CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Tempat Tinggal Baru



Pelayan mengantar William dan Joanna ke hunian yang sudah siap ditinggali. Okta, secara pribadi ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi mereka sesuai perintah kedua tetua yang mendukung William.


Saat ini pun mereka sudah tiba di sebuah hunian mewah yang disediakan khusus oleh Tetua Bangsawan Timur untuk mereka. Hunian ini bisa disebut sebagai satu-satunya tempat pribadi mereka dan berada tepat di tengah-tengah hunian bangsawan yang lainnya.


Tentu saja mereka sengaja menempatkan pengantin baru di tempat seperti itu agar mempermudah mereka untuk mengawasi William dan Joanna. Memastikan tidak ada hal-hal yang mereka rencanakan meskipun sebenarnya ada dan sangat dirahasiakan. Menikah hanya untuk mendapatkan Dark Ocean, sungguh konyol tapi memang hanya itu satu-satunya alasan mereka memutuskan menikah.


Di pelataran yang luas itu Joanna mengedarkan pandangannya. Terdapat taman berhiaskan bunga-bunga lengkap dengan segala ornamen yang memanjakan mata. Bukan hanya itu, di ujung sana juga masih ada kolam berisikan ikan hias dengan jembatan kecil diatasnya.


Sedangkan untuk huniannya sendiri meskipun sangat megah tapi tidak cukup luas. Hanya terdiri dari satu kamar yang luas dengan kamar mandi di dalamnya di lantai atas. Dapur lengkap yang bersebelahan ruang makan. Ruang baca atau perpustakaan pribadi, dan satu ruangan besar untuk tamu di lantai bawah. Tapi, meskipun tidak terlalu besar, ada puluhan pengawal dan pelayan pribadi yang ditugaskan untuk menjaga mereka selama dua puluh empat jam. Bukan hanya itu, diluar sana pasti ada beberapa orang yang sengaja ditugaskan untuk memata-matai hunian ini.


Mulai hari ini, hanya di tempat inilah Joanna dan William bisa sedikit leluasa. Karena tempat pribadi mereka yang sebenarnya hanyalah kamar, sebuah ruangan yang seharusnya tidak boleh dimasuki sembarang orang tanpa ijin mereka.


"Okta, bukankah disini ini aku bisa menentukan bunga apapun yang ingin kulihat di halaman rumahku?" tanya Joanna.


"Anda bisa melakukannya, Nona!" jawab Okta.


"Maaf merepotkanmu. Tapi kedepannya aku hanya ingin melihat krisan putih di halaman rumah ini," kata Joanna.


"Baik, Nona!" jawab Okta lagi.


"Kau masuklah, aku ingin menghirup udara segar di luar," pamit William saat mereka sampai di depan pintu masuk rumah mereka.


"Terserah, lakukan apapun yang kau inginkan!" jawab Joanna kemudian masuk ke rumah barunya tanpa William.


"Tuan William, Anda mau kemana?" tanya Okta.


"Menemui Marissa," jawab William.


"Tapi, hari ini adalah hari pertama Tuan menikah. Sebaiknya Tuan tinggal di rumah," tahan Okta.


Okta tahu kedua tuan barunya ini menikah hanya untuk mendapatkan Dark Ocean. Dia dan kedua tetua yang ada di pihak mereka pun juga sangat mendukungnya. Tapi meskipun begitu tidak seharusnya William pergi karena hari ini adalah malam pengantin mereka.


Okta tidak berharap mereka melakukannya, tapi bukankah mereka bisa tinggal hanya untuk sekedar ngopi atau nonton bareng? Setidaknya Okta ingin William tidak mencari masalah di hari pertamanya menjadi pengantin.


Bukannya apa-apa, Okta hanya takut jika tiba-tiba ada tamu tak di undang dan tidak melihat William di kediamannya. Terkadang, akan ada tamu yang datang sekedar untuk melihat. Apa yang akan dia katakan nanti. Bagaimana jika rencana mereka akhirnya ketahuan?


"Okta, aku tidak perlu kau ajari soal apa yang ingin ku lakukan. Kau tetaplah disini menjaga Joanna. Aku pergi sekarang, hubungi aku jika terjadi sesuatu yang mencurigakan," kata William.


"B-baiklah,Tuan!" kata Okta mengalah.


Sementara itu, di dalam sana Joanna dibantu pelayan pribadi untuk melepaskan gaunnya yang cukup berat. Selesai dengan semua itu, Joanna mempersilakan pelayannya pergi dan mulai membersihkan dirinya. Di dalam sana, Joanna ingin santai sejenak dengan merendam dirinya di air.


.


.


.


"Kemana perginya William?" tanya Joanna ketika dia masih tidak melihat keberadaan William.


Dia sudah selesai mandi sejak satu jam yang lalu. Dia pun juga sudah menyelesaikan makan malamnya sendirian. Tapi nyatanya William belum menunjukkan batang hidungnya juga. Apa dia sangat depresi hanya karena bersandiwara menikah dengannya?


"Nona, maafkan kami. Kami gagal menahan Tuan," jawab Okta.


"Apa maksudmu?" tanya Joanna.


"Tuan William bilang ingin pergi menemui Nona Marissa," jawab Okta.


"Sekarang ini?" tanya Joanna dengan menaikkan satu alisnya.


"Kenapa kau minta maaf. Kalau dia ingin pergi ya biarkan saja. Mereka kan sepasang kekasih, aku hanya sedikit tidak habis pikir. Memangnya dia tidak bisa menunggu besok," kata Joanna lalu menyeruput tehnya.


Tepat saat itu, tiba-tiba seorang pengawal menghadap Joanna dan Okta dengan tergopoh-gopoh. Dia mengatakan ada tamu dan di depan sana penjaga pintu sedang menyambut mereka.


"Memangnya siapa tamunya?" tanya Okta panik.


"Sepertinya orang-orang suruhan Tetua Utama," jawab seorang pengawal yang sengaja diminta untuk segera melapor jika ada tamu.


"Kenapa mereka kemari?" tanya Joanna.


"Mereka bilang akan mengirimkan hadiah. Jumlah mereka cukup banyak karena hadiah yang mereka berikan sangat banyak," jawab pengawal.


"Nona, mereka pasti sengaja dikirim untuk memantau apa yang sedang Nona dan Tuan lakukan. Tuan William sedang tidak di rumah, bagaimana ini?" tanya Okta panik.


"Bilang saja kami sudah tidur. Bukankah selesai?" tanya Joanna.


"Nona, jangan bercanda. Ini masih jauh dari jam tidur. Mereka pasti tidak akan percaya," jawab Okta.


"Apa ada kemungkinan mereka masuk ke kamarku?" tanya Joanna.


"Mereka adalah orang suruhan Tetua Utama, mereka pasti tidak puas sebelum melihat Nona dan Tuan. Mereka pasti mencari cara untuk masuk kemanapun yang mereka inginkan. Karena mereka membawa hadiah, pasti mereka akan mencoba masuk kamar," jawab Okta.


"Brengsek! Seandainya aku menikah dengan William karena cinta, bukankah itu akan sangat menganggu malam pertamaku?" umpat Joanna, "Apa aku hanya bebas saat berada di kamar mandi?" protes Joanna lagi.


"Nona, saat ini bukan waktunya memikirkan itu. Nona harus segera memikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Okta gemas.


"Okta, aku akan masuk ke kamar mandi. Kalau mereka bertanya, katakan saja pada mereka aku dan William sedang mandi," perintah Joanna.


"Bagaimana kalau mereka tetap memaksa masuk ke kamar?" tanya Okta.


"Kalau mereka tetap memaksa masuk, maka biarkan saja mereka masuk. Mau bagaimana lagi, asalkan mereka tidak ke kamar mandi itu sudah cukup," jawab Joanna percaya diri.


"Baiklah, Nona!" kata Okta.


Joanna segera naik keatas, masuk ke kamar mandi dan menguncinya sesuai rencana. Tentu saja dengan membawa ponselnya agar tidak bosan di kamar mandi. Sementara Okta, dia segera menelepon William dan mengatakan apa yang terjadi. William yang sebenarnya sudah dalam perjalanan pulang pun semakin mempercepat laju mobilnya.


"Sialan! Apa mereka tidak berencana membiarkan aku dan Joanna bebas meskipun kami sedang berada di rumah sendiri?" umpat William dengan membanting ponselnya ke tempat duduk di sebelahnya.


.


.


.


"Kami kemari atas perintah Tetua untuk mengantar hadiah kepada Tuan William dan Nona Joanna," kata salah satu pelayan kepercayaan yang berdiri di urutan terdepan.


"Kalian bisa meletakkannya di sana," jawab Okta.


"Tapi Nyonya meminta untuk memberikannya secara langsung kepada mereka," kata pelayan itu.


Tapi, Tuan dan Nona masih membersihkan diri. Seharusnya mereka sedang bersenang-senang sekarang. Bagaimana mungkin saya membiarkanmu mengganggunya?" tolak Okta.


"Karena mereka masih membersihkan diri, biarkan kami meletakkan hadiah-hadiah ini di kamar mereka. Kami tahu ini tidak sopan tapi Nyonya mengatakan untuk tidak memberikan hadiah ini ke sembarang orang," kukuh pelayan itu lagi.


"Kalau begitu silahkan, tapi saya harap kalian segera keluar setelah meletakkannya," tegas Okta.


...***...