CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Daddy, Ayo Menjemput Mommy



"Cantiknya!" puji Oskar saat Joanna selesai dengan riasannya. Bocah kecil itu setia menemani ibunya, duduk dengan patuh bersama Diaz yang menjaganya di kamar hotel.


Hari ini, Alexa memang sengaja memaksimalkan tampilan Joanna dan Marissa. Dengan jangkauan relasi bisnis yang dimiliki Arthur, Alexa berharap keduanya akan menarik perhatian salah satu dari mereka dan mulai membuka hati untuk menerima kehadiran seorang pria disisinya. Menjadi ayah untuk dua jagoan kecil yang saat ini sudah rapi dengan jas kecil mereka.


"Mommy, bolehkah Xiao O turun?" tanya Oskar dengan nada dan ekspresi yang menggemaskan. Dia menggelayut manja dengan memegangi tangan Joanna yang masih dibantu seorang stylish untuk merapikan rambutnya.


"Mommy rasa Xiao O harus meminta ijin dulu kepada kakek dan nenek," jawab Joanna sambil mengelus rambut Oskar. Tentunya, kakek dan nenek yang dimaksud Joanna adalah orangtua Arthur dan Alexa.


"Kenapa tidak, siapa yang bisa menolak permintaan dari anak seimut Oskar?" jawab ibunda Alexa yang kebetulan masuk ke ruangan Joanna. Tidak sendirian, dia masuk bersama calon besan wanitanya yang juga sudah membawa Ebra bersamanya.


Oskar menyambut kedatangan mereka. Keduanya terlihat manis menggunakan setelan jas di umur mereka saat ini. Ditambah sepatu mengkilap lengkap dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya, bocah-bocah itu terlihat layaknya boneka hidup. Orang-orang pasti akan mengira mereka kembar tapi tidak identik saat melihat secara sekilas.


Kedua nenek itu pun segera turun membawa Oskar dan Ebra untuk menemui suaminya yang sudah menyambut tamu-tamu. Disepanjang jalan, Oskar dan Ebra tak henti-hentinya mendapatkan cubitan atau pelukan dari tamu-tamu yang gemas, terlebih dari kaum ibu-ibu dan nona-nona muda.


Seratus kali dicubit, maka seratus kali juga Ebra tersenyum. Berbeda dengan Oskar yang sepertinya sedikit sensitif hari ini. Karena seratus kali dia di cubit, maka dua ratus kali dia menghapus bekasnya dan mengatakan, 'jangan pegang-pegang' sambil menepis tangan jahil yang mencubitnya kemudian bersembunyi di balik tubuh Diaz. Bukannya marah, itu malah membuat orang-orang semakin gemas dan mendaratkan ciuman di pipi Oskar.


Suasana malam itu benar-benar sangat meriah meski acara belum dimulai. Tamu-tamu sudah semakin memadati aula dan terlihat bercengkerama satu sama salin. Termasuk tamu penting yang tak lain adalah Rose, Jordan dan Nenek Anne. Mereka sudah duduk manis dan berbincang ringan di salah satu ruangan yang disediakan khusus untuk mereka.


Selain mereka, masih ada juga dua tamu kehormatan yang masih dalam perjalanan. Sepertinya mereka sedikit terlambat karena Louise yang seenak jidatnya memutuskan untuk menyempatkan diri mengunjungi Joanna. Membuat iring-iringan yang berada di depan sempat kelimpungan karena mobil yang di kawalnya hilang ditengah jalan. Sayangnya, rumah itu sepi, tidak ada siapapun disana karena tidak ada jawaban dari dalam meskipun beberapa kali Louise membunyikan klakson mobilnya.


"Setelah acaranya dimulai sebaiknya kita segera pulang," kata Louise membuka obrolan. Meskipun hanya bisa menggunakan satu tangannya, tapi gerakan pria ini masih begitu lincah. Malah menambah kesan aestetik dan keren yang tidak bisa penulis ungkapkan dengan kata-kata.


Jujur saja, Louise bosan dengan acara seperti ini. Terlebih dia harus datang sendirian tanpa Joanna seperti yang dia janjikan kepada Arthur hari itu. Dia juga memahami bagaimana perasaan William. Karena baik Louise dan William, keduanya sama-sama patah hati karena mencintai seorang wanita yang sepertinya sudah tidak sendiri lagi.


"Sepertinya itu ide yang bagus," kata William menyetujui tanpa mengalihkan pandangannya. Wajah-wajah patah jati masih terlihat meskipun hanya sekilas.


Akhirnya mobil mereka sampai di hotel setelah menempuh perjalanan selama 10 menit. Louise langsung memarkirkan mobilnya di parkiran khusus. Hotel ini adalah milik Matthews Group, jadi sudah pasti Louise memiliki layanan khusus saat berkunjung ke hotel ini. Baru juga menginjakkan kaki, Louise menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum. Senyum yang hilang sejak pertemuan terakhirnya dengan Joanna dan mereka bertengkar hebat karena sebuah kesalahpahaman.


"Joanna, sudah ku katakan, aku akan selalu menemukanmu," batin Louise saat melihat mobil berwarna putih yang tidak asing untuknya, yang tak lain adalah mobil Joanna yang terparkir tepat di sebelah mobil Louise.


"Tapi, apa yang kau lakukan disini?" batinnya


.


.


.


"Ma, apa salah satu anak itu Oskar?" tanya Rose ketika melihat Oskar berjalan di tengah keramaian dan di gandeng oleh Diaz.


"Entahlah, mataku tidak bisa melihat dengan jelas," jawab Nenek Anne sambil memperbaiki letak kacamatanya.


"Sepertinya iya, karena aku melihat Diaz juga berjalan bersama orangtua mempelai disana," timpal Jordan ikut-ikutan.


"Aku ingin melihatnya," ujar Nenek Anne bersemangat. Dengan tergesa-gesa, Nenek Anne pun berdiri dari mejanya, meninggalkan anak dan menantunya untuk menghampiri Oskar yang sekarang ikut menyambut tamu di pintu masuk.


"Ma, Rose ikut!" ujar Rose tak kalah cepat.


Dua wanita kesayangan Louise itu pun melipir pergi. Menemui Oskar yang tak menyadari kedatangan mereka, "Oskar?" panggil Nenek Anne.


"Dia benaran Oskar!" ujar Rose bahagia.


Oskar menoleh ke sumber suara, "Nenek, Nenek Buyut?" respon Oskar dengan mata yang lebar. Oskar yang sebelumnya nyaman bergandengan tangan dengan Diaz berlari menyambut Rose dan Nenek Anne, seseorang yang Oskar panggil dengan sebutan nenek dan nenek buyut.


"Kakek!" teriak Oskar sambil melambaikan tangan dan berlari ketika melihat Jordan ikut-ikutan menyusul mereka.


"Kau disini juga?" sambut Jordan kemudian menyambut dan menggendong anak itu.


"Dimana mommy?" tanya Rose.


"Mommy masih diatas," jawab Oskar.


Mereka pun saling berbincang untuk melepas rindu diantara tamu-tamu yang hadir. Jordan bahkan mengajaknya berkeliling bersama Rose dan Nenek Anne. Sesekali, juga membawanya menyapa tamu-tamu yang juga menyapa mereka. Tamu itu semakin banyak dan banyak lagi.


Tapi, dari sekian banyak tamu, saat ini kedatangan Louise dan William-lah yang paling menyita perhatian. Perhatian tamu undangan langsung mengarah kepada mereka begitu rombongan mobil mewah berdatangan di depan yang membawa dua tamu penting dari Matthews Group.


Baik Louise atau William, keduanya sangat jarang menghadiri acara semacam ini. Tapi kali ini pengecualian karena yang menikah adalah orang yang spesial, yaitu Arthur sahabat karib mereka.


Outfit yang dipakai Louise dan William adalah pakaian resmi. Mereka sama-sama terlihat keren dengan setelan jas mereka masing-masing. Jika William tampil memukau tanpa cela, berbeda halnya dengan Louise. Di dahinya masih ada bekas luka akibat kecelakaan tempo hari yang sedikit tertutup rambutnya, tangannya juga masih di perban. Tapi luka-luka itu nyatanya tidak mengurangi kharismanya sedikitpun. Louise sama sekali tak perduli dan sangat percaya diri membiarkan orang-orang melihat penampilannya yang seperti itu.


Baik itu orangtua Arthur maupun orangtua Alexa, keduanya langsung menyambut Louise dan William setelah mereka memasuki aula. Setelah cukup berbasa-basi mereka pun masuk lebih dalam, menyapa tamu lain yang mayoritas adalah rekan bisnisnya. Saat itulah Oskar yang masih berada di gendongan Jordan melihat Louise dari kejauhan, lalu dengan lantang mengatakan, "Daddy?" katanya senang.


Beberapa tamu yang mendengar melihat kearah mereka. Mulai bertanya-tanya, apakah Jordan sedang menggendong cucunya, anak dari Presdir Louise?


Louise terkejut, tapi tidak dengan Jordan, Rose dan Nenek Anne. Mereka terlihat senang saat Oskar memanggil Louise dengan sebutan daddy, "Oskar, menurutmu siapa yang lebih keren. Pria yang menuju kemari itu, atau pria yang menyuapimu makan dan jalan-jalan yang kau ceritakan itu?" tanya Rose.


"Nenek, tapi orang yang menyuapiku makan dan mengajakku jalan-jalan adalah orang itu," jawab Oskar sembari menunjuk ke arah Louise.


"Sama?" tanya Jordan heran.


"Eum," jawab Oskar.


"Ma, sejak kapan anakmu itu perhatian pada anak kecil?" tanya Jordan.


"Mana mama tahu, Pa!" jawab Rose tak kalah heran.


"Kalau begitu, sekarang kau resmi jadi cicit nenek buyut. Karena pria itu cucuku," kata Nenek Anne senang.


"Apa kau mau?" tanya Rose, yang dijawab Oskar dengan menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.


Sementara itu, William yang sejak tadi bersama Louise menoleh kesana-kemari, kemudian pergi juga setelah melihat Ebra yang memanggil namanya, "Dimana keluargamu?" tanya William kepada Ebra.


"Mama belum turun," jawab Ebra kemudian menggandeng William dan pergi ditengah kerumunan. Meninggalkan Louise yang masih sedikit salah tingkah karena Oskar memanggilnya daddy di hadapan semua orang.


Sebuah pertanyaan yang membuat ketiga orang itu membeku di tempatnya, "Louise, apa maksudmu. Tentu saja kami kenal, dia kan,-" Rose tidak melanjutkan kalimatnya karena Oskar sudah memotong pembicaraannya.


"Daddy, ayo!" ajak Oskar sembari menarik tangan Louise.


Lagi-lagi Louise harus salah tingkah karena Oskar terus-terusan memanggilnya dengan sebutan daddy. Tapi tetap saja tidak bisa membuatnya marah, "Kemana?" tanya Louise mengalah.


"Menjemput mommy," jawab Oskar.


"Eng, kenapa membawa paman menjemput mommy?" tanya Louise.


"Apa daddy tidak ingin melihat mommy?" tanya Oskar polos.


"Oskar, apa yang kau katakan?" tanya Louise.


"Kenapa masih tidak pergi juga?" tanya Rose.


Louise tidak segera menjawab tapi mendekati mamanya dan berbisik pelan, "Ma, tolong jaga anak ini. Aku mau pergi mencari Joanna."


"Mencari Joanna?" tanya Rose.


"Aku melihat mobilnya diluar," jawab Louise. Sebenarnya, bahkan dia sudah meminta pengawalnya untuk pergi ke resepsionis dan mencari tahu dikamar nomor berapa Joanna tinggal. Tak lupa meminta kunci cadangan untuk berjaga-jaga.


"Louise, apa kau tidak tahu siapa ibunya Oskar?" tanya Rose dengan ekspresi tidak percaya.


"Tentu saja tidak, sebenarnya Oskar bilang ibunya mengundangku makan. Hanya saja aku terlalu sibuk," jawab Louise.


"Louise, kenapa kau sangat bodoh?" tanya Rose ketika mendengar apa yang Louise katakan.


"B-bodoh?" protes Louise. Dan itu membuat ketiga keluarganya geleng-geleng kepala.


"Daddy, ayo!" ajak Oskar lagi.


"Oskar, mommymu bisa marah kalau kau terus memanggil paman dengan sebutan seperti itu," keluh Louise.


"Marah?" tanya Oskar.


"Eum," Louise mengangguk.


"Kenapa mommy marah. Bukannya daddy dan mommy sudah berpelukan?" tanya Oskar.


Mata Louise membesar mendengar kalimat Oskar, kapan dia memeluk ibunya?


"Oskar, jangan berbicara sembarangan," kata Louise panik.


"Daddy, aku tidak sembarangan. Aku melihatnya kok," ucap Oskar sungguh-sungguh.


"Kapan, dimana?" tanya Louise penasaran. Begitupun dengan ketiga orang yang saat ini memasang telinga mereka baik-baik.


"Di depan rumah," jawab Oskar jujur.


"Oskar, mungkin itu bukan paman. Paman sudah lama tidak pergi ke rumahmu," bela Louise.


"Tapi aku melihatnya. Daddy, daddy tidak hanya memeluk mommy tapi mencium mommy juga," kata Oskar berapi-api.


Dengan cepat, Louise membungkam mulut Oskar. Tidak membiarkan anak itu berbicara sembarangan lagi di hadapan orangtuanya atau mereka akan mengatainya sebagai drakula atau semacamnya lagi.


"Berandalan, apa kau berbuat mesum di depan anak kecil?" tanya Rose geram.


"Ma, bukan seperti itu," kilah Louise.


"Daddy, ayo!" paksa Oskar.


"Oskar, tapi paman akan pergi mencari seseorang dulu," tolak Louise.


"Kalau begitu Oskar ikut," rayu Oskar tak mau mengalah.


"Louise, bawa saja dia. Karena kalau dia bersamamu, Joanna tidak mungkin menolakmu," bisik Jordan.


"Kenapa begitu?" tanya Louise.


"Karena dia imut," jawab Jordan asal. Lalu pergi dengan membawa istri dan ibunya. Meninggalkan Louise yang hanya berdua dengan Oskar.


Louise akhirnya mengalah, menggendong Oskar dengan satu tangannya dan bergegas pergi. Kamar nomor 1068 adalah tujuannya saat ini.


"Paman, kamarku dan mommy juga di lantai ini," kata Oskar saat mereka keluar dari lift.


"Benarkah?" tanya Louise.


"Eum," jawab Oskar.


Louise tidak berbicara lagi, karena yang ada di kepalanya saat ini hanya Joanna dan Joanna saja. Pintu itu sudah ada di depan matanya. Lalu tanpa permisi menggunakan kunci cadangannya dan membuka pintunya.


"Hei, bajingan. Kenapa kau memasuki kamar seorang gadis sembarangan?" tanya seorang pria yang kebetulan sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang penuh tanda tanya. Sepertinya dia baru saja akan keluar dari kamar itu.


"Brengsek, apa yang kau lakukan disini?" tanya Louise dengan ekspresi yang tak kalah serius.


"Paman Arthur!" kata Oskar polos.


"Oskar, kau kenal dengan pria brengsek ini?" tanya Louise dan Arthur bersamaan.


...***...