CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Met Gala



SRAK


Louise membuka gorden kamarnya lebar-lebar. Dengan tubuh yang masih berbalutkan handuk, dia berjalan menuju balkon kamarnya hanya sekedar menunjukkan eksistensinya pada dunia.


"Selamat pagi, dunia!" kata Louise sambil mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan tubuh. Gerakan yang sebenarnya sangat sederhana, tapi nyaris membuat handuknya melorot. Untung saja tangannya bergerak cepat untuk menangkapnya sebelum burung-burung yang hinggap di pohon mengintip burung tunggal miliknya.


"Bukan selamat pagi dunia, yang benar adalah selamat pagi Joanna. Harusnya seperti itu lalu aku menciummu, menciummu dan terus menciummu kemudian memelukmu," gerutunya dengan menopang dagu.


Louise melihat ke awan, pagi ini sangat cerah, udara yang berhembus juga terasa menyegarkan. Pria itu menutup matanya, menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya ke udara bersamaan dengan matanya yang kembali terbuka. Hujan sedang tidak turun selama beberapa hari, tapi Louise selalu bisa melihat pelangi. Terlebih saat mengingat semua tentang Joanna.


Lagi, Louise tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, dia pun juga heran kenapa bisa sampai seperti ini. Sebelumnya, dia tidak pernah menjalani hari-hari sebahagia ini. Tidak pernah, setidaknya setelah kematian adiknya hari itu.


"Hmph," dengus Louise. Sepertinya dia sudah sangat merindukan Joanna. Padahal baru kemarin mereka menghabiskan banyak waktu bersama bahkan tidur bersama.


"Joanna, aku belum pergi tapi kenapa sudah merindukanmu. Jika tahu akan begini, aku akan mengikatmu kemarin. Menahanmu untuk tetap disisiku, lalu membawamu pergi bersamaku. Tunggu, jika aku membawamu bersamaku apa kau juga akan menolaknya?" gumam Louise. Dia mengacak-acak rambutnya, tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang. Berulangkali mengatakan cinta bahkan menawarkan pernikahan, tapi ujung-ujungnya ditolak juga. Kalau terus begini, bisa-bisa dia akan benar-benar berdansa dengan William di acara pernikahan Arthur setelah tur luar kotanya nanti.


"Mungkin, usahaku masih kurang," kata Louise skeptis. Louise pun kembali ke kamarnya, membuka satu-satunya handuk yang melilit tubuhnya dan menggantinya dengan setelan jas yang sudah disiapkan di kamar ganti.


"Waktunya sarapan, Tuan Muda!" panggil Kepala Suh diluar sana.


"Aku tahu," jawab Louise singkat.


Louise masih berdiri di depan cermin, sedang menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum favoritnya.


"Ck, memakai dasi pun sendiri," keluh Louise saat memakai dasinya.


Selesai dengan semuanya, Louise segera turun. Melewati anak-anak tangga yang mewah dengan gagah. Tubuh jangkungnya terlihat sangat keren dengan celana hitam dan atasan kemeja putih. Sementara jasnya masih belum dia kenakan karena dia masih ingin sarapan. Sempurna, itulah satu kata yang pantas untuk menggambarkannya. Satu-satunya yang kurang sepertinya hanyalah keberadaan Joanna.


Pagi ini, dia hanya menikmati semangkuk oatmeal. Di ruangan yang besar itu, Louise terlihat sangat menyedihkan karena sarapan sendirian. Louise melirik ke kursi bekas Joanna kemarin lalu bergumam, "Harusnya kau menemaniku sarapan disini."


"Kepala Suh, tidakkah hunian ini terlalu sepi?" tanya Louise kepada Kepala Suh, yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Pria itu tetap berdiri disampingnya, meskipun sebenarnya Louise menyuruhnya duduk atau pergi.


Kepala Suh melihat sekeliling, memang Louise duduk sendirian disini. Tapi ratusan pengawal, pelayan pria dan maid sebenarnya berkeliaran di setiap sudut rumah. Entah di taman, di dapur, di ruang laundry, atau dimana pun, mereka semua ada disana. Jadi, apa yang dimaksud dengan terlalu sepi. Mungkinkah ada hubungannya dengan seorang nona yang kemarin dia bawa?


Meski hanya bertemu sekilas, Kepala Suh yakin Louise serius dengan wanita bernama Joanna itu. Sangat terlihat jelas dari sorot matanya yang terlihat berbeda.


"Haruskah kita segera mempersiapkan sebuah acara sakral untuk menyambut suasana yang lebih ramai?" jawab Kepala Suh dengan menyembunyikan sedikit senyuman. Karena sepertinya dia tahu apa maksud tersembunyi dari Louise, yaitu mengisi rumahnya dengan wanita yang akan Louise berikan status sebagai 'Nyonya Louise'.


"Bagaimana menurutmu, Kepala Suh?" tanya Louise antusias. Meletakkan sendoknya di meja dan melupakan sarapannya.


"Kalau Tuan Muda menginginkannya, maka kami akan segera menyiapkan acaranya," jawab Kepala Suh.


Louise tersenyum, membayangkan sebuah pernikahan yang meriah di sebuah altar yang megah. Disana Joanna akan menjadi satu-satunya wanita tercantik yang akan menggandeng tangannya dan mengikrarkan janji setia padanya sampai akhir hayat.


"Joanna bolehkah aku melakukannya?"


Tiba-tiba ucapan yang keluar dari mulutnya untuk Joanna kemarin muncul di pikirannya, membuyarkan bayangan indah tentang sebuah pernikahan.


"Tidak, sepertinya masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan acara sakral itu, Kepala Suh!" jawab Louise.


"Kami akan menunggu hari baik itu, Tuan!"


Louise tersenyum simpul mengingat apa yang terjadi kemarin. Joanna itu, bahkan disaat-saat kritis kemarin dia berhasil menguasai dirinya kembali. Wanita yang Louise kira akan takluk di bawah kendalinya, malah berbalik arah dan menolaknya hanya dengan tatapan mata. Bahkan secara tak terduga membuatnya bersedia menjadi pelayan dengan memuaskannya dengan cara yang sedikit berbeda.


"Sangat menarik, lalu bukankah aku hanya perlu membuatnya jatuh cinta dan akhirnya memberikan seluruh hatinya untukku?" gumam Louise senang.


"Tidak ingin tidur denganku, bisa-bisanya kau mengatakan semua itu setelah apa yang terjadi. Memangnya kenapa kalau kau menolak menyerahkan dirimu kemarin. Bukankah masih banyak hari-hari yang lain dimasa depan. Lagipula meskipun aku gagal tidur denganmu, aku sudah memberikan begitu banyak tanda di tubuhmu. Tidak, aku juga sudah melihat semua yang ada di tubuhmu, dan yang terpenting adalah aku sudah membawamu naik ke puncak meskipun hanya dengan jari-jariku," batin Louise dengan memegangi lehernya yang sedikit perih karena mendapatkan gigitan dari Joanna.


.


.


.


William dan tim dari Matthews Group sedang berada di ruangan besar untuk memulai briefing terakhir sebelum mereka berangkat. Di ruangan besar itu, mereka semua sudah rapi dengan pakaian resmi terbaik mereka. Semuanya terlihat rapi, keren dan menarik. Briefing hampir dimulai oleh William, tapi harus tertunda karena pintu terbuka. Louise Matthew, Presdir mereka tiba-tiba saja masuk ke ruangan tanpa memberikan pesan sebelumnya.


"Selamat pagi, semuanya?" sapa Louise dengan senyum ramah.


"Selamat pagi, Presdir!" jawab mereka semua dengan membungkukkan kepala sebagai tanda hormat. Tidak lupa menahan senyum karena terlalu bahagia.


Sementara William, dia hanya melihat Louise dengan melipat tangan, "Tumben dia kemari. Tapi baguslah, sesekali dia juga harus memimpin briefing," gumam William.


"Apa briefingnya sudah dimulai?" tanya Louise kepada William.


"Kami baru akan memulainya. Karena Presdir Louise sudah kemari pada kesempatan kali ini, jadi silahkan untuk mulai memimpin briefing pagi," jawab William santai.


"Tidak, tidak, aku hanya kebetulan lewat. Jadi aku mampir sekalian melihat-lihat. COO William tolong memimpin briefing pagi seperti biasanya," tolak Louise.


"Tolonglah, sekali ini saja. Sudah lama sejak Presdir memimpin briefing pagi terakhir kali," pinta yang lainnya.


Benar, sudah sangat lama Louise tidak melakukannya karena dia menyerahkan sepenuhnya kepada William. Tapi sering kali William pun juga tidak melakukannya karena kesibukannya yang lain dan lagi-lagi digantikan oleh yang lainnya.


"Will?" kata Louise, kemudian melihat ke arah William.


"Apa kau lupa bagaimana caranya memimpin briefing?" tanya William.


"Bukan begitu, tapi-"


"Cepatlah!" paksa William sebelum Louise menyelesaikan kalimatnya.


"Sepertinya aku terlalu lembek padamu, Will. Sejak kapan kau berani menyuruhku seperti ini," gumam Louise sebelum memulai briefingnya.


Louise tidak menyukai pembicaraan yang bertele-tele. Tanpa candaan tanpa gurauan, dia langsung membahas inti dan hal terpenting yang ingin dicapai dalam tur kotanya kali ini. Louise menyudahinya hanya dalam waktu lima menit saja. Setelah itu, mereka semua bubar dan diberi waktu 15 menit sebelum akhirnya memulai perjalanannya ke luar kota.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Louise ketika ratusan karyawan terpilih itu memasuki armada yang disediakan.


"Sudah," jawab William yang selalu memantau untuk memastikan suksesnya misi mereka kali ini.


"Bagaimana dengan Arthur?" tanya Louise.


"Dia akan bergabung nanti," jawab William.


"Baiklah! Will, ngomong-ngomong mulai hari ini mari kita bekerja lebih keras lagi. Mari menaklukkan dan menguasai dunia ini bersama-sama," kata Louise bersemangat tidak lupa menyunggingkan senyum yang di imut-imutkan.


"Kau terlihat sangat bersemangat hari ini," jawab William. Jawaban yang dia berikan sangat melenceng jauh dari pertanyaan Louise.


"Karena setelah ini akan ada satu wanita yang harus ku hidupi. Lalu, mungkin juga beberapa bayi di tahun berikutnya," ujar Louise berandai-andai. Membuat William sangat muak dan ingin muntah darah.


Bukan tanpa alasan, bahkan meskipun Louise pensiun dini dan mempunyai banyak anak sekarang juga, itu tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Karena hartanya, tidak akan berkurang lebih dari seujung kuku meskipun Louise langsung memiliki 1000 bayi.


.


.


.


Iring-iringan mobil memadati jalanan di ibukota. Ratusan staff dan ratusan karyawan yang berada di dalam barisan mobil itu seolah tak ada putusnya, menarik perhatian orang awam yang kebetulan melintas di jalan yang sama.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam mereka akhirnya sampai di sebuah gedung serbaguna yang kali ini difungsikan sebagai tempat penyambutan sekalian untuk memotong pita untuk meresmikan acara. Lalu, setelah itu baru akan berkeliling dari satu kota ke kota yang lain selama satu pekan.


Dari sekian banyak orang itu, tentu saja pusat perhatian publik jatuh pada tiga orang yang berjalan diurutan terdepan. Mereka adalah Louise Matthew, William Matthew dan Arthur Raphael yang datang di menit-menit akhir sebelum keberangkatan. Mereka bertiga bersinar terang layaknya venus yang menyapa di ufuk timur.


Jika kita bisa menyebut ketiga pria tampan itu sebagai bongkahan berlian, maka kita bisa menyebut ribuan staff dan karyawan lainnya itu sebagai serbuk berlian. Mereka semua serentak memakai outfit yang nyaris sama. Kemeja putih dengan jas hitam, bawahan hitam serta sepatu yang mengkilap.


Matthews Group memang berbeda, entah itu CEO, COO sampai staff, karyawan bahkan satpam dan OB, mereka semua adalah sekumpulan orang berwajah diatas rata-rata. Dan hari ini, ribuan manusia itu terlihat seolah sedang menghadiri Met Gala, bukan melakukan misi untuk memperlebar sayap bisnis mereka.


...***...