CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Pasti Perempuan



Mobil hitam yang dikemudikan William membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Sejak tahu Joanna hamil, William sudah lupa bagaimana caranya kebut-kebutan. Dia juga sudah lupa bagaimana berdebat dengannya. Sekarang malah sifat sabar dan perhatiannya yang semakin subur seperti tanaman yang diberi pupuk.


Meskipun sangat tidak terbiasa pada awalnya, toh akhirnya William menjadi terbiasa. Terbiasa tidur dengan memeluknya, terbiasa memanjakannya dan terbiasa mengomeli Joanna yang lebih sering lupa pecicilan.


Dalam perjalanan itu, Joanna yang duduk di sebelahnya tersenyum sepanjang waktu dengan tangan yang memegangi perut yang sudah sedikit membuncit.


Sementara William hanya melirik sebentar, kemudian kembali fokus pada kemudinya dan tersenyum tipis, "Apakah rasanya punya anak selalu begitu. Apa semenyenangkan itu sampai dia selalu tersenyum?" batin William.


Selang beberapa menit mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Matthew. Baru saja membunyikan klakson dari luar, Oskar sudah berlarian siap menyambut ibunya di depan pintu.


"Mommy datang!" sambut Oskar ketika mobil itu berhenti di depannya.


Sementara di belakangnya, Louise Matthew menyusul dan segera berjalan ke pintu mobil dan membantu Joanna turun.


"Bantu aku juga!" sindir William.


"Kau punya tangan dan kaki. Apa gunanya itu. Hanya untuk pajangan?" tanya Louise.


"Tapi Joanna juga punya tangan dan kaki," protes William.


"Will, ada anak di perutnya. Kalau ada anak di perutmu, aku pasti akan membantumu juga," jawab Louise.


"Aku kan pria tulen. Bagaimana mungkin bisa ada anak di perutku," keluh William.


"Kalau begitu diamlah dan segera turun!" perintah Louise.


William tertawa puas setelah mengerjai Louise. Kemudian segera turun untuk menyapa Oskar.


"Papi, selamat pagi!" kata Oskar lagi saat melihat William menghampirinya.


"Selamat pagi!" jawab William. Kemudian mencubit pipi Oskar dan menciumnya.


"Mana nenek dan kakek?" tanya William.


"Mereka ada di dalam bersama nenek buyut," jawab Oskar dengan mata berbinar.


"Katakan pada mereka papi akan mampir sore nanti. Mengerti?" kata William kemudian tersenyum lebar.


"Papi mau kemana?" tanya Oskar.


"Papi ada urusan penting," jawab William.


Tentu saja William ada urusan penting. Urusannya adalah mengajak Ebra dan Marissa jalan-jalan. Kebetulan ini akhir pekan. Toh dia sudah mengantar Joanna kemari, jadi dia bisa pergi. Lagipula bayi itu akan menurut dengan Louise selagi dirinya tidak ada.


"Anak ingusan, kau mau kemana. Apa kau tidak masuk sebentar. Ketiga orang tua itu merindukanmu tahu?" tegur Louise.


"Aku akan mampir nanti. Bersenang-senanglah!" kata anak ingusan itu kemudian pergi begitu saja tanpa menghiraukan Louise.


William kembali melajukan mobilnya dengan satu tangannya saat tangan yang lain dia simpan di samping. Matanya sempat melirik ke kaca spion dan tersenyum, "Kenapa rasanya aku seperti merawat dua istri. Tapi ini akan segera berakhir. Lalu, aku juga akan menikah dengan Marissa dan membuat anakku sendiri. Bukan hanya Oskar yang butuh adik, Ebra seharusnya juga sudah waktunya memiliki adik," batin William dan terkekeh karena geli.


Mobil itu sudah menghilang dari pandangan, tapi ketiga manusia itu masih berdiri di tempatnya.


"Adik bayi, Kakak Xiao O datang!"


Suara itu kembali pecah. Oskar memeluk kaki ibunya. Kemudian mulutnya yang kecil menggapai perut itu untuk menciumnya.


"Apa kau senang?" tanya Joanna.


"Eum!" jawab Oskar.


"Ayo, masuk!" ajak Louise.


Ketiga orang itu pun masuk. Joanna langsung duduk di sofa dan diikuti Louise dan Oskar yang sekarang menciumi perutnya bergiliran.


"Oskar, kira-kira adikmu laki-laki atau perempuan?" tanya Louise.


"Dia pasti perempuan!" jawab Oskar.


Dua pria itu kini tengkurap dengan menyangga dua tangan mereka. Louise di sebelah kiri dan Oskar di sebelah kanan Joanna. Mereka terus memperhatikan perut Joanna yang duduk di hadapan mereka itu tanpa memperhatikan Joanna lagi.


"Xiao O, apa kau sangat ingin adik perempuan?" tanya Joanna.


"Iya, mommy!" jawab Oskar berbinar.


"Kenapa?" tanya Joanna.


"Karena dia pasti sangat cantik seperti mommy!" jawab Oskar. Kemudian menggerakkan tangannya yang kecil ke perut Joanna dan menciumnya lagi.


"Bagaimana jika adikmu laki-laki?" tanya Louise.


"Aku akan memarahinya setiap hari seperti daddy memarahi papi," jawab Oskar tanpa berpikir.


Louise yang tidak mengira Oskar akan menjawab seperti itu langsung menoleh ke arah si pemilik perut. Lalu tersenyum agar pemilik perut itu tidak marah.


"Tapi dia melihat apa yang kau lakukan pada William. Mana janjimu yang mengatakan akan mengajarinya sesuatu yang lebih bermanfaat?" tanya Joanna.


"Joanna, dengarkan aku. Aku mengajarinya kok. Sungguh!" jawab Louise.


Joanna menarik nafasnya, siap untuk marah. Tapi Oskar menengahi mereka, "Mommy, jangan marah-marah. Nanti adik bayi sedih!"


"Sayang, mommy tidak marah."


"Pokoknya jangan marah-marah terus sama daddy. Apa mommy tidak kasihan pada daddy yang capek cari uang?" tanya Oskar.


"Ah, Xiao O! Tentu saja mommy kasihan. Lihat, mommy sudah tidak marah lagi!" jawab Joanna kemudian mencium Louise dan Oskar secara bergiliran.


"Daddy, adikku perempuan kan?" tanya Oskar.


"Mungkin," jawab Louise singkat.


"Bagaimana kalau ternyata adikku laki-laki?" tanya Oskar lagi.


"Tentu saja daddy dan mommy akan membuatkan lagi yang perempuan untukmu," jawab Louise.


Jawaban dari Louise barusan mendapatkan sorakan dari Oskar. Tapi Louise sendiri mendapatkan towelan dari Joanna.


"Sudah ku bilang jangan ajari anak ini pelajaran aneh seperti itu!" kata Joanna.


Louise hanya tersenyum. Kemudian bangkit dan menarik Joanna dan Oskar ke pelukannya.


"Nyomong-ngomong dimana orang-orang?" tanya Joanna.


"Ehm, itu sebenarnya mereka sedang sibuk," jawab Louise.


"Sibuk apa?" tanya Joanna lagi.


"Lihat saja diatas!" jawab Louise.


Joanna segera ke atas. Melihat apa yang ketiga orang itu lakukan. Biasanya mereka tidak seperti ini. Mereka akan segera menyambutnya dan mengerubunginya. Tapi Kenapa hari ini mereka berbeda. Memangnya hal apa yang menarik perhatian mereka sampai melupakan satu cucu berusia lima tahun dan satu cucu yang masih berada di perutnya?


"Ini, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Joanna.


"Mereka bilang tidak bisa menahan untuk membeli semuanya," jawab Louise.


Joanna memutar kepalanya ke setiap sudut ruangan. Ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa untuk menyambut calon bayi yang bahkan belum mereka periksakan jenis kelaminnya. Tidak hanya itu, berbagai kado sudah disiapkan. Banyak pakaian, banyak mainan, banyak boneka dan semuanya lengkap.


"Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Joanna.


Joanna melirik perutnya. Setidaknya anak itu akan lahir lima bulan lagi. Apa orang-orang yang banyak uang ini memang tidak tahu apa yang disebut dengan 'pamali'?


"Joanna, lihatlah! Bagaimana menurutmu?" tanya Nenek Anne dengan menunjukkan beberapa baju bayi perempuan yang lucu.


"Joanna, menurutmu bagaimana. Papa yang mendekorasi kamar ini sendirian bersama mamamu. Apa ini bagus?" tanya Jordan.


"Joanna, lihatlah! Kami sudah menyiapkan baju-baju yang lucu. Lihatlah, semuanya pasti cocok dipakai anak itu nanti," kata Rose bungah.


"Joanna, papa akan berhenti bekerja setelah anak kalian lahir," kata Jordan lagi.


"Eh, k-kenapa?" tanya Joanna.


"Joanna, tentu saja papa akan menghabiskan waktu dengan besan papa untuk menemaninya main. Lihatlah, mainan sebanyak ini ayahmu bisa encok jika menemaninya main sendirian," jelas Jordan.


"T-tapi, belum tentu anakku perempuan!" kata Joanna.


"Mommy, adik bayi pasti perempuan!" kata Oskar ikut-ikutan.


"Xiao O?" tanya Joanna.


"Iya kan, Daddy?" tanya Oskar.


"Louise?" panggil Joanna.


Yang dipanggil hanya menoleh kemudian tersenyum lebar. Dia tidak pernah bilang calon anaknya berjenis kelamin perempuan. Dia hanya pernah bilang ingin anak perempuan agar Joanna punya saingan manusia berwajah cantik di rumahnya kelak.


"Tunggu, karena Joanna sudah kemari. Kenapa kita tidak mengantarnya ke rumah sakit untuk memeriksanya?"


Tiba-tiba Nenek Anne kembali menyuarakan pendapatnya. Tangannya yang renta segera menghempaskan baju bayi itu lalu meminta Rose untuk menggandengnya.


"Oma mau kemana?" tanya Louise.


"Mengantar cucu menantuku ke rumah sakit!"


...***...