CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Apa Kau Mau Mengintip?



Joanna masih terlelap meskipun matahari sudah semakin tinggi. Begitupun dengan William yang tertidur pulas di sampingnya. Mereka sudah ada di rumah mereka sekarang. Tidur tanpa gangguan di kasur mereka yang lembut dan nyaman.


Lalu, sebenarnya kapan mereka pulang dan siapa yang menolongnya semalam?


Jadi, dini hari tadi saat William masih menghajarnya dengan banyak gaya, Joanna melihat lampu mobil yang semakin banyak di atas sana. Bukan hanya itu saja Joanna juga mulai mendengar suara ribut-ribut beberapa saat kemudian.


"Will, kapan kau akan berhenti. Apa yang orang katakan jika melihatmu melakukan ini padaku disini?" tanya Joanna terbata-bata.


Joanna meminta William menyudahi pertempuran mereka tapi apa gunanya bicara dengan seorang pria mabuk yang sedang bernafsu tinggi. Jangankan menuruti permintaannya, mendengarnya pun mungkin tidak. William bahkan lebih bergairah dari sebelumnya. Mungkin dia mengira Joanna sedang memberikan dukungan padanya sehingga dia langsung mempercepat gerakan untuk mengejar puncaknya.


"Kau ini, kenapa kau bisa menggila seperti ini hanya karena segelas alkohol. Memaksaku melakukan hal ini di tempat seperti ini. William, aku ini manusia bukan induk kucing yang bisa kau setubuhi dimana saja sesuka hatimu," batin Joanna dengan nafasnya yang semakin memburu.


Cacing dan semut di sela-sela tanah itu pasti sedang mengintipnya sekarang. Begitupun ikan-ikan kecil di kedalaman air sana. Setelah melihat ras manusia bercinta di alam terbuka seperti ini, mungkin mereka sudah mengucapkan sumpah serapah dengan bahasa hewannya sekarang.


"Akh!"


Datang lagi. Akhirnya apa yang dikejar William datang lagi. William meremas dua pepaya yang menggantung itu dengan gemas sementara bibirnya menjelajahi tengkuk Joanna dan menggigitnya yang membuat wanita itu meringis. Bagaimana menjelaskannya, bagaimana mengatakan rasanya menahan teriakan saat dia mendapatkan tusukan, gigitan dan remasan disaat yang bersamaan. Remasan itu bahkan sampai membuat beberapa tetes minuman bergizi milik Reagan menetes di atas rerumputan.


Joanna tersungkur ke tanah. Tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya sendiri setelah William kembali membawanya naik ke nirwana dari belakang sana. Tidak sendirian, karena William juga ikut-ikutan tersungkur dan menjadikannya kasur hidup dengan menindih tubuh belakangnya.


"Akhirnya selesai," batin Joanna.


Setelah mengatur nafasnya dan beristirahat beberapa saat, Joanna mulai menyingkirkan William. Lalu segera bangkit meskipun sempat sempoyongan. Tujuannya adalah sungai itu untuk membilas tubuhnya dan membersihkan sisa-sisa kotoran yang melumuri seluruh tubuhnya. Joanna melakukannya dengan cepat karena setelah ini dia harus segera memakai pakaiannya sebelum ada yang datang.


"Ayo cepat pakai bajumu, Will!" perintah Joanna.


Tidak hanya memerintah William, Joanna juga menyempatkan diri untuk menyeka tubuh William menggunakan sapu tangan kecil yang dia temukan di saku pria itu. Memastikan tidak ada cairan mencurigakan yang menunjukkan bekas pergulatan mereka di tubuhnya. Bersih atau tidak Joanna tidak tahu. Tapi yang pasti tidak ada bagian yang terlewat sedikitpun.


"Aku masih belum selesai!" kata William ngelantur.


"K-kenapa dia sudah bangun lagi?" batin Joanna ketika melihat belalai panjang milik William yang disinari cahaya bulan purnama.


"William, diatas ada orang. Lain kali saja main kuda-kudaannya," bujuk Joanna.


William tidak menjawab, tapi tidak bisa menahan untuk mencium dan menjelajahi Joanna sampai baju wanita itu tersingkap lagi. Padahal saat ini Joanna sedang sibuk membantunya memakai kemeja.


Joanna membiarkannya saja. Membiarkan William melakukan apapun sesuka hatinya. Asalkan William tidak bersuara itu sudah cukup karena Joanna sebenarnya juga tidak tahu apakah orang-orang yang sedang diatas sana itu musuh mereka atau bukan.


"Ayo!"


Joanna menarik William bersembunyi di balik pohon yang lebih jauh. Mengintip dari balik dedaunan meskipun William masih terus mencuri susu milik Reagan. Cukup lama Joanna bersembunyi disana. Memperhatikan dan mengamati orang-orang itu dari kejauhan.


"Jose?"


"Jose?"


"Nona Joanna?"


Akhirnya suara-sura itu datang juga. Itu adalah suara tiga orang yang sangat dikenalinya. Mereka adalah Sir Alex, Agria dan Okta yang datang untuk menolongnya.


Rupanya, setelah Okta kehilangan jejak dan tidak menemukan siapapun di rumah, dia langsung menghubungi Agria. Bertanya padanya apakah Joanna dan William pulang kesana.


Karena ternyata mereka tidak ada disana, jadi Okta kembali berputar-putar menyusuri jalan sebelum mereka kehilangan jejak Joanna. Sementara itu, Sir Alex dan Agria juga segera bergegas menyusul dan berpencar untuk mencari Jose mereka. Cukup lama mereka mencari sampai salah satu tim menemukan sesuatu yang salah. Mereka melihat sebuah jejak ban mobil yang menuju ke sungai.


.


.


.


"Apa ini sudah pagi?" batin Joanna.


Dia bangkit juga meksipun malas. Duduk dan mengusap wajahnya untuk mengumpulkan kesadarannya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Untungnya Agria sudah berpesan semalam, dia mengatakan dia dan Diaz akan menjaga Reagan hari ini agar Joanna bisa beristirahat. Jadi Joanna tidak perlu bangun pagi-pagi.


Joanna menoleh, melihat William yang masih belum bergerak dan melihat nafasnya sangat teratur. Entah apa yang sedang dia mimpikan tapi yang jelas pria itu terus-terusan tersenyum sekarang.


"Apa yang kau mimpikan, Will? Apa itu membuatmu senang. Semoga pria baik sepertimu akan bahagia selamanya," batin Joanna.


Setelah mengatakan itu, Joanna segera menyingkirkan kaki William yang membelit kakinya. Menyingkirkan tangan William yang memeluk pinggangnya dan bergegas ke kamar mandi. Beberapa kali dia sempat mengaduh saat air guyuran itu mengenai luka memar dan goresan kecil di beberapa titik tubuhnya akibat terjun ke sungai. Tapi meksipun begitu, itu tidak bisa menghentikan niatnya untuk mulai berendam.


"Aku harus bagaimana sekarang. Apa aku sudah menjadi wanita murahan. Menikah dengan William tapi melahirkan anak Louise dan kemarin malah bercinta dengan William. Kalau Louise tahu ini, apa yang akan terjadi?"


Joanna tersenyum sinis, lalu merendam seluruh tubuhnya di bak mandi yang sudah penuh busa. Seharusnya semua baik-baik saja. Memangnya apa yang akan terjadi padanya. Louise bahkan sudah tidak peduli dengannya jadi takut apa.


Sementara itu, William yang terus-terusan mendengar suara gemericik air akhirnya bangun juga. Mulai menggeliat dan pasti lupa akan percintaannya dengan Joanna semalam. Lalu tidak adakah yang dia ingat? Tentu saja ada. Jika ada sesuatu yang dia ingat, seharusnya hanya sampai saat dia keluar dari kediaman Keluarga Amber.


"Kenapa aku aneh?" batin William.


Dia merasa berbeda hari ini. Tubuhnya terasa sangat ringan seringan kapas. Dia juga selalu ingin tersenyum, entah apa yang membuat hatinya berbunga-bunga. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada perasaan lega seperti hilangnya sebuah beban yang memberatkannya selama ini.


"Apa karena aku minum segelas alkohol kemarin?" batin William dengan menyangga dagunya.


"Eum, tunggu. Siapa yang mengganti bajuku?" tanya William saat melihat dia sudah memakai piyama.


Alis pria itu terangkat. Kemana perginya setelan kemejanya kemarin. Siapa yang kurang ajar dan berani mengganti bajunya. Selama ini tidak ada orang yang dia ijinkan melakukannya. Jika ada, satu-satunya pria itu adalah Louise. Pria itu tidak hanya akan mengganti pakaiannya tapi juga menyeka tubuhnya.


"Apa dia kemari. Mungkinkah dia yang melakukannya?" tanya William saat mengintip boxernya dan melihat onderdil itu juga sudah berubah warna.


"Ah, kenapa kulitku lecet-lecet?" guman William lagi.


Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya apa yang terjadi semalam. Bagaimana dia pulang. Kenapa tubuhnya bisa lecet-lecet. Tunggu, apa dia mandi selagi tidak sadarkan diri dan keluar begitu saja tanpa mematikan keran air?


"Will, kau tidak boleh boros air!"


William bangkit juga meskipun masih penasaran. Mengabaikan rasa penasarannya yang masih tinggi dan bergegas ke kamar mandi. Kamar mandi yang luasnya hampir setara dengan kamar tidurnya, bahkan ada beberapa tanaman kecil dan air terjun mini lengkap dengan bebatuan kecil di bawahnya sebagai hiasan.


CEKLEK


Pintu itu akhirnya terbuka. William masih terus berjalan. Masih berjalan dengan santai tanpa beban sampai dia sampai di sumber suara dan menyibak kelambu tipis penghalang shower dan bak mandi tanpa permisi.


"Will, apa kau mau mengintip?"


...***...