
"Apa kau tidak malu dilihat orang seperti ini nanti?" tanya William.
Meskipun terus mengoceh karena malu, tapi nyatanya William tetap menggendongnya menuju aula.
"Will, jangan mengeluh terus. Kapan lagi kau punya kesempatan menggendong wanita cantik sepertiku?" kata Joanna.
William menghela nafasnya. Kemudian menjawab pertanyaan Joanna hanya dalam hatinya, "Kesempatan itu sudah datang di malam pengantin kita. Aku bahkan sudah menciummu. Ah bukan, aku harus meralatnya. Yang benar adalah bukan aku yang menciummu, tapi kau yang menciumku. Lalu aku hanya membalasnya karena sempat tergoda," batin William.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak takut darahmu merembes jika aku menggendongmu seperti ini?" tanya William.
"D-darah apa. Apa aku berdarah. Apa itu masih keluar?" tanya Joanna.
"Bukannya kau sedang datang bulan?" jawab William.
"Apa?"
"Aku melihatnya sekilas di sprei saat kau pergi mandi tadi pagi," jawab William.
"William, kenapa kau bodoh! Itu bukan darah datang bulanku tapi darah perawanku!" batin Joanna.
Mereka semakin dekat ke aula. Suara sol sepatu itu bahkan bisa di dengar anggota keluarga yang mulai berkumpul dan menarik perhatian mereka.
Anye, salah satu kandidat penerus terkuat itupun juga melihat kearah Joanna dan William dengan tatapan tidak suka.
"Jika aku tahu kakak sepupuku setampan itu, aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan Nona dari Kota Utara bernama Joanna itu. Atas dasar apa dia menjadi istrinya. Apa hanya karena mereka tunangan masa kecil? Joanna, lihat saja. Aku akan menggunakan segala cara untuk memisahkan kalian. William hanya boleh jadi milikku seorang," batin Anye.
Anye bangkit dari duduknya. Segera melangkahkan kakinya dan menyambut keduanya.
"Kakak sepupu, kau tidak harus menggendong istrimu seperti ini di hadapan semua orang bukan?" tanya Anye.
Joanna tersenyum, hanya dengan melihatnya sekilas saja dia tahu ada api kecemburuan yang terpancar dari sorot mata gadis yang saat ini sudah berdiri di depannya.
"Itu bukan urusanmu!" jawab William kemudian menurunkan Joanna dan membiarkannya duduk di kursi.
"Kakak sepupu, tidak bagus terlalu memanjakan istrimu," tegur Anye.
"Masalahnya aku sangat suka memanjakan istriku," bela William.
Anye melirik Joanna, kemudian tersenyum meremehkan, "Hanya wanita seperti ini kenapa bisa disukai banyak pria tampan. Apa hebatnya dia. Meskipun dia seorang putri bangsawan, tapi sepertinya dia sangat tidak berguna sampai tidak ada informasi apapun yang terdeteksi di kolom pencarian di internet," batin Anye.
Anye salah. Joanna bukannya tidak berguna. Sebenarnya dia sangat berguna dan berbakat. Hanya saja Edgar menghapus semua ulasan yang berkaitan dengan Joanna di internet sejak dia diusir dari Kota Utara bertahun-tahun yang lalu sampai tidak ada satupun yang tersisa.
Sehingga tidak ada informasi apapun yang orang awam ketahui tentang Joanna selain kehidupannya setelah kecelakaan. Orang awam hanya tahu Joanna seorang putri yang terbuang. Bertahun-tahun amnesia dan membesarkan seorang anak laki-laki dengan profesinya sebagai pemilik toko kue.
"Joanna, apa kau berani bertanding denganku?" tanya Anye.
Tidak berguna, tidak memiliki bakat. Anye hanya ingin melihat Joanna ditertawakan di depan umum. Lalu membuat Joanna terlihat sangat memalukan sampai William mengabaikannya. Kemudian, pelan-pelan dia kan merebut hatinya.
"Kenapa aku harus bertanding denganmu?" tanya Joanna.
"Tentu saja untuk menyambut kedatanganmu. Joanna, kalau kau setuju aku akan meminta Tetua Utama untuk mengadakan beberapa acara bakat yang akan diikuti putri-putri bangsawan. Bagaimana?" tanya Anye.
"Saudari Anye, apa tujuanmu sebenarnya?" tanya William.
"Kakak sepupu, aku hanya ingin dia menunjukkan bakatnya. Karena dia menjadi istrimu, dia seharusnya bukan wanita dengan bakat yang biasa-biasa saja kan?" jawab Anye.
"Aku melarangnya!" tolak William.
"Kakak sepupu, sampai kapan kau terus memanjakannya seperti ini. Acara bakat adalah acara yang biasa di selenggarakan disini. Dia tidak akan mati hanya karena ini," kukuh Anye.
"Apa yang terjadi. Kenapa kalian ribut-ribut disini?" tanya Tetua yang kebetulan mendengar keributan mereka dan menghampirinya.
"Tetua, aku hanya ingin Nona Joanna ini bersedia mengikuti acara bakat bersama dengan putri-putri bangsawan yang lain. Dia adalah istrinya kakak sepupu yang terhormat, bukankah sudah sepantasnya dia menunjukkan talentanya agar putri-putri bangsawan lainnya menjadikannya panutan?" jawab Anye.
"Maafkan aku,Tetua! Tapi aku melarangnya," kata William.
"William, apa yang dikatakan Anye ada benarnya. Lagipula dengan mengikuti acara bakat istrimu bisa mulai berbaur dengan mereka dan menunjukkan kemampuannya," kata Tetua.
"Tapi,-"
"Suamiku, jangan bicara lagi. Aku sudah memutuskannya," potong Joanna.
"Joanna?"
"Bukan masalah," kata Joanna yakin.
"Kapan kau siap, Nona Joanna? Jangan bilang aku tidak memberikan waktu agar kau bisa berlatih," tanya Anye.
"Aku siap kapanpun juga. Tapi, bisakah menungguku pulih?" tanya Joanna.
"Pulih?" tanya Anye heran.
Joanna memberikan isyarat agar Anye mendekat. Meskipun ogah-ogahan tapi dia tetap mendekatkan dirinya karena Tetua mengangguk sebagai isyarat agar dia mendekatkan dirinya.
"Nona Anye, kau tahu sendiri kan bahwa aku ini pengantin baru. Aku masih perawan dan semalam suamiku minta dipuaskan sampai pagi sampai aku tidak bisa berjalan. Bayangkan jika milikmu yang masih perawan ditusuk berkali-kali semalaman, bukankah kau perlu waktu untuk pemulihan?" bisik Joanna.
"Kau, kenapa kau mengatakannya?" tanya Anye. Dia sangat ingin marah. Apa Joanna berniat membuatnya cemburu?
"Aku hanya menjelaskan apa yang terjadi sampai aku meminta waktu untuk memulihkan diri," jawab Joanna.
"Baiklah, acaranya akan dilaksanakan saat kau pulih," kata Anye.
"Tetua, apa tidak ada hadiah untuk pemenangnya?" tanya Joanna.
"Tentu saja ada," jawab Tetua.
"Apa?" tanya Joanna.
"Pemenangnya akan diberikan gelar Putri Berbakat dan sertifikat. Tidak hanya itu mereka juga akan diberikan sebidang tanah yang cukup luas dan jabatan tinggi di salah satu perusahaan kami," jawab Tetua.
"Tetua, Maaf! Aku bukannya menyombongkan diriku. Tapi aku benar-benar tidak mengharapkan hadiah yang seperti itu. Suamiku ini sangat kaya, ayahku pun juga kaya. Mereka bisa memberikanku yang lebih banyak dari itu bahkan tanpa aku bersusah payah. Maksudku, jika orang lain yang menang Tetua bisa memberikan hadiah itu untuk mereka. Tapi jika aku yang menang, bisakah mengijinkan aku pergi berbulan madu dengan suamiku?" pinta Joanna.
"Bulan madu?" tanya Anye.
"Memangnya kau ingin berbulan madu kemana?" tanya Tetua.
"Ini rahasia," jawab Joanna.
"Bagaimana kami bisa mengatur semuanya jika kau tidak mengatakannya?" tanya Tetua.
"Tetua, Anda hanya perlu memberikan kami ijin sepuluh hari saja. Lalu dibiarkan suamiku akan mengurus sisanya," jawab Joanna percaya diri.
"Kau bahkan belum bertanya pada kakak sepupu apa dia setuju denganmu," potong Anye.
"Nona, suamiku ini sangat mencintaiku. Dia pasti akan memenuhi semua permintaanku," kata Joanna.
"Baiklah, kau bisa pergi berbulan madu jika kau menang. Ingat, tidak ada sedikitpun uang yang akan kami keluarkan untuk kalian," kata Tetua.