CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Gendong Aku



Setelah beberapa saat pergi, William terlihat kembali ke huniannya dengan langkah yang terburu-buru. Dia tidak tahu harus membawa Joanna serta untuk menemui tetua, lalu masih harus berkumpul bersama sembari menunggu jamuan makan siang. Jadi dia memutuskan untuk menjemputnya sebelum mereka benar-benar terlambat dan membuat Tetua marah.


"Benar-benar merepotkan," keluh William.


Tiba-tiba William merindukan kebebasannya menjadi manusia berdarah biasa. Menjadi COO di Matthews Group, menjadi asisten pribadi Louise, menjadi budak Louise, menjadi adik Louise dan menjadi sasaran kemarahan Louise seperti hari-hari yang dia lewati sebelumnya.


Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak menyukai lingkungan barunya. Mungkin hanya karena belum terbiasa, tapi jika boleh memilih dia akan memilih untuk kembali bersama Louise dan Arthur. Tidak ada yang menyenangkan di kota timur, satu-satunya yang menyenangkan hanyalah statusnya yang spesial sebagai suami Joanna. Sebuah status yang bahkan tidak dimiliki Louise, pria pemuja Joanna.


"Jo, apa kau sudah selesai mandi?" tanya William begitu membuka pintu kamar.


William terkejut, tidak mengira akan ada banyak orang di dalamnya selain pelayan pribadi mereka. Dia pun segera mendekati mereka yang yang saat ini mengerubungi Joanna, menyibak mereka satu persatu untuk melihat apa yang mereka lakukan pada Joanna.


Calon kakak iparnya itu tidak apa-apa kan? Mereka tidak menindas atau memperlakukannya dengan buruk di balik kerumunan itu kan?


"Eum, kenapa tetua brengsek itu juga disini?" batin William ketika melihat tetua yang selalu bersikap arogan.


"William, sepertinya kau sangat sehat," kata Tetua setelah melihat William berdiri beberapa langkah dibelakangnya.


"Tetua, apa yang Anda bicarakan. Tentu saja aku sehat," kata William.


"Apa hanya perasaanku. Sepertinya auramu berbeda. Apa karena kau baru saja bersenang-senang sepanjang semalam?" tanya Tetua.


William menelan ludahnya, dia yakin tidak ada yang tahu dia pergi semalam. Tapi dia memang bersenang-senang semalam. Menjaga Marissa dan bermain-main dengan calon anaknya, Ebra.


"Tetua, itu,-"


"Sudahlah! Tapi, kenapa kau tidak membantu istrimu mandi. Apa begitu caramu setelah membuatnya lelah?" potong Tetua.


Meskipun tidak tahu apa yang tetua itu bicarakan, tapi William tetap menjawabnya meskipun hanya dengan satu kata, "Maaf!"


Tetua itu hanya geleng-geleng kepala, kemudian sedikit bergeser sehingga William bisa melihat Joanna yang sudah selesai dengan dandannya.


Joanna menoleh, melihat William yang masih belum beranjak dari tempatnya dan memberikan sebuah kode yang hanya mereka ketahui. Sebuah kode yang bisa diartikan kalau mereka harus memulai sandiwaranya sekarang.


"Will, kau kembali untuk menjemputku?" tanya Joanna berbinar.


William terkesima, melihat senyuman lebar itu. Wanita itu sudah terlihat sangat cantik di hari-hari biasa, tapi saat memakai pakaian khas bangsawan seperti saat ini sepertinya ratusan kali lipat lebih cantik.


William memandangi istrinya dari ujung kepala hingga ujung kakinya, lalu lagi-lagi menelan ludahnya saat menyadari semuanya terlihat sempurna.


"Astaga! Apa yang ku pikirkan sih. Dia itu milik Louise, calon kakak iparku," batin William. Dia mencoba menyingkirkan perasaan kagum itu secepat mungkin sebelum merubah kekaguman itu menjadi benih-benih cinta terlarang.


"Will?" ulang Joanna ketika menyadari William tidak menjawab pertanyaannya.


"Oh, i-iya apa yang kau katakan barusan?" tanya William gugup.


Semua orang tersenyum melihat tingkah William yang terpukau akan penampilan istrinya. Termasuk tetua wanita yang langsung merubah sikapnya sejak mata-matanya melaporkan suara-suara aneh dari kamar ini yang menggema sepanjang malam.


Lebih senang lagi setelah menerima laporan bahwa pagi-pagi sekali William meminta pelayan mengganti sprei mereka yang kotor dan menemukan sesuatu disana. Sebuah bukti yang menunjukkan bahwa Joanna sudah tidak perawan.


Mungkin, mereka benar. Joanna memang sudah tidak perawan tapi mereka salah sasaran. Karena bukan William yang menjadi pelakunya, tapi Louise Matthew.


"Will, apa kau kembali untuk menjemputku?" ulang Joanna.


"Eum, aku kembali untuk menjemputmu. Aku tidak tahu ada acara jamuan makan siang yang harus dihadiri denganmu. Jadi aku segera kemari. Tapi, sepertinya kau sudah siap?" kata William bingung.


"Itu, tidak lama setelah kau pergi tetua datang dan memberitahuku. Beliau bilang ingin pergi bersamaku," jelas Joanna.


"Tetua, kenapa repot-repot menjemputnya?" tanya William.


"Aku hanya sekalian mampir," jawab tetua beralasan.


Alasan sebenarnya adalah dia ingin melihat keadaan Joanna. Bagaimana tampilannya setelah melewati malam panas yang panjang itu dan hasilnya, dia bisa melihat tanda peninggalan yang membekas meskipun Joanna segera menutupinya saat dia masuk.


"Lalu aku harus bagaimana memanggilnya?" jawab William.


"Tentu saja dengan panggilan yang manis, lagipula hubungan kalian sudah sangat dekat," ujar tetua.


"Baiklah, aku mengerti," jawab William.


"Bagaimana denganmu, Menantu? Apa kau juga setuju berhenti memanggil William dengan namanya dan menggantinya dengan sebutan yang lebih manis?" tanya tetua pada Joanna.


Lagi-lagi William terkejut. Sejak kapan orang ini selembut ini pada Joanna? Biasanya dia tidak seramah ini. Tapi kenapa hari ini dia sangat berbeda bahkan bersedia mampir ke kediamannya hanya untuk menunggui Joanna yang sedang berdandan, sebenarnya apa yang terjadi?


"Tentu saja menantu setuju," jawab Joanna tanpa ragu, "Benarkan, suamiku?" lanjut Joanna dengan senyum manis, sangat manis dengan memegangi tangan William yang masih kebingungan.


"Benar!" jawab William kaku.


"Begitu baru benar," puji tetua.


William melihat ke awang-awang karena sedikit tersipu. Meskipun hanya akting, tapi rasanya sangat menyenangkan saat mendengar Joanna memanggilnya dengan sebutan suami.


"William, kedepannya kau harus lebih baik lagi dan perhatian kepada istrimu. Jangan ragu membantunya saat dia kesusahan seperti tadi pagi. Satu lagi, kami menunggu kabar baik dari kalian," kata tetua dengan ramah.


"Tentu," jawab William singkat.


"Baiklah, cepatlah bergegas. Waktunya sudah hampir tiba!" pinta tetua itu lagi.


Dia pergi dengan pelayannya setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Menyisakan William dan Joanna serta pelayan pribadi mereka.


"Kalian keluarlah sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan istriku," perintah William.


"Maaf Tuan, tapi waktunya hampir tiba," kata Okta.


"Aku tidak akan lama," kukuh William.


"Baiklah!"


Setelah tidak ada siapapun di kamarnya. William segera menginterogasi Joanna. Seperti, kenapa tetua itu bisa merubah sikapnya, kenapa mereka sangat baik pagi ini. Apa Joanna melakukan sesuatu yang membuat tetua senang. Tapi dari banyaknya pertanyaan itu hanya Joanna hanya menjawab, "Aku tidak tahu, Will!"


"Sudahlah, ayo kita terlambat!" ajak William.


Pria itu menarik tangan Joanna untuk membawanya ke aula pertemuan. Tapi baru saja berdiri dan melangkahkan kaki, Joanna langsung terjatuh dan mengaduh.


"Ah!" pekik Joanna dengan menahan sakit di area bawah sana. Bagian itu nyatanya sangat ngilu saat Joanna melangkahkan kakinya.


"Jo, kau kenapa?" tanya William.


"Sakit, Will!" jawab Joanna pelan dengan menunjukkan bagian yang sakit kepada William.


"Bukannya harusnya perutnya yang sakit. Kenapa itunya yang sakit?" batin William.


"Kalau begitu jangan pergi. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu," kata William. Lalu mengangkat tubuh calon kakak iparnya ke ranjang.


"Will, aku tidak perlu dokter. Aku baik-baik saja, aku harus menemanimu kesana," tolak Joanna.


"Tapi lihatlah dirimu, berjalan saja tidak bisa bagaimana mau menemaniku. Bagaimana kalau kau semakin kesakitan disana?" tanya William.


"Aku baik-baik saja asal tidak berjalan untuk sementara waktu," jawab Joanna.


"Apa?" tanya William saat melihat Joanna mengangkat kedua tangannya.


"Gendong aku!"


...***...