
"Aku berangkat!" pamit Louise sembari mencium kening dan kedua pipi Joanna.
"Kurangi kecepatan mobilmu saat menyetir!" ucap Joanna.
"Apa kau takut aku mati?" goda Louise.
"Tentu saja," jawab Joanna.
"Oskar, mana ciuman untuk daddy?" tanya Louise.
Oskar yang sedang di gendong Louise pun segera mencium daddy-nya tanpa ragu.
"Anak pintar, daddy berangkat bekerja dulu. Nurut sama mommy, jangan nakal dan minum obatmu. Ingat ... kau pasti sembuh. Daddy janji," kata Louise sambil menciumi Oskar.
"Iya, daddy!" jawab Oskar berbinar.
"Joanna, sepertinya beberapa hari ini aku akan sangat sibuk. Ada beberapa hal yang harus ku urus. Tapi aku janji akan segera menyelesaikan semuanya dan menemui kalian secepatnya," pamit Louise lagi.
Lagi-lagi Louise mendaratkan ciumannya untuk Joanna. Bukan lagi di dahi tapi di bibirnya, sepertinya ciumannya semalam masih sangat kurang. Bahkan kali ini Louise lebih berani karena melakukannya di hadapan Oskar.
"Louise?" tegur Joanna ketika Louie melepaskan gigitannya.
Louise yang di tegur hanya tersenyum, kemudian mengacak-acak rambut Oskar, "Xiao O, kau bisa melakukannya saat dewasa nanti dengan pacarmu. Tapi setidaknya tunggulah 15 tahun. Tidak, yang benar adalah 20 tahun," kata Louise.
"Mommy, apa yang daddy katakan?" tanya Oskar polos.
"Jangan dengarkan ucapan daddy-mu!" larang Joanna.
Louise hanya tersenyum, kemudian melambaikan tangannya sebelum pergi. Pria itu segera bergegas, karena William sudah menghubunginya sejak tadi. Memberitahu bahwa baik di perusahaan ataupun di rumah orangtua mereka tak terhitung berapa jumlah reporter yang ingin meminta keterangan darinya.
.
.
.
Tiga hari berlalu, Agria sepertinya tidak ingin bermain-main ataupun mengulur waktu lebih lama. Karena setelah melayangkan ancamannya, dia benar-benar mengumpulkan media untuk mengungkapkan rahasia Louise Matthew. Rahasia yang baru terungkap ke publik setelah lima tahun lamanya. Yaitu, tentang hadirnya seorang anak antara Louise dan dirinya, seorang anak yang masih dirahasiakan identitasnya dari media.
Selama tiga hari ini pula, wajah tampan dan ulasan tentang Louise dijadikan headline berita utama dimana-mana. Tentu saja berita hangat itu menggemparkan jagat raya, publik sangat heboh dibuatnya. Tidak menyangka bahwa Louise Matthew menyimpan rahasia sebesar ini. Tidak menyangka seorang CEO muda berbakat dan terkemuka itu sudah memiliki seorang putra berusia 5 tahun dan sempat menghindari tanggungjawab.
Meskipun masih tidak ada klarifikasi apapun dari pihak Louise terkait kabar mengejutkan itu. Tapi sangat cukup untuk membuat publik menunggu update terbaru. Terlebih saat Louise terlihat seolah menghindar, itu sudah cukup membuat publik meyakini bahwa kabar burung itu benar. Membuat Louise mengakuinya hanyalah soal waktu, setidaknya itulah yang mereka pikirkan.
"Mommy!" ucap Oskar pelan. Bocah itu memeluk Joanna setelah melihat berita yang tidak sengaja dia lihat di televisi. Joanna memindahkan channel TV, tapi lagi-lagi berita yang sama juga menghiasi channel lainnya. Joanna akhirnya mematikannya, tidak ingin Oskar melihat dan mendengarnya lagi.
"Mommy, apa daddy tidak bisa jadi ayahku?" tanya Oskar dengan mendongakkan kepalanya.
Pertanyaan itu, Joanna pun tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Xiao O ... sepertinya dia tidak bisa jadi daddymu," jawab Joanna dengan menahan air matanya yang sudah menggenang.
"Mommy, Xiao O sudah tidak mau punya daddy lagi. Xiao O hanya mau mommy," kata Oskar pelan kemudian menyembunyikan wajahnya di pelukan Joanna.
"Xiao O, bukankah kita baik-baik saja sebelum ada Paman Louise sebelumnya? Sekarang pun sama, kita akan baik-baik saja. Masih ada Paman Arthur dan Bibi Alexa yang bersama kita bukan?" kata Joanna mencoba menghibur Oskar. Akhirnya air mata yang sejak tadi Joanna tahan tumpah. Tapi segera dia hapus agar tidak ketahuan Oskar.
Oskar kecil sepertinya mengerti dengan maksud Joanna tapi hatinya telah terpatri oleh Louise, sehingga menyisakan sebuah bekas yang tak bisa tergantikan oleh sosok yang lain. Dia hanya memandang ke arah yang jauh. Sangat datar, tanpa ekspresi, tanpa semangat tapi memancarkan bentuk lain dari semua patah hatinya.
Louise, pria luar biasa itu berhasil mendekat dan mencuri hati anak manusia itu. Mencuri hatinya, hati anaknya dan semua perasaan Joanna. Dan ... tiba-tiba menghilang saat berita itu mencuat. Membiarkan Joanna sendirian. Mungkin itu memang benar. Seorang pria luar biasa seperti Louise. Sudah pasti memiliki jutaan wanita yang mengantre untuk mendapatkan cintanya. Dan dari sekian banyaknya jumlah itu, tidak mungkin tidak ada satupun yang tidak bisa membuat Louise tertarik.
Dan Joanna, Joanna hanyalah seorang wanita yang baru datang di kehidupannya. Meskipun memang sangat dekat dan sempat mengatakan kalimat tentang pernikahan, tapi pasti akan kalah dengan wanita-wanita terdahulu itu bukan.
.
.
.
Sekarang ini, Oskar sedang terbuai dalam pelukan Joanna. Tiba-tiba saja kondisinya semakin memburuk, terlebih setelah melihat pemberitaan di saluran televisi. Tidak berselera makan, semakin pucat dan tidak bersemangat sama sekali.
Hanya tidur dan terus-terusan memeluk ibunya, itulah yang dilakukan Oskar. Memeluk Joanna sepanjang waktu meskipun dalam tidurnya. Sama seperti Joanna, sepertinya hati anak itu sedang terluka.
Alexa yang baru masuk melihat Joanna dan Oskar dari pintu. Berjalan dengan pelan karena takut membangunkan Oskar yang tertidur di pelukan Joanna. Seperti biasa, Alexa mencoba untuk menggantikan posisi Joanna sebentar saja. Memberikan waktu agar Joanna membersihkan dirinya setelah seharian tak dilepaskan oleh Oskar.
Baru saja Joanna sedikit melakukan pergerakan dan Alexa menyentuh Oskar, Oskar sudah terlebih dulu membuka matanya. Pegangan tangannya yang sempat terlepas kembali memeluk Joanna lebih erat. Takut jika ibunya pergi kapan saja. Sama seperti Daddy Louise-nya yang tiba-tiba menghilang dan tidak menemuinya.
"Mommy," rengek Oskar manja.
"Xiao O bangun?" tanya Joanna. Mengelus kepala dan menepuk ringan punggung Oskar.
Oskar mengubah posisi kepalanya dan melihat bibinya sudah berdiri di depan ibunya. Sepertinya Oskar sudah mengerti maksud kedatangan Alexa, tapi enggan membiarkan ibunya beranjak.
"Xiao O, biarkan mommy mandi dulu ya. Sini, bibi gendong!" ucap Alexa lembut, kemudian membelai rambut Oskar seperti biasanya.
"Oskar hanya mau mommy," rengek Oskar.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang penurut. Malam ini Oskar sangat berbeda, dia mulai menangis. Tangisannya semakin kencang saat Alexa membawanya ke pelukannya.
"Mommy, jangan pergi huuu. Mommy!" teriak Oskar dengan tangisnya yang mulai pecah.
Suaranya sangat lemah, nyaris tak terdengar. Tapi sangat sukses membuat Alexa ikut menangis. Hati Joanna pilu, dia membatalkan rencana mandinya dan kembali mengambil Oskar yang menangis tersedu-sedu di pelukan Alexa.
"Cup cup cup. Xiao O, mommy tidak pergi. Jangan menangis lagi oke. Anak baik, anak pintar hm," bujuk Joanna dengan memeluknya. Juga menghapus air mata Oskar yang tak berhenti mengalir.
"Anak pintar, muach!" puji Joanna dengan mencium Oskar berkali-kali saat melihat Oskar berhenti menangis, tapi masih sesenggukan.
Pasti sakit bukan?
Joanna menggelengkan kepalanya saat Alexa melihatnya, Tidak apa-apa, pergilah. Setidaknya itulah yang ingin Joanna katakan. Joanna tahu, Alexa menyempatkan diri untuk melihatnya disela-sela kesibukannya.
Alexa pun keluar dengan perasaan yang terluka. Merasa tidak berguna karena tidak bisa memenangkan hati Oskar untuk bersamanya sebentar saja. Alexa menutup pintu rapat-rapat dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Arthur.
"Hallo," jawab Arthur dari seberang sana beberapa saat kemudian.
"Kapan kau akan sampai?" tanya Alexa.
"Lima menit lagi, ada apa?" jawab Arthur.
"Hari ini Xiao O sangat rewel. Cobalah untuk membujuk Xiao O ikut bersamamu nanti, biarkan Joanna mandi dan beristirahat barang sebentar," pinta Alexa.
"Aku mengerti. Aku akan segera sampai," jawab Arthur.
Selesai menghubungi Arthur, Alexa kembali masuk kamar untuk memberitahu Joanna tentang kedatangan Arthur. Tapi sepertinya Joanna sudah berada di dalam kamar mandi, lengkap dengan membawa Oskar bersamanya.
"Pasti sangat repot bukan?" batin Alexa.
"Ya sudahlah. Aku harus memeriksa pasien yang lainnya," gumam Alexa lalu pergi meninggalkan ruangan setelah meninggalkan pesan di secarik kertas dan meletakkannya di meja.