CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Wedding Day



"Joanna, kita harus menikah," kata William.


"Uhuk!"


Joanna tersedak, dia baru saja duduk. Dia juga tahu mereka mengundangnya untuk membahas masalah ini. Meskipun begitu apa yang William katakan terasa sangat aneh. Seharusnya pria ini jadi adik iparnya, bukan suaminya.


"Kapan?" tanya Joanna. Jujur saja, eskipun hatinya perih tapi dia tidak bisa menolak. Jika dengan ini bisa memberikan sedikit waktu untuk pria-pria itu menjadi kuat, dia sangat rela.


"Secepatnya," jawab William.


"Atur saja, aku tidak keberatan!" kata Joanna.


"Tidakkah kau terlalu cepat menyetujuinya?" tanya Louise.


"Louise, aku akan melakukan bagianku. Kau pun juga akan melakukan bagianmu. Mereka pun juga sama. Jadi mari bekerjasama," jawab Joanna.


"Joanna, kumohon jangan lakukan itu!" tahan Louise.


"Louise, aku melakukannya tidak gratis," kata Joanna.


"Apa maksudmu?" tanya Louise.


"Kau harus menikah denganku setelah aku dan William bercerai. Itu adalah bayaran yang ku minta darimu," jawab Joanna.


Joanna bangkit, mengambil tasnya dan bersiap pergi, "Dan kau, William. Aku tidak ingin terlalu lama menjadi istrimu."


"Aku tahu," kata William menyanggupi.


"Kau mau kemana?" tanya Alexa ketika Joanna sudah membuka pintu.


"Minum," jawab Joanna singkat.


"Joanna?" panggil Marissa.


"Marissa, pikirkan cara untuk memberitahu dua anak kecil itu. Menjelaskan apa yang terjadi antara aku dan William pada mereka adalah urusanmu dan Alexa," kata Joanna.


"Joanna?" tahan Louise.


"Apa lagi?" tanya Joanna.


"Pikirkan sekali lagi saja!" pinta Louise.


"Louise, masalahnya aku sudah memikirkannya ribuan kali. Satu lagi, saat aku menikah nanti, jangan pernah menginjakkan kakimu untuk hadir sebagai tamu undangan," kata Joanna kemudian pergi.


Louise bangkit, siap menyusul Joanna. Tapi Arthur menghalanginya, "Tenangkanlah dirimu. Jangan mengejarnya jika pada akhirnya kalian akan bertengkar."


"Arthur?"


"Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi ini juga sulit bagi Joanna dan William. Biarkan dia memenangkan dirinya. Aku akan berbicara dengannya. Kau pulanglah dan beristirahat. Aku akan mengantarnya ke villa nanti," kata Arthur.


Arthur segera menyusul Joanna yang semakin menjauh. Meninggalkan empat orang yang saat ini saling diam. Sunyinya suasana itu baru pecah setelah ponsel William berdering. Sebuah panggilan dari Okta. Entah apa yang Okta katakan, tapi satu yang pasti William menanggapinya hanya dengan dua kalimat saja, "Katakan pada tetua untuk segera menyiapkan pernikahan. Karena aku akan segera kembali dengan tunanganku."


Di tempat yang lain, Arthur sudah berhasil menyusul Joanna yang duduk sendirian di Bar. Sedikit canggung, tapi Arthur tetap mendekatinya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Joanna ketika melihat Arthur.


"Aku akan menemanimu minum," jawab Arthur.


"Arthur, bisakah aku minta tolong?" tanya Joanna.


"Katakan!" jawab Arthur sambil menuang segelas alkohol untuk Joanna.


"Beritahu aku jika Louise bersikap aneh," pinta Joanna.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur.


"Segera beritahu aku jika dia melakukan hal bodoh," jawab Joanna.


"Aku mengerti," jawab Arthur.


"Kau tidak ingin minum?" tawar Joanna.


Arthur tersenyum, dia tahu ada perasaan takut kehilangan di balik mata itu, "Joanna, maaf!" kata Arthur.


"Untuk?"


"Karena kami bertiga sepertinya masih tidak cukup kuat untuk melindungimu," jawab Arthur.


Malam itu, Arthur menemani Joanna minum sampai Joanna tidak tidak sanggup lagi. Lalu segera mengantarnya pulang ke villa setelah lewat dini hari.


"Kau belum tidur?" tanya Arthur ketika Louise menyambutnya di depan pintu.


"Bagaimana aku bisa tidur jika wanitaku berkeliaran bersamamu diluar sana?" jawab Louise.


"Ini, aku mengembalikannya padamu. Dia masih utuh," kata Arthur.


"Arthur, terimakasih!" kata Louise kemudian membawa Joanna bersamanya.


"Jangan galau karena pacarmu akan menikah dengan adikmu. Ingat, itu hanya sandiwara," kata Arthur sebelum pergi.


Setelah kepergian Arthur, Louise segera membawa Joanna ke kamarnya. Membaringkannya di ranjang dan menyelimutinya seperti biasanya. Omongan ngelantur itu bisa Louise dengar. Seperti 'Louise aku mencintaimu' atau 'Louise maaf'.


Louise tidak menyahut, dia hanya membelai rambutnya atas ketidakberdayaannya. Ini adalah kali pertama Louise mengalami hal ini. Dan itu sangat menyebalkan.


"Maafkan aku, aku akan bekerja lebih keras agar kau tidak menderita seperti ini," kata Louise.


Louise menghela nafasnya, kemudian segera menelepon Juniornya. Memberitahunya apa yang terjadi dan mengatakan akan terbang menyusulnya besok. Sangat banyak yang harus dia lakukan, dan itu tidak bisa ditunda.


.


.


.


Dua bulan telah berlalu. William sudah kembali ke tempat asalnya setelah melewati proses yang sangat panjang. Di tempat yang asing ini, dia harus segera mulai menjalankan rencananya. Dan untuk memulai semuanya, dia harus menikah.


William sudah berdiri di altar. Siap menyambut pengantinnya yang seharusnya menjadi kakak iparnya.


Sementara Joanna, dia sudah berdiri bersama ayahnya. Di balik tirai itu dia sudah cantik maksimal mengenakan pakaian pengantin dengan Sir Alex yang menggandeng erat tangannya.


Tirai itu akhirnya terbuka. Joanna bisa melihat calon suaminya sudah berdiri di altar dan menyambutnya. Sekilas, bayangan itu muncul. Louise berdiri di tempat William dan tersenyum kepadanya. Tapi saat Joanna mengedipkan matanya sosok itu hilang dan berganti menjadi William.


"Louise, seharusnya kau yang berdiri disana. Dan Marissa yang berdiri di tempatku. Tapi bukan masalah, ini hanya sementara. Aku pasti akan menikah denganmu setelah ini selesai," batin Joanna.


Joanna melangkah tanpa keraguan. William pun menyambutnya tanpa keraguan juga. Demi sesuatu yang mereka inginkan, mereka membuang jauh sakit hati mereka. Merelakan status hubungan sebagai ipar dan mengubahnya menjadi suami dan istri.


Serangkaian acara itu pun dimulai dan mereka telah resmi menjadi sepasang suami dan istri.


Joanna lega, sepertinya tidak buruk juga. Setelah menjadi istrinya William, nyatanya perasaannya sama saja seperti saat masih melajang.


Tapi kenyamanan perasaan itu bubar ketika seorang MC mengingatkannya untuk melakukan sebuah adegan yang ditunggu-tunggu oleh hadirin sekalian, yaitu ciuman.


"Brengsek, kenapa aku melupakan ini?" batin Joanna.


Sementara William, dia langsung terbersit akan peringatan Louise untuk dirinya, "Aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya."


Tapi mau bagaimana lagi. Kali ini mereka tidak akan lolos. Karena adegan itu akan terjadi.


"Cium aku!" perintah William.


"Apa?"


"Louise akan membunuhku jika aku menciummu," jawab William.


"Aku mengerti," kata Joanna.


Joanna menarik nafasnya, siap untuk mencium William. Tapi terhenti karena merasa ini sangat sulit. Meskipun hanya sandiwara, tetap saja ini terlalu intim.


"Apa yang kau lakukan?" tanya William.


"William, aku,-"


"Maaf, biar aku yang duluan," kata William.


William tidak ingin semua orang curiga, jadi tanpa mengulur waktu dia menarik Joanna dan menciumnya. Joanna yamg mendapatkan ciuman secara tiba-tiba dari orang asing langsung kaku.


Dia hanya diam saja saat William menggigit bibirnya. Hanya tiga detik saja William mencium Joanna sebelum melepaskannya. Joanna kira ini berakhir, tapi kalimat yang keluar dari mulut William menghancurkan harapannya.


"Kenapa kau tak membalasnya. Cepatlah agar kita bisa segera melewati ini!" kata William.


Sekali lagi William mencium Joanna, menggigit bibir Joanna sebentar dan Joanna pun terpaksa membalasnya.


"William, kau benar-benar brengsek. Kenapa kau terlihat seperti seorang yang maniak ciuman sih?" batin Joanna.