
"Bibi Joanna?" sapa Ebra. Anak itu segera berlari menyambut Joanna yang saat ini menjemput Oskar.
"Kenapa kau sendirian. Mana Oskar?" tanya Joanna. Dia sudah memberikan pelukannya untuk Ebra, tapi kenapa Oskar belum muncul? Biasanya mereka akan muncul bersamaan karena mereka selalu bersama-sama.
"Bibi, Oskar kan pulang lebih awal hari ini. Apa Oskar tidak memberitahu bibi?" jawab Ebra.
"Pulang lebih awal?" tanya Joanna.
"Paman Louise menjemputnya tadi," jawab Ebra.
"Paman Louise?" tanya Joanna lagi.
"Iya," jawab Ebra.
"Kapan mereka pergi. Apa mereka sudah lama?" tanya Joanna.
"Setelah istirahat pertama," jawab Ebra.
"Paman, aku akan menyusul Oskar. Bisakah paman mengantar Ebra pulang?" tanya Joanna pada Okta.
Wajahnya mulai panik saat mengetahui Louise menjemput Oskar. Pria itu tidak akan mengambil Oskar darinya kan?
"Tapi,-" jawab Okta menggantung. Kenapa tidak membawa Ebra sekalian saja. Lagipula Oskar kan dijemput Louise, kenapa Joanna harus panik?
"Bibi, tidak perlu mengantarku. Mama bilang akan datang menjemput," kata Ebra.
"Tapi mamamu belum datang," kata Joanna.
"Aku disini!" potong Marissa yang baru saja memasuki pelataran. Marissa berlari kecil, segera menghampiri mereka saat menyadari Joanna tergesa-gesa.
"Marissa, maafkan aku. Aku harus pergi menyusul Oskar sekarang. Ebra, lain kali bibi akan memasak makanan untukmu ya. Sekarang bibi harus pergi. Selamat tinggal!" pamit Joanna.
Joanna segera pergi. Meninggalkan Marissa dan Ebra yang heran karena sikap Joanna yang aneh hari ini.
"Bibi mu kenapa. Apa terjadi sesuatu?" tanya Marissa. Tapi dijawab gelengan kepala Ebra.
.
.
.
"Apa kau sudah mengerti sekarang?" tanya Louise setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbicara empat mata dengan Oskar.
"Mengerti, Daddy!" jawab Oskar dengan menundukkan kepalanya.
Tapi meskipun menunduk begitu, Oskar masih bisa melihat wajah Louise karena pria itu duduk di tempat yang lebih rendah daripada pijakan Oskar.
"Bagus kalau kau mengerti," puji Louise kemudian mencium dan memeluk anak itu seperti biasanya.
Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Tapi yang jelas hanya mereka berdua dan author saja yang tahu. Butuh waktu yang lama untuk meyakinkan anak itu. Butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya mengerti di usianya sekarang dalam menyikapi situasi yang rumit ini.
"Kalau kau mengerti kenapa wajahmu begitu?" tanya Louise.
"Daddy, kalau Xiao O ikut daddy bagaimana kalau Xiao O rindu mommy?" tanya Oskar dengan wajah cemberut.
"Kau bisa menemuinya saat kau besar nanti," jawab Louise.
"Saat besar?" tanya Oskar.
"Eum," jawab Louise.
Oskar semakin loyo. Jangankan menunggu dia besar, sekarang saja dia sudah rindu mommy dan adiknya setengah mati. Louise yang masih duduk di samping Oskar bisa melihat dengan jelas perubahan kelenturan tulang milik Oskar. Pria itu tersenyum sebentar, sebelum kembali mengingatkan Oskar.
"Bukannya kau sudah mengerti. Kenapa jadi loyo begini?" tanya Louise.
"Masalahnya Xiao O sudah rindu mommy sekarang," jawab Oskar.
"Bukannya kau bilang suka daddy. Bukankah daddy atau mommy sama saja?" tanya Louise.
"Tapi Xiao O juga suka mommy. Apa kita tidak bisa tinggal sama-sama seperti dulu?" tanya Oskar.
"Tidak bisa. Bukankah daddy sudah menjelaskannya tadi. Apa Xiao O sudah lupa? Daddy tidak keberatan menjelaskannya lagi kalau kau lupa," kata Louise.
"Hmph!" dengus Oskar mulai merajuk.
"Jangan seperti anak kecil," goda Louise.
"Tapi Xiao O kan masih kecil," jawab Oskar.
"Mana yang lebih kecil. Dirimu atau adikmu?" tanya Louise.
"Tentu saja adikku. Dia kan masih bayi," jawab Oskar.
"Maka dari itu tinggallah dengan daddy," kata Louise.
"Daddy?" rengek Oskar.
"Hm, apa lagi?" tanya Louise penuh kasih sayang.
"Xiao O sudah rindu Reagan sekarang. Ingin mencium dan mencubit pipinya yang besar," jawab Oskar.
"Kalau begitu puas-puaskan tinggal bersama mommy dan main bersama Reagan malam ini. Mommy seharusnya akan segera datang menjemputmu. Lalu besok daddy akan menjemputmu kembali. Bagaimana?" tanya Louise.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu itu membuat Oskar tidak menjawab pertanyaan Louise. Siapa kira-kira yang mengganggu mereka. Mungkinkah itu ulah nakal paman tampan yang baru ditemui Oskar hari ini?
"Siapa?" tanya Louise.
"Ini saya, Tuan Muda!" jawab Kepala Suh.
"Tuan Muda, ada tamu yang mencari Anda diluar. Haruskah membiarkannya masuk?" tanya Kepala Suh sopan.
"Siapa?" tanya Louise. Siapa yang berani datang ke villanya kira-kira?
"Dia bilang namanya Stella," jawab Kepala Suh.
Louise sempat melihat Oskar. Anak itu langsung meringkuk dan menarik selimut saat tahu siapa tamu yang sedang menunggu daddy kesayangannya.
"Biarkan dia masuk dan menunggu. Aku akan menemuinya nanti," kata Louise.
"Baiklah, Tuan Muda!" ucap Kepala Suh.
Kepala Suh keluar dari kamar Oskar setelah menerima ijin dari Louise untuk mempersilahkan tamunya. Sedikit bingung memang. Bukankah seharusnya tidak ada yang boleh masuk ke villa ini selain Joanna. Kenapa kali ini boleh. Apa wanitanya Louise sudah ganti?
Kepala Suh sedikit lesu. Terlebih saat mengingat Joanna sudah lama tidak berkunjung ke villa ini dan melihat ekspresi Oskar barusan. Bagaimanapun juga Kepala Suh masih ingat dengan jelas bagaimana pertama kali Joanna datang ke villa ini. Masih ingat bagaimana wanita itu tinggal disini bersama Oskar setelah Oskar operasi dan meramaikan setiap sudut rumah. Jauh di dalam hatinya Kepala Suh berharap mereka benar-benar akan jadi satu keluarga yang utuh. Tapi kenapa ada wanita lain yang masuk ke istana Louise Matthew. Apa itu berarti pernikahan yang dulu sangat Louise impikan tidak akan jadi kenyataan?
Kepala Suh hanya bisa menarik dan membuang nafas. Dia hanyalah seorang kepala pelayan di kerajaan Keluarga Matthew. Apa yang bisa dia lakukan selain menjalankan perintah. Tapi jika boleh, bolehkah Joanna saja yang jadi Nyonya Matthew-nya?
"Kenapa daddy masih disini?" tanya Oskar. Meskipun terkurung dalam selimut, tapi bocah itu tahu bahwa Louise belum pergi.
"Daddy ingin menemanimu makan," jawab Louise.
"Xiao O tidak lapar," tolak Oskar.
"Xiao O, sekarang sudah waktunya makan," bujuk Louise.
"Xiao O bilang tidak lapar!" tolak Oskar lagi. Tapi perutnya yang kecil berbunyi menandakan minta diisi.
"Masih bilang tidak lapar? Kalau kau tidak makan, kapan kau cepat besar?" tanya Louise.
Mendengar pertanyaan itu membuat Oskar bangkit. "Daddy akan menepati janji daddy kan?" tanya Oskar.
"Tentu saja," jawab Louise.
"Tapi malam ini biarkan Xiao O tinggal bersama mommy dulu ya?" pinta Oskar.
"Iya iya. Ayo, daddy akan menemanimu makan sekarang. Haruskah daddy menyuapimu makan?" tanya Louise.
"Tidak mau, Xiao O bukan anak kecil!" tolak Oskar.
"Kenapa kau sangat plin-plan. Bukankah kau tadi bilang masih kecil?" goda Louise.
Oskar tidak lagi menjawab pertanyaan Louise. Tapi sibuk makan untuk membuat tamu wanita itu kesal karena Louise lebih memilih menemaninya makan terlebih dulu daripada menemuinya.
.
.
.
"Louise, kau masih mencintaiku kan?"
Suara seorang perempuan menghentikan Joanna yang sudah memegang handle pintu. Joanna menarik kembali tangannya, mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Apa maksudmu, Stella?" tanya Louise.
"Aku hamil, kau pun juga sudah tahu itu kan? Meskipun anak ini bukan anakmu, bisakah menolongku satu kali ini saja?" pinta Stella.
"Bagaimana caraku menolongmu?" tanya Louise.
"Bisakah kau menikahiku dan jadi ayahnya. Ibu dan ayahku pasti marah besar jika tahu aku hamil tanpa suami. Aku tahu kau masih mencintaiku, jadi bisakah menikah denganku dan jadi ayahnya?" pinta Stella.
Louise menyeruput tehnya yang masih panas. Melihat Stella yang perutnya sudah mulai membuncit. Louise tidak mengatakan apapun selama beberapa saat. Sampai akhirnya dia menghubungi Kepala Suh untuk menyiapkan sebuah kamar.
"Pergi dan istirahatlah!" kata Louise setelah menutup teleponnya.
"Apa kau mengijinkan aku tinggal disini, Louise?" tanya Stella.
"Eum," jawab Louise.
"Apa itu berarti kita akan menikah?" tanya Stella lagi.
"Aku akan memikirkannya," jawab Louise singkat.
Joanna mematung ditempatnya mendengar jawaban yang keluar dari pria itu. Dan baru sadar saat terdengar derap langkah kaki dari dalam, sepertinya seseorang akan keluar. Joanna yang belum sempat pergi bergegas menyembunyikan dirinya di salah satu tiang besar yang terletak di samping ruangan itu.
Dari balik tiang, Joanna menunduk dalam-dalam dan tak bergerak. Sesosok perempuan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun hingga bayangannya tak terlihat. Joanna mulai terkulai lemas saat melihat sosok itu benar-benar pergi. Kaki-kakinya tak sanggup lagi menyangga beban tubuhnya. Joanna memukul dadanya sendiri, berharap rasa sakit itu mereda.
Omong kosong apa yang baru dia dengar. Bagus sekali yang dilakukan Louise. Membuang dirinya yang jelas-jelas melahirkan Reagan anak kandung mereka demi wanita lain yang hamil entah anak siapa. Apa sebenarnya yang Louise pikirkan? Apa dia sudah gila?
"Apa yang kau lakukan disini, Joanna?" tanya Louise yang sudah berdiri di belakangnya.
"Dimana Oskar?" tanya Joanna tanpa melihat wajah Louise.
"Di kamarnya," jawab Louise singkat.
Joanna tidak lagi berlama-lama bersimpuh di tempat itu. Tapi segera pergi menuju kamar Oskar untuk membawanya pulang.
"Mommy?" sambut Oskar.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Joanna.
"Xiao O rindu daddy," jawab Oskar.
"Apa daddy menyakitimu. Apa daddy membuatmu menangis?" tanya Joanna.
"Tidak," jawab Oskar.
"Xiao O, ayo ikut mommy pulang sekarang. Ada yang ingin mommy bicarakan," ajak Joanna.
Joanna menggenggam tangan Oskar. Merapikan semua barangnya dan pergi dari villa itu secepatnya tanpa pamit. Disepanjang perjalanan tidak ada yang Joanna katakan selain memeluk Oskar. Begitupun dengan Oskar. Anak itu hanya terus menggelayut manja di pelukan ibunya karena tahu mulai besok dia akan ikut daddy kesayangannya.
...***...