CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Dari William untuk Joanna



William seolah sedang berada di dunia lain. Dia masih tidak percaya bahwa Marissa adalah ibu dari Ebra, anak yang beberapa waktu terakhir ini sering bermain dengannya. Memijit keningnya sendiri karena baru menyadari bahwa anak-anak yang dia lihat tempo hari adalah Oskar dan Ebra, sementara pria brengsek yang membuatnya patah hati adalah Arthur yang saat ini sedang bersenang-senang dengan memutar-mutar gelas wine di hadapannya.


"Arthur, kenapa tak kau katakan dari awal jika kau mengenal Marissa bahkan sangat dekat dengannya?" tanya William.


"Mana aku tahu kalau kau menyukainya?" jawab Arthur santai.


"Seandainya aku tahu seperti ini, aku tidak perlu patah hati dan mabuk-mabukan seperti orang bodoh bersama Louise bukan?" gerutu William lagi.


"Marissa menuju kemari sekarang. Sebaiknya kau tawarkan sebuah pernikahan untuknya nanti. Lalu, segera kabari aku agar aku bisa segera mengatakan kepada pendeta bahwa hari ini akan ada tiga serangkaian pernikahan," kata Arthur kemudian melenggang menghampiri Ebra.


"Arthur, apa kau melihat Louise. Dia pergi bersama Oskar tadi?" tanya Rose ketika melihat Arthur menghampiri mereka.


"Bi, sepertinya dia berada dalam masalah sekarang. Tapi Bibi tidak perlu cemas, sebentar lagi dia pasti segera turun membawa seorang menantu dan seorang cucu," jawab Arthur.


"Paman Arthur. Apa mamaku sudah turun?" tanya Ebra.


"Ebra, paman ada tugas untukmu," kata Arthur kepada Ebra.


"Tugas?" tanya Ebra tidak mengerti.


"Bawa calon papamu itu menemui ibumu. Cepat sedikit atau kau akan gagal mendapatkan papa baru!" perintah Arthur dengan menyentil dahi Ebra dengan lembut.


"Papa baru, yang mana?" tanya Ebra sambil memegangi dahinya.


"Tentu saja yang berdiri disana itu. Mulai sekarang panggil dia dengan sebutan Papa Will, apa kau mengerti?" jelas Arthur.


Ebra mengangguk tanda mengerti kemudian segera berlari dan menghampiri William yang saat ini sedang melihat Marissa hanya berjarak beberapa langkah di depannya.


"Nenek, Paman, Bibi, apa kalian tidak keberatan langsung memiliki dua menantu dan dua cucu sekaligus?" ijin Arthur kepada keluarga Matthew.


"Jadi dia wanita yang disukai William, cucuku?" tanya Nenek Anne senang dan memperhatikan Marissa dari kejauhan.


"Aku sering melihatnya di perusahaan beberapa waktu yang lalu. Dia sangat berbakat," puji Jordan.


"Dia juga sangat cantik dan baik. Arthur, tapi kemana suaminya. Kenapa bisa berpisah dengan Marissa?" tanya Rose penasaran.


"Dia kecelakaan, nyawanya tidak tertolong saat anak lucu itu masih di dalam perut Marissa," jawab Arthur menjelaskan.


"Sungguh kasihan. Tapi ini juga bagus, dengan begini tidak ada hal yang menghalangi William untuk mendapatkan Marissa. Benar kan, Ma?" tanya Rose kepada mertuanya.


Dua wanita itu tersenyum, sangat senang karena dua anaknya tidak hanya menyetorkan dua menantu yang cantik dan baik, tapi juga dua cucu yang lucu.


"Arthur, ngomong-ngomong sepertinya kau sangat dekat dengan kedua calon menantuku. Benar kan?" tanya Jordan penasaran.


"Om, terkadang saat istriku berkumpul dengan mereka. Mereka semua memperlakukanku seperti pelayannya. Aku harus merawat dua anak nakal itu saat mereka sedang bersenang-senang, terlebih saat mereka berbelanja tanpa ingat waktu," keluh Arthur.


"Setelah ini, biarkan Louise dan William yang menggantikan posisimu itu. Agar kau bisa bersantai dengan istrimu," timpal Jordan.


Mereka semua terkekeh sebelum akhirnya bersulang untuk merayakan kebahagiaan kecil sebelum kebahagiaan besar yang akan berlangsung sebentar lagi.


Sementara itu, jarak William dan Marissa kian dekat. Marissa berhenti melangkah saat dia menyadari siapa yang berdiri di depannya saat ini. Hanya beberapa detik, keduanya saling menyapa tapi hanya sebatas menyapa tanpa tahu apa yang akan mereka lakukan setelahnya.


"Marissa, kau disini?" tanya William, sedikit canggung tapi mencoba terlihat cool seperti biasanya.


"Begitulah," jawab Marissa.


Hanya itu yang mereka katakan. Sampai suara langkah Ebra menyita perhatian keduanya. Anak itu berlari dengan senyum ceria, membuat Marissa dan William sama-sama melihat kearahnya.


Marissa merendahkan tubuhnya, siap untuk menyambut Ebra kesayangannya. Tapi, Marissa sepertinya harus iri pada William, pria yang dikenal Ebra tidak lebih dari dua bulan. Tapi lebih diprioritaskan oleh anaknya daripada dirinya sendiri yang telah mengandungnya selama sembilan bulan. Karena Ebra, nyatanya lebih memilih berlari ke arah William yang tidak melakukan apapun selain berdiri dengan tenang. Ebra memeluk kaki-kaki yang sangat panjang itu, lalu dengan lantang memanggilnya dengan sebutan 'Papa Will' seperti yang telah diajarkan Arthur sebelumnya.


"Ebra, kenapa kau kesana?" tanya Marissa kaget. Lebih kaget lagi karena memanggil William dengan sebutan papa.


"Mama, Paman Arthur bilang Papa Will akan jadi papa baruku," kata Ebra tanpa di filter sedikitpun. Membuat Arthur yang duduk bersama Jordan terbatuk-batuk sebelum akhirnya menepuk jidatnya.


"Dia anakmu?" tanya William sambil membelai rambut Ebra.


"Eum, dia anakku," jawab Marissa.


"Kalau begitu, biarkan aku jadi papanya," kata William berterus terang.


"Apa?" tanya Marissa. Apa yang dikatakan William terlalu tiba-tiba. Marissa masih butuh sedikit waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku mencintaimu, jadi bisakah kau membiarkan aku jadi ayah dari anakmu ini?" kata William menjabarkan apa maksudnya. William tidak menunggu jawaban dari Marissa. Dengan cepat mengangkat Ebra ke pelukannya, lalu menarik Marissa untuk berjalan beriringan bersamanya.


"Will, kau mau apa?" tanya Marissa.


"Membawamu menemui calon mertuamu," jawab William tanpa ragu. Membawa Marissa dan Ebra untuk diperkenalkan kepada Jordan, Rose dan Nenek Anne yang saat ini tersenyum ceria menyambut kedatangannya.


.


.


.


Beberapa menit telah berlalu. Keluarga Matthew telah selesai berkenalan dengan calon menantu mereka. Arthur juga sudah pergi karena acara benar-benar akan dimulai. Tapi Louise masih belum menunjukkan batang hidungnya sampai saat ini. Membuat Rose celingak-celinguk dan mengedarkan pandangannya ke semua arah. Anak sebesar itu, tidak mungkin dia tersesat bukan?


"Rose, lihatlah!" kata Jordan tiba-tiba.


Rose yang sudah sebal menjadi tambah sebal dengan sikap suaminya yang dinilai terlalu extrovert hari ini. Suaminya biasanya tak seperti ini, tapi ketika melihat Oskar tadi, tiba-tiba saja energinya seperti kembali menjadi sepuluh tahun lebih muda. Jordan bahkan sempat memanggul Oskar di atas pundaknya dan berlarian seolah Oskar sedang naik pesawat.


"Apa sih, Pa?" tegur Rose. Mengabaikan Jordan dan melihat kearah yang lain.


"Coba lihat, siapa yang berjalan di tangga!" perintah Jordan senang dengan menunjuk kearah tangga.


William hampir mati tersedak nafasnya sendiri, dia tahu anak itu adalah Oskar tapi tidak tahu siapa wanita yang berdiri di sebelahnya.


"Joanna?" pekik Jordan, Rose, dan Nyonya Anne berbarengan. Marissa pun tak kalah kaget, baru kali ini dia melihat Joanna dekat dengan seorang pria selain Arthur.


"Oh, jadi itu Joanna?" batin William.


"Will, Louise sudah. Kapan giliranmu?" tanya Nyonya Anne menyindir William.


"Oma, giliran apa maksudnya?" tanya William dengan tampang bodohnya.


"Tentu saja menggandeng Marissa dan Ebra. Apa kau tak merasa kalah dari Louise yang sebelumnya anti dengan wanita, ha?" desak Nenek Anne.


Pertanyaan Nenek Anne membuat William terdiam. Kemudian melirik kearah Marissa yang sudah berwarna merah karena malu, "Ya tuhan! Apa aku baru saja mendapatkan restu dari Oma?" batin William tapi menyimpan bahagianya dalam hati.


Kehadiran Louise dan Joanna rupanya telah menyita perhatian tamu undangan. Semuanya melihat pasangan yang sebenarnya masih tidak akur itu dengan reaksi tak terduga. Tidak, lebih tepatnya reaksi seperti patah hati atau semacamnya, terutama di kalangan para gadis. Mereka hanya bisa gigit jari setelah pria idamannya, Louise Matthew menunjukkan wanitanya di tengah-tengah pesta. Untung saja pesta hari ini mengusung konsep private party yang berarti mereka semua tidak diijinkan membawa ponsel atau semacamnya ketika memasuki aula. Jadi sudah dipastikan tidak akan ada yang punya kesempatan untuk mengambil gambar sesuka hatinya.


Louise yang sadar akan ratusan pasang mata tertuju pada mereka mulai risih, terlebih dengan tatapan pria-pria yang melihat Joanna tanpa berkedip, salah satunya adalah tatapan dari William. Louise rupanya kembali salah paham, William melongo bukan karena Joanna. Baiklah, William mengakui bahwa Joanna memang cantik tapi bukan itu yang membuat William memasang wajah seperti ini. Dia hanya terkejut, karena lagi-lagi Louise menunjukkan ketidak-konsistenannya yang another level. It's okay, William juga tidak konsisten. Tapi Louise sangat jauh lebih tidak konsisten, titik.


Karena apa?


Tentu saja karena William masih tidak melakukan apa-apa meskipun pada akhirnya tahu tentang kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Marissa. Tapi tidak dengan Louise, lihatlah pria brengsek itu, tanpa malu dia sudah memamerkannya kesana kemari sampai merebut perhatian yang seharusnya ditujukan kepada sepasang pengantin yang menikah hari ini, yaitu Arthur dan Alexa.


"Wajahmu itu memang suka mencari masalah!" gerutu Louise saat membawa Joanna berbaur dengan tamu yang lain.


Joanna tersipu juga, sehingga secara tidak sadar terukir senyum di sudut bibirnya. Senyum yang sudah lama tidak Louise lihat.


Tepat saat itu, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu dimulai juga. Arthur sudah berdiri di altar, menunggu pengantinnya yang sedang berjalan dan digandeng oleh sang ayah. Arthur tersenyum senang, menikahi wanita cantik berhati malaikat yang bahkan tanpa ragu menawarkan Joanna sebagai istri berikutnya.


"Al, selama kau hidup maka tidak akan pernah ada yang kedua. Hanya kau satu-satunya. Aku akan menjanjikan ini untukmu meskipun aku tidak mengatakannya. Dan untuk Joanna, aku memang memiliki sedikit rasa untuknya. Tapi bukan berarti aku ingin menikahinya. Aku sangat berbahagia sekarang, bisa memilikimu seutuhnya. Lalu melihat dua wanita itu bersanding dengan teman-temanku. Kurasa, aku adalah orang paling beruntung di dunia," batin Arthur ketika Alexa semakin mendekat kearahnya.


Dimulai, mereka mulai mengikrarkan janji suci di hadapan semua hadirin. Mereka semua berdiri, menyaksikan momen yang diharapkan hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidup Arthur dan Alexa.


"Tutup matamu!" kata Louise pada Oskar, begitu pun dengan William. Dia juga meminta Ebra untuk menutup matanya karena kedua mempelai itu akan berciuman di atas sana.


"Kenapa daddy?" tanya Oskar.


"Kau masih anak-anak. Ada hal yang tidak boleh kau lihat di usiamu sekarang ini," jelas Louise.


"Tapi, Xiao O ingin melihat Paman Arthur dan Bibi Alexa," pinta Oskar.


"Sudah daddy bilang tidak boleh!" kata Louise kemudian menutup mata anak itu dengan tangannya.


"Oskar, Ebra, ayo ikut kakek!" kata Jordan setelah acara cium-mencium itu usai.


Jordan membawa dua anak-anak itu kembali duduk untuk menikmati jamuan makan. Sementara Rose menahan Louise dan William beserta kedua calon menantunya untuk semakin ke depan. Alexa dan Arthur memang akan segera melempar bunganya saat ini. Mereka sudah berbalik arah, membelakangi hadirin lajang yang berdiri di belakangnya dan siap untuk melempar bunga pengantin.


"Ma, kenapa aku berdiri disini?" protes Louise.


"Ma, ini memalukan!" protes William juga.


"Hanya sebentar saja. Apanya yang memalukan?" kata Rose, "kalian boleh pergi setelah bunga itu dilempar," lanjutnya.


"Arthur, bolehkah kita memilih kemana bunga ini di lempar?" tanya Alexa.


"Tentu saja boleh. Siapa yang kau pilih, Marissa atau Joanna?" tanya Arthur.


"Aku tidak tahu," jawab Alexa.


Arthur mengintip ke belakang. Di barisan nan jauh disana, dia melihat Louise berdiri bersebelahan dengan Joanna. Lalu, disamping Joanna ada William. Barulah disamping William ada Marissa.


"Lemparkan saja ke arah mereka berempat. Soal siapa yang dapat, seharusnya itu bukan masalah," kata Arthur.


"Eum, baiklah!" kata Alexa sepakat.


Setelah hitungan mundur, pasangan pengantin itupun melemparkan bunga mereka. Semuanya heboh, tidak sabar melihat siapa yang akan mendapatkan bunga yang saat ini membumbung tinggi di atas sana. Joanna membuka matanya lebar-lebar, bunga itu sepertinya mengarah kepadanya tapi juga tidak. Haruskah dia menangkapnya?


"Kenapa tak kau tangkap?" tanya Louise.


"Sepertinya itu tidak jatuh kearahku," jawab Joanna.


Sementara itu, William yang berdiri di sebelah Joanna memicingkan matanya. Bunga itu sepertinya akan jatuh diantara dirinya atau Joanna.


"Will, itu datang ke arahmu," kata Marissa.


"Sepertinya iya tapi juga tidak," jawab William ragu.


Bunga itu semakin dekat dengan pendaratannya, dan tanpa di duga William dan Joanna menangkap bunga itu secara bersamaan. Joanna menoleh ke arah William, William pun juga sama. Hanya sesaat, tapi membuat mereka saling berpandangan. Joanna tidak merasakan apapun, tapi tidak dengan William. Sepasang mata itu, terasa familiar untuknya. Sepertinya dia pernah melihatnya tapi lupa kapan dan dimana.


"Tunggu!" kata William ketika menyadari Joanna melepaskan bunga itu, "ini untukmu," kata William. Kemudian menyodorkan bunga itu untuk Joanna dan diterima. Tidak ada alasan apapun, William hanya tidak ingin berebut dengan seorang perempuan terlebih hanya karena seikat bunga.


"Will, kenapa kau memberikan bunga pengantin untuk calon kakak iparmu. Bukan untuk calon istrimu?" tanya Louise datar. Masih berdiri di tempatnya, tapi menoleh dan memberikan tatapan tajam ke arah William.


"Aku tidak ingin berebut dengannya. Lagipula, aku bisa membeli yang lain untuk Marissa nanti," jawab William.


"Oh, jadi apa menurutmu aku tidak bisa membelikan bunga lainnya untuk Joanna?" tanya Louise.


"Bukan seperti itu maksudku, Louise!" jawab William mulai menggaruk kepalanya.


Dua pria itu kembali berdebat. Perdebatan yang sangat tidak penting tapi sangat membuat Rose pusing, "Will, berapa tahun kau jadi adik Louise. Kenapa masih saja ceroboh. Harusnya kau berikan saja bunganya pada Marissa bukan Joanna," batinnya.


...***...