CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Agria's Threat



Saat ini, jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Matahari sudah naik lumayan tinggi. Tapi tidak menghalangi keinginan Nenek Anne untuk menikmati sinar matahari yang menerpa kulit rentanya yang sudah semakin keriput.


Nenek Anne tak sendiri, karena dia ditemani dan berbincang santai dengan Rose, satu-satunya menantu kesayangannya. Menikmati segarnya udara pagi di teras rumah dengan hamparan bunga-bunga beraneka ragam macam dan warnanya. Mereka sepertinya enggan beranjak meskipun sudah menghabiskan waktu cukup lama disana.


Sesekali, tangan keibuan mereka memotong tangkai yang kering, tak lupa memetik daun bunga yang mulai menguning. Dua wanita itu masih ingin sedikit lebih lama melihat indahnya degradasi warna di taman sebelum seorang pelayan menyampaikan bahwa ada seorang tamu perempuan yang mencari Louise di depan.


Rose mau tidak mau harus bangkit dari duduknya, meminta mertuanya tetap tinggal sementara dirinya bergegas menemui tamu itu bersama beberapa pelayan yang setia mengekorinya kemanapun dia pergi.


Rose baru saja menapakkan kakinya di ruang tamu yang luas, tapi matanya langsung menangkap sesosok wajah wanita yang sangat tidak ingin ia lihat lagi di sisa usianya. Wanita itu adalah Agria, seorang wanita yang pernah seperti orang gila berteriak-teriak di depan rumahnya hanya untuk memanggil Louise disaat dirinya tengah berduka karena kehilangan anak keduanya.


"Kenapa wanita terkutuk ini datang?" batin Rose penuh amarah.


"Selamat pagi, Ma!" sapa Agria begitu melihat Rose, wanita yang menurut perhitungannya akan segera menjadi ibu mertuanya.


"Siapa yang kau panggil dengan sebutan mama?" tanya Rose dengan menunjukkan ekspresi wajah tidak senang.


"Tentu saja Anda, Nyonya Rose!" jawab Agria tanpa sungkan sedikitpun.


"Aku tidak merasa pernah melahirkan seorang anak perempuan sepertimu," tolak Rose mentah-mentah.


"Ma, Mama memang tidak memiliki anak perempuan, tapi bukan berarti tidak akan memiliki menantu perempuan bukan?" tanya Agria santai tapi sangat membuat Rose muak.


"Apa maksudmu?" mood Rose yang awalnya baik langsung memburuk. Menantu katanya, jika dia punya menantu, mereka adalah Joanna dan Marissa, bukan wanita gila yang berdiri di hadapannya ini. Karena dalam mimpi atau sampai mati sekalipun, Rose tidak ingin mendapatkan menantu dan mendengar panggilan mama dari wanita ini.


"Ma, apa mama masih ingat kejadian lima tahun yang lalu. Waktu itu aku kemari untuk mencari Louise. Tapi bukan hanya dia yang mengabaikan dan menyembunyikan dirinya entah kemana, tapi kalian juga mengusirku seperti sebuah sampah. Jadi, karena sekarang Louise sudah kembali kesini maka juga sudah waktunya untukku mendapatkan pertanggungjawabannya bukan. Aku ingin dia segera menikahiku secara sah," jawab Agria panjang lebar.


"Apa kau pikir Louise tertarik denganmu. Anakku itu, tidak mungkin menginginkan pernikahan dengan wanita kasar dan tak tahu etika sepertimu!"


"Ma, aku tidak sedang berbohong. Aku hanya ingin menuntut apa yang seharusnya kudapatkan. Terlebih setelah kehadiran seorang anak diantara kami. Jadi, apakah mama tidak ingin segera bertemu dan menimang cucumu sendiri. Dia, sudah besar," urai Agria.


"Anak katamu, jangan bermimpi. Louise tidak mungkin memiliki anak dengan wanita sepertimu," bantah Rose dengan urat menegang.


"Karena mama tidak percaya, maka lain kali aku akan membawa anak itu kehadapan kalian semua sebagai buktinya. Tentu saja aku juga bersedia melakukan tes DNA jika kalian tidak mempercayainya."


"Cukup, tutup mulutmu dan pergi dari hadapanku sekarang juga. Aku, tidak ingin melihat wajahmu lagi!" teriak Rose dengan tangan gemetar.


"Ma, apakah ini caramu menyambut calon menantumu?" jawab Agria dengan senyum kemenangan, "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi tolong sampaikan pada calon suamiku, aku akan datang menemuinya secepatnya. Kali ini dia tidak akan bisa menghindar seperti sebelumnya, karena sebentar lagi seluruh dunia akan tahu bahwa Louise Matthew pernah menolak untuk bertanggungjawab atas anak yang ku kandung."


"Apa yang sedang coba kau lakukan?" tanya Rose geram.


"Tidak ada, aku hanya mengundang beberapa media dan memberitahukan fakta ini. Mungkin beritanya akan segera tersebar sebentar lagi," jawab Agria dengan senyum kemenangan. Kemudian pergi begitu saja tanpa menghiraukan Rose yang kini kini lemas dan terjatuh di lantai.


"Cepat, siapkan mobil. Aku ingin segera menemui Louise sekarang juga!" perintah Rose kepada pelayan.


.


.


.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Louise saat Arthur masuk ke ruangannya. Louise tidak sendirian, karena William juga sedang duduk di depannya saat ini.


Beberapa hari yang lalu Arthur baru saja melewati serangkaian pemeriksaan untuk menjadi pendonor bagi Oskar dan baru saja kembali dari rumah sakit untuk mengetahui hasilnya, "sangat tidak cocok," jawab Arthur lesu.


Arthur melirik ke arah Louise dan William secara bergiliran sebelum kembali melihat Louise. Pria yang tidak bisa ditebak arah pikirannya itu sepertinya benar-benar telah jatuh cinta pada Joanna. Karena semenjak Oskar dinyatakan menderita kanker beberapa waktu lalu, dia tak pernah bersantai sedikitpun. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari seorang pendonor yang cocok untuk Oskar.


Setiap jam menghubungi orang-orangnya untuk mendapatkan kabar terbaru. Dan berharap akan ada kabar baik yang mereka dapatkan meskipun sampai saat ini belum juga mendapatkannya. Tentu saja, seorang Louise tidak akan menyerah karena hal ini. Karena masih begitu banyak belahan bumi yang masih belum dia telusuri dan memeriksa semuanya dengan teliti.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Louise di sela-sela memeriksa pekerjaan yang tadi diantarkan William.


"Louise, bisakah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Arthur.


"Sejak kapan kau harus meminta ijin untuk menanyakan sesuatu padaku. Ini tidak seperti dirimu yang biasanya," jawab Louise.


"Ck, baiklah kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi," Arthur menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melanjutkan, "kau benar-benar mencintai Joanna bukan?"


Kini giliran Louise yang melirik Arthur dan tersenyum sinis, pertanyaan macam apa itu. Jika dia tidak mencintai Joanna apakah dia akan peduli padanya sampai sejauh ini. Louise memainkan alat tulisnya, memutar-mutarnya diantara jari-jari.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu ini bukan?" tanya Louise balik. Menggoda Arthur yang menyembunyikan kecemasannya.


Ya, Arthur cemas. Cemas dengan kondisi Oskar dan cemas dengan apa yang akan terjadi pada Joanna jika sampai terjadi apa-apa dengan Oskar. Lebih cemas lagi saat dia tahu wanita bernama Agria yang dicari-cari Louise telah kembali.


"Aku hanya ingin memastikan perasaanmu padanya. Bagaimanapun juga Joanna sudah ku anggap seperti adikku sendiri," jawab Arthur sambil melipat kedua tangannya.


Arthur bersandar di jendela kaca, mengarahkan pandangannya pada bangunan-bangunan kecil di bawah sana. Sepertinya ada yang salah dengan apa yang dikatakannya, karena perasannya untuk Joanna sepertinya lebih dari sekedar hubungan kakak adik. Tapi, karena sudah ada Alexa dan Louise, Arthur lebih memilih untuk menjadi seorang kakak bagi Joanna.


"Aku tahu," ujar Louise.


"Louise, apa hubunganmu dengan wanita itu?" tanya Arthur.


"Siapa?" tanya Louise.


"Agria itu," jawab Arthur.


William yang sejak tadi diam saja mulai merespons. Sebenarnya dia sangat penasaran tapi takut bertanya daripada dianggap sebagai adik durhaka seperti sebelum-sebelumnya.


"Aku tidak mengenalnya sama sekali," jawab Louise santai.


Agria itu siapa, yang mana. Mana mungkin Louise bisa mengingat salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah mampir sebentar di hidupnya. Sedangkan jumlah mereka tak bisa Louise hitung dengan jari kaki dan tangannya.


"Louise, jika dia menginginkan pertanggungjawaban darimu, bukankah berarti kau telah melakukan sesuatu?" tanya William dengan mimik serius. Akhirnya dia mulai bersuara setelah hampir sepuluh menit menjadi patung.


"Melakukan sesuatu, apa itu?" tanya Louise tak mengerti.


"Ehm, jangan marah aku akan menjelaskannya. Ini semacam kau tidur dengannya. Lalu kau meninggalkannya saat dia hamil sampai dia melahirkan. Kurang lebih seperti itu," terang William.


"Will, kau bertanya ini lagi?" tanya Louise.


Louise mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit ragu dengan ingatannya. Lalu mulai mengingat kembali kejadian yang dialaminya bertahun-tahun lalu. Seingatnya, sudah sangat lama dia tidak tidur dengan wanita manapun. Terakhir kali, dia bahkan hanya berhasil mencumbui Joanna. Untung buat Joanna, tapi malang untuk dirinya.


Kini, Arthur dan William sama-sama melihat Louise dengan tatapan serius. Menunggu dengan cemas jawaban yang akan keluar dari mulut Louise. Terlebih Arthur, jika sampai iya maka Arthur tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Joanna.


"Aku tidak ingat, tapi kurasa aku tidak pernah tidur dengan orang ini."