CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Terserah



"Nona Joanna, silahkan keluar. Nona telah di bebaskan!" kata sipir.


Jose bangkit. Mengikuti sipir itu membawanya pergi. Rupanya seseorang bernama Louise mengatur semuanya sedemikian rupa hingga Jose dibebaskan hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga jam saja. Tentu saja dengan menggunakan bantuan Alexa dan seorang dokter serta suster yang melakukan pertolongan pertama pada Oskar sewaktu bayi dulu.


"Joanna, kau tak apa?" tanya Alexa begitu melihat Jose yang telah dibebaskan. Alexa langsung memeluknya sambil menangis. Dia sangat khawatir dengan keadaan Joanna yang harus kehilangan Oskar dan mengira Jose pasti sangat bersedih.


"Al, kau ini kenapa?" tanya Jose tanpa membalas pelukannya.


Mendengar itu Alexa melepas pelukannya, menghapus air matanya sendiri dan melihat wajah Jose yang sepertinya sangat baik-baik saja.


"Joanna?" ucap Alexa tak percaya.


"Alexa, aku sangat tidak suka melihat air mata," kata Jose datar.


"Kenapa kulitmu memar-memar?" tanya Alexa saat menyadari luka di kulit Jose.


"Mereka memukulku, tapi bukan masalah. Toh aku sudah bebas," jawab Jose.


Arthur yang melihat mereka sejak adegan pelukan mulai mendekat, memberikan sebuah tas berisikan baju ganti kepada Joanna yang di siapkan Diaz sebelumnya, "Cepat ganti pakaianmu!"


"Terimakasih," jawab Jose kemudian pergi.


"Arthur, Joanna tidak sedang gila bukan?" tanya Alexa kepada Arthur. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak menyangka sahabatnya itu akan setegar ini. Jika itu dia, sudah pasti dia tidak akan berhenti menangis dan meraung menyebut nama Oskar.


"Aku akan memeriksanya nanti," jawab Arthur.


Jose telah selesai mengganti pakaiannya tapi masih enggan melangkah keluar. Berdiri menatap wajahnya sendiri di cermin, masih sangat cantik meskipun tanpa make up. Karena dia cantik alami. Bibirnya berwarna kemerahan, kulitnya juga tetap bercahaya meskipun ada beberapa memar disana.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Jose pada dirinya sendiri.


Terbiasa dengan statusnya sebagai single parent membuatnya aneh ketika dipaksa kembali menyandang status 'gadis'. Jose kembali membasuh wajahnya, kemudian segera membereskan barang-barangnya, "Sebaiknya aku pulang dulu dan memikirkannya lagi nanti," ucap Jose mengambil keputusan.


Jose keluar dari kamar mandi. Di lorong panjang itu sudah ada Arthur yang menyambutnya. Berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di dinding dengan meletakkan tangannya di saku celana. Dia menoleh ketika melihat Jose keluar dan langsung berjalan menghampirinya.


Jose mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Arthur yang sudah berdiri di depannya, "Apa yang Arthur lakukan. Kenapa repot-repot menyusul kemari?" batinnya.


Tanpa berkata-kata, Arthur menarik bagian belakang kepala Jose agar jatuh ke pelukannya. Sama dengan hari-hari sebelumnya, Arthur juga memperlakukan Jose seperti ini saat Jose menghadapi masalah.


Jose bisa mencium bagaimana harumnya tubuh Arthur dengan posisi ini. Sesuatu yang tidak dia sadari sebelumnya selama kebersamaan mereka.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jose tanpa menolak pelukan Arthur dan mengangkat satu tangannya untuk memegang tangan Arthur yang berotot.


"Mentransfer energi untukmu," jawab Arthur, masih tidak melepaskan pelukannya. Malahan mulutnya sudah mencari kesempatan dalam kesempitan dengan mencium kening Joanna yang sudah berganti menjadi Jose.


"Arthur, orang akan mengira kita sedang selingkuh jika melihat kita berpelukan seperti ini," kata Jose memperingatkan.


"Aku tidak keberatan dengan rumor seperti itu," jawab Arthur.


"Menyebalkan," keluh Jose dengan membuang muka.


Arthur tersenyum, melepaskan pelukannya dan ganti memegang kedua pipi Joanna. Menekannya hingga bibirnya monyong ke depan, "Jo, kau aneh hari ini."


"Sakit," kata Jose dengan pelafalan yang tidak jelas.


"Serius kau baik-baik saja?" tanya Arthur lagi. Kini melepaskan pipi Jose tapi menundukkan kepalanya sangat dekat di depan Jose.


Jose mengangguk kemudian menjawab pertanyaan Arthur dengan jawaban yang tidak biasa, "Tentu saja aku baik-baik saja. Ibunya mengambilnya, bukankah itu berarti aku bisa menikmati hari-hariku yang menyenangkan sebagai seorang gadis?"


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah, karena aku masih seorang lajang dan wajahku cantik maka aku akan menikmati hidup dengan mengencani banyak pria tampan," lanjut Jose. Lengkap dengan senyuman yang merekah.


"A-apa?" tanya Arthur terkejut. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kenapa mukamu begitu?" tanya Jose


"Jo, apa kau gila?" tanya Arthur, membesarkan matanya dan memperhatikan wajah Jose lebih dekat. Jose yang sebelumnya tidak akan mungkin mengatakan hal seperti ini.


"Iya aku gila, karena setiap hari dikelilingi pria tampan seperti kalian," jawab Jose. Tak ingin kalah dari Arthur, dia juga semakin mendekatkan wajahnya.


"Jo, sebenarnya ada apa denganmu. Kenapa kau jadi aneh begini sejak keluar dari penjara?" tanya Arthur. Sungguh, menurut Arthur perubahan sikap dan sifat Joanna terlalu drastis.


"Aneh bagaimana?" tanya Jose tidak mengerti.


Arthur terdiam, haruskah dia mengatakannya. Mengatakan bahwa Jose yang sebelumnya tidak akan pernah berani melihatnya dengan jarak sedekat ini dan berbicara sembarangan. Tidak, itu bisa membuat Jose malu. Jadi Arthur mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh, aku hanya ingin melihat wajahmu yang tampan dengan jarak yang lebih dekat," jawab Jose lengkap dengan senyumannya yang manisnya kelewatan. Sangat sukses membuat wajah Arthur memerah.


"Jo, apa ini masih dirimu?" tanya Arthur tak percaya.


"Kalau bukan diriku lalu siapa?" jawab Jose.


Arthur memegangi dahi wanita yang masih dia kira Joanna dan memeriksa suhu tubuhnya. Mungkin saja wanita ini demam tinggi sampai membuatnya aneh. Tapi kelihatannya dia sangat sehat, jadi ada apa sebenarnya?


"Arthur!" panggil Jose


"Apa?"


"Aku ingin memberikan hukuman untukmu."


"Hukuman, kenapa aku harus dihukum?" tanya Arthur tak mengerti.


"Karena kau memegang tanganku saat tertidur semalam," jawab Jose.


"Eh, benarkah?" tanya Arthur dengan canggung.


"Kau memegangku begini, lalu begini dan begini. Aku harus bersusah payah untuk melepaskannya tanpa membuatmu terbangun tahu!" keluh Jose dengan nada bicara yang sangat normal. Tidak seperti seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.


"Maafkan aku!" kata Arthur sambil mengacak-acak rambut Jose yang sebenarnya sudah berantakan.


"Maaf saja tidak cukup loh," kata Jose.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Arthur.


"Sudah kubilang terima hukumanmu!" kata Jose.


"Baiklah, apa hukuman untukku?" jawab Arthur mengalah.


"Menunduklah!" perintah Jose.


Arthur mulai menunduk sesuai perintah Jose, tapi Jose tidak melakukan apapun juga selain mengatakan sesuatu.


"Arthur, sepertinya ada yang kurang di wajah tampanmu."


"Apa itu?" tanya Arthur dengan menggaruk hidungnya.


"Ciuman dariku," jawab Jose dengan tertawa.


Arthur melongo sejadi-jadinya mendengar apa yang dikatakan oleh Jose. Lalu tidak bisa berkata-kata saat melihat Jose tertawa dengan sangat lebar tapi juga sangat cantik dengan jarak sedekat ini. Lalu, yang tidak Arthur sangka adalah, bahwa sedetik kemudian merasakan Jose menarik lehernya dan mendaratkan ciuman di kedua pipinya.


"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak tertarik untuk selingkuh denganmu," pesan Jose setelah mencuri ciuman Arthur dan pergi begitu saja.


Arthur diam ditempatnya. Bingung dengan apa yang baru saja Jose lakukan. Sangat bingung dengan tingkah Jose yang semakin aneh. Sebenarnya Jose bukannya aneh. Dia hanya melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaannya selama ini. Kebiasaannya sebelum kehilangan ingatannya. Arthur hanya belum tahu saja bahwa Jose sudah kembali mengingat namanya. Bukan hanya namanya, tapi juga semuanya. Semua masa lalunya, semua dendamnya, darimana dia berasal dan tentunya juga semua kisahnya bersama Edgar.


Joanna berlari ringan menjauhi Arthur. Dia baru terhenti ketika melihat sesosok pria yang sepertinya melihat adegan yang baru saja dia lakukan bersama Arthur dari kejauhan. Pria yang sebenarnya tidak cukup dekat dengannya, tapi sebenarnya membuat Jose sedikit takut. Terlebih ketika pria itu melihatnya tanpa mengatakan apapun meskipun mereka saling bertatap muka.


"William?" ujar Jose.


"Ikutlah denganku!" kata William dengan menarik tangan Jose.


"Lepas!" tolak Jose.


"Joanna,-"


"Aku tidak mau!" tolak Jose.


"Joanna, apa kau tidak mempunyai niat untuk menemui Louise dan berterimakasih. Banyak hal yang dia kerjakan, tapi tetap kaulah yang jadi prioritas utamanya meskipun dia tidak menemuimu. Apa kau tidak sedikitpun memikirkannya?" kata William. Sebenarnya, saat ini Louise sedang mendapatkan perawatan. Setelah memanggil Arthur dan William tadi, dia nyaris tersungkur karena kelelahan. Begitu banyak yang harus dia kerjakan, begitu banyak yang dia cari sampai beberapa hari tidak pulang dan bermalam di perusahaan.


"Aku ... tidak ingin pergi," kata Jose.


"Tapi lain kali kau akan menemuinya kan?" tanya William memastikan.


"Aku tidak tahu," jawab Jose.


"Kalau begitu mulai sekarang dan seterusnya, mereka semua akan bergiliran mengikutimu," kata William sembari menunjuk puluhan pengawal di luar.


"Terserah!" kata Jose kemudian pergi meninggalkan William.


...***...