
"Arthur, kau kenapa?" tanya Louise. Sekembalinya dari liburan, Arthur terlihat sering melamun. Terlebih saat Alexa menganjurkan Joanna untuk membawa Oskar untuk memeriksakan kesehatannya secara menyeluruh. Arthur sepertinya sedang memikirkan sesuatu tapi tidak membagi masalahnya dengan dirinya ataupun William.
"Louise, bagaimana ini?" tanya Arthur pada akhirnya, pria itu menelungkupkan tubuhnya ke meja. Beberapa kali mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
"Ada apa?" tanya Louise. Dahinya mengkerut, apa Arthur kira dia bisa tahu apa yang Arthur pikirkan jika tidak mengatakannya. Sungguh, Louise tidak sehebat itu. Dia mungkin mengerti apa yang diinginkan Joanna hanya dengan melihat matanya. Tapi tidak dengan bahasa batin yang dikirim oleh Arthur.
"Sebenarnya, Alexa mengatakan ada yang salah dengan angka-angka hasil pemeriksaan kesehatan rutin milik Oskar," jawab Arthur.
"Salah bagaimana?" tanya Louise.
"Angka itu, sepertinya menunjukkan sebuah penyakit. Bagaimana jika anak itu benar-benar menderita penyakit serius?" kata Arthur cemas.
"Anak itu memang terlihat pucat saat aku mengantarnya ke rumah sakit. Dia juga sedikit malas bergerak dan mudah lelah. Kapan hasil pemeriksaan menyeluruh itu keluar?" tanya Louise.
"Minggu depan," jawab Arthur.
Louise tidak menjawab lagi. Diam di tempatnya dan melihat ke arah jauh. Jujur saja, Louise sangat membenci hari-hari seperti ini. Kenapa sepertinya akan ada kabar buruk disaat dia ingin memberikan kabar bahagia.
"Aku berharap semuanya baik-baik saja. Karena jika Oskar kecil itu tidak sehat, aku harus mengubur impian untuk segera menikahi Joanna. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Louise.
.
.
.
Louise memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Sengaja tidak memasukkannya karena dia akan segera pergi membawa Oskar dan Joanna ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan Oskar keluar hari ini, jadi mereka bersama-sama akan melihat hasilnya. Tentu saja Alexa sudah menunggu mereka di Rumah sakit.
"Daddy!" Oskar menyambut Louise di teras. Di belakangnya ada Joanna yang juga sudah rapi.
"Ayo!" ajak Louise.
Louise menggandeng tangan Oskar, membawanya ke mobil dan mempersilahkannya duduk didepan bersama Joanna. Oskar yang duduk di pangkuan Joanna semakin terlihat pucat hari ini. Tapi tetap ceria seperti biasanya.
Joanna terlihat tegang, sudah pasti karena dia sangat gugup dengan hasil pemeriksaan itu. Melihatnya membuat Louise menggenggam salah satu tangan Joanna, "jangan takut!" katanya sambil tersenyum.
Joanna mengangguk, tidak menjawab apapun selain memaksa tersenyum meskipun berat.
Mobil Louise melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Oskar sangat antusias melihat pemandangan dan bercerita.
"Daddy, ada kucing!" teriak Oskar.
Tiba-tiba, ada seekor kucing yang melintas di depan. Memaksa Louise menginjak rem secara mendadak. Mereka bertiga sempat terdorong ke depan meskipun tidak sampai melukai ketiganya.
"Kalian tak apa?" tanya Louise, dia segera menoleh untuk memastikan keadaan Joanna dan Oskar.
Joanna sangat kaget, untungnya dia memegangi Oskar dengan erat sehingga Oskar tidak mengalami benturan, "tidak, kami baik-baik saja!" jawab Joanna setelah menguasai dirinya.
"Mommy, Xiao O berdarah!" kata Oskar.
Oskar menunjukkan tangannya yang berlumuran darah. Joanna terkejut, Oskar tidak terbentur apapun barusan, kenapa tangannya bisa berdarah?
Louise segera mengambil tissue, membersihkan darah di tangan Oskar dengan hati-hati dan memeriksanya. Joanna pun tidak berkedip dan membuka matanya lebar-lebar selama Louise memeriksa tangan Oskar. Tapi tidak ada luka apapun disana, lalu darimana darah itu berasal.
"Daddy, mata Xiao O berkunang-kunang!" kata Oskar pelan.
Pandangan Joanna dan Louise pun teralihkan ke wajah Oskar. Sekarang mereka berdua tahu, darimana asalnya darah yang mengalir di tangan Oskar. Itu adalah darah yang berasal dari hidung Oskar. Mereka bahkan bisa melihat detik-detik darah itu kembali keluar dari hidung Oskar yang pucat.
"L-Louise, t-tolong,-" pinta Joanna terbata.
Joanna tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Air matanya juga sudah membendung di sudut-sudut matanya. Dia tidak ingin mengatakannya, tapi sepertinya keadaan Oskar tidak baik-baik saja.
"Joanna, pegang Oskar erat-erat. Aku akan menambah kecepatan," titah Louise yang tak kalah panik. Dia pun segera memacu mobilnya yang sempat terhenti, dan melaju dengan kecepatan tinggi untuk mempersingkat waktu.
Di tengah kepanikannya, Joanna membersihkan darah yang mengalir dari hidung Oskar dengan lembut. Mengatakan pada Oskar untuk tetap membuka matanya, kemudian memeluknya dengan erat bersamaan dengan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
"Kenapa harus Xiao O. Kenapa bukan aku saja?" gumamnya. Alexa kembali sesenggukan. Bagaimana caranya dia memberitahu Joanna nanti. Bagaimana?
"Dokter, seorang pasien menunggu Anda!" panggilan seorang perawat menyadarkan Alexa, bukan waktunya untuk bersedih seperti ini sekarang. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang dokter. Alexa segera bangkit, menghapus air matanya dan berjalan dengan cepat menuju unit gawat darurat. Langkah Alexa terhenti, perasaannya yang sedikit membaik kembali memburuk. Dia melihat Joanna menangis di pelukan Louise di sana. Alexa tidak berjalan lagi sekarang, dia berlari secepat yang dia bisa.
"Kenapa?" tanya Alexa sesampainya di hadapan Louise.
Louise tidak sempat menjawab. Alexa langsung bergegas masuk dan melihat pasien yang sedang menunggunya. Meninggalkan Louise dan Joanna begitu tahu Oskar sedang tidak bersama mereka.
Dengan mata yang basah, Alexa segera memberikan pertolongan pertamanya pada Oskar yang terbaring lemah. Seorang anak malang yang dibuang orangtuanya begitu saja dan entah bagaimana bisa bersama Joanna malam itu. Seorang anak yang tidak Alexa ketahui asal-usulnya, seorang anak yang tidak memiliki ikatan darah dengannya. Namun pada akhirnya mencuri semua cinta dan kasih sayangnya. Karena entah dirinya ataupun Arthur, mereka sama-sama menyayangi anak itu seperti anak mereka sendiri.
Sementara itu di luar. Louise dan Joanna masih menunggu Alexa yang tak kunjung keluar. Jika Louise berjalan kesana kemari untuk meredakan kekhawatirannya, Joanna hanya diam tak bergerak di tempat duduknya sekarang.
Akhirnya pintu terbuka, Joanna bisa melihat wajah bengkak habis menangis di wajah Alexa. Mereka saling berpelukan tanpa mengatakan apapun lagi. Tanpa mengatakan apapun, Joanna tahu Oskar sudah harus mulai berperang dengan penyakitnya mulai hari ini.
"Joanna, Louise, kalian berdua ikutlah ke ruanganku!" pinta Alexa.
"Baik!" jawab Louise. Dia menarik Joanna berjalan beriringan di belakang Alexa yang sudah menjauh.
Sesampainya di ruangannya, Alexa menyerahkan secarik kertas hasil lab milik Oskar, "Maafkan aku, Joanna!"
Joanna menerima hasil itu dengan tangan gemetar. Matanya kembali basah saat membaca kata demi kata yang tertulis disana.
Kanker darah.
Dunia Joanna runtuh, kekhawatirannya benar-benar terjadi. Apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
"Alexa, tolong!" hanya dua kata itulah yang keluar dari mulut Joanna.
"Joanna, aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa. Oskar sudah seperti anakku sendiri dan ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang dokter. Aku tahu ini sulit, tapi mari kita berusaha bersama-sama," hibur Alexa.
Alexa, dia cukup tangguh. Dia bisa memberikan dukungan kepada Joanna yang sedang rapuh disaat dirinya sendiri juga rapuh. Alexa, tetap memberikan harapan dan mencoba menenangkan Joanna meskipun dirinya tahu seberapa besar persentase kemungkinan untuk sembuh.
Tok. .
Tok. .
Tok. .
Pintu ruangan itu diketuk seorang suster, dia menyampaikan bahwa pasien bernama Oskar telah sadar dan mencari ibunya. Joanna pun langsung pergi menemui Oskar tanpa menunggu Alexa ataupun Louise yang masih duduk di tempatnya.
"Kau tidak pergi?" tanya Alexa.
Louise sengaja tidak mengikuti Joanna karena dia ingin berbicara bersama Alexa tanpa melibatkan Joanna.
"Persentase kesembuhannya sangat kecil bukan?" tanya Louise langsung pada intinya.
"Sekecil apapun aku akan tetap berusaha. Dia adalah segalanya bagi kami," jawab Alexa
"Alexa, aku ingin anak itu sembuh. Jadi katakan apa yang harus kulakukan?" tanya Louise.
"Louise, satu-satunya pengobatan terbaik untuknya adalah operasi untuk mengganti sumsumnya yang rusak dengan sumsum baru yang sehat," jelas Alexa.
"Aku, akan melakukan apa yang ku bisa. Aku akan mengerahkan orangku untuk menemukan pendonor yang cocok untuk anak itu. Jadi, bisakah aku minta tolong padamu. Lakukan yang terbaik yang kau bisa, demi anak itu juga demi Joanna?" tanya Louise.
"Tanpa kau meminta, sudah pasti aku akan melakukannya. Tapi, apa ini kau berarti sudah tahu Oskar bukan anak Joanna?" tanya Alexa.
"Aku tahu," jawab Louise kemudian berdiri bersiap pergi.
...***...