
"Mommy, Xiao O ngantuk," keluh Oskar.
Oskar tidak melihat Agria lagi sekarang. Melainkan memejamkan matanya dan mencoba tidur di pelukan Joanna. Joanna menciumnya, menepuk punggungnya dengan lembut dan menyanyi kecil sampai anak itu tertidur.
Setelah itu, Joanna mengalihkan pandangannya ke jendela. Kakaknya masih disana, tersenyum kepadanya lalu melihat kearah yang lain dan kembali berbincang dengan William dari balik kaca. Entah kenapa hatinya sakit. Seharusnya, mereka bisa berbagi pelukan hangat dari anak manis ini. Menjaganya bersama-sama karena bagaimanapun juga dialah ibunya. Tapi sepertinya waktunya belum tiba.
Berkali-kali Joanna merayu Oskar, tapi hasilnya masih nihil. Anak itu masih takut, anak itu masih enggan. Dia lebih sering bersembunyi di belakangnya, memeluk erat daddy atau kakeknya saat mereka berkunjung ke rumah mereka di Kota Utara. Tidak berani melihatnya, apalagi memanggilnya dengan sebutan mama.
"Kakak, maaf! Sudah satu tahun dan anak ini masih belum mau memanggilmu mama. Sepertinya aku memerlukan lebih banyak waktu untuk membuatnya menerimamu," batin Joanna.
Joanna tersenyum. Meskipun masih perlu waktu, tapi dia yakin itu tidak akan lama. Karena baru saja, untuk yang pertama kalinya Oskar berani melihat wajah ibunya sangat lama meskipun dari jarak yang cukup jauh dan berbatas dinding kaca.
"Kenapa?" tanya Louise saat melihat Joanna sibuk dengan pikirannya.
"Tidak apa-apa," jawab Joanna singkat.
Louise menarik nafasnya. Kemudian mendekat untuk memamerkan Reagan yang terlelap di pelukannya, "Lihatlah, sepertinya aku memang benar-benar berbakat dalam hal ini," pamer Louise.
Joanna tersenyum, berapa kali lagi Louise akan terus pamer di hadapannya seperti ini. Sejak dia berhasil menidurkan Oskar setahun yang lalu, tak terhitung berapa kali dia pamer terus seperti ini.
"Iya, daddy! Kau memang berbakat," puji Joanna.
Mendapatkan pujian dari Joanna membuat Louise tersanjung sampai-sampai ingin menggigitnya. Tapi Louise tahan-tahan karena Joanna baru saja melahirkan. Setelah selesai pamer, Louise meletakkan Reagan ke sisi ranjang tepat di samping Joanna. Mengambil Oskar dari pelukan Joanna dan memindahkannya ke samping Reagan lalu ikut-ikutan rebahan di sampingnya.
Louise melihat dua anak itu bergiliran. Seharusnya, mereka berempat tidur dengan posisi yang seperti ini baru benar. Bukannya Oskar tinggal dengannya lalu Joanna dan Reagan tinggal dan tidur dengan William.
"Maafkan daddy karena belum cukup kuat. Maafkan daddy karena membuat kalian terpisah-pisah seperti ini," batin Louise.
Tangannya yang kekar mengusap dahi Oskar dan Reagan seperti anak kucing. Pria itu hampir menangis. Tapi menyamarkannya dengan senyumannya yang mengembang. Terkadang, Louise mencubit Oskar lalu melihat bulu matanya yang panjang dan lebat seperti sikat. Setelah itu membandingkannya dengan milik Reagan yang mungkin belum tumbuh sempurna.
"Jika aku tahu anakku akan seimut ini, aku akan membuatnya lebih awal. Aku tidak sabar untuk menemani Reagan mulai berjalan dan melihatnya berlarian dengan Oskar. Tidak, aku juga tidak sabar untuk mengerjai anak-anak nakal ini dengan berpura-pura menculik ibunya dan membuat mereka mengejarku karena iri," kata Louise. Sekali lagi, Louise mencium pipi milik Oskar dan menggigit kaki mungil milik Reagan saking gemasnya.
"Bukankah kau sudah sering membuatnya lebih awal?" seloroh Joanna.
"Memang aku sering ingin membuatnya. Tapi kau selalu menolaknya juga," jawab Louise.
"Maksudku jauh sebelum itu," jelas Joanna.
"Sayang, bisakah jangan mengungkit masa laluku. Aku memang sangat bajingan dulunya," protes Louise.
"Apa sekarang sudah tidak lagi?" tanya Joanna menggoda.
Louise yang awalnya mencubit pipi Oskar langsung menoleh, "Tunggu sampai kau pulih, Joanna. Aku akan memberikan hukuman yang lebih berat untukmu. Aku akan membuatmu semakin membenciku karena membuatmu lembur terus setiap hari."
"Louise,-"
"Apa? Meragukanku lagi? Joanna, jangan khawatir, aku bisa melakukannya kok," potong Louise.
"Bukan itu yang ingin ku katakan!" kata Joanna.
"Lalu?" tanya Louise.
"Aku mencintaimu," jawab Joanna.
Louise tersenyum lebar. Lalu bangkit untuk mendekati ibu dari anaknya dan mengatakan, "Aku juga sangat mencintaimu."
Louise memeluk Joanna, menciumnya dan terus melakukan apapun itu yang membuat mereka tertawa. Di tengah-tengah candaan itu, William dan Agria masuk. Mengganggu sepasang kekasih yang berakhir jadi sepasang selingkuhan saat mereka sedang asyik memadu kasih.
"Apa itu?" tanya Louise yang pandangannya tidak bisa lepas dari barang yang ada di tangan William.
"Akta kelahirannya," jawab William.
"Secepat itu?" tanya Louise.
"Aku tidak ingin menunda lebih lama untuk segera mengakhiri ini, Louise!" jawab William kemudian menyerahkan akta itu untuk ditunjukkan pada Louise.
Louise menerimanya, melihatnya dengan teliti sebelum berkomentar, "William, apa maksudnya ini?" Alis pria itu terangkat. Lalu segera bangkit dan memperbaiki posisinya.
"Apa?" tanya William.
"Louise, aku sudah mengatakan namanya seperti yang kau inginkan. Tapi mereka menolak. Kau tahu kan nama asliku disini Eduardo Silva," jawab William.
"Siapa yang bilang begitu, siapa yang bilang kau Eduardo Silva? William, namamu itu William Matthew. Sudah berapa puluh tahun kau menyandang nama itu. Selamanya namamu akan tetap William Matthew dan terus jadi adikku. Bukan Eduardo Silva atau apapun itu. Apa kau mengerti?" tanya Louise.
"Aku mengerti. Tapi sementara ini biarkan saja namanya begini. Nanti, saat pengukuhan itu sudah dilakukan dan posisi itu resmi jadi milikku, aku janji akan merubahnya untukmu," janji William.
"Bagus kalau kau masih mengerti siapa identitasmu," kata Louise.
William diam saja. Melihat Joanna yang sibuk membenarkan selimut untuk dua anak yang sama-sama tertidur pulas. Kemudian melihat Louise yang terlihat seperti ayah sungguhan. Melihatnya, entah kenapa dia merasa iri.
"Apa sih yang ku pikirkan!" batin William.
William membuang perasaan itu jauh-jauh. Ada Marissa yang menunggunya. Lagipula apa yang dia lihat ini baru benar. Joanna milik Louise dan miliknya adalah Marissa. Bercerai dan mengembalikan Joanna pada pemiliknya lalu menikahi Marissa adalah satu-satunya yang harus dia segerakan saat ini.
Tepat saat mereka saling diam, ponsel Louise berdering. Nama Junior tertera disana sebagai pemanggil. Louise bangkit, sedikit menjauh untuk mengangkat teleponnya.
"Hallo!"
"Senior, aku punya laporan sangat penting untukmu. Aku baru saja mengirimnya ke emailmu. Cepat periksa itu sekarang juga!" kata Junior di seberang sana.
"Soal apa?" tanya Louise.
"Abixz99. Senior, ini gawat. Kita dalam bahaya sekarang. Cepat periksa itu dan bantu aku berpikir apa yang harus kita lakukan!" jawab Junior.
"Baiklah. Aku akan kembali dan segera memeriksanya," jawab Louise.
Louise mematikan teleponnya. Lalu segera menciumi Reagan dan Oskar sebelum mengambil jasnya.
"Sayang, ada yang harus ku selesaikan malam ini. Aku pulang dulu," pamit Louise dan mencium kening Joanna.
"Berhati-hatilah!" kata Joanna.
"Will, aku harus kembali!" pamit Louise pada William.
"Apa ada masalah?" tanya William cemas.
"Tidak ada. Hanya sedikit urusan bisnis," jawab Louise.
.
.
.
"Kakak, bisakah kakak bermalam disini?" tanya Joanna.
"Bermalam?" ulang Agria.
"Aku sendirian hari ini. Aku baru melahirkan kemarin dan ada dua anak yang harus ku jaga. Bisakah membantuku malam ini?" jelas Joanna.
Agria berpikir sejenak. Sir Alex, pamannya yang sudah kembali dia panggil dengan sebutan ayah harus kembali ke Kota Utara. Louise sibuk dengan urusannya di Matthews Group dan William pun juga sibuk dengan persiapan upacaranya. Tidak ada siapapun yang menemani Joanna selain pelayan disini.
Agria melihat Oskar yang tidur di kasur. Kemudian melihat Reagan yang tertidur di ranjang bayinya dan melihat Joanna yang masih belum terlalu pulih.
Memang diluar cukup banyak pelayan. Tapi Oskar tidak terbiasa dengan pelayan. Bagaimana jika Reagan menangis tengah malam dan Oskar rewel. Tapi, dia takut kehadirannya membuat Oskar takut.
"Bagaimana?" ulang Joanna.
"Jose, kakak ingin sekali menemanimu. Tapi,-"
"Kakak, jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja," bujuk Joanna.
"Kalau begitu baiklah," jawab Agria.
...***...