
"William, kita akan menikah. Aku akan jadi pengantin wanitamu. Berapa banyak anak yang kau inginkan. Aku pasti akan melahirkan semuanya untukmu," kata Daisy.
"William, menurutmu siapa yang paling cantik antara aku dan wanita sialan itu. Pasti aku kan?"
"William, setelah kita menikah nanti aku ingin kau menceraikan Joanna. Sudah ada aku jadi untuk apa ada dia. Kalau soal anak, berikan saja dia uang untuk membesarkan anak itu dan mengirimnya pergi jauh. Kalau bisa ke neraka sekalian agar dia tidak menggangguku lagi," kata Daisy lagi kemudian mulai cekikikan.
Wanita itu terus tersenyum, tertawa dan memeluk sebuah boneka usang dengan tangan yang terikat gelang besi sebelum akhirnya mulai menangis tersedu-sedu dan berteriak kesetanan.
"Kenapa bukan kau, William. Kenapa harus lima pria itu. Aku melihatmu masuk ke kamarku!" seru Daisy dengan lelehan air mata.
"Lima pria. Bukankah aku sangat hebat. Benar aku sangat hebat melayani lima pria sekaligus. Iya kan, William?" kata Daisy dengan mengubah mimik wajahnya menjadi ceria.
"Tapi kenapa mereka mengirimkan penyakit untukku. Aku jijik melihat mereka. Aku benci mereka semua. Ini semua karena kau Joanna. Kenapa harus kau yang menikah dengan William. William itu milikku, milikku!" teriak Daisy.
"Suntikkan dia obat penenang!" perintah Peter.
Peter hanya bisa menghela nafasnya. Meratapi nasib adik kesayangannya yang menyedihkan. Kenapa bisa seperti ini. Seharusnya tidak begini.
"Kenapa bisa begini, Pa?" tanya Nyonya Amber menangis di pelukan suaminya.
Hilang sudah semua mimpi-mimpi indahnya. Menantu yang tampan dan kaya, cucu-cucu yang lucu, kekayaan yang melimpah dan hari tua menjanjikan yang sangat mereka harapkan. Semua hanya karena kesalahan satu malam di pesta penyambutan Peter malam itu.
"Sudahlah, Ma! Sebaiknya kalian berisitirahat. Daisy pasti akan sembuh suatu hari nanti," bujuk Peter.
Tuan dan nyonya Peter akhirnya pergi setelah melihat keadaan Daisy yang sudah tidur karena suntikan obat. Peter pun sama, dia juga pergi setelah memastikan adiknya aman di kamarnya.
Ketiga orang itu tidak menyadari bahwa seseorang sedang menunggu mereka pergi sebelum memulai aksinya. Orang itu saat ini sedang bersandar di tembok dan melihat ke langit. Bukan untuk melihat keindahannya, tapi membuang rasa bosannya dengan menghitung bintang karena terlalu lama menunggu ketiga orang itu pergi.
"375, 376, 377. Akhirnya mereka pergi," kata Joanna.
Joanna segera melancarkan aksinya. Tersenyum saat melihat hanya ada sepuluh penjaga yang berlalu lalang menjaga Daisy. Joanna lantas membuat mereka tumbang dengan cara yang berbeda-beda. Bius, tusukan, juga pukulan dari balok kayu sampai membuat mereka pingsan. Tanpa membuang waktu lagi, dia mendekati Daisy yang terbaring di ranjangnya.
"Bangun!" kata Joanna dengan menyiramkan segelas air. Sangat kasar, tapi inilah sikap Joanna yang sesungguhnya.
Daisy akhirnya bangun karena kaget. Gelagapan karena air yang sebagian besar mengenai wajahnya dan membuat pakainya basah. "Siapa yang berani menggangguku?" teriak Daisy.
"Aku," jawab Joanna.
Daisy langsung mendongak menyadari siapa pemilik suara itu. Meskipun dia dinyatakan setengah gila, tapi dia masih cukup waras saat mendengar suara satu wanita yang dia benci setengah mati. Daisy mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya dan siap memukul Joanna yang tersenyum jahat kepadanya.
"Aku akan membunuhmu!" teriak Daisy.
"Apa kau pikir kau bisa?" tanya Joanna.
Daisy bangkit untuk menggapai Joanna tapi terjerembab ke lantai karena rantai pengekang yang mengikat kaki dan tangannya.
"Tidak perlu tunduk kepadaku seperti itu. Aku tidak butuh!" kata Joanna.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Daisy.
"Kalau aku bisa menyusup sekali, maka yang kedua kali akan jauh lebih mudah," jawab Joanna.
"Kau, kau. Apa kau yang mencuri William dari kamarku?" tanya Daisy penuh amarah. Dia baru ingat sekarang, seseorang membuatnya tidur tepat saat dia membuka kancing baju William. Apa Joanna orangnya. Tapi bagaimana dia bisa masuk?
Joanna tidak menjawab iya atau tidak. Malahan dengan santai menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya tepat di hadapan Daisy. Memainkan pistol di tangannya sebelum memulai membuka rahasianya. "Iya, itu aku. Aku yang mengambilnya sebelum kau tidur dengannya. Tapi aku sudah menggantinya dengan lima pria. Seharusnya mereka cukup untuk memuaskanmu kan. Bagaimana rasanya tidur dengan lima pria berpenyakit kelamin. Apa itu menyenangkan?" tanya Joanna.
"Kau, kenapa kau sangat jahat. Aku bersumpah akan mengatakan ini pada kakakku agar dia membunuhmu!" ancam Daisy.
"Apa kau baru tahu kalau aku ini jahat. Tidakkah terlalu terlambat? Daisy, aku ini sangat jahat. Sangat jahat melebihi kakakku. Lalu, apa kau baru saja mengancamku dengan memberitahu kakakmu. Apa kau pikir ada gunanya mengatakan ini pada orang yang akan mati?" tanya Joanna.
"Apa maksudmu?" tanya Daisy tidak mengerti.
"Kakak kesayanganmu itu aku akan membunuhnya malam ini juga," jawab Joanna.
"Kalau begitu kita coba saja. Seharusnya dia akan segera sampai. Bukankah kau juga bisa mendengar suara sepatunya?" tanya Joanna kemudian menyembunyikan pistolnya.
Daisy diam seketika. Benar saja, suara itu semakin dekat dan dekat bahkan semakin cepat. Terlebih saat melihat penjaga itu bergelimpangan di lorong.
"Kakak jangan masuk!" larang Daisy tapi terlambat.
Peter sudah masuk. Melihat Joanna yang duduk santai dan menginjak kepala Daisy. "Hai!" sapa Joanna ramah penuh senyum seperti menyambut tamu saat kondangan.
"Kau, bagaimana caramu masuk. Apa yang kau lakukan. Angkat kakimu dari kepala adikku!" titah Peter geram.
Apa-apaan ini, sudah sembarangan masuk ke rumah orang tanpa permisi. Melumpuhkan penjaga Daisy, menginjak kepala Daisy dan masih sempat-sempatnya menyapa hallo.
"Aku tidak tuli. Jadi tidak perlu berteriak sekeras itu. Jika aku mau, aku pasti akan mengangkat kakiku," jawab Joanna.
Peter hanya bisa melihatnya. Masih tidak percaya dengan apa yang Joanna lakukan. Bagaimana cara wanita ini masuk dengan penjagaan ketat diluar sana. Kalau dia bisa menyelinap selihai ini, apa itu berarti dia dalang di balik semuanya?
"Kau yang melakukannya?" tanya Peter.
"Sangat banyak yang sudah ku lakukan. Kau bertanya bagian yang mana?" tanya Joanna.
"Kau yang mengambil William dari sini?" tanya Peter
"Kakak, itu dia. Dia yang mencuri William dan menggantinya dengan lima pria penyakitan itu!" teriak Daisy.
"Apa aku menyuruhmu berbicara?" tanya Joanna tanpa melihat Daisy dan semakin menekan kepala itu ke lantai.
"Kau wanita terkutuk!" hujat Peter.
"Aku tidak akan melakukannya jika adik kesayanganmu ini tidak berulang kali menggangguku. Kalau ingin menyalahkan orang, salahkan saja dia yang secara suka rela mengantar nyawa kepadaku," kata Joanna.
"Lepaskan dia!" titah Peter.
"Bukan aku yang mengikatnya dengan rantai. Kenapa aku yang harus melepaskannya. Lagipula kenapa dia terikat rantai begini, apa kalian menganggapnya sebagai orang gila?" jawab Joanna memanaskan keadaan.
"Tutup mulutmu. Maksudku, angkat kakimu dari kepalanya sekarang juga!" titah Peter.
Joanna memiringkan kepalanya mendengar bentakan itu, tersenyum tipis sebelum mengingatkan utang yang harus dia bayar dan mengabaikan perintahnya untuk mengangkat kakinya. "Hei, kau yang membuatku jatuh ke jurang dan terjun ke sungai malam itu kan. Aku kemari bukan untuk menemui manusia setengah gila ini. Tapi untuk membuatmu membayar semua yang telah kau lakukan malam itu," kata Joanna.
"Omong kosong!" kilah Peter.
"Aku tahu manusia sepertimu pasti tidak akan mengaku. Jadi aku tidak perlu sungkan untuk membalas dendam. Katakan, siapa namamu untuk yang terkahir kali!" titah Joanna.
"Apa sebenarnya tujuanmu kemari?" tanya Peter.
"Pertanyaan yang bagus. Peter, dengarkan aku baik-baik. Aku kemari hanya untuk membunuhmu!" jawab Joanna.
Wajah itu tersenyum. Satu kakinya bahkan masih menginjak Daisy. Tapi tangannya sudah kembali mengambil pistol yang dia sembunyikan dan berkata, "Daisy, lihatlah bagaimana caraku membunuh kakakmu!"
Dor
Dor
Dor
Tiga tembakan itu membuat Peter roboh bersimbah darah. Masih hidup dan bisa bergerak. Tapi Joanna tidak membiarkannya hidup lebih lama lagi.
"Oh masih hidup. Kalau begitu tembak saja sampai mati!" kata Joanna dan memberondongnya dengan peluru.
"Kakak!" teriak Daisy.
...***...