
Beberapa saat yang lalu.
Ting
Terdengar notifikasi di ponsel Louise. Louise yang saat itu sedang dalam perjalanan hanya meliriknya. Sebuah pesan diterima atas nama 'Junior Uwu'.
"Apa junior sudah membereskan mereka. Cepat sekali," puji Louise tanpa membuka pesan itu.
Louise mengabaikannya, lalu kembali fokus pada kemudinya. Tapi tidak kurang dari satu menit ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan lagi sebuah pesan, melainkan sebuah panggilan telepon dari orang yang sama. Setelah mengambil nafas panjang, akhirnya Louise mengangkatnya.
"Aku tahu kau hebat. Tapi tidak perlu pamer," kata Louise tanpa menunggu Junior berbicara.
"Senior, siapa yang pamer?" tanya Junior mulai kesal.
"Bukankah kau ingin pamer karena sudah melakukan tugasmu. Bagaimana, apakah semuanya sudah mati?" tanya Louise.
"Apanya yang mati. Senior, bagaimana aku bisa melakukan tugasku kalau adik iparmu masih di dalam sana. Apa kau ingin aku memanggangnya juga?" jawab Junior.
CKITT
Louise langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Wajah yang awalnya baik-baik saja itu kini berubah sangar. "Apa maksudmu?" tanya Louise.
"Ibunya Reagan ada di dalam sana sekarang?" jawab Junior.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Louise.
"Menurutmu apalagi, Senior. Kalau kau ingin melihat lebih jelas maka kemari dan lihatlah," jawab Junior.
"Aku mengerti," kata Louise.
Louise segera berputar arah. Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Keluarga Amber yang rencananya akan di bakar oleh junior kesayangannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Louise untuk sampai di tempat itu dan mengawasi semuanya.
Ya, Louise tahu semua yang telah dilakukan Joanna malam ini. Pria itu sudah menyerah sekarang. Benar-benar telah menyerah dengan sifat Joanna yang semakin tidak bisa dikendalikan. Dan disinilah Louise sekarang. Berdiri tepat di depan Joanna yang sedikit terkejut setelah melihat kedatangannya.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Joanna. Membunuh lagi?" tanya Louise dengan satu alis yang terangkat.
Suaranya memang pelan tapi bisa didengar Joanna dengan sangat jelas. Pria itu berdiri tepat di depan Joanna tanpa ekspresi. Memajang wajah datar nan dingin ditambah dengan sorot mata yang tajam. Meskipun begitu, Joanna tetap melihatnya dengan mendongakkan kepalanya.
Pertanyaan dan tatapan Louise itu jujur saja seolah sedang menguliti sekujur tubuh Joanna sekarang. Terasa sangat perih seperti menaburkan garam ke lukanya yang belum kering. Apa pria ini masih Louise yang dia kenal. Apa pria ini masih ayahnya Reagan. Seharusnya pria ini adalah orang yang sama, tapi kenapa tatapannya sudah tidak Joanna kenal.
Joanna tersenyum tipis, tidak lagi berani melihat lebih lama wajah seorang pria yang sepertinya jijik hanya untuk berdiri di depannya. Tapi tetap saja, meskipun semuanya sudah sangat asing masih tidak bisa menutup fakta bahwa memang pria inilah ayah dari bayinya.
Kemana perginya pria ini saat Joanna mencarinya. Apa saja yang dilakukan pria ini saat Joanna membutuhkannya. Dengan siapa pria ini menghabiskan waktunya saat Joanna dan anak-anaknya menunggunya. Kemana saja dia selama ini tanpa kabar. Kenapa baru datang sekarang dan setelah Joanna membunuh seseorang.
"Louise Matthew, apa itu benar dirimu. Kau kemana saja selama ini. Aku mencarimu tapi tidak pernah menemukanmu. Aku sangat merindukanmu," kata Joanna.
Joanna mendekat, ingin memeluk Louise dan menghirup aroma yang dia rindukan dari pria itu. Tapi mungkin hanya satu detik saja Joanna bisa menikmatinya. Hanya satu detik saja sebelum Louise mendorongnya dan harus rela kehilangan hangatnya pelukan yang dulu selalu dia dapatkan bahkan tanpa meminta.
Joanna menunduk. Sakitnya melahirkan anak masih membekas di sanubarinya. Melahirkan anak Louise tapi William yang sibuk menunggu dan mengurusnya sepanjang malam juga masih segar di ingatannya. Lalu inikah perlakuan dari seorang pria yang menabur benih itu?
"Joanna, bukankah aku sudah mengatakan padamu hari itu. Jangan membunuh lagi. Apa kau tidak mengerti bahasa manusia. Kenapa kau selalu saja keras kepala dan tidak menurut?" tanya Louise.
Joanna tersenyum. Setelah sekian lama menghilang, datang-datang sudah memarahinya dan tahu segalanya. Apa sebenarnya selama ini Louise selalu tahu apa yang dia lakukan. Apa Louise selalu mengirimkan mata-mata untuk mengawasinya meskipun Louise tidak menemuinya? Sudahlah itu tidak penting lagi. Kali ini Joanna mengibaskan tangan dan bajunya. Seolah membuang sisa aroma yang mungkin menempel saat dia memeluk Louise barusan.
"Salah satu dari mereka mencelakai Reagan. Lalu salah satu yang lainnya mencelakai aku dan William. Dulu kau bilang akan membereskannya pengganggu seperti itu untukku, jadi aku tidak perlu turun tangan. Tapi karena sekarang kau sudah tidak ada lagi untukku, kenapa aku tidak boleh membunuhnya?" tanya Joanna dengan memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"Apa kau baru saja menggunakan Reagan sebagai alasan untuk membunuh. Joanna, kenapa kau semakin liar dan tidak dapat dikendalikan?" sergah Louise.
Angin malam di atas tebing itu semakin kuat. Hembusannya membuat mantel yang dikenakan Joanna berkibar-kibar. Rambutnya bahkan sampai menutup lebih dari separuh wajahnya. Tapi meskipun begitu, rupanya masih tidak bisa menutupi pancaran kekecewaan Joanna atas kalimat yang baru saja Louise ucapkan.
Joanna mencoba tenang meskipun ingin mengamuk. Menyadari bahwa marah pada Louise sepertinya tidak ada gunanya lagi.
"Lalu aku harus bagaimana Louise Matthew. Apa aku harus menunggumu yang bahkan tidak mengangkat panggilan dariku. Apa aku harus terus mencarimu dan meminta ijin darimu untuk melakukan sesuatu. Aku tidak bisa menemukanmu akhir-akhir ini. Kau pergi kemana saja. Apa yang kau lakukan. Apa aku hanya boleh menerima perlakuan buruk mereka tanpa boleh membalas hanya karena kau tak ada. Apa kau tahu, aku bisa mati lebih dulu jika harus selalu menunggumu yang terus menghilang seperti itu," kata Joanna membela diri.
"Lalu apa gunanya William yang jadi suamimu, Joanna. Apa dia hanya kau jadikan sebagai pajangan saja selagi aku tak ada. Kenapa tidak membiarkannya mengurus hal sepele semacam ini. Joanna, apa kau lupa William itu siapa. Dia itu sama sepertiku. Jangankan dua manusia keturunan Amber, seluruh manusia di Bangsawan Timur pun William juga bisa menyingkirkannya asalkan dia tahu apa yang terjadi. Kenapa kau sangat suka mengotori tanganmu sendiri seperti ini. Tidak bisakah jadi ibu yang baik untuk dua anak itu. Apa kau tidak bisa mengatakan apa yang kau inginkan pada William. Tidak bisakah mempercayainya. Bukankah kau sendiri pun tahu, kalau kau mengatakan apa yang kau inginkan dia pasti tidak akan menolak permintaanmu. Bukankah seperti itu, Joanna? William tidak akan pernah mengatakan tidak untukmu kan?" cecar Louise.
"Meminta pada William?" tanya Joanna.
"Iya, meminta padanya," jawab Louise.
"Aku tidak ingin melakukannya," kata Joanna.
"Kenapa?" tanya Louise.
"Karena aku,-"
Apa yang harus Joanna katakan sekarang. Dia memang bisa memintanya tapi tidak ingin melakukannya. Dia hanya tidak ingin terlibat hubungan yang lebih dalam dengan William dan membuat semuanya semakin rumit.
Louise sempat membuang mukanya dan tersenyum sinis sebelum kembali mendekat dan melihat Joanna. Menyentuh dagu Joanna agar wanita itu melihatnya. Sebenarnya Louise tidak ingin mengatakan ini, sebenarnya Louise ingin berpura-pura tidak tahu tapi inilah kenyataannya. "Bukankah dia menyukaimu?" tanya Louise.
"Tidak!" jawab Joanna singkat kemudian mengalihkan pandangannya. Tapi Louise mencengkeramnya lebih keras sehingga tidak ada pilihan lain bagi Joanna selain melihatnya.
"Joanna, jangan kira aku tidak tahu. Dia mencintaimu kan? Katakan padaku sekarang apa kau juga mencintainya. Lalu apa yang kau sebut dengan hampir mati barusan. Memangnya apa yang terjadi sampai membuatmu mati. Apa bercinta semalam suntuk dengan William bisa membuatmu mati, Joanna?" tanya Louise dengan memperjelas suaranya di kalimat terakhir.
...***...