CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Datang dan Pergi Sesuka Hatimu



Joanna hanya memandangi layar ponselnya yang menyala karena panggilan dari Arthur. Bukannya menjawab, Joanna malah menggeser warna merah kemudian menonaktifkannya.


"Arthur, apa Alexa sudah memberitahumu apa yang ku katakan padanya?" batin Joanna, "Maaf, kali ini aku akan menyelesaikan masalahku sendiri. Ini bukan masalah besar kok," kata Joanna percaya diri.


Di seberang jalan restoran mewah itu, Joanna mempersiapkan diri. Menata hati dan pikirannya untuk menerima sumpah serapah yang mungkin akan keluar dari mulut Louise nanti. Pria yang baru dikenalnya beberapa hari, tapi sukses mengambil lebih banyak ruang di bagian hatinya.


Status dan kasta, Joanna sangat paham seberapa jauh perbedaan mereka dan itulah yang memberinya lebih banyak keberanian untuk segera mengakhiri semuanya, "Setelah aku mengembalikan ini, seharusnya semuanya akan baik-baik saja," kata Joanna sembari melihat sebuah tentengan berisi selembar jas milik Louise yang harganya mencapai miliaran rupiah.


Sekali lagi, Joanna memperbesar harapannya. Melihat langit malam dengan menghirup nafas yang panjang, berharap bintang-bintang yang bersinar diatas sana turut membantunya. Berharap, Louise itu memberikan kebebasannya setelah ini.


"Tidak ada gunanya mengkhawatirkan ini sekarang. Karena sudah disini, aku tidak bisa mundur lagi. Nanti, kalau Louise marah, aku hanya perlu mendengarkannya saja. Lalu, kalau dia membunuhku, berarti aku hanya akan mati saja. Tidak masalah, aku tidak membawa Xiao O bersamaku. Jadi dia akan aman," gumam Joanna sembari melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran yang sudah Louise tentukan sebelumnya.


"Ck, apa dia berencana membuatku bangkrut sebelum aku mati. Berapa puluh juta yang harus ku keluarkan untuk mentraktirnya makan di restoran semewah ini," gerutu Joanna.


"Nona Matthew?" sapa dua orang pengawal ketika melihat Joanna mendekati pintu masuk. Mereka mengenali Joanna karena mereka pernah melihat Joanna satu kali saat Joanna diboyong Louise ke villanya tempo hari.


"Kalian berbicara denganku?" tanya Joanna, "Aku bukan Nona Matthew," lanjutnya. Sepertinya Joanna lupa siapa dua orang itu. Terlalu banyak pengawal, jadi mana mungkin Joanna mengingatnya.


"Nona, Tuan Muda Matthew meminta kami untuk menyambut Anda," kata pengawal, "Mari, kami akan menunjukkan jalannya!" lanjut pengawal tanpa mengindahkan kalimat Joanna sebelumnya.


Joanna mengikuti dua pengawal itu pergi. Setelah beberapa menit berjalan, dia melihat Louise sudah duduk manis di tempatnya dengan diiringi suara musik sebagai latar.


"Dia, kenapa semakin cantik dari hari ke hari?" batin Louise saat melihat Joanna datang.


Dengan mengenakan dress dibawah lutut berwarna gelap yang kontras dengan kulitnya. Lalu membiarkan rambutnya tergerai bebas dengan pita ukuran sedang di belakangnya membuat Joanna cantik maksimal layaknya seorang putri dari kerajaan.


"Sayang, kau terlambat selama lima menit. Katakan, hukuman apa yang kau inginkan?" tanya Louise dengan menopang dagu ketika Joanna mendekat.


"Kenapa kau sangat perhitungan?" tanya Joanna. Lalu segera duduk setelah seorang pelayan menarik kursi dan mempersilahkannya.


"Apa kau tahu, dalam waktu lima menit ada banyak hal yang bisa ku dapatkan, terlebih saat bersamamu," jelas Louise. Lima menit, daripada waktu selama itu digunakan untuk menunggu, bukankah lebih baik jika digunakan untuk memeluk Joanna kesayangannya?


"Jangan berpikiran mesum. Tapi aku benar-benar minta maaf karena datang terlambat," ucap Joanna.


"Kemarilah!" pinta Louise.


"Kenapa?" tanya Joanna tidak mengerti. Baru juga duduk, kenapa dia harus bangkit lagi.


"Tentu saja memelukku. Bukankah kau merindukanku, apa kau lupa apa yang kau katakan beberapa hari yang lalu?" jawab Louise mengingatkan.


"Louise, aku hanya bercanda," jelas Joanna, disisipi dengan senyuman tipis yang canggung. Tentu saja dia berbohong, karena sebenarnya dia memang mulai merindukan Louise, tapi sekali lagi diingatkan oleh kenyataan bahwa dia bukan siapa-siapa.


"Joanna, apa perasaanku untukmu selalu kau anggap sebagai sebuah candaan?" tanya Louise.


"Louise, bisakah berhenti berdebat denganku?" tanya Joanna.


"Bisa," jawab Louise, kemudian bangkit dan mendekati Joanna. Menarik tangannya agar Joanna berdiri dari duduknya kemudian langsung memeluk tanpa meminta persetujuannya, "Aku merindukanmu," katanya.


Joanna tersenyum tipis, menikmati kebaikan hati Louise sebelum dia menceritakan rahasianya. Perasaan ini, sungguh membuatnya merasa nyaman. Dan mungkin ini pelukan terakhirnya.


"Joanna, apa aku sedang memeluk sebuah patung. Kenapa kau tak membalas pelukanku?" protes Louise saat Joanna hanya diam saja.


"Apa yang kau lakukan. Meskipun ini ruang VIP, tapi begitu banyak pengawalmu yang melihat. Apa kau tak malu?" tanya Joanna.


"Kenapa harus malu, hanya pelukan saja seharusnya tidak masalah. Lagipula mereka mendukung kita kok. Tunggu, apa maksudmu barusan. Apa kau baru bilang aku bebas memelukmu jika tidak ada orang yang melihat?" jawab Louise. Bukannya melepas, tapi malah memeluk erat dan menyesap aroma Joanna dalam-dalam.


"Louise, bukan seperti itu maksudku. Kenapa kau selalu salah paham?" kata Joanna, kemudian mendorong Louise yang masih ingin memeluknya, "Aku kemari tidak hanya untuk mentraktirmu makan. Tapi untuk mengembalikan jas milikmu juga," kata Joanna sambil menyodorkan barang yang sempat dia letakkan di kursi di sebelahnya.


"Bukankah aku sudah bilang tidak perlu mengembalikannya?" kata Louise.


"Mana boleh begitu. Ini, ku kembalikan padamu. Terimakasih sudah membantuku waktu itu," kata Joanna. Mengambil tangan Louise dan memaksanya menerima kembali jas miliknya.


Karena tidak ada pilihan, Louise pun menerima kembali jas itu. Tapi segera meletakkannya secara asal setelah melihat sebuah goresan ringan di tangan Joanna, "Apa yang kau lakukan. Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Louise.


"Aku kurang berhati-hati saat membuat kue. Jangan khawatir, ini hanya luka kecil," jawab Joanna.


"Kue?" tanya Louise.


Joanna mengangguk, "Itu pekerjaanku."


"Aku kira kau membuatnya untukku. Joanna, aku baru tahu kau sangat pelit. Kenapa tidak membawa beberapa untukku?" tanya Louise.


"Apa kau ingin mencobanya?" jawab Joanna.


"Tentu saja. Aku bisa makan apapun yang kau berikan. Tapi, jika selama pembuatannya bisa melukaimu atau membuatmu lelah, aku memilih membelinya di tempat yang lain untuk dimakan bersamamu," kata Louise.


"Oh, benarkah?" tanya Joanna.


"Eum. Joanna, berhentilah bekerja!" pinta Louise.


"Apa yang kau katakan. Apa kau pikir aku tidak membutuhkan uang untuk hidup?" tanya Joanna.


"Joanna, aku tidak kekurangan uang. Aku bisa menafkahimu sebanyak yang kau mau. Jadi menikahlah denganku, saat jadi istriku satu-satunya pekerjaanmu adalah menghabiskan uangku," pinta Louise.


"Kurasa itu menyenangkan, seseorang yang akan jadi istrimu pasti sangat beruntung," kata Joanna.


"Jangan bercanda, orang itu adalah kau, bukan yang lain," kata Louise sambil membenarkan anting Joanna yang sempat tersangkut di rambutnya.


"Louise, aku ingin duduk. Apa kau tak lelah berdiri terus?" tanya Joanna.


"Lelah? Kita baru berdiri selama lima menit. Apa kau tidak pernah upacara sewaktu sekolah?" tanya Louise.


"Aku lupa," jawab Joanna.


"Baiklah, kalau begitu duduklah dan pesan apapun yang kau mau," pinta Louise.


"Apa yang kau katakan. Aku sudah bilang aku yang akan mentraktirmu. Jadi pesanlah apapun yang kau mau," protes Joanna.


"Kenapa kau menolak aku menjemputmu?" tanya Louise.


"Aku bisa kemari sendiri, Louise!" jawab Joanna.


Joanna yang duduk dihadapan Louise saat ini sepertinya sedikit berbeda dari sebelumnya, membuat Louise sedikit terganggu. Pasti ada yang salah, begitulah apa yang dia rasakan. Terlebih saat Joanna mengatakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Louise sudah menunggu, tapi Joanna belum juga mengatakannya. Apa dia lupa?


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Joanna.


"Tidak," jawab Louise.


Kebetulan, menu yang mereka pesan mulai berdatangan dan memenuhi meja bundar itu.


"Bolehkah aku mulai makan, aku sudah lapar," ijin Louise. Mencoba tak menghiraukan prasangka buruknya. Lagipula, makanan itu akan semakin dingin jika tak segera dimakan.


"Tentu saja, mereka di beli untuk dimakan, Louise."


Tiga puluh menit berlalu, mereka makan tanpa bersuara bahkan meskipun telah meninggalkan restoran dan kini telah duduk bersama di tepi pantai berpasir.


Di hadapan deburan ombak pantai, dan semilir angin malam, seharusnya membuat suasana romantis seperti pasangan lain di sepanjang bibir pantai itu. Tapi, tidak dengan Joanna dan Louise yang masih sama-sama membisu. Mereka berada di tempat yang sama, tapi sibuk dengan dunianya masing-masing. Louise yang masih setia menunggu apa yang ingin Joanna katakan, dan Joanna yang masih mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan.


Dari tempatnya duduk, Louise merasa ada yang salah. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk. Karena dari kejauhan, samar-samar dia melihat seorang wanita dan beberapa pria berbisik kepada seorang anak kecil dan menunjuk ke arah Joanna setelah memberikan semacam instruksi, "Mengganggu Joannaku, benar-benar cari mati," batinnya


Benar saja, tidak lama berselang anak kecil seusia Oskar itu mendekat. Memperagakan akting nelangsa kepada Joanna seolah kehilangan ibunya dan meminta Joanna membantunya. Joanna tersentuh, membayangkan bagaimana jika Oskar mengalami hal seperti ini. Untuk itulah dia bangkit, tapi ditahan oleh Louise, "Jangan pergi!"


"Louise, dia kehilangan ibunya."


"Disini ada begitu banyak orang, kenapa harus kau yang membantunya?" tanya Louise. Masih duduk dengan santai, tapi tangannya memegang lengan Joanna dan memintanya kembali duduk.


"Louise, dia hanya anak kecil. Apa, kau tidak kasihan?" tanya Joanna.


"Tidak!" jawab Louise singkat.


"Louise!" gumam Joanna.


Joanna tidak percaya dengan apa yang dilakukan Louise. Menolak menolong seorang anak kecil yang kehilangan ibunya di pantai malam-malam begini. Meskipun sebagai gantinya Louise menghubungi petugas dan menyerahkan anak itu kepada mereka, tapi tetap saja itu membuat keberanian yang di kumpulkan Joanna menguap entah kemana.


"Louise?" panggil Joanna pelan.


"Hm," jawab Louise singkat, menoleh kearah Joanna dan memberikannya tatapan yang penuh kasih sayang.


"Apa, kau tidak menyukai anak-anak?" tanya Joanna.


"Menurutmu?" tanya Louise balik.


"Sepertinya, kau tidak menyukai anak-anak," jawab Joanna.


"Iya, sebelumnya aku tidak menyukai anak-anak. Tapi belakangan ini ada satu anak yang kusukai. Dia sangat lucu, berusia sekitar lima tahun dan sangat tampan. Apa kau ingin melihatnya, kau pasti akan menyukainya nanti," tanya Louise.


"Aku, tidak mau!" jawab Joanna.


"Jadi, apa kau juga tak menyukai anak-anak?" tanya Louise.


Joanna tidak menjawab pertanyaan Louise. Anak-anak ya? Tentu saja Joanna menyukainya. Tapi, kenapa Joanna harus menemui anak yang Louise suka. Dia kan sudah memilikinya, Oskar kecilnya yang manis. Anak itu, selamanya adalah yang paling lucu dan menggemaskan dimata Joanna.


"Louise, ada yang ingin ku katakan," kata Joanna kemudian.


"Aku sudah menunggunya sejak hari itu, tapi kau tak kunjung mengatakannya. Aku pikir kau lupa," jawab Louise.


"Aku bukannya lupa, hanya saja aku takut kau akan marah," kata Joanna.


"Aku akan lebih marah jika kau menunda lebih lama lagi," ujar Louise.


Sebenarnya Joanna sudah siap, ingin sekali mengatakan bahwa dia memiliki seorang anak. Tapi lidahnya menjadi kaku saat Louise mengatakan tidak menyukai anak-anak selain satu anak yang Louise ceritakan. Sehingga yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang lain, "Aku sudah memenuhi janji mentraktirmu makan bukan?" tanya Joanna.


"Eum," jawab Louise.


"Kita sudah tidak saling punya hutang," kata Joanna.


Louise tak menjawab apapun karena tidak mengerti apa maksud Joanna mengatakan seperti itu, "Lalu?"


"Saatnya mengakhiri semuanya," jawab Joanna.


"Bisakah kau menjelaskan intinya?" tanya Louise.


"Sebaiknya, kita tidak usah bertemu lagi di masa depan," jawab Joanna.


"Kenapa?" tanya Louise.


"Karena urusan kita sudah selesai, bukankah begitu?" jawab Joanna.


"Apa hanya ini yang ingin kau katakan?" tanya Louise.


"Eum, hanya itu," jawab Joanna.


Setelah percakapan itu, keduanya kembali saling diam. Mencerna apa yang baru saja terjadi. Louise, dia yakin ada alasan lain yang tidak di katakan Joanna. Sementara Joanna, dia lega karena sepertinya Louise tidak mempermasalahkannya, "Sepertinya semuanya berjalan lancar," batinnya.


"Sudah malam, aku akan pulang sekarang. Selamat malam!" kata Joanna. Dia bangkit, merapikan gaunnya dan bersiap pergi.


"Joanna, apa kau pikir kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu?" tanya Louise.


Joanna berbalik arah, melihat kembali Louise yang juga sudah berdiri dari tempatnya, "Kenapa tidak bisa?" tanya Joanna.


...***...