CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Broken Heart



Joanna kembali kerumah dengan hati yang goyah. Dia membuka pintu dengan pelan, berharap tidak ada siapapun disana. Untungnya rumah itu masih sepi, sepertinya Oskar masih belum kembali dari rumah Alexa, sementara Diaz seharusnya berada di salah satu toko kuenya.


Joanna bergegas ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Sisa-sisa tenaganya membawanya melangkah ke kamar mandi, melepas pakaiannya yang terkoyak dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu, mulai menyalakan keran air dan merendam dirinya ke dalam bak mandi.


"Akh," rintih Joanna ketika bibirnya tak sengaja bergesekan dengan air. Sepertinya Louise menggigit bibirnya hingga terluka.


Setelah perih itu reda, Joanna memeriksa anggota tubuhnya yang lain. Di balik rambut hitamnya yang terurai, Joanna bisa melihat tanda yang ditinggalkan oleh Louise, dan itu lebih banyak dari yang terakhir kali.


Joanna melipat kakinya, kemudian mulai menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya di bawah guyuran air. Menangis, Joanna tidak ingin. Tapi buliran itu jatuh juga meskipun tersamarkan oleh tetesan air yang mengalir dari atas kepalanya. Siapa yang melukai siapa, Joanna mulai ragu siapa pelakunya. Jika sebelumnya Joanna mengira dirinya-lah yang melukai Louise karena belum menceritakan tentang siapa dirinya dan bagaimana statusnya, lalu bukankah Louise sebenarnya telah melukainya lebih parah karena membuatnya sampai seperti ini?


Sebuah hal yang tak pernah Joanna lakukan selama ini. Setidaknya, sejak hari dimana Joanna ditemukan oleh Alexa hingga sampai saat ini, Joanna tidak pernah mendapatkan jamahan dari seorang pria manapun. Joanna selalu menjaganya, sampai ketika Louise menyelami bagian-bagian pribadinya ketika Joanna dibawa ke Villanya waktu itu.


Apa yang terjadi hari itu adalah kesalahan bersama. Tapi hari ini, itu murni kesengajaan Louise. Parahnya dia melakukannya hanya karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Joanna.


Joanna menenggelamkan dirinya ke bak mandi, bukan untuk bunuh diri. Dia hanya ingin berhenti bernafas sejenak di kedalaman air, berharap beban pikiran dan kesedihannya ikut terangkat bersamaan dengan kemunculannya di permukaan nanti.


Louise,


Seandainya saja kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan, mungkin akhirnya akan sedikit berbeda. Kau marah begitu tahu aku memiliki seorang anak, lalu kau lebih marah lagi ketika aku mengatakan bahwa aku pun tak tahu siapa ayah dari anakku. Sebenarnya, apa yang kau inginkan. Kau memaksaku mengatakan sebuah kejujuran tapi apa yang kudapatkan atas kejujuranku. Kau melakukannya lagi, membuatku seperti ini lagi. Apa ini yang kau sebut tidak akan marah?


Kau sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan bahwa aku kehilangan ingatanku. Kau hanya terus marah dan menuduhku sebagai wanita yang tak punya hati yang mempermainkan perasaanmu, lalu masih meragukan masa laluku. Apa kau tahu, ucapanmu itu membuatku terluka.


Louise,


Jujur saja, aku tak tahu masa laluku seperti apa. Aku pun juga sangat ingin mengingatnya tapi tak pernah bisa. Terlepas dari baik atau buruknya aku di masa lalu, bukankah aku memiliki kempatan untuk berubah dan berhak mendapatkan kebahagiaan. Tak bisakah kau memberiku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan. Tak bisakah kau memperlakukan aku seperti itu. Apa kau tahu betapa susahnya aku mencoba bertahan dari cemoohan orang karena itu Aku kira kau sedikit berbeda. Tapi inikah kau yang sebenarnya. Tidakkah kau terlalu egois, Louise?


Louise, sepertinya aku mulai membencimu. Akhirnya aku baru sadar, kesalahan terbesarku selama hidup adalah, bertemu dan memiliki sedikit rasa itu untukmu.


Joanna kembali menenggelamkan tubuh dan wajahnya. Dua menit di dalam sana, Joanna bisa. Bertahan untuk tidak bernafas selama itu di kedalaman air dan menikmati sensasinya adalah kebiasaannya ketika dia merasa lelah.


Dua menit, selama itu juga ponselnya terus berdering. Tapi Joanna enggan, dia memilih mengabaikannya dan merenungi apa yang dilaluinya akhir-akhir ini. Tak terhitung berapa banyak panggilan yang datang, ponsel itu terus bergetar hingga terjatuh ke lantai tepat di sebelah bak mandi. Joanna melihatnya, satu nama yang dia benci saat ini, Louise.


Joanna tersenyum nanar, mengambil ponselnya sebelum akhirnya melemparnya ke sembarang arah. Mengenai vas bunga yang sengaja di letakkan di sudut ruangan hingga membuat keduanya berbenturan dan pecah berserakan, "Selamanya, aku tidak ingin melihatmu, juga berbicara denganmu lagi."


Joanna segera bergegas, menyelesaikan mandi dan mengeringkan tubuh serta rambutnya. Lalu, segera merebahkan diri di kasur dan memejamkan mata. Sepertinya, dia sangat lelah. Sampai tidak memiliki sedikitpun empati untuk sekedar ingin tahu kenapa Louise menghubunginya.


Louise, ya?


Sepertinya Joanna salah paham. Karena sebenarnya itu bukan Louise, melainkan seorang petugas kepolisian yang mencoba menghubungi panggilan keluar dan masuk di ponsel milik Louise yang nyaris semuanya adalah Joanna. Karena saat ini, Louise sedang terbaring tak sadarkan diri. Berlumuran darah di ranjang pesakitan di dalam mobil ambulans yang membawanya ke rumah sakit, lengkap dengan alat bantu pernafasan yang menempel di tubuhnya. Meninggalkan mobilnya yang rusak parah karena oleng sebelum menabrak pagar pembatas.


.


.


.


"Berikan ponselku!" kata Louise sesaat setelah sampai di rumahnya. Meminta tolong pada Kepala Suh yang saat ini berdiri di sampingnya.


"Joanna, aku tahu aku salah. Aku ingin minta maaf. Tapi kenapa kau tidak bisa dihubungi selama tiga hari terakhir. Sial, ada apa denganku, kenapa tidak mempercayai kata-katanya dan membiarkannya menjelaskan hingga akhir kemarin," batin Louise menyesal.


"Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?" tanya Kepala Suh.


"Kepala Suh, tolong siapkan mobil. Aku ingin pergi ke rumah Joanna," pinta Louise.


"Tuan Muda, apa yang Anda katakan. Anda baru saja meninggalkan rumah sakit, Anda harus banyak-banyak istirahat," tolak Kepala Suh. Bukan tanpa alasan Kepala Suh melarangnya, tapi saat ini Louise masih harus menahan diri untuk tidak pergi karena cidera yang dialaminya. Kepalanya masih di balut perban, begitu juga dengan tangan kirinya yang retak.


"Apa satu tanganmu yang sehat itu juga ingin kau patahkan?" tanya William yang kebetulan baru masuk dan mendengar percakapan mereka.


"Will, aku baik-baik saja," kata Louise. Bersiap untuk pergi tapi meringis kesakitan dan kembali duduk karena tangannya yang terluka terbentur badannya sendiri.


"Setidaknya tunggulah tiga hari. Setelah itu terserah kau mau pergi kemana," omel William kemudian pergi begitu saja menuju bar.


"Ada apa dengannya?" tanya Louise kepada Kepala Suh.


"Sepertinya Tuan Muda William sedang patah hati, Tuan!" jawab Kepala Suh.


"Benar, Tuan!" jawab Kepala Suh.


Louise memijit keningnya, memikirkan kisah cintanya dan William yang nyaris sama.


.


.


.


Hari-hari berlalu, setelah William melihat Marissa menjemput Ebra waktu itu, William tidak pernah lagi melihat Marissa mewakili perusahaannya menghadiri rapat penting. William telah mencoba menghubunginya berkali-kali tapi sepertinya Marissa telah mengganti kartu teleponnya.


Pun dengan Louise, Joanna juga tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan rumahnya pun juga selalu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan setelah Louise meminta beberapa orang untuk memeriksanya.


Jika William sedang kacau-kacaunya, maka keadaan Louise pun tak jauh berbeda. Hari-harinya hanya dilewati dengan menembak dan menembak meskipun hanya dengan satu tangannya. Atau menghabiskan berbotol-botol alkohol bersama dengan William hingga subuh.


Hari ini pun masih tetap begitu, tentu saja sebagai orang terpenting di Matthews Group, ini memberikan dampak negatif bagi perusahaan. Jika William sesekali mampir sebentar tanpa melakukan apa-apa, lain halnya dengan Louise. Dia sepenuhnya tidak menginjakkan kakinya sama sekali, dia juga membatalkan semua rapat penting dan kerjasama dalam seminggu terakhir.


Jordan Matthew dan Rose Matthew sebagai pemilik saham terbesar setelah Louise dan sebagai orang tuanya pun memutuskan untuk mengunjungi Louise di villa pribadinya. Memastikan keadaan kedua putranya juga mencari tahu apa yang telah terjadi selain kecelakaan yang dialami Louise.


Jordan mematikan mesin mobil di depan villa, beberapa pelayan sigap menyambutnya dan mempersilahkannya masuk. Rose bisa melihat sekilas, mobil William rupanya juga terparkir di halaman.


"Dimana putraku?" tanya Jordan ketika mereka baru memasuki ruang tamu.


"William juga disini bukan?" tanya Rose menyusul.


"Tuan Muda Louise dan Tuan William sedang berada di bar, Tuan dan Nyonya!" jawab Kepala Suh.


"Mereka mabuk lagi?" tanya Jordan tak habis pikir.


"Benar, Tuan!"


Tanpa banyak bicara lagi, kedua orang tua itu menuju bar dimana Louise dan William berada. Di ruangan yang remang-remang itu, William meringkuk di sudut sofa dengan kesadaran yang sepenuhnya telah hilang. William telah menyerah, menyerah dengan cintanya, juga menyerah dengan kadar alkohol yang dia terima dari berbotol-botol minuman yang diteguknya.


Berbeda dengan William yang terkapar tak berdaya, Louise masih berdiri dengan tegak di atas kakinya. Sepertinya dia adalah profesional sejati di segala aspek. Berbotol-botol minuman itu rupanya masih belum mampu membuatnya tumbang. Sehingga memaksa Louise kembali mengeluarkan minuman termahal dengan kadar alkohol tinggi yang harganya mencapai miliaran perbotol.


Berdiri di salah satu sisi ruangan berdinding kaca dan melihat hamparan danau buatan di halamannya, Louise nampak sangat menikmati suasana saat ini. Patah hati dan nyaris patah tulang, Louise sedang menikmati keduanya secara bersamaan.


"Joanna, apa yang harus kulakukan. Kau bilang punya anak, tapi sungguh aku tidak bisa percaya itu. Aku tidak sedang berbicara mesum, ini hanya pemikiran dan teoriku saja. Tapi tubuhmu itu benar-benar tidak memiliki tanda-tanda pernah melahirkan sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi, Joanna. Kau tidak sedang menipuku, kan. Kenapa kau mengatakan kau adalah seorang ibu, tapi kenapa kau mengatakan bahwa kau pun sendiri bahkan tak tahu siapa ayah dari anakmu dan apa yang terjadi sampai kau punya anak. Apa kau pikir aku percaya, apa yang sebenarnya telah kau lakukan, Joanna. Kau tidak sedang mencoba menyembunyikan pria lain di hidupmu kan. Karena kalau iya, maka tunggu dan lihatlah. Aku akan menghancurkan pria brengsek itu dan membuatnya menjadi butiran debu, lalu akan ku pastikan aku akan mendapatkanmu meskipun jutaan kali kau menolakku," batin Louise di keheningan malam.


Louise berjalan melihat bayangannya sendiri, masih ada perban di dahinya akibat kecelakaan tunggal karena menabrak pembatas sesaat setelah pertemuannya dengan Joanna. Louise tertawa sinis, kecelakaan karena kehilangan kendali setelah bertengkar dengan seorang wanita. Bahkan wanita itu sedikitpun tidak mencemaskannya. Cemas, mencarinya saja tidak apalagi peduli. Apa Joanna benar-benar tidak memiliki sedikitpun perasaan untuknya. Betapa menyedihkannya Louise sekarang.


"Louise!" panggil Jordan yang melihat anaknya masih terlihat baik-baik saja.


Louise menoleh, menyunggingkan senyum dan menghampiri orangtuanya seolah tak terjadi apa-apa, "Pa, Ma, kalian datang?" sapa Louise ketika menyadari orangtuanya berkunjung.


"Ada apa denganmu Louise?" tanya Rose.


"Ma, aku kecelakaan. Apa Mama lupa?" tanya Louise balik.


"Bukan itu maksud mama," jawab Rose gemas. Melihat berbotol-botol minuman di meja dan William yang tak sadarkan diri membuat Rose tak tahu harus bagaimana.


"Louise, kalau kau punya masalah, ceritakan pada orangtuamu ini. Bukannya mengacaukan perusahaan dengan membatalkan rapat dan kerjasama sesuka hatimu," kata Jordan. Saat ini, pria paruh baya itu duduk di sofa, memeriksa keadaan William yang mabuk berat.


"Aku sungguh baik-baik saja, Pa! Aku hanya ingin istirahat sebentar dari rutinitas perusahaan," kilah Louise.


"Kalau begitu kapan kau dan William akan kembali bekerja. Tidakkah kau tahu betapa rumitnya tanpa kehadiran kalian di perusahaan?" omel Rose, "Lalu, apa ini yang kau janjikan akan menjaga adik kecilmu?" kata Rose mengingatkan. Tak lupa menyusul Jordan untuk memeriksa William dan menyeka wajahnya.


"Aku tahu, aku akan kembali secepatnya," jawab Louise kemudian menyudahi minumnya dan memenuhi janjinya untuk menjaga adik kecilnya.


...***...