CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Aku Harus Antri



Setelah beberapa saat menunggu, tangis bayi akhirnya terdengar juga. Alexa telah sukses melahirkan. Tubuhnya sangat lemah dan bersimbah peluh. Arthur, ayah dari bayi itu tidak melahirkan tapi dia ikut lemas setelah menemani dan melihat bagaimana proses anaknya lahir secara normal.


"Silahkan di peluk sebentar!" kata Dokter.


Alexa menerima bayinya dengan perasaan haru. Bayi laki-laki yang sehat dan sangat mirip dengan ayahnya, "Dia sangat persis sepertimu, Arthur."


"Eum, terimakasih Al."


Arthur mencium Alexa, lalu memberikan jarinya yang langsung di genggam bayi yang masih malu untuk membuka matanya sendiri.


Setelah mendapatkan pelukan dari orangtuanya. Dokter meminta suster untuk membawa bayi itu dan melakukan tindakan selanjutnya. Sementara Dokter itu segera menangani Alexa.


Setelah semuanya beres, barulah Alexa di pindahkan ke ruangan yang lain.


Tamu-tamu mereka bergiliran masuk untuk membesuk. Ketiga orangtua itu masuk duluan, mereka tidak lama di dalam karena harus segera membawa Nenek Anne pulang. Tidak baik membuat orang tua itu terlalu banyak beraktivitas di usianya sekarang. Jadi mereka pamit undur diri sesaat setelah melihat ibu dan bayi yang baik-baik saja.


Sementara Louise, William, Marissa dan Joanna segera masuk untuk melihat Arthur kecil.


"Al, bagaimana keadaanmu?" tanya Marissa. Marissa mendekati Alexa yang terbaring di ranjang, lalu menggenggam tangannya erat-erat.


"Aku baik-baik saja," jawab Alexa.


Ibu baru itu tersenyum sangat manis.


Meskipun ada wajah lelah disana. Tapi lelah itu sudah terbayarkan setelah melihat anaknya sehat tanpa kekurangan suatu apapun.


"Bolehkah aku mencoba menggendongnya?" tanya Louise.


"Karena kau juga akan jadi ayah sebentar lagi, maka coba saja. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai anakku jatuh!" jawab Arthur.


Arthur menyerahkan bayi itu dengan hati-hati dan Louise menerimanya dengan pelan. Bayi kecil itu menggeliat, menggerakkan kepala dan tangannya yang masih merah. Mulutnya yang kecil juga bergerak-gerak seolah ingin menyusu.


"Lihatlah, bukankah dia sangat lucu?" tanya Arthur.


"Arthur, tapi anakku pasti akan lebih lucu nanti," jawab Louise yang hanya mendapatkan anggukan dari Arthur.


Sementara dua pria dewasa itu mengobrol, satu pria dewasa lainnya bernama William itu memilih menghempaskan pantatnya di sofa dan mulai berkelakar manja.


"Apa kalian tahu. Barusan diluar ada seseorang yang tiba-tiba tidak ingin melahirkan saat mendengar Alexa mengejan," kata William ember.


Semuanya tertawa, termasuk Louise yang sibuk menimang-nimang bayi ditangannya.


"Kalau tidak mau melahirkan kenapa kau membiarkan pria mesum ini mengeluarkannya di dalam. Dasar bodoh!" kata Arthur.


"Itu ... pria mesum itu yang mau. Aku bisa apa selain menerima?" kilah Joanna.


Sontak saja jawaban dari Joanna membuat pria mesum itu melihat kearahnya, "Sayang, ralat ucapanmu. Kita berdua sama-sama mau. Kau bahkan memintaku lebih cepat dan cepat lagi dan tidak membiarkan aku bergerak pelan kan?" goda Louise.


Joanna langsung menutup mulut Louise yang embernya melewati embernya mulut William. Mencegah pria mesum itu berbicara sembarangan lagi yang akan mengundang pikiran negatif teman-temannya terhadap dirinya.


Melihat itu, Arthur menyentil dahi Joanna kemudian mengambil bayinya dari Louise, "Kalau kau tidak ingin melahirkan. Maka biarkan aku memencet perutmu," goda Arthur.


"Arthur, kenapa kau sangat kejam. Kau pikir anakku ini biji jerawat yang bisa kau pencet seenak hatimu?" dengus Joanna sambil memegangi jidatnya yang sedikit nyut-nyutan.


"Aku hanya bercanda," kata Arthur kemudian berjalan dan memberikan anak bayinya pada William.


"Eh, kenapa kau memberikannya padaku?" tanya William.


"Istrimu akan melahirkan sebentar lagi. Kau juga harus belajar dari sekarang," jawab Arthur.


"T-tapi aku kan bukan ayahnya. Biar Louise saja yang belajar. Lagipula setelah anak itu lahir kan kami akan bercerai, mana sempat aku menggendongnya!" protes William.


Dia masih belum menerima bayi itu. Biar bagaimanapun bayi itu terlalu kecil dan masih merah. Dia sendiri terlalu bar-bar, bagaimana kalau tulang bayi itu geser saat dia menggendongnya.


"Will, kau benar. Tapi, waktu dari Joanna melahirkan sampai kalian bercerai itu setidaknya membutuhkan waktu beberapa bulan. Sudah di pastikan kau akan memiliki banyak waktu untuk menggendongnya nanti. Apa kau yakin tidak perlu belajar?" tanya Marissa.


"Eh, ternyata rasanya lumayan," batin William saat bayi itu sudah berpindah ke tangannya.


"Bagaimana, apa kau tidak tertarik untuk segera jadi ayah?" tanya Arthur ketika melihat perubahan ekspresi di wajah William.


"Bagaimana aku bisa jadi ayah kalau aku masih menjadi suami dari calon kakak iparku," jawab William.


William memperhatikan wajah bayi itu dengan seksama. Senyum lebar itu timbul tapi ukurannya semakin mengecil dari detik pertama hingga ke detik berikutnya. Dia baru ingat sesuatu yang sempat dia lupakan. Sesuatu yang harusnya dia bicarakan saat Sir Alex dan Louise bertandang ke rumahnya.


"Arthur, kalau bayi yang dilahirkan Alexa ini saja sangat mirip denganmu. Lalu bagaimana dengan anak yang akan di lahirkan Joanna nanti?" tanya William polos. Sangat polos sampai membuat Arthur ingin memakannya mentah-mentah.


Louise menoleh, sangat siap memberikan pukulan pada adiknya itu seandainya adiknya yang nakal itu tidak sedang menggendong bayi ditangannya, "Tentu saja mirip denganku. Apa kau ingin anakku mirip orang lain?"


Semuanya tertawa, termasuk bayi yang sedang di pangkuan William yang tiba-tiba tersenyum. Tapi ada satu orang yang cukup normal dan mengetahui kemana arah pembicaraan William. Dia adalah Arthur.


"Tunggu. Kalau anak itu mirip denganmu, bukankah ini sedikit merepotkan?" tanya Arthur pada Louise.


"Apa maksudmu?" tanya Alexa.


"Bangsawan Timur tahu Joanna hamil anak William. Kalau dia lahir dengan membawa wajah pria mesum dan brengsek ini, bukankah semuanya akan kacau. Mereka akan menyadari sesuatu yang salah," jelas Arthur sambil menunjuk pria mesum dan brengsek yang akhirnya mulai pusing juga.


"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Marissa.


"Jangan melihatku. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana," kata Joanna panik saat melihat seisi ruangan itu melihat kearahnya seolah ingin mengatakan ini tergantung padanya.


Tepat saat itu, Louise melihat ke arah William dan Marissa secara bergiliran.


"Will?" panggil Louise.


"Apa?" sahut William.


"Apa kau tidak punya rencana untuk secepatnya membuat anak?" tanya Louise.


William melirik Marissa yang terlihat sangat tidak setuju dengan maksud Louise. Dia pasti akan marah besar setelah ini.


"Ehm, tentu saja aku punya. Tapi kau tau sendiri istriku sedang hamil anakmu, bagaimana bisa aku membuatnya?" jawab William ngaco.


"William, jaga bicaramu!" ketus Joanna.


"Lalu dengan siapa aku membuatnya. Istriku kan dirimu, dan kau sedang hamil anak selingkuhanmu. Setidaknya, aku harus antri jika ingin punya anak," kata William semakin ngaco.


Arthur yang menyadari pembicaraan mereka akan semakin panas segera mengambil anaknya kembali. Lalu menyerahkannya pada Alexa demi keamanannya.


"William, apa kau cari mati?" tanya Louise.


"William, apa kau benar-benar ingin antri?" tanya Marissa. Marissa berbicara dengan sangat pelan. Tapi membuat bulu kuduk William cukup merinding.


Dua pertanyaan dari orang itu sangat sukses membuat William menciut juga.


"Marissa, aku hanya bercanda. Lalu, haruskah aku membuatnya bersamamu secepatnya?" kilah William.


"Ebra masih kecil. Dia belum waktunya punya adik. Jangan mencoba membawaku dalam pusaran kerumitan kisah kalian," tolak Marissa mentah-mentah.


"Masalahnya kau sudah masuk dalam pusaran itu," kata Arthur.


"Aku tahu, tapi aku tidak akan masuk lebih dalam lagi," kukuh Marissa.


"Kalian dengar sendiri kan. Lalu aku harus bagaimana. Apa aku masih harus membuat anak?" tanya William.


"Kita pikirkan cara lain saja," jawab Louise kemudian.


Tepat saat itu, suster masuk. Dia ingin mengambil bayi itu dan meletakkannya di ruangan terpisah. Bersamaan dengan itu, ke empat tamu itu pamit karena hari sudah sore.


...***...