CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Pintar Menidurkan Anak



Ditengah-tengah percakapan mereka, pintu kembali terbuka. Mereka melihat kearah pintu dan melihat Rose berdiri disana dengan wajah yang tidak ramah.


"Ma?" sapa William dan Louise bersamaan. Sementara Arthur yang masih tidak mood juga menyapanya dengan ramah, "Tante?"


William bangkit, bersiap menyiapkan kursi untuk ditempati Rose. Tapi terhenti ketika Rose melontarkan sebuah pertanyaan untuk Louise, "Louise, apa kau benar-benar punya hubungan dengan seorang wanita tak tahu aturan itu sampai melahirkan seorang anak?"


Hanya satu pertanyaan, tapi sangat melukai hati dan perasaannya. Mata itu kembali merah, tapi segera menghapusnya. Adegan itu membuat Arthur dan William melihat ke arah Louise yang masih duduk di tempatnya. Louise menelan ludahnya dengan kasar, kepalanya semakin pusing. Kenapa tiba-tiba ada pertanyaan seperti ini?


"Ma, omong kosong apa yang sedang Mama bicarakan?" tanya Louise lembut. Louise tahu mamanya sedang kecewa dari nada suaranya yang lirih dan bergetar. Louise pun segera bangkit dan memeluk mamanya untuk menenangkannya.


"Louise, kau hanya perlu menjawab pertanyaan mama. Apa kau benar-benar memiliki seorang anak?" tanya Rose tidak sabar.


"Ma ... aku tidak tahu!" jawab Louise.


"Apa?" tanya Rose tak percaya.


Jawaban dari Louise seperti sembilu yang menusuk jantung Rose. Bahkan Louise pun juga tidak yakin. Lalu, bagaimana jika ucapan wanita itu benar, bagaimana?


"Ma, ada apa denganmu. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?" tanya Louise tidak mengerti.


Rose tidak menjawab pertanyaan Louise. Dia pergi begitu saja setelah sedikit menguasai dirinya. Bertanya pada Louise pun sepertinya juga percuma.


"Ma-Mama?" panggil Louise.


Panggilan Louise diabaikan, Rose tidak ingin mendengar apapun lagi. Hatinya yang hancur semakin hancur. Joanna sedang menemani Oskar berjuang melawan penyakitnya, itu adalah penyebab kehancuran hatinya yang pertama. Lalu kabar tentang adanya anak dari hubungan Louise dengan Agria, itu adalah penyebab yang kedua. Rose selalu bermimpi memiliki Joanna sebagai menantunya. Apakah pada akhirnya keinginannya tak akan kesampaian lagi?


Wanita paruh baya yang masih cantik itu meninggalkan perusahaan dengan menahan air mata. Dengan kesedihan yang bertubi-tubi menghampiri, hanya ada satu tempat yang bisa sedikit mengurangi kesedihannya, yaitu tempat peristirahatan terakhir anak keduanya, Juan Matthew.


Di tempat itu, Rose menumpahkan segalanya. Air mata, kesedihan, kerinduan, kekecewaan. Di tempat itu Rose mencurahkan semua isi hatinya.


"Apa yang terjadi dengan mamaku?" tanya Louise kepada seorang pengawal.


"Tuan Muda, sebelum nyonya kesini ada seorang tamu yang mengaku akan membawa anak dan bersedia melakukan tes DNA. Dia juga bilang akan menyebarkan beritanya ke media sehingga tidak ada pilihan bagi Tuan Muda selain bertanggungjawab dan menikahinya," jawab pengawal.


"Ada hal semacam ini. Siapa wanita itu?" tanya Louise.


"Nona Agria. Salah satu putri bangsawan dari Kota Utara," jawab pengawal.


"Dia sudah kembali?" tanya Louise.


Louise menatap William dan Arthur bergiliran. Jika William masih mencoba biasa saja tapi tidak dengan Arthur. Dia jelas menampilkan wajah kurang suka.


"Kau pergilah!" kata Louise kepada pengawal. Louise menyuruh pengawal itu pergi sehingga menyisakan dirinya Arthur dan William di ruangan itu.


"Apa itu benar?" tanya Arthur datar. Wajahnya benar-benar telah berubah sepenuhnya.


Louise tidak menjawab. Tidak mengerti, juga tidak tahu harus mengatakan apa. Lebih tepatnya, masih belum mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba dia punya anak. Kapan dia melakukannya dengan Agria. Kenapa ingatannya sungguh payah, apa mungkin dia melakukannya saat dalam keadaan mabuk berat?


"Louise, aku menunggu jawaban darimu. Satu lagi, kau memang temanku tapi Joanna adalah adikku. Kau mengerti maksudku bukan?" kata Arthur.


Arthur meninggalkan ruangan setelah mengatakan kalimat itu. Meninggalkan William dan Louise yang masih tidak beranjak dari tempatnya.


"William, apa kau percaya padaku?" tanya Louise setelah kepergian Arthur.


"Aku percaya," jawab William.


Sekalipun, William tidak pernah tidak percaya kepada Louise. Selama ini, mereka selalu bersama-sama. William tahu betul bagaimana tabiat Louise. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya.


Terlebih wanita bernama Agria itu. Memangnya kenapa kalau dia punya anak, belum tentu itu anak Louise. Dan meskipun benar dia melahirkan anak Louise, apa yang bisa dia lakukan di hadapan seorang Louise Matthew. Karena jika dia berani menyentuh, mengusik, atau memanfaatkan anak itu untuk membuat gara-gara, William tidak akan segan membereskannya dengan tangannya sendiri terlebih dulu sebelum Louise memberikan perintahnya.


"Jika kau saja percaya, kenapa Arthur seperti itu. Kenapa dia begitu sensitif," keluh Louise.


"Louise, aku memang percaya padamu. Tapi jika aku jadi Arthur, mungkin aku akan melakukan hal yang sama," ujar William.


"Kenapa?" tanya Louise bloon.


"Sejak kapan kau menjadi lemot begini?" keluh William.


Louise diam saja. Iya, akhir-akhir ini dia juga merasa otaknya benar-benar lemah.


"Louise, bayangkan saja. Jika benar kau memiliki anak dengan wanita lain, bukankah ini akan sangat melukai Joanna. Terlebih saat ini Oskar sedang sakit. Arthur itu, sebagai seorang yang dekat dengan mereka sudah pasti mencemaskannya," jelas William.


Louise memikirkan kata-kata yang diucapkan William, benar juga tapi apa tidak berlebihan?


"Aku mengerti, tapi tidakkah kalimat Arthur tadi berlebihan?" protes Louise lagi.


"Mungkin saja karena Arthur ingin melindunginya," jawab William.


"Hanya karena itu?" tanya Louise.


"Louise, apa kau lupa. Oskar itu sudah menganggap Arthur sebagai ayahnya. Mereka sudah terbiasa bersama-sama sejak dulu. Dia yang merawat Oskar sejak bayi. Sudah pasti hubungan antara Arthur dan Joanna tidak sedangkal yang terlihat bukan?" jelas William.


"Apa kau baru mengatakan, mungkin Arthur menyimpan perasaan untuk Joanna?" tanya Louise protektif.


"Eh, aku sepertinya tidak bilang begitu," jawab William panik. Dia kan hanya bilang 'hubungan Arthur dan Joanna tidak sedangkal itu'.


"Lalu apa maksudmu?" tanya Louise.


"Semacam menganggap Joanna seperti adiknya. Bukankah itu perasaan yang tidak dangkal?" ralat William.


"William, lain kali bicaralah dengan benar. Aku hampir memukulmu karena berbicara tidak jelas seperti itu," kata Louise posesif.


"Eh, jangan. Oh iya, aku baru ingat ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Selamat tinggal!"


.


.


.


"Sayang, aku baru tahu kalau aku sangat pintar menidurkan anak," kata Louise membanggakan dirinya sendiri.


"Apa hal semacam itu patut kau banggakan, Louise?" tanya Joanna.


"Sayang, apa yang kau katakan barusan?" protes Louise dengan ekspresi tidak suka. Sepertinya ada yang salah dengan apa yang Joanna katakan.


"Apa hal semacam itu patut kau banggakan?" ulang Joanna.


"Bukan itu yang ku maksud," kata Louise.


"Tapi hanya itu yang ku katakan tadi," terang Joanna.


"Tidak, aku tidak tuli. Aku mendengar kau menyebut namaku tadi," kata Louise.


"Memangnya kenapa, apa itu salah?" tanya Joanna.


"Joanna, tidak bisakah sedikit romantis saat memanggilku. Aku ini calon suamimu, kenapa selalu memanggilku dengan sebutan Louise. Itu tidak sopan tahu?" omel Louise.


Joanna hanya tersenyum mendengarnya, kemudian merapikan ranjang Oskar agar Louise merebahkan Oskar disana. Anak itu, sudah lebih dari satu jam berada di pelukan Louise hingga tertidur.


"Dia sangat lucu!" kata Louise. Matanya memang melihat dan memuji Oskar yang sudah berpindah ke ranjang, tapi tangannya mencubit pipi milik Joanna.


"Louise, tanganmu mendarat di pipi yang salah," kata Joanna.


"Joanna, sudah kubilang bisakah memanggilku lebih romantis?" protes Louise.


"Maaf, tapi aku tidak bisa," tolak Joanna sembari menyerahkan jas milik Louise yang sebelumnya dia lepaskan.


"Joanna, apa kau ingin aku tidur memakai ini?" tanya Louise.


"Apa yang kau katakan, ini sudah malam. Apa kau tidak berencana pulang?" kata Joanna.


"Tidak, aku ingin bermalam," ucap Louise.


"Bermalam?" ulang Joanna.


"Eum," jawab Louise singkat. Lalu segera melemparkan jasnya ke sandaran ranjang dan melepaskan kemejanya hingga bertelanjang dada. Lagi, delapan kotak ABS menawan itu bisa Joanna lihat untuk yang kedua kalinya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Joanna.


"Jangan berpikiran mesum!" kata Louise memperingatkan.


"Oh, b-bukan. Maksudku,-" Joanna tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena terlanjur malu.


"Joanna, aku tidak terbiasa tidur dengan pakaian seperti ini. Jika ini bukan rumah sakit, aku pasti juga akan melepaskan celanaku. Ada apa denganmu, kita sudah beberapa malam tidur bersama, apa kau masih tidak ingat dengan kebiasaanku saat tidur?" jawab Louise kemudian mendekatkan dirinya untuk memeluk Joanna.


Joanna tidak bergerak, jika ada anggota tubuhnya yang bergerak, itu hanyalah hidungnya. Anggota tubuh dengan dua lubang berbulu itu sepertinya sedang terbuai dengan aroma tubuh Louise.


"Selamat malam, sayangku Joanna!" bisik Louise di telinga Joanna lalu menciumnya.


"Selamat malam, tidurlah!" usir Joanna.


"Tunggu, ada sesuatu yang kau lupakan," tahan Louise ketika Joanna mendorong tubuhnya.


"Apa?" tanya Joanna.


"Joanna, mereka juga butuh bernafas. Jangan selalu mengekangnya dengan kacamata yang ada besinya seperti ini," kata Louise.


Tangannya dengan lincah meloloskan pakaian jaring yang dikenakan Joanna sehingga menyisakan tank top berwarna putih saja. Lalu kembali menyusup di belakang sana untuk melepaskan kait kacamata penutup dua gundukan besar milik Joanna hingga mereka bisa leluasa bernafas dan bergerak bebas.


"Louise, kau?"


"Sstt! Apa sih, aku hanya membantumu melepaskannya," jawab Louise dengan meletakkan jari telunjuknya di mulut Joanna.


"Apa kau pikir aku akan tidur di rumah sakit seperti di rumah?" protes Joanna dengan suara lirih.


"Joanna, tidak masalah. Tidak akan ada seorang pun yang akan masuk," kata Louise lalu mengangkat Joanna dengan mudah.


"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Joanna.


"Membawamu tidur bersamaku," jawab Louise.


"Aku akan tidur bersama Oskar," tolak Joanna.


"Jangan mengganggu istirahatnya. Kalau ingin mengganggu, ganggu saja aku."


"Tapi, sofa ini terlalu sempit," tolak Joanna ketika pantatnya mendarat dengan sempurna di sofa dan Louise mendorongnya untuk bersandar.


"Memangnya kenapa kalau sempit. Kau kan bisa memilih, ingin tidur di atasku atau di bawahku," jawab Louise dengan menyatukan dahi mereka


"Louise!"


"Sayang, ini sudah malam. Apa kau tidak bisa diam dan berhenti menolak?" tanya Louise kemudian membungkam Joanna dengan ciuman panasnya.


...***...