
PUK
Sebuah pukulan ringan mendarat di pundak William yang termenung di tangga teras. Membuat pria yang kalut hingga level dewa itu menoleh seketika. Siapa dia, siapa yang berani mengganggunya disaat seperti ini?
"Bajingan ini, kenapa dia juga kemari malam-malam begini?" umpat William ketika melihat siapa yang datang. Di belakang sana, sudah berdiri Arthur dan ayah mertuanya dengan memasang senyum cerah.
"Kau sudah bekerja keras, Will!" puji Arthur. Pria inilah pelakunya, pemilik tangan nakal yang menepuk pundak William karena William tak segera menyahut panggilannya.
"Eum," jawab William loyo.
Arthur tersenyum, kemudian meniup ubin di samping William dan ikut-ikutan meletakkan bokongnya disana. Tidak sendirian, karena Air Alex juga melakukan hal yang sama. Bedanya, Arthur duduk di sebelah kiri sementara Sir Alex di sebelah kanan.
"Bagaimana keadaan cucu dan anakku. Apa mereka sehat?" tanya Sir Alex penasaran.
"Mereka sehat. Dokter dan suster sedang merawat mereka sekarang," jawab William.
"Bagaimana, apa semuanya aman?" bisik Sir Alex pelan.
"Semuanya aman," jawab William.
Mendengar itu, Sir Alex dan Arthur mengambil ponselnya. Mengirim sebuah pesan kepada orang-orang mereka secara rahasia. Meminta mereka segera bubar sebelum Bangsawan Timur curiga dengan keberadaannya di perbatasan kota.
"Apa cucuku mirip ibunya?" tanya Sir Alex setelah dia selesai dengan ponselnya. Karena William mengatakan aman, seharusnya cucunya mirip Joanna atau memiliki perpaduan wajah antara Joanna dan Louise.
Bukannya menjawab, William hanya menoleh tanpa mengatakan apa-apa. Melihat ekspresi wajahnya itu, Sir Alex sudah bisa menebak pasti terjadi sesuatu yang aneh pada cucunya.
"Will, apa kau mati. Kenapa tidak menjawab pertanyaan dari ayah mertuamu?" tanya Arthur.
William melihat ke arah Arthur, kemudian melihat ke arah Sir Alex secara bergiliran, "I-itu, sebenarnya anak itu mirip denganku," jawab William dengan menggaruk pipinya.
"Apa?" tanya Arthur dan Sir Alex bersamaan. Dua pria itu saling berpandangan, sebelum akhirnya melihat William.
"William, itu bukan anakmu kan?" tanya Arthur tanpa menyaring kata-katanya.
Pertanyaan keras itu membuat William dan Sir Alex terkejut. Lalu langsung menarik Arthur yang sempat berdiri untuk duduk ke tempatnya semula.
"Pelankan suaramu, bodoh! Jangan bicara sembarangan, kapan aku membuatnya. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Joanna," bisik William.
"Tapi kenapa bisa mirip denganmu?" bisik Arthur.
"Aku juga tidak tahu," kata William frustasi.
"Apa karena anakku selalu menempel denganmu? Mungkin itulah yang membuat cucuku memiliki wajah mirip denganmu," kata Sir Alex menduga-duga.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya William.
"Mau bagaimana lagi, ya biarkan saja. Toh wajahmu juga tampan," jawab Sir Alex santai.
"Maksudku, bagaimana kalau Louise marah?" tanya William.
"Dengarkan saja kalau dia marah nanti. Lagipula ini bukan salahmu. Tapi salah anak itu sendiri. Dia punya tiga pilihan. Memilih mirip ibunya, ayahnya atau perpaduan dari keduanya. Dan dari tiga pilihan itu, kenapa dia malah memilih pilihan yang lain. Sepertinya dia sangat menyukaimu sampai-sampai memilih wajahmu untuk dipajang di wajahnya," kata Arthur dan memijit kepalanya.
Ketiga pria itu diam sejenak. Menikmati malam yang melelahkan tanpa bersuara lagi. Tapi, tidak lama kemudian seorang dokter terlihat keluar dari rumah. Melihat itu membuat Sir Alex langsung bangkit.
"Baiklah, aku akan melihat anakku sekarang. Kalian berdua berbincang santailah," kata Sir Alex.
Sir Alex bangkit, meninggalkan dua pria yang sama-sama memandang lurus ke depan. Melihat semak-semak yang bergoyang karena ditiup angin di gelapnya malam.
"Bagaimana rasanya tadi?" tanya Arthur setelah kepergian Sir Alex.
"Lumayan, aku hampir mati berkali-kali di dalam sana tadi," jawab William.
Pria itu menunduk, menghela nafas panjang dan membuangnya ke udara. Lalu menyangga tubuhnya ke belakang dengan kedua tangannya. Wajah kacau itu, Arthur bisa melihatnya dan dia tahu William sedang tidak baik-baik saja.
Arthur pikir, William masih terbayang-bayang akan pengalaman menakutkan tentang menemani seorang wanita melahirkan. Padahal tidak seperti itu. William, dia sudah tidak memikirkan itu lagi. Dia sedang memikirkan hal yang lainnya, yang lebih rumit, lebih menyakitkan dan lebih tidak boleh terjadi.
William menoleh sebentar. Memperhatikan Arthur yang masih melihatnya tanpa mengatakan apa-apa. Pria inilah yang menyumpahinya dulu. Pria inilah yang ingin William jatuh cinta pada Joanna agar dia tahu bagaimana rasanya mencintai dua wanita dalam hidupnya.
William sangat ingat bagaimana Arthur mengatakan 'Semoga kau ikut terlibat dalam kerumitan kisah cinta ini, Will'.
Iya, malam itu. Saat William mengantarkan Arthur ke rumah sakit untuk menjenguk Oskar. Arthur pernah mengatakan hal semacam itu kepadanya. William tersenyum kecut, tidak menyangka ucapan Arthur malam itu benar-benar terjadi malam ini.
"Arthur, kelak mulutmu itu harus kau jaga agar tidak berbicara sembarangan lagi untuk selamanya. Karena kalau sudah begini, penyelesaiannya akan rumit" batin William.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Arthur.
"Bukan apa-apa," jawab William.
"Lalu kenapa wajahmu begitu?" tanya Arthur lagi.
Apa yang harus William katakan. Apa boleh jika dia mengatakan sedang galau karena menolak jatuh cinta pada Joanna?
.
.
.
Beberapa jam kemudian, di belahan bumi yang lain.
Louise akhirnya mendarat dengan selamat. Pria yang tidak tahu sudah jadi ayah itu mulai menuruni anak tangga ditemani beberapa pengawal andalannya.
Cuaca siang itu cukup berangin sehingga membuat rambutnya kesana-kemari tertiup angin. Baru beberapa langkah berjalan, seorang pria tampan lainnya yang dia sebut sebagai Junior datang menyambut.
"Senior, akhirnya kau datang juga!" kata Junior.
"Junior, aku tidak punya banyak waktu. Mari segera membahas masalah yang sudah kita bicarakan lewat telepon kemarin," ujar Louise kemudian memeluk Juniornya.
"Senior, beristirahatlah sejenak sebelum membahas itu," jawab Junior.
"Aku sudah terlalu banyak beristirahat di dalam pesawat. Jadi ayo!" ajak Louise.
Junior hanya geleng-geleng kepala menghadapi pria keras kepala ini. Lalu segera menyusulnya dan memberitahu hal penting yang harusnya dia lakukan saat ini.
"Senior, apakah senior tidak ingin menghubungi Putri Kota Utara sekarang?" tanya Junior.
"Seharusnya disana pukul tiga dini hari sekarang. Dia pasti masih tidur," jawab Louise.
"Tapi seseorang memberitahuku bahwa William baru saja menemani seseorang melahirkan," kata Junior.
Louise berhenti, menoleh kearah juniornya untuk memperjelas apa yang sedang dia katakan, "Siapa yang melahirkan. Joannaku belum waktunya melahirkan sekarang," balas Louise.
"Senior, di sekitar William apakah ada wanita hamil selain wanitamu?" tanya Junior mengingatkan.
Louise menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Benar saja, begitu banyak pesan masuk yang dia terima dari William. Pesan pertama yang dia baca adalah laporan William yang mengatakan Joanna pipis terus. Louise tersenyum sebentar, kemudian matanya tertuju pada pesan terakhirnya,
...Louise, jangan marah saat kau melihat anakmu nanti....
DEG
Louise merasa aneh. Apa maksudnya. Kenapa dia harus marah melihat anaknya sendiri?
"Ada apa dengan Reagan. Dia normal kan, dia tidak cacat kan?" batin Louise cemas.
...***...