
William berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Seperti biasa, beberapa orang menyapanya ketika melihatnya lewat. Itu adalah hal yang biasa mengingat William adalah orang terpopuler kedua setelah Louise. Tentu saja, dia harus rela berbagi posisi dengan Arthur yang juga menempati peringkat yang sama.
Dengan siulan ringan, William bergegas masuk ke ruangannya. Mengabaikan pintu ruangan milik Louise yang berada tepat di sampingnya. Pria itu masih sibuk dengan urusan pribadinya, terlebih juga sudah memberikan wejangan untuk tidak mengganggunya.
"Louise, kau benar-benar brengsek!" umpat William ketika melihat tumpukan pekerjaan yang memenuhi meja kerjanya.
Hanya dengan melihatnya, William sudah merasa sangat kelelahan.
"Sungguh merepotkan, kenapa selalu menyuruhku. Padahal jelas-jelas kaulah yang harusnya menunjukkan dirimu di hadapan Joanna dan Oskar. Bukannya aku," gumam William.
Berbicara tentang Joanna, William kembali teringat dengan sesuatu yang Alexa ucapkan kemarin malam. Sebuah kalimat yang mengganggu pikirannya. William segera melihat matanya di cermin, memeriksa mata yang sangat berharga itu dengan seksama. Beberapa menit William tampak berpikir, kenapa matanya bisa sama dengan mata Oskar. Apa iya Oskar itu anaknya, tapi kalau iya ibunya siapa?
William kembali merenung, mungkinkah sebenarnya dia juga sudah punya anak. Kini, William pun mulai meragukan dirinya sendiri.
Tapi itu tidak mungkin, karena William sudah kembali ke jalan yang benar sejak lama. Sudah tidak lagi bermain wanita dan semacamnya. Dan lagi, dimasa lalu dirinya juga selalu menjaga agar tidak kelepasan hingga melakukan sebuah kesalahan.
"Itu hanya kebetulan, tidak mungkin aku punya anak," batin William.
Setelah menyangkal pemikirannya sendiri, William kembali menata pikirannya. Kembali fokus untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda dan terbengkalai. Selama beberapa jam William fokus dengan monitor yang ada di hadapannya. Menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cekatan dan sepertinya juga tanpa kendala.
Setelah dirasa cukup, dia bangkit membawa semuanya dan meletakkannya di ruangan Louise. Entah Louise pergi kemana, tapi yang jelas William masih belum melihat batang hidungnya sejak pagi. Karena tidak ada siapapun, William pun langsung keluar dan masuk ke ruangan yang lainnya. Ruangan kedua yang sering dia kunjungi selain ruangan Louise.
"Apa kau gila?" tanya William setelah melihat Arthur tersenyum sendiri di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya.
"Oh, William!" sambut Arthur. Mengabaikan cibiran William padanya.
"Ku kira kau akan terlambat," ujar William.
"Mana mungkin aku terlambat," kata Arthur dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Kau terlihat bahagia, apa terjadi sesuatu semalam?" selidik William, memperhatikan Arthur dari jarak dekat dan mulai mencurigainya.
"Memangnya apa yang bisa terjadi di rumah sakit sampai membuatku bahagia?" tanya Arthur.
"Ah, benar juga!" seru William.
Rumah sakit. Tempat itu seharusnya bukan tempat yang bisa memberikan kebahagiaan untuk siapapun juga. Sama halnya seperti pemakaman, rumah sakit nyaris selalu penuh dengan kesedihan dan air mata. Sebuah tempat yang sangat di hindari dan tidak ingin dikunjungi siapapun juga meskipun hanya sekali dalam seumur hidup. Di tempat itu, tak terhitung berapa nyawa yang terlepas dari raganya. Tak terhitung berapa banyak raungan kehilangan dari manusia-manusia pemilik ketidakpuasan dan keserakahan.
Tapi, lain ceritanya jika itu menyangkut kelahiran jiwa yang baru. Mereka akan bahagia, karena sejak saat itu, sebuah takdir dan sebuah identitas baru telah dibentuk.
Selesai dengan pikirannya, William mulai memandangi Arthur dengan tatapan aneh, "Semalam kau tidak melakukan hal yang macam-macam kan?" tanya William lagi.
"Kau mencurigaiku?" tanya Arthur ulang.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada alasan untuk tidak mencurigaimu kan?"
"William, aku hanya senang karena Oskar sudah sedikit membaik. Kau jangan berpikiran macam-macam," jelas Arthur.
"Sungguh? Aku hampir mengira kau senang karena ibunya," celetuk William tanpa ragu.
"Sebenarnya, itu juga tidak salah," jelas Arthur dengan cepat. Mulai menggoda William seperti biasanya.
William tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya bisa melemparkan map yang dia pegang ke arah Arthur dan berpaling muka.
"Kau cari mati!" umpatnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka tanpa ketukan, seorang yang tidak asing berdiri disana dengan raut wajah yang tergesa-gesa.
"Arthur, ikutlah denganku sebentar!" titah Louise sesaat setelah membuka pintu.
Arthur dan William menoleh, kaget atas kedatangan dan perintah Louise yang tiba-tiba. Louise terlihat sedang buru-buru.
"Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Arthur malas-malasan.
"A-apa?" tanya William dan Arthur bersamaan.
.
.
.
Beberapa jam sebelumnya.
"Xiao O sudah kenyang?" tanya Joanna.
"Em," Oskar mengangguk.
Joanna melihat sarapan milik Oskar yang ada di tangannya, hanya berkurang setengahnya saja tapi itu lebih baik daripada kemarin yang sama sekali tidak tersentuh.
"Berikan padaku!" pinta Bibi Diaz. Mengambil peralatan makan yang masih dipegang Joanna.
"Terimakasih, Bi!" ucap Joanna.
Bibi Diaz tersenyum, mengelus punggung Joanna kemudian pergi untuk membereskan peralatan makan Oskar. Setelah menyuapi Oskar sarapan, Joanna berencana membawanya jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Sangat penting bagi Oskar untuk mendapatkan udara yang bersih. Jadi Joanna membawanya pergi ke ruangan hijau terbuka yang tersedia di rumah sakit.
Di tempat itu, banyak anak-anak yang juga memiliki berbagai macam penyakit yang tak kalah berbahaya. Tapi mereka masih terlihat bahagia, tak henti menyunggingkan senyum di wajahnya. Anak-anak, mungkin mereka masih belum mengerti apa itu arti kematian. Belum mengerti juga bagaimana sakitnya kehilangan. Wajah-wajah manis itu, sangat bertolak belakang dengan raut wajah wali-wali yang menemani dan melihat mereka dari kejauhan.
Tiga hari sudah Oskar tak terlihat. Jadi saat melihat Oskar datang, mereka menyambutnya dengan hangat dan membawanya untuk bermain bersama. Joanna tersenyum, akhirnya Oskar sudah mulai bersemangat. Tepatnya semalam semenjak kedatangan Arthur dan William yang menghiburnya.
"Ngomong-ngomong, dia sama sekali tidak datang ataupun menghubungiku sama sekali. Mungkinkah, berita itu benar?" batin Joanna. Kemudian menyimpan ponselnya yang sebelumnya dia lihat.
"Louise, kau sangat tak berperasaan. Setidaknya, bisakah melihat anakku. Karena selain obat-obatan, yang dia butuhkan adalah dirimu," batin Joanna lagi.
Joanna yakin, yang diinginkan Oskar sebenarnya adalah Louise. Meskipun begitu, Joanna masih tetap bersyukur karena Arthur dan William berkenan mampir sehingga bisa sedikit mengobati kerinduan Oskar sehingga membuat perasannya lebih baik. Sudah berselera makan dan tidak sepucat sebelumnya.
Joanna menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sehat, sangat sehat. Tapi melihat Oskar yang seperti itu, entah kenapa dia pun juga merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Bukan hanya Oskar, diapun juga kehilangan selera makan. Seandainya saja bisa, Joanna sudah ribuan kali meminta Sang Pencipta untuk menanggung semua sakit itu seorang diri. Lalu, membiarkan Oskar kecilnya tersenyum dam berlari dengan bebas seperti sebelumnya.
Seandainya bisa, dia sangat bersedia kehilangan nyawanya. Menukar hidupnya untuk kesembuhan Oskar. Karena Joanna, tidak sanggup melihat Oskar yang tumbuh besar di depan mata dan tangannya sendiri lebih menderita lagi dari ini.
Tapi, inilah realita kehidupan. Sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah mungkin pernah tertukar dengan takdir orang lain. Kemalangan yang sudah menimpamu, tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Joanna kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Masih melihat Oskar dari kejauhan. Melihatnya berlari ringan, tersenyum dan bertingkah lucu. Ingin sekali melihat Oskar bahagia seperti itu selamanya. Ingin sekali selalu bersamanya dan melihatnya hingga tumbuh dewasa dengan sehat.
"Kata dokter, kau bukan anakku. Aku tidak tahu, aku tidak yakin. Tapi sejak kau berada di pelukanku dan memegang jariku dengan tangan mungilmu hari itu, selamanya kau tetap akan jadi anakku," batin Joanna.
Dalam hatinya Joanna berdoa, semoga saja ada keajaiban. Semoga saja akan segera ada kabar baik tentang hadirnya seorang pendonor yang cocok.
Di tempat itu saat ini, semuanya masih sangat normal. Anak-anak masih bermain-main dengan gembira walaupun pelan. Para wali atau penjaga mereka juga masih mengawasi anak-anak itu dipinggiran. Sampai seorang wanita dengan begitu banyak pengawal datang.
Para Wali segera menghampiri anak-anaknya, pun dengan anak-anak itu. Mereka berlarian mencari orangtuanya masing-masing untuk berlindung karena takut. Sangat berbeda dengan Oskar, dia tidak bisa berlari menghampiri ibunya karena tertahan oleh seorang perempuan. Perempuan yang saat ini duduk merendah dihadapannya dan menyapa, "Apa kabar, sayang?"
Wanita itu adalah Agria. Ibu kandung Oskar yang telah menelantarkannya sejak lahir dan memberikannya pada Joanna disaat Joanna tidak sadarkan diri. Ibu kandung, juga sepupu Joanna yang sudah tidak Joanna ingat bagaimana perlakuannya dulu kepada dirinya.
Oskar mundur teratur karena takut. Wanita itu mulai mengulurkan tangannya, membuat Oskar semakin ketakutan. Disaat kakinya tidak mampu lagi bereaksi, hanya mulut mungilnya yang menggantikan peran kakinya. Dengan sangat pelan, dia memanggil satu nama yang selalu membuatnya aman dan memberinya kehangatan, "Mommy!"
Joanna yang sempat tertahan karena terlalu banyak orang segera berlari dan menyambar Oskar. Mengangkat dan mendekap Oskar dengan erat di pelukannya. Menjauh beberapa langkah untuk memberi jarak antara dirinya dan Agria. Oskar memeluk ibunya, menyembunyikan wajahnya di pelukan wanita yang selama ini dia kira adalah ibu kandungnya.
"Kau ini siapa, kenapa mengganggu anakku?" tanya Joanna.
"Kau melupakan aku?" tanya Agria. Alisnya naik, tidak yakin dengan apa yang dia dengar. Karena sebenarnya, Agria tidak tahu bahwa Jose sepupunya telah amnesia.
"Aku, tidak mengenalmu," jawab Joanna datar.
"Kau yakin tidak mengenalku?" ulang Agria.
Joanna diam. Berpikir untuk sejenak, mengira-ngira bahwa wanita ini sepertinya seseorang yang dia kenal di masa lalunya. Sementara disisi yang lain, Agria juga terheran-heran. Kenapa Jose bisa tidak mengingatnya. Apa karena kecelakaan parah malam itu?