apa kau ingin sakit lagi. Paman Will bisa mati kalau terus-terusan mendonorkan sumsumnya untukmu," omel Joanna kemudian mengangkatnya.
"Mommy, kata daddy Paman Will bukan lagi pamanku tapi papi ku," ralat Oskar.
"Papi?" tanya Joanna.
"Daddy bilang, karena Paman Will sudah menikah dengan mommy. Jadi Xiao O harus memanggilnya dengan sebutan papi," jawab Oskar.
"Oh, daddy yang bilang begitu?" tanya Joanna.
"Eum," jawab Oskar.
Suasananya sudah sangat ramai sekarang. Tapi semakin ramai saat Ebra yang baru dari kamar mandi berlari keluar untuk menyambut William.
"Papa!" teriak Ebra.
"Hallo, dimana mama?" tanya William kemudian menggendongnya.
"Mama ada di dalam bersama Bibi Al dan Paman Arthur," jawab Ebra senang.
"Mommy, kenapa papi pilih kasih. Aku kan juga anaknya, kenapa aku tidak di gendong juga?" protes Oskar ketika melihat Ebra sudah bersemayam di pelukan William.
"Ah, bukannya Xiao O sudah di gendong mommy?" tanya Joanna.
"Xiao O maunya papi," jawab Oskar kemudian segera turun dan memeluk kaki William yang panjang. William hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum kemudian segera mengangkatnya agar tidak tercipta kecemburuan diantara mereka.
Kini, William telah menggendong dua anak. Anak yang bukan darah dagingnya tapi sepertinya sangat menyukainya. Pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Meninggalkan Joanna yang merasa diabaikan oleh anak yang dia besarkan sendirian selama lima tahun.
"Apa yang kau lakukan. Mau ditinggal?" tanya Louise yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
"Louise?"
"Ayo!" ajak Louise.
Akhirnya mereka pergi. Pergi ke dataran yang saat ini tertutup salju karena musim dingin telah tiba. Meninggalkan rumah, pekerjaan, dan rutinitas mereka sejenak untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta.