CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Bobok Bareng



"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Joanna.


"Tentu saja membukanya," jawab Louise singkat tanpa melihat Joanna karena dia sudah sibuk dengan sebuah alat yang sebentar lagi akan dia setel menjadi on.


"Aku kan hanya ingin menciummu kenapa harus membuka baju?" protes Joanna dengan tatapan mengiba.


"Joanna, kau mau atau tidak?" tanya Louise.


"Aku tidak mau," tolak Joanna.


"Kalau kau tidak mau maka turun dari sana dan pergilah tidur. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman," usir Louise kemudian melipat tangannya di dada. Berpura-pura marah dan acuh untuk melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan Joanna.


"Louise?" keluh Joanna. Dia sangat ingin mencium Louise tapi kenapa ada saja halangannya?


Mulutnya memang mengeluh tapi tidak dengan tangannya. Joanna segera menegakkan badannya, tanpa mengeluh dan tanpa dipaksa dia menarik tali di pinggangnya sehingga piyama itu lolos dan terjun ke ranjang dengan sendirinya. Menampilkan bentuk asli dirinya yang udah Louise lihat beberapa kali tapi belum pernah menikmati seutuhnya.


"Begitu baru benar," puji Louise. Tersenyum dengan tatapan yang nakal tampilan Joanna yang hanya mengenakan bikini berwarna putih dan duduk di atasnya. Padahal, beberapa saat yang lalu Louise sudah siap turun tangan untuk melepas piyama itu dengan paksa jika Joanna tetap menolaknya. Tapi tidak disangka Joanna sangat penurut.


"Heh, berbicara dan meminta kepada Joanna yang sedang mabuk memang sangat menguntungkan. Sepertinya, lain kali aku harus sering-sering mengajaknya minum bersama agar aku bisa menikmati pemandangan indah ini tanpa harus dia ceramahi," batin Louise.


"Apa aku sudah boleh menciummu?" tanya Joanna dengan tatapan nanar. Satu tangannya sudah mendarat di perut Louise dan satunya lagi di pipi Louise.


"Tentu saja boleh, tapi tunggu dulu. Posisimu ini kurang benar."


Louise menarik Joanna lebih dekat kearahnya. Membuat Joanna duduk dan menindih juniornya.


"Ah," rintih Joanna ketika merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana.


"Ada apa?" tanya Louise.


"Aku merasa si imut menggemaskan yang hangat itu ingin menusukku. Apa dia marah karena aku ingin menciummu?" jawab Joanna.


"Dia tidak marah. Dia hanya mulai bangun saja. Ayo, kemarilah!" perintah Louise tidak lupa menekan tombol on pada alat yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Joanna pun mendekat, segera menyambar Louise yang sudah siap menyambut ciumannya.


Dua anak manusia dengan kesadaran yang berbeda itu mulai saling serang. Banyak menit telah mereka habiskan dengan bertukar ciuman dan sentuhan. Louise yang terampil dan Joanna yang amatir. Tapi perbedaan kelihaian itu tidak membuat mengurangi keindahan estetikanya.


Louise yang tertantang untuk membimbing Joanna hingga terbiasa, dan Joanna yang menuruti apa yang Louise katakan membuat semuanya terlihat sangat sempurna di ruangan dengan cahaya yang temaram.


Sampai Louise mengumpat kata 'Shiit' dan bangkit. Tidak cukup sampai disitu karena bersamaan dengan itu Louise membanting Joanna untuk berganti posisi. Kini, Louise berada diatas dan Joanna dibawah.


"Louise, kau jahat sekali!" tegur Joanna.


"Maafkan aku, aku akan pelan lain kali," kata Louise dengan senyum lebar yang sudah pasti tidak akan Joanna ingat lagi besok pagi.


Louise mengubah posisinya bukan untuk diam, tapi dengan semangat menyingkap bikini itu dan mempermainkan dua isinya sesuka hati yang membuat wajah Joanna memelas tapi terlihat sangat menggoda.


Tangan kecil itu memang sempat mendorong Louise tapi kembali menariknya beberapa saat kemudian. Sehingga membuat Louise kembali leluasa untuk menenggelamkan dirinya pada Joanna yang tidak menolak dan terlihat sangat menikmati.


"Louise, tolong!" kata Joanna memelas.


"Apa, apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu?" tanya Louise.


"Louise, bisakah kau melakukannya seperti waktu itu," jawab Joanna. Sepertinya kejujurannya sangat diapresiasi Louise meskipun dia mengatakannya saat mabuk berat.


"Sesuai permintaanmu. Tapi bagaimana denganku?" tanya Louise.


"Memangnya kau kenapa?" tanya Joanna.


"Si imut dan menggemaskan juga butuh kau puaskan, Joanna!" jawab Louise.


"Begini?" tanya Joanna. Memijit barang itu seperti beberapa hari yang lalu.


"Bukan seperti itu. Kalau hanya seperti itu aku sendiripun juga bisa," jawab Louise.


"Lalu bagaimana?" tanya Joanna.


"Tentu saja dia harus masuk 'rumahnya' kan. Apa kau keberatan dengan itu?" tanya Louise.


Joanna tersenyum, sedetik kemudian mempersilahkan Louise untuk melakukan apa yang dia inginkan dengan pose menggoda yang hanya diketahui oleh Louise bagaimana bentuknya, "Kalau begitu cepatlah!" jawab Joanna.


"Kenapa kau jadi tidak sabaran? Tapi, aku sangat menyukainya," puji Louise. Tanpa permisi lagi melepaskan perintilan Joanna sebelum melepaskan perintilannya sendiri. Setelah itu yang terjadi selanjutnya hanyalah Louise dan sang pencipta yang tahu. Tapi satu yang pasti Louise tidak melewatkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Dia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya memuaskan dirinya sendiri berkali-kali tapi juga memuaskan Joanna berkali-kali dan baru berhenti setelah hari sudah menjelang pagi. Membiarkan seluruh isi kamar itu menjadi saksi bisu dan sprei kotor itu sebagai buktinya.


.


.


.


"Louise?" lirih Joanna. Matanya masih tertutup rapat tapi mulutnya sudah memanggil nama Louise. Sepertinya dia tidur bersama Louise sampai alam mimpi.


Joanna membuka matanya secara perlahan. Dia tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, kepalanya masih berat. Tapi merasa aneh karena begitu bangun mulutnya langsung menyebut nama Louise.


"Ini bukan kamarku," gumam Joanna ketika melihat langit-langit kamar yang berbeda.


"Louise, kenapa kau disini?" ulang Joanna ketika melihat wajah Louise terpampang nyata dan sangat dekat saat dia menoleh.


Joanna membuka matanya lebar-lebar. Mencerna dengan baik apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa kali dia memukul ringan kepalanya yang penuh dengan alkohol. Lalu mematung seperti orang bodoh ketika merasa tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.


Joanna segera membuka selimutnya, melihat dengan mata kepalanya sendiri dan membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat tubuhnya sangat polos. Tidak, bukan hanya itu Joanna juga merasakan nyeri yang luar biasa di bawah sana.


Dengan sangat hati-hati Joanna bangun, mengintip sprei di bawahnya dan mendapati bercak darah dan banyak pola bekas perbuatan mereka semalam.


"Ini, apa yang terjadi. Apa aku sudah tidak perawan?" tanya Joanna pada dirinya sendiri.


Joanna menoleh, melihat Louise yang masih tidur dengan posisi tengkurap dan bernafas sangat teratur.


"Louise, apa kau memanfaatkan kesempatan saat aku mabuk?" batin Joanna dengan memegangi kepalanya.


Louise yang awalnya tidur nyenyak pun mulai menggeliat dan mengumpulkan kesadarannya karena pergerakan Joanna.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Louise dengan mata yang masih setengah terpejam. Kemudian mengubah posisi tidurnya yang awalnya tengkurap menjadi terlentang.


"Louise, apa yang terjadi. Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Joanna dengan jantung berdebar.


"Aku juga tidak tahu, aku mabuk semalam. Tapi aku ingat kau tidak melepaskan aku sama sekali dan memaksaku membawamu kemari," jawab Louise.


"Jangan bercanda. Aku ini wanita, mana mungkin aku memaksamu. Itu terlihat seperti aku ingin memperkosamu saja. Dan lagi aku ini sangat sopan," kilah Joanna.


"Tentu saja benar," jawab Joanna.


"Lalu lihatlah apa ini. Apa ini yang kau katakan dengan sopan?" tanya Louise dengan menunjukkan sisa-sisa keganasan Joanna.


Mata Joanna kembali membesar saat melihat tanda merah dan gigitan yang mengerikan di beberapa bagian tubuh Louise.


"L-Louise, kau apa yang kau lakukan? Kenapa mewarnai dirimu sendiri sampai seperti itu?" tanya Joanna dengan gugup. Mencoba menolak kenyataan bahwa dialah pelaku sesungguhnya.


Louise menundukkan kepala untuk melihat perutnya, kemudian tersenyum dan menyibak rambutnya, "Apa leherku sebegitu elastis sampai aku bisa menjangkau leher, dada dan perutku sendiri?" tanya Louise.


"S-siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Joanna.


"Menurutmu siapa lagi. Hanya ada kita berdua disini kan?" jawab Louise.


"A-aku?" tanya Joanna kaku.


"Bagaimana caramu mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini padaku, Joanna?" tanya Louise.


"Tanggungjawab?" tanya Joanna.


"Bukankah ini namanya kau memperkosaku?" jawab Louise.


"Bagaimana kalau kau yang sebenarnya memperkosaku?" tanya Joanna.


"Apa itu mungkin?" tanya Louise melihat tubuh toples itu sekali lagi dan memperhatikan dengan seksama.


Joanna pun melihat dirinya. Sangat bersih tanpa bekas apapun, "Apa aku benar-benar telah menidurinya?" batin Joanna dengan melihat Louise.


"Louise, aku ini juga korban. Kenapa aku yang harus bertanggungjawab. Maksudku, aku tidak tahu akan seperti ini. Tapi tunggu, katakan padaku apa itu berarti aku benar-benar sudah tidak perawan?" tanya Joanna.


"Apa kita benar-benar melakukannya?" tanya Louise sok berpura-pura.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya iya karena milikku sakit. Lihatlah, aku juga berdarah Louise?" jawab Joanna dengan menunjuk bekas darah di sprei.


"Maafkan aku, aku juga terlalu mabuk jadi tidak bisa menolakmu. Joanna tidakkah kau berpikir mungkin itu adalah balasan untukmu karena berani menipuku?" tanya Louise.


"Kapan aku menipumu?" tanya Joanna tidak terima.


"Nyaris sebulan kau menipuku soal datang bulan. Apa kau lupa?" kata Louise mengingatkan.


"Darimana kau tahu. Semalam pasti ulahmu. Kau yang tidak sopan mengintipnya atau sengaja melihatnya kan?" tanya Joanna.


"Joanna, aku tidak ingat dengan jelas. Tapi seingatku kau mengatakannya sendiri. Lalu tanpa tahu malu naik diatasku dan terus menciumku. Selebihnya aku tidak ingat," jawab Louise dengan tipuannya.


"Louise!" teriak Joanna pada akhirnya kemudian menggigit selimutnya.


"Apa kau marah?" tanya Louise kemudian memeluk Joanna.


"Kenapa aku melakukannya saat aku mabuk. Itu membuatku kehilangan momennya," jawab Joanna.


"Momen apa?" tanya Louise.


"Tentu saja momen saat aku berdarah-darah. Itu hanya terjadi sekali seumur hidup, Louise?" jawab Joanna.


"Kau tidak menyesal tidur denganku?" tanya Louise.


"Itu, tentu saja aku menyesal. Tapi lebih menyesal lagi karena aku tidak sadar saat melakukannya," jawab Joanna.


"Kau tidak marah padaku, kenapa?" tanya Louise.


Joanna menundukkan kepalanya, "Bagaimana aku bisa marah, sepertinya memang aku yang salah," jawab Joanna.


"Maafkan aku, Louise!" kata Joanna kemudian menyentuh bagian-bagian yang dia gigit semalam.


Louise menarik Joanna, memeluknya dan berbisik pelan, "Sudah terlanjur kan. Lagipula kau kan milikku. Apa harus menyesal. Ngomong-ngomong apa kau ingin melihat momennya. Kalau tidak salah ingat aku punya rekamannya."


"Louise!" teriak Joanna lagi, "Kau tidak mabuk semalam kan?"


"Aku mabuk. Tapi aku ingat merekam sesuatu di awal. Aku akan memeriksanya dan memperlihatkannya padamu sebagai bukti. Apa kau ingin nonton bareng?" tanya Louise.


"Louise!" teriak Joanna lagi dengan menggerakkan kakinya. Tapi berhenti secepatnya karena ngilu.


"Hei, jangan sembarangan bergerak seperti itu. Calon anakku yang baru kutitipkan semalam bisa pusing di dalam sana," tahan Louise. Kemudian mengelus perut Joanna yang rata.


"Ah, apa aku akan segera hamil?" tanya Joanna panik, "Bagaimana kalau aku hamil?" tanya Joanna.


"Berarti kau akan melahirkan anakku. Kau akan jadi ibu, aku jadi ayah dan Oskar akan memiliki seorang adik yang lucu. Sudahlah, jangan cemas. Ayahnya ada disini kan?" jawab Louise kemudian mencium Joanna.


Louise bangkit, mengambil sebuah alat perekam yang dia nyalakan semalam. Lalu memeriksanya dan menyerahkan hasilnya pada Joanna, "Ah, Joanna. Sepertinya kau yang memperkosaku," kata Louise.


"Biarkan aku melihatnya," kata Joanna. Lalu merebut alat itu dan melihat isinya.


Wajah Joanna merah padam. Dia melihatnya, melihat dirinya duduk diatas Louise dan menyerangnya dengan brutal selama beberapa menit.


Joanna segera menghapusnya tanpa melihat keseluruhan isinya karena terlanjur malu dan menutup perekam itu sebelum akhirnya menyerahkannya pada Louise.


"Joanna, apa kau menghapusnya?" tanya Louise.


"Memangnya kenapa, apa kau keberatan?" kata Joanna dengan tatapan seperti ingin membunuh Louise.


"Ah, tidak!" jawab Louise dengan cepat sebelum rubah betinanya marah.


"Louise, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau masih sempat merekamnya?" selidik Joanna.


Louise mematung di tempatnya. Sial, apa dia akan ketahuan. Seharusnya dia tidak ceroboh.


"Sudahlah, lebih baik ku katakan yang sebenarnya. Aku kasihan melihatnya seperti ini," batin Louise.


"Joanna, maafkan aku. Sebenarnya aku,-"


"Apa kau memiliki perilaku s eks yang menyimpang. Merekam sebelum melakukan hubungan suami istri?" potong Joanna.


"Apa?" tanya Louise tidak percaya.


"Joanna, aku ini sangat normal. Aku sengaja merekamnya hanya untuk mengerjai mu untuk memberimu pelajaran. Aku panik awalnya, takut kau melihat video itu hingga akhir. Tapi sepertinya kau sangat bodoh dan malah menuduhku memiliki perilaku menyimpang. Tapi ya sudahlah, begini juga bagus." batin Louise.


...***...